Badboy Yang Menyebalkan

Badboy Yang Menyebalkan
51. Dendam Boy


Arkan hanya tertawa kecil.


"Udah ah ayo pulang, lo naek deh. Biar gue


anterin pulang. Ntar nyokap tiri lo ngamuk lagi kalo lo gak balik," kata Arkan.


"Paling lo yang di marahin Papah!" kata Kamila sambil naik ke motor Arkan.


"Gak papa, demi Kamila!"


Arkan dengan manis menggoda Kamila. Padahal beberapa jam yang lalu ia begitu bengis menggertak Laras. Tetapi, di hadapan Kamila ia seolah berubah menjadi pribadi yang lain.


"Kita langsung ke basecamp, ya?" kata Bastian.


"Iya, nanti gue nyusul, anter cewek gue balik dulu," jawab Arkan.


"Cie yang pacaran," goda Sean.


"Bocil diem!" kata Kamila.


Arkan terkekeh dia menjalankan motornya menuju rumah Kamila.


"Lo tuh bandel banget sih. Pak Yusuf tadi nanyain lo. Cuma lo doang yang gak masuk tadi gue bawain buku ke kelas lo. Gue bilangin Bunda yah lo bolos mulu," kata Kamila.


"Ih, mentang-mentang calon mantu kesayangan. Maunya ngadu terus sama bunda," kata Arkan.


"Biarin! Abis lo Bergajulan gitu, bolos terus! Mau jadi apa?" Kamila mengomeli Arkan.


"Jadi suami lo lah!" jawab Arkan ringan.


"Dih rese."


"Rese juga lo cinta, Kamilaaa!" ujar Arkan dengan percaya dirinya.


"Ogah!"


Sepanjang jalan keduanya pun saling berdebat seperti kucing dan tikus. Masing-masing tidak ada yang mau mengalah. Saat sampai di rumah Kamila,


Kamila turun dari motor.


"Makasih yah!" ujar Kamila lalu melangkah masuk ke dalam.


Namun, saat ia hendak melangkah masuk, Arkan menarik tangannya kemudian merapikan rambut Kamila.


"Berantakan Sayang!" kata Arkan.


Pipi Kamila sudah memerah, dan itu membuat Arkan terkekeh.


"Banget yah?" tanya Kamila.


"Lumayan!"


Kamila melihat melalui spion motor Arkan, dia merapikannya sedangkan Arkan mengusap belakang kepala Kamila.


"Hari ini tumben lo diem aja gue bilang lo cewe gue? Tumben banget pasrah gitu?" tanya Arkan.


Kamila memutar bola matanya malas.


"Halah, gue jawab enggak juga lo pasti bakalan keukeh bilang gue cewek lo. Sia-sia gue bantah juga," jawab Kamila.


Arkan hanya tertawa kecil mendengar jawaban Kamila.


"Ya emang lo cewek gue, jadi pasrah aja ya."


"Ish kepedean lo," kata Kamila.


"Yaudah gue mau cari cewe la-"


"Auww sakit Kamila!" Arkan meringis karena Kamila mencubit pinggangnya.


"Berani begitu gue mutilasi lo!" ancam Kamila.


"Udah sana pulang, hati-hati! Kalo mau nongkrong jangan pulang malem-malem!"


"Ciee udah mulai bawel nih," goda Arkan mencolek dagu Kamila.


"Denger gak?!"


"Njeh nyonya, gue balik yah!"


Kamila menganggukan kepalanya.


"Gak mau kiss?" tawar Arkan.


"Haha iyah Sayang iyah, lo langsung istirahat, kalo ada apa-apa bilang. Nanti gue geprek orang yang nyakitin lo!" ucap Arkan.


"Emang berani?" tanya Kamila.


"Beranilah, apa sih yang enggak buat sayangnya Arkan!"


Arkan menaik turunkan alisnya.


"Yeee gembel!"


Kamila masuk ke dalam rumah, dia merasa kebingungan saat Laras menatapnya tajam. Laras yang membawa sapu mendekat, ia baru saja akan memukul Kamila.


Tetapi tiba-tiba gerakannya berhenti. Kamila menutup matanya takut, tapi Kamila tidak merasakan apa pun di tubuhnya Kamila membuka matanya Kamila bingung ada apa dengan Laras.


