
***
"Loh Arkan, ini kan bukan jalan ke rumah gue, kita mau ke mana?" tanya Kamila.
Pulang sekolah Arkan membawa Kamila ke rumahnya. Tentu saja Kamila sedikit protes.
"Bunda tadi kirim pesan. Katanya mau lihat kondisi Lo. Sekalian nyuruh Lo makan siang di rumah," jawab Arkan.
Kamila sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi jika Arkan sudah membawa-bawa sang Bunda.
Sesampainya di rumah Arkan, Alisha langsung menyambut kedatangan Kamila dengan senyuman hangat dan juga pelukan.
"Anak Bunda ... Sini masuk, Sayang. Bunda udah masakin opor sama telor balado buat kamu. Kata Papah kamu, itu makanan kesukaan kamu selain gado-gado. Ayah yang tanya waktu itu," kata Alisha.
"Makasih ya Bunda, jadi ngerepotin. Semalam juga pasti udah bikin semuanya panik dan repot ya," kata Kamila.
"Nggak kok, Sayang. Bunda gak merasa direpotin. Tadi, kamu mual ya kata Arkan? Sekarang udah enakan?"
"Kok Bunda tau?" tanya Kamila.
"Arkan tadi kabarin Bunda!"
Kamila tersenyum kepada Arkan dengan sangat manis.
"Aku udah baikan kok Bund, tadi Arkan udah beliin aku obat di kantin sama makanan juga. Jadi aku makan siomay di sekolah abis itu minum obat!" jawab Kamila.
"Syukurlah, ayo masuk. Kita makan sama-sama," ajak Alisha.
Alisha pun langsung merangkul Kamila dan membawa gadis itu masuk.
"Lah, kamu ngapain ngejogrog di situ, Arkan? Mau jadi penjaga pintu?" tanya Alisha saat melihat sang anak tetap berdiri di depan pintu.
"Bund, yang anaknya itu aku atau Kamila? Kok Kamila terus yang disayang, akunya enggak!" sahut Arkan sambil mengerucutkan bibirnya.
Alisha langsung mencebik.
"Kumat ngambek kayak anak perawan,
kalian berdua anak Bunda. Tapi kalo
kamu hobi bikin Bunda kesel, kerjanya bolos sama tawuran terus, biar aja nanti Bunda jual motor kamu itu," kata Alisha.
"Sadis amat Bund, masa si ucup dijual, nanti aku anter jemput Kamila gimana? Bunda ini kayak ibu tirinya Kamila. Jahat!" kata Arkan merajuk.
"Kamu mau punya ibu tiri?" tanya Alisha sambil melotot.
"Ya enggak Bund, enak aja. Bunda Alisha terbaik!" jawab Arkan.
"Tapi aku sedih, Bunda lebih sayang ke Kamila!" kata Arkan dengan nada sedihnya.
Melihat Arkan yang seperti anak kecil Kamila hanya tertawa. Kemudian ia pun langsung menarik tangan Arkan.
"Gak usah ngambek gitu, jelek. Ini kan Bundanya kita berdua!" kata Kamila memeluk Alisha dan Arkan bergantian.
Arkan tertawa, ia lalu mengacak rambut Kamila, dan melangkah masuk.
"Bisa aja!"
Kamila tertawa saat Arkan mencubit pipinya.
"Gue ganti baju dulu yah, lo jangan ngintip ya Mil. Bintitan ntar," kata Arkan usil.
"Dih ngapain ngintip, gak ada roti sobeknya!" kata Kamila.
"Jangan salah Mil, kalo lo liat pasti langsung terhipnotis pasti langsung minta nikah."
Alisha dan Kamila menggelengkan kepala mereka.
"Bodo amat!" ujar mereka bersamaan.
Kemudian, mereka pun melangkah ke dapur untuk menyiapkan makanan. Arkan juga tertawa dia naik ke atas menuju kamarnya.
Alisha senang sekali saat Kamila berada di rumahnya, Alisha senang karena Kamila adalah anak yang begitu rajin dan juga santun.
"Sering-sering ke sini Mila. Bunda seneng kalo ada kamu. Arkan itu setiap hari keluyuran terus. Tapi sejak ada kamu dia banyak berubah juga. Malkasih ya, Sayang."
Kamila menganggukan kepalanya.
"Sama-sama, Bunda."
