Badboy Yang Menyebalkan

Badboy Yang Menyebalkan
183. Amarah


Cup...


Arkan mencium telinga Kamila," Tapi sayangnya lo harus lebih banyak belajar lagi Kamila!" bisik Arkan lagi tapi kali ini nadanya terasa sangat sensual.


"Geli Arkan!" ujar Kamila saat merasakan deru nafas Arkan di telinga dan lehernya.


Arkan tidak membalas apa pun dia hanya terkekeh saja, Kamila membalas pelukan Arkan, "Gue masih ngambek yah sama lo! Tapi gue kangen!"


Lagi-lagi Arkan harus tertawa " Apalagi gue, please deh Sayang kalo ngambek jangan ngediemin gitu, gue lebih baik di omelin daripada di diemin! Bikin gemes aja," kata Arkan.


Kamila memperat pelukannya, "Ya siapa suruh bikin kesel. Dari siang gak pulang mana eh malemnya tawuran, kalo kemaren lo ditangkep polisi gimana? Dulu kan udah pernah masuk kantor polisi gara-gara tawuran juga!" kata Kamila kesal.


"Tapi kan waktu itu gue belain sekolahan. Kali ini juga kan gue belain anak-anak."


"Emang lo pikir Bunda peduli? Yang ada lo bakalan kena omel sama Bunda sama Ayah. Untung kemaren gue gak ngaduin ke Bunda kalo lo abis tawuran. Kalo gue aduin si Ucup tuh bakalan dijual sama Bunda," kata Kamila.


Arkan terkikik geli mendengar ocehan Kamila. Sehari saja tidak mendengar suara Gadis itu membuatnya merasa gila dan frustasi.


Arkan melepas pelukannya dia merapikan rambut Kamila, "Iyah Sayang maaf, udah dong jangan ngambek lagi, sekarang anter ke kantor Ayah yu nanti pulangnya jalan-jalan dulu!" kata Arkan.


"Idih ngerayu."


"Ya udah kalau lo nggak mau diajak jalan-jalan sama gue, gue ajak cewek lain aja jalan-jal-"


Pletak!


Refleks, Kamila pun menyentil dahi Arkan gemas.


"Aduh, sakit Sayang," kata Arkan sambil mengusap-usap dahinya.


"Bodo amat! Siapa suruh Lo mau jalan sama cewek lain?!"


"Becanda, Sayang. Sensi banget sih! Ayo ke kantor Ayah gue ganti baju dulu, masih pake seragam tadi tidur, tunggu bentar yah!"


Setelah mereka baikan Arkan mengantarkan berkas ke kantor, Kamila ikut dia terlihat sangat cantik dengan dress selututnya ditambah jepit yang bertengger di rambutnya.


Beberapa karyawan menyapa Arkan karena mereka tau Arkan adalah pewaris perusahaan raksasa ini. Sedangkan Kamila mereka bingung dia siapa kenapa bergandengan tangan dengan Arkan.


Arkan menghentikan langkahnya," Liatinnya biasa aja! Dia calon istri saya kalo itu yang mau kalian tanyakan! Awas aja kalo ada yang bicarain yang enggak-enggak tentang calon istri saya!" kata Arkan dengan tegas kepada karyawannya.


Arkan kembali membawa Kamila pergi, "Lo galak amat sih kasian kan mereka lo gituin," kata Kamila saat mereka berjalan ke dalam.


"Ya nggak apa-apa. Mulai dari sekarang mereka harus terbiasa liat lo. Nanti kalo kita udah nikah dan gue udah pegang perusahaan mereka harus sopan dan hormat sama lo," kata Arkan dengan tegas.


Kamila hanya bisa menggeleng-gelengakan kepalanya mendengar jawaban Arkan.


Sampai di ruangan Marvin, Arkan pun langsung menyerahkan berkas itu kepada sang ayah.


"Ini Ayah!"


"Cepet banget, makasih ya. Kalian udah makan belum?"


"Kami makan di luar aja, Yah. Mau sekalian ngajak Kamila jalan-jalan," jawab Arkan.


Marvin menatap putranya, "Udah baikan nih ceritanya?" Goda Marvin.


"Yang ribut siapa?" bantah Arkan.


"Kamu pikir Ayah nggak pernah muda langsung tua gitu? Nggak kamu bilang juga Ayah tau kalo kamu dari kemaren berantem sama Kamila. Lain kali Mila jewer aja kupingnya kalau dia nggak mau denger," kata Marvin.


"Udah Mila marahin kok tadi Ayah."


