
Arkan menganggukan kepalanya, " lyah Ayah, tapi aku mau minta maaf sama Kamila!" jawab Arkan.
"Yaudah besok lagi aja minta maafnya, sekarang udah malem kamu tidur! Ayah juga mau tidur," kata Marvin kepada Arkan agar pemuda itu menuruti perintahnya.
"Iyah Ayah, maaf udah buat Ayah khawatir!"
Setelah itu Arkan naik ke atas dia masuk ke kamar Kamila. Gadis itu sedang tidur terlihat dia tengah memeluk boneka terlihat mata Kamila membengkak, sepertinya gadis itu sempat menangis sebelum tidur dan itu membuat Arkan semakin merasa
bersalah.
Arkan mengunci pintu, dia melepas jaket dan kunci motornya lalu diletakan di sofa.
Arkan masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci mukanya. Setelah itu Arkan naik ke atas kasur dia memeluk Kamila.
"Maaf Sayang!" bisik Arkan.
"Tadi siang kelepasan, gue tau gue salah, maaf!"
Kamila yang terusik membuka matanya dia melihat Arkan dia berusaha melepas pelukan Arkan.
"Lepas Arkan!" kata Kamila berontak.
Arkan malah semakin mengeratkan pelukannya.
"Lepas!" seru Kamila.
"Enggak Sayang!" jawab Arkan.
Kamila menangis dia marah pada Arkan tapi Kamila juga rindu.
"Lo jahat Arkan hikSs, lo ke mana seharian ini, gue tau gue salah udah ngebentak lo tapi lo gak harus ilang seharian!" kata Kamila terisak di dada Arkan.
Arkan tidak tega dia mengusap kepala Kamila, "Maaf, gue cemburu lo perhatian sama laki-laki laim, gue cuman butuh waktu sendiri buat nenangin pikiran!" katanya.
"Gue juga gak ngelakuin yang macem macem kok kalo itu yang lo takutin. Gue sayang sama lo Kamila! Gue gak mau buat lo sakit!" lanjutnya.
Kamila menggeleng-gelengkan kepalanya, "Gue bukan khawatir sama Raka, gue khawatir sama lo Arkan! Hiks... Gue takut lo kenapa-kenapa!" katanya dengan air mata yang mengalir.
Kamila membalas pelukan Arkan, Arkan menutup matanya dia berusaha untuk terus menenangkan dirinya sendiri agar tidak kelepasan lagi.
"Gue tau Kamila, maaf! Maaf udah buat lo nangis! Sekarang lo boleh ngehukum gue dan minta apa pun dari gue, karena gue udah buat lo nangis!"
...****************...
Kamila sekarang sedang duduk dengan tenang di dapur bersama dengan Arkan.
Tidak bukan dengan Arkan, tapi dia sendiri. Kamila memberikan hukuman pada Arkan agar membuat kue, Kamila tidak penah memakan kue buatan Arkan.
Arkan menggunakan apronnya, di sedari tadi terus saja mendengus kesal.
"Mil, gue beneran gak bisa bikin kue, jangankan gue bikin kue, goreng telor aja gosong, ganti yah hukumannya. Kita ke mall kek ngabisin duit gue!" kata Arkan memelas.
"No! Gue mau lo bikin kue, suruh siapa bikin gur kesel. Lagian kan resepnya udah gue kasih, lo tinggal dengerin gue nanti bisa!" kata Kamila.
Arkan hanya menggaruk-garuk kepalanya ia menatap telur, margarin dan bahan yang lain dengan hati yang bimbang.
"Ini apa lagi namanya, lo kejam Mil! Hukumannya diganti yang lain aja deh," ujar Arkan.
"Gue maunya Lo bikin bolu gulung. strawberry," kata Kamila ketus dan itu membuat Arkan terkejut.
"lyah Sayang iyah gak usah ngegas gitu ini kayak gimana caranya? Cuma liat dari video doang susahlah, Kamila Sayang," kata Arkan.
Kamila menatap Arkan, sedangkar yang ditatap hanya menatap balik dengan tatapan bingung.
"Kok diem aja, ayo mulai!" ujar Kamila.
"Gue gak tau Kamila harus ngapain dulu!" Kamila menepuk bahunya, Arkan sangat lemot jika berurusan dengan dapur.
"Lo kalo berantem aja pinter, sekarang lo timbang dulu semua bahannya, tuh telurnya masukin dulu ke wadah. Pisahin kuning sama putihnya," kata Kamila sambil menunjuk telur.
Arkan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. lya bingung bagaimana cara memisahkan antara kuning telur dan putih telur. Sehingga pada akhirnya ia memecahkan semua telurnya dan memasukkan ke dalam wadah.
"Itu kenapa disatuin kan harusnya kuning sama putihnya dipisahin," protes Kamila sebal.
"Ya ini gue sendokin aja kuningnya trus dimasukin ke wadah satunya," kata Arkan.
Kamil menggelengkan kepalanga," Ya udah terserah lo aja pokoknya yang lo pake putih telurnya cuman satu kuning telurnya itu sepuluh," kata Kamila.
Setelah berhasil memisahkan antara kuning dan putih telur Arkan pun mulai menimbang bahan-bahan kue.
"Telurnya dikocok barengan sama gula, gulanya seratus gram aja," kata Kamila lagi.
"Duh ini gimana kocoknya?"
"Ya kan tinggal kocok pakai mixer, Arkan."
Arkan mengambil mixer yang ada di dapur.
"Harusnya gue yang marah, dia yang bikin kesel gue juga yang kena hukuman. Gak adil!" gumam Arkan kesal.
"Kalo gak ikhlas gak usah dilanjutin sini biar gue aja nanti kuenya mau gue bagiin!" saut Kamila dan itu membuat Arkan gelagapan.
"Eh enggak Sayang, ikhlas kok ikhlas!" jawab Arkan.
Arkan mulai menyalakan mixernya untung nya mixer milik Alisha tidak perlu di pegangi. Alat itu bisa bergerak sendiri karena ada dudukan yang menyangga nya sehingga sambil alat itu bergerak, Arkan bisa menimbang bahan kue yang lain.
Setelah telur dan gula yang dikocok menjadi putih dan berjejak, Arkan pun memasukkan terigu, maizena dan susu. Baru setelah itu la memasukkan mentega yang tadi sudah ia cairkan.
"Kalo udah kayak gini gimana?" tanya Arkan.
Kamila memberikan sebuah loyang kepada Arkan.
"Nih adonannya lo masukin ke loyang ini terus panggang di oven," kata Kamila.
Arkan pun menuruti perkataan Kamila, lya memasukkan adonan kue yang sudah dia kocok Ke dalam loyang dan memasukkannya ke dalam oven.
"Selesai!"
"Cape banget Yang!" Arkan mendekati Kamila yang duduk di kursi roda.
"Ih jauh-jauh, lo bau telor Arkan!"
Kamila mendorong Arkan agar menjauh.
Arkan yang jahil dia malah memeluk Kamila, dan mendusel-duselkan kepalanya.