Sementara itu, Arkan ke kamar untuk berganti baju. Namun, setelah itu ia tidak turun ke bawah karena pasti Kamila sedang bersama ibunya.
Arkan tahu jika Kamila sangat merindukan sosok seorang ibu dalam hidupnya. Dan untuk itu Arkan rela berbagi cinta Alisha untuk Kamila.
saja pendekatan antara menantu dan
ibu mertua. Arkan pun memutuskan untuk
bermain PS saja, setelah cukup lama bermain PS, pintu kamar terbuka.
Kamila muncul dari balik pintu.
" Ar, dipanggil sama Bunda suruh makan," kata Kamila.
Arkan melihat ke arah Kamila.
" Sini masuk, tanggung bentar lagi menang," kata Arkan.
Kamila pun membuka pintu kamar Arkan lebar-lebar. Dia pun mendekati Arkan dan duduk di kasur Arkan. Kamila melirik ke arah ponsel Arkan yang tergeletak di kasur. Gadis itu merasa penasaran ingin tahu apa
isinya.
"Kalo lo mau buka hp gue ya buka aja," kata Arkan tanpa mengalihkan pandangan dari permainan yang sedang ia mainkan.
Kamila terkejut karena Arkan tau apa yang ada di dalam pikirannya padahal dia tidak melihat sedikitpun.
"Gak papa?" tanya Kamila.
"Buka aja Sayang!" jawab Arkan.
Kamila mengambil ponsel Arkan.
"Sandinya apa? Dikunci loh ini," kata Kamila.
"Pake muka lo juga bisa," jawab Arkan.
Dan benar saja saat diarahkan ke wajahnya, password ponselnya terbuka.
"Kapan buatnya?" tanya Kamila.
"Ada deh," ujar Arkan dengan nada usilnya dan itu membuat Kamila merengut kesal.
Kamila melihat pesan Arkan dan teman-temannya, senyum Kamila. mengembang melihat nama kontaknya.
"Sayang," kata Kamila.
"Iyah Sayang!" jawa Arkan sambil terkekeh.
"Ih bukan itu, ini kenapa nama kontak gue begini," ujar Kamila.
"Iyah biarin aja, biar semuanya tau gue punya cewe yang beneran, gak php in anak orang!" Kamila tertawa.
Sudah bukan rahasia jika Arkan suka memberi harapan kepada para siswi
di sekolah.
Arkan yang jail dan selalu menggoda mereka membuat beberapa dari mereka berasa senang di dekati. oleh pemuda seperti Arkan. Padahal kenyataannya Arkan hanya bercanda untuk memperbanyak teman.
Kamila tidak cenmburu karena dia tau rasa
cintanya Arkan hanya untuk dirinya. Lagi pun restu bundanya sudah ada pada Kamila jika Arkan macam-macam adukan saja pada ibunya.
Di dalam ponsel hanya ada beberapa pesan saja, setelah puas melihat ponsel Arkan ia pun kembali menyimpan di atas kasur.
"Makan yuk, Bunda udah selesai. Kayla juga pasti udah nunggu. Gue juga udah laper," kata Kamila.
Arkan mengangguk dan mematikan PS- nya. Lalu ia pun menggandeng Kamila menuju ke ruang makan.
"Abang ini makan aja mesti disusulin dulu. Nyebelin," kata Kayla saat melihat Arkan turun.
Rupanya gadis kecil itu sudah lapar dan ia menunggu Arkan.
"Ya abis tanggung tadi main PS nya bentar lagi menang masa dibiarin"jawab Arkan.
"PS aja terus. Bunda, boleh gak kalo Kay request? Bunda tukeran anak aja. Biar kak Mila yang jadi kakaknya Kay. Abang dituker tambah aja," kata Kayla dengan ceriwisnya.
Alisha dan Kamila hanya tertawa mendengar perkataan Kayla. Sementara Arkan langsung mencebik.
"Emang Abang ini motor bisa tuker tambah. Gini- gini Abang kamu, Kay," kata Arkan dia hendak duduk di samping bocah itu.
"Gak mau! Sana Abang jauh-jauh. Kay mau dekat Kak Mila aja," kata Kayla lagi.
Kamila hanya tertawa kecil kemudian ia pun duduk di samping Kayla.
"Nah, kakak udah duduk dekat Kay. Udah ngambeknya, ya. Sekarang makan dulu," bujuk Kamila.