
"Duh, Mila kok Cuma Arkan aja yang dikasih minum? Ini yang keringetan banyak," protes Kean.
Kamila mendelik.
"Lo beli sendiri, wong si Arkan juga nyomot punya gue," kata Kamila sinis.
"Iyalah, nasib anak tiri mah begini. Beda sama Pak bos mah. Gak ngomong juga diperhatiin," timpal Bastian sambil sedikit terkekeh
Karena ada Dika di sana, Kamila tidak terlalu mengubris candaan anak-anak.
Livia yang melihat itu mendelik kesal ke arah Kamila, sedangkan Arkan langsung bangkit dia menutupi tubuh Kamila.
"Kenapa lo liatin cewe gue begitu ?" ujar Arkan sinis dengan tatapan tajam nya.
Livia tidak menjawab apa pun dia langsung membalikan tubuh nya lalu pergi begitu saja sambil menjatuhkan botol air mineral yang dia bawa.
"Pergi kan, Nenek sihir!" gerutu Arkan.
Bastian mengambil air yang dijatuhkan Livia.
"Mau ngapain lo?" tanya Kean.
"Lumayan aus gue!" ujar Bastian.
"Biar lo tuh air dijampi-jampi sama si Livia!"
"Alah setan nya Livia mah gak ada apa-apa nya sama setan nya Arkan!" kata Daren.
Sontak semua nya tertawa begitu juga Kamila, dia tertawa sambil melihat Arkan. Pemuda itu tersenyum kepada Kamila.
"Lo udah selesai, Mil?" tanya Dika.
"Udah."
"Ya udah kita ke ruang OSIS dulu. Kita duluan. Kalian latihan yang bener, ya," kata Dika kepada Arkan dan yang lain nya.
Setelah selesai Dika pergi dan Kamila pergi, anak-anak, Gravendal heboh mereka menyoraki Arkan dan Kamila.
"Bau-bau beneran jadian ini mah!" kata Kean sambil menepuk bahu Arkan.
"Siapa nih yang mulai kode-kodean?" tanya Bastian menggoda Arkan.
"Tebakan gue bener kan, lo ke makan omongan sendiri!" Daren tertawa melihat Arkan yang terkekeh.
"Sok tau lo!" elak Arkan.
Darren tertawa keras.
"Panjul, gue tau bener dah adat lo. Pake acara mau boong lagi sama gue. Lo sama
Kamila pasti udah jadian, kan?" tanya Darren sambil terkekeh.
"Kepo lo!" jawab Arkan.
"Alah lo gak usah boong dari gerak gerik lo sama Kamila udah keliatan, kayak nya bentar lagi Tante Alisha bakalan punya mantu," kata Daren.
"Kawin Ar, kawin!" kata Daren lagi.
"Kampret lo, nikah dulu, dodol," kata Arkan sambil menoyor kepala Daren.
Daren hanya tertawa sambil menghindari Arkan.
Mereka pun kembali bermain basket. Kebetulan memang saat itu sudah bubar sekolah. Hanya saja sayang, saat mereka
sedang seru bermain hujan turun membuat permainan pun bubar.
Mereka pun menunggu hujan reda sambil bercanda. Tanpa sengaja Bastian melihat
Kamila sedang bersandar di dinding sekolah dekat gerbang.
"Ar, ibu negara tuh!" tunjuk Bastian.
Perhatian Arkan pun langsung teralihkan dan ia pun mendekati Kamila.
"Sendirian aja, Neng? Abang Arkan temenin boleh gak?" tanya Arkan mulai iseng.
"Lo lagi! Perasaan lo itu ngikutin gue terus yah!" sinis Kamila.
Arkan tertawa terbahak-bahak, dengan usilnya ia menjawil dagu Kamila.
"Ish, bukan nya lo yang sengaja cari perhatian gue? Buktinya lo berdiri di sini sendirian ngapain coba'' ujar Arkan.
"Ya gue mau balik ujan tadi, Arkan!" seru Kamila gemas.
"Alah, bilang aja lo nunggu gue, iya kan?" Tanya Arkan sedikit menggoda.