"Kurang lama marahnya. Aturan jangan ditanya sampe satu minggu biar dia kapok," kata Marvin menggoda putranya.


Arkan mendelik kesal, "Enggak Ayah, enggak Bunda sama aja suka nistain aku!" protes Arkan membuat Marvin dan Kamila geli.


"Anak kandung yang terdzholimi, nasib... Nasib!"


***


Setelah mengantar Kamila ke kelasnya, Arkan masuk ke dalam kelasnya sendiri. Pemuda itu hanya meletakkan tas lalu pergi ke rooftop. Hari ini dia hendak membolos saja, di sana sudah ada Kean, Sean, Bastian dan Daren.


"Gila yah lo Ar, gak ada kapok-kapoknya biar nanti Kamila ngamuk-ngamuk terus ngomel gara-gara lo bolos!" kata Daren.


Arkan terkekeh dia menyalakan rokoknya, "Biarin aja lah lagian gue bolosnya masih di sekolah gak akan tawuran juga!" jawab pemuda itu dengan santainya.


"Lo gak usah ngomong sama si Arkan deh Ren dia mah nakalnya udah mendarah daging!" saut Bastian sambil tertawa.


"Dih, kenapa gue doang, lo semua juga sama! Gue pites juga lo," kata Arkan kepada Bastian.


Mereka bermain game sambil mengobrol satu sama lain. Mereka merokok hingga jam istirahat, saat jam istirahat mereka turun ke bawah.


"Kamila sekertaris osis kan?"


"Ada Apa Ar-"


"Ssstttt!" Arkan langsung memotong ucapan Daren dan menginstrupsi agar diam.


Arkan bersembunyi dibalik tembok, dia memasang telinganya baik-baik.


"Kayaknya tuh cewe emang udah pernah gituam deh sama si Arkan makanya dia tinggal serumah. Gak nyangka aja padahal dia itu keliatannya baik banget, tapi malah gak punya harga diri!"


"Haha iyah juga, maklum aja bokapnya kan napi, dia sebatang kara. Gue denger-denger waktu ada gosip itu dia anak yang gak dinginin sama orang tuanya, kasian!" saut salah satu siswa lainnya.


"Kalo ngakunya sih nggak pernah ngapa-ngapain tapi kan kita nggak tahu.


Namanya juga tinggal satu atap. Siapa yang tau sih mereka habis ngapa-ngapain."


"Sayang yah cantik-cantik tapi murahan."


BUGH...


BUGH...


"BANGSAT!"


Mendengar pembicaraan kedua siswa itu emosi Arkan menguap dia meninju mereka berdua.


"Siapa yang lo bilang murahan anjing! Mulut lo berdua minta gue sobek pake kampak biar lebar kayak fitrnah lo!" hardik Arkan penuh emosi.


"Sialan! Jangan main tinju aja lah!"


"Kenapa emang ?! Ga terima Lo gue hajar?!" bentak Arkan dengan berapi-api.


"Sial!"


Bugh...


Bugh...


"Ar udah Ar tahan diri lo!" kata Daren dia berusaha menahan Arkan.


"Ar, gila anak orang bisa babak belur!" kata Bastian terkejut.


BRUKH...


Dua orang itu menendang Arkan hingga terhuyung Keduanya pun berlari menghindari Arkan, siswa itu berlari ke


arah lapangan tapi Arkan yang sudah


kalap ikut mengejarnya.


"BRENGSEK!"


BUGH...


BUGH...


Kedua siswa itu benar-benar tidak bisa lepas dari amukan Arkan.


"Mati aja lo bajingan!"


Bugh.... Bugh..


Plak!


"Siapa yang lo bilang murahan setan!"


BRUKH..


Arkan menendang keduanya hingga terjatuh terlentang di lapangan, Arkan sekarang berada di atas kedua siswa itu keduanya berada dalam kukungan Arkan.


"Bangsat!" umpat Arkan.


Bugh....


"Gue bisa aja bunuh lo berdua sekarang?!" Arkan mencekik leher keduanya.


"Uhuk... Uhuk..." Salah satu dari mereka terbatuk saat Arkan mencekiknya dengan kuat.


"Arkan! Sadar Arkan!" kata Kean sungguh dia sangat takut melihat Arkan yang seperti ini.


Saat ini kebetulan jam istirahat suasana lapangan sangat ramai semuanya menonton.


"Ada apa ini kenapa kalian! Kalian pikir ini ring tinju bisa dipakai berantem? Ini sekolah bukan buat tempat berantem dan adu jotos!" Seru pak Yusuf.