"Tante baik-baik aja?" tanyanya.


"Itu muka Tante kenapa? Tante jatoh?" tanya Kamila saat melihat luka di pipi


Laras.


"Gak usah banyak tanya, sekarang kamu masuk ke kamar sebelum saya berubah pikiran, dan satu lagi lebih baik kamu jangan tunjukin muka kamu di depan saya


kalo Papah kamu gak ada di rumah, kamu itu selalu bikin saya emosi," kata Laras dengan ketus.


"Loh kok aku yang bikin emosi, itu mah Tante aja yang suka sensi. Makanya jangan jahat-jahat jadi orang," kata Kamila dengan berani.


"Ke kamar Kamila, atau sapu ini melayang ke kepala kamu," seru Laras kesal.


Kamila pun segera melangkahkan kakinya ke lantai dua menuju ke kamarnya.


"Ish, emang aneh banget tuh orang. Heran deh kenapa bisa Papah jatuh cinta sama orang model begitu," gumam Kamila setelah ia berada di kamarnya.


Keesokan harinya Arkan tidak masuk sekolah. Padahal tidak ada bedanya saat dia masuk pun dia akan bolos. Tetapi, hari ini Marvin berniat mengajak putranya itu ke kantor.


Dia akan mulai memberi simulasi kepada


Arkan. Supaya Arkan kelak akan siap


menjadi pengganti dirinya di kantor nanti.


Arkan sejujurnya sangat malas. Tetapi mau bagaimana lagi, ini akan menjadi tanggung jawab Arkan nantinya.


"Emang harus banget ini ke kantor, Yah? Ga bisa ditunda nanti aja gitu? Aku kan baru SMA, lulus aja belum udah disuruh ke kantor. Ini namanya pemaksaan, loh," kata


Arkan kepada Marvin.


PLETAK!


Alisha langsung menyentil dahi Arkan dengan sendok yang sedang ia pegang sehingga putra sulungnya itu mengaduh kesakitan.


"Aduh, Bunda tega amat sih anak nya digeprek pake sendok," kata Arkan misah misuh.


"Ya abis kamu kalo ngomong seenak udel. Pemanfaatan gimana Ayah kamu itu mau kenalin kamu sama staf kantor. Sama kliennya juga. Nanti kan itu perusahaan buat kamu, bukan buat orang lain. Jangan taunya Cuma minta uang aja kamu!" omel


Alisha panjang lebar.


"Iya deh iya, Bundaku sayang.Demi ibunda ratu yang paling cantik di dunia, babang Arkan nurut "kata Arkan.


"Anak kamu tuh, Yah. Kelakuannya minta ampun," kata Alisha kepada Marvin yang hanya bisa tersenyum.


Arkan memang benar-benar duplikat dirinya, tidak heran jika istri nya itu selalu mengomel.


Akhir nya Arkan pun berangkat ke kantor bersama dengan Marvin. Dan setibanya di kantor rupanya rapat akan segera dimulai.


"Aku tunggu di sini aja deh, Ayah"


"Eh, gimana sih? Udah, kamu persiapkan diri dulu aja. Nanti kalo sekretaris Ayah nyusulin, kamu harus masuk ke ruang rapat. Kalo gak Ayah lapor ke Bunda, kamu," kata Marvin.


"Ayah mah mainnya ngadu ke Bunda, gak asik Ayah mah!" gerutu Arkan.


"Bagus dong, kelemahan kamu kan ada di Bunda!" Arkan menghela nafasnya lelah.


"Ayah duluan, kamu jangan ke mana-mana!" kata Marvin ia pun kemudian melangkah meninggalkan sang anak di ruangannya.


Arkan hanya mengangguk. Arkan melihat-lihat ruangan Ayah nya, sangat rapih, senyum Arkan mengembang saat melihat ada foto bunda nya di atas meja sang Ayah, Ayahnya itu memang sangat bucin dengan bundanya.


"Eh.." Tanpa sengaja Arkan menyenggol setumpuk berkas, Arkan membaca beberapa berkas. Isi nya hanya beberapa laporan dan proposal. Dia membelalakkan matanya saat melihat sebuah berkas di sana ada nama ayah nya Kamila. Dan isi nya itu proposal ajakan bekerja sama.


Arkan memfoto berkas itu lalu dia baca isi nya, tidak ada yang aneh.