Kamila langsung merengut kemudian mencubit tangan Arkan dengan kesal.
"Ya emang tau," bantah Arkan.
Bastian dan Daren hanya bisa menggelengkan kepala mereka melihat kedua nya bertengkar seperti itu.
"Wooy! Berisik mulu ni berdua, ntar gue kawinin baru tau," kata Kean.
"Nikah Kean, nikah. Abis nikah baru kawin," saut Daren.
"Sotoy lu," timpal Bastian.
"Balik yuk, ujan udah reda. Laper ni!" kata Sean.
Arkan kembali melirik ke arah Kamila.
"Ke rumah gue yuk, kata nya mau ketemu Bunda sama Kayla? Tuh bocah nanyain lo mulu," kata Arkan.
Kamila menggelengkan kepala nya.
''Enggak ah, gue belum bilang Papah," jawabnya.
"Nanti gue anter pulang. Bokap lo pasti gak akan marah kok. Kan udah ketemu sama gue kemarin," kata Arkan.
"Gila udah di bawa ke rumah aja si Arkan, emang Tante Alisha bakalan cepet punya mantu," ujar Sean sedikit terkejut.
"Udah Mil, ikutin aja. Ntar daripada lo diculik paksa sama dia," kata Daren.
Kamila menghela napas panjang kemudian mengembuskan nya perlahan.
"Ya udah, gue ikut deh. Tapi, janji lo nanti anter gue balik, ya."
"Astaga ga percayaan amat sih lo sama gue. Emang kapan lo kagak gue balikin, Milaaa?!" seru Arkan dengan gemas.
"Iya siapa tau kan lo mau kekepin gue di rumah lo!" ujar Kamila.
"Mau nya sih gitu," gumam Arkan yang masih bisa di dengar Kamila.
"Tuh kan!"
Kamila menghentakan kaki nya kesal.
"Bercanda, ayo!"
Kamila pun akhir nya menuruti Arkan. Seperti biasa ia naik ke boncengan Arkan. Mereka pun beriringan dengan motor seperti sedang konvoi. Dan hal ini tak luput
dari perhatian murid lain yang kebetulan juga masih di sekolah karena menunggu hujan reda.
Tanpa sengaja Kamila melihat tatapan iri dari siswi wanita kepada diri nya.
"Kenapa tu anak cewek? Segitunya banget ngeliatin gue?" kata Kamila.
"Karena lo bisa deket sama gue,' jawab Arkan.
Plak..
Tanpa ragu Kamila pun memukul helm Arkan.
"Lo jadi orang kepedean bener dah," ujar nya.
"Hahaha, abis gue ganteng," jawab Arkan dengan pd nya.
Kamila hanya mencebikkan bibir nya dengan kesal.
"Tadi Daren sengaja yah?" tanya Kamila.
"Iyah, anak-anak kesel sama Livia jadi sebisa mungkin kalo ada Livia mereka jailin!" ujar Arkan.
Kamila terkekeh.
"Kalian gak takut?" tanya nya.
"Ngapain takut, dia manusia! Lagian lebih sereman Bunda kalo marah!" Tawa Kamila pecah membuat Arkan ikut tertawa.
"Gue seneng banget, Papah udah di rumah, Tante Laras sama Livia gak pernah mukulin gue lagi! Tante Laras juga keliatannya kayak ngajak gue damai!"
"Lo percaya?" tanya Arkan.
"Gue gak tau, tapi semua orang pasti pernah ngelakuin kesalabhan kan? Gue salah gak sih kasih mereka kesempatan!" ucap Kamila.
"Gue gak setuju lo damai sama mereka, dedemit gila harta itu susah banget buat dipercaya!" jawab Arkan.
"Lo tetep harus jaga diri Mil, lapor ke gue kalo ada apa-apa! Sampe lo bohong sama gue, abis tuh pipi lo gue makan!"
Kamila tersenyum karena Arkan benar-benar akan melindunginya.
"Gue orang pertama yang bakalan ngasih mereka pelajaran kalo mereka sampe nyakitin lo lagi!"