Badboy Yang Menyebalkan

Badboy Yang Menyebalkan
157. Kesetiaan Arkan


Mendengar perkataan Alisha Kamila tertawa geli. la percaya pada ucapan Alisha. Dan terlebih lagi la pun percaya kepada Arkan, kekasihnya.


Keesokan harinya setelah pertandingan Arkan kembali ke rumah sakit, ternyata Kamila sudah mau pulang.


Kamila duduk di kursi roda, Arkan tersenyum dia mengambil alih kursi roda kamila. Dia berjongkok di depan Kamila sambil memegang tangannya.


"Kok udah mau pulang sih Yang, emang kakinya udah enakan?" tanya Arkan.


Kamila menganggukan kepalanya," Udah, tapi kalo di pikir-pikir gak ada bedanya sih sama-sama gak bisa jalan!" jawab Kamila.


"Jangan bilang gitu, nanti kita cari cara gimana biar lo bisa jalan lagi Mil. Gue Ayah sama Bunda gak akan diem aja liat lo begini!" kata Arkan sambil mengeratkan genggamannya pada Kamila.


Kamila menganggukan kepalanya, " Gue percaya sama lo!"


Senyum Arkan mengembang dia mengusap pipi Kamila. Setelah itu dia. menoleh kepada kedua orang tuanya.


"Ayah sama Bunda balik ke hotel aja. Aku mau ajak Kamila jalan-jalan dulu, aku mau jalan sama Kamila, udah kangen juga gak pergi berdua.'


"Emang pertandingan kamu udah selesai, Bang? Menang atau kalah?"


"Ya pastinya menang dong, Bund. Arkan gitu loh," jawab Arkan dengan narsis.


Kamila dan Alisa hanya saling pandang kemudian tersenyum. Sudah tidak aneh jika melihat Arkan narsis seperti itu.


"Kamu bisa bawa Kamila? Awas yah kalo sampe lecet apalagi sampe kurang sedikit aja, nanti Bunda hukum kamu!"


"lyah Bundaku Sayang, aku janji bakalan jaga mantu Bunda ini!" Wajah Kamila memerah saat Arkan berkata seperti itu, dia lantas menarik baju Arkan sedikit dan itu membuat Arkan terkekeh.


"Yaudah, tapi inget ya jangan sampe kenapa-kenapa anak Bunda!" kata Alisha sambil melotot ke arah Arkan.


Arkan hanya bisa menepuk dahi mendengar perkataan Alisha. Sebenarnya yang anak kandung itu siapa sih?


"Iya Bunda aku bakal jagain Kamila dengan baik. Nggak akan kurang sehelai rambut pun," jawab Arkan.


"Bunda pegang omongan kamu, makanya kamu tuh kurang-kurangin tebar pesona lah Bang. Udah sering banget loh Kamila jadi sasarannya, kamu sama cewe jangan suka kasih harapan palsu lah. Kalo perlu kamu


judesin kalo ada yang mau deketin kamu!"


"Aku kan gak tau Bund, lagian bukan salah aku kalo aku lahir ganteng gini. Suami Bunda juga tuh sama kan, mana mirip banget lagi sama aku, tapi tetep sih gantengan aku. Lagian masa iyah aku keluar pake topeng biar orang gak liat muka aku!" protes Arkan kepada ibunya.


"'Auwww sakit Yang!" Kamila mencubit pinggang Arkan.


"Lo jawab mulu!" kata Kamila.


"Abisnya Bunda aneh-aneh aja, wong suaminya juga mirip aku kenapa gak suruh pake topeng juga!" kata Arkan.


"'Suami Bunda ya Ayah kamu Arkan! Ih kesel banget Bunda, nanti Bunda masukin lagi ke perut tau rasa kamu. Pokoknya Bunda gak mau tau kamu gak boleh senyum ke cewe main. Pokoknya kalo ketemu cewe itu judesin, pelototin. Kamu cuman boleh senyum sama Kamila aja," kata Alisha lagi.


Mendengar ucapan sang istri yang super ekstrem itu Marvin hanya bisa tertawa. Sedangkan Arkan menghela nafasnya.


"lyah Bunda iyah, aku pergi dulu yah! Ayah sama Bunda aja yang nyelesain administrasinya, aku mau bawa Kamila jalan-jalan ke KUA, Ayah sabar yah Bunda emang bawel!" kata Arkan sambil mendorong kursi roda.Kamila sebelum terkena semprot ibunya.


Marvin tertawa dia mengusap pundak Alisha, Arkan dan Alisha jika sudah adu mulut mereka akan selalu menjawab satu sama lain.


Setelah perdebatan dengan ibunya Arkan ternyata membawa Kamila ke pantai. Arkan mendorong kursi roda Kamila dan Kamila tersenyum senang dia menutup matanya menikmati udara pantai.


"Seneng Yang?" tanya Arkan kepada Kamila.


Lalu Arkan memeluk Kamila dari belakang dia melingkarkan tangannya di leher Kamila dan menempelkan pipinya ke pipi Kamila, Kamila mengusap pipi Arkan lembut.


"Asal sama lo gue selalu bahagia!" jawab Kamila.


Arkan menutup matanya menikmati angin dan sentuhan Kamila di pipinya.


"Gue minta maaf yah, malem itu harusnya gue gak marah sama lo. Gue kesel sama diri gue sendiri sebenernya Mil. Ini udah kesekian kalinya lo celaka gara-gara gue, mungkin Bunda bener seharusnya gue gak pernah senyum sama cewe, gue seharusnya jadi kayak Daren. Seharusnya gue lebih tegas lagi. Maafin gue Mil!"


Kamila menghela nafas panjang kemudian mengembuskannya perlahan. Dia mengusap kepala Arkan yang berada di pundaknya.


"Lo gak salah Arkan, gak ada orang yang mau celaka, lo gak boleh nyalahin diri lo sendiri, selama ini lo udah selalu jagain gue dan selalu buat gue seneng. Gue Sayang sama lo Arkan!"


Arkan merasakan nyaman saatpipinya bersentuhan dengan pipi Kamila.


"Gue juga Sayang sama lo Mil, gue bener-bener minta maaf gue-"


Ucapan Arkan terpotong saat Kamila menoleh di menempelkan bibirnya ke bibir Arkan, Arkan terkejut dia membeku.


"Gu-gue gak sengaja!"


Arkan menarik dagu Kamila dia memangut bibir Kamila pelan, menyalurkan rasa nyaman untuk gadis itu.


Arkan melepasnya dia terkekeh, sedangkan Kamila langsung menutup wajahnya.


"Manis Mil kayak biasanya," kata Arkan menggoda Kamila.


Plak...


Kamila memukul lengan Arkan pelan membuat Arkan tertawa. Kamila tiba-tiba melihat penjual es cream, Arkan yang peka dia langsung tersenyum


"Tunggu bentar ya, Yang" kata Arkan.


Tetapi, baru saja satu langkah Arkan meninggalkan Kamila dia berbalik dia memberikan dompetnya pada Kamila.


"Pegang Yang!" katanya.


Kamila menerimanya dengan bingung, Arkan lalu menggendong Kamila ala bridal


style membuat Kamila terkejut.


"Eh Arkan mau ngapain, kenapa di gendong?" tanya Kamila bingung.


"Gue gak bisa ninggalin lo walaupun sebentar, gue gak mau lo kenapa-kenapa lagi!" kata Arkan membuat senyum Kamila mengembang.


Mereka pergi membeli es cream. Dengan Arkan yang menggendong Kamila.


"Rasa apa Yang?" tanya Arkan.


"Cokelat deh!" katanya.


"Pak es cream cokelatnya satu yah!" kata Arkan kepada si penjual.


"Siap Mas!"


Kamila senang Arkan ternyata peka dengan apa yang dia inginkan.


Setelah menunggu Kamila menerima es creamnya dia lalu membuka dompet Arkan dan Kamila membayarnya sedangkan Arkan terus menggendong Kamila, Kamila senang sekali dia juga menyuapi Arkan es cream.


Alisha dan Marvin yang baru saja datang melihat keduanya sedang memakan es cream, ternyata mereka mengikuti ke mana Kamila dan Arkan pergi, mereka saling pandang kemudian tersenyum.


Mereka mengabadikan momen itu dalam kamera yang dibawa oleh Marvin.


"Arkan keliatan sayang banget sama Kamila ya, Yah?" kata Alisha kepada Marvin.


"Sama kayak aku ke kamu, Bund," jawab Marvin sambil terkekeh.


"Idih, nggak mau kalah."


Marvin tertawa dia memeluk Alisha dari samping.


Terlihat Arkan berputar-putar dengan Kamila dalam gendongannya dan itu membuat Kamila tertawa lepas.


"Hahaha, udah Arkan udah!" katanya.


"Lo bahagia?" teriak Arkan.


"Gue bahagia ARKANNN...." seru Kamila membuat Arkan tertawa lepas.


"Cape Yang!" kata Arkan.


Setelah lelah Arkan mendudukan Kamila di pinggir pantai, Kaki kamil terkena air pantai, mereka memakan es ream sambil berbincang.


Kamila bersandar di pundak Arkan, Arkan mengelus kepala Kamila dengan lembut.


"'Arkan!" panggil Kamila.


"Kenapa hm?" tanya Arkan sambil merapikan rambut Kamila.


"Lo nggak malu kan jalan sama cewek cacat kayak gue?" tanya Kamila kepada Arkan membuat Arkan menghentikan kegiatannya.


"Kok ngomongnya gitu sih? Mau lo cacat, buta atau apa pun itu gue gak peduli Mil, gue butuh lo dalam hidup gue Mil! Lo pergi gue hancur! Gue Sayang sama lo, gimana pun keadaan lo gue gak peduli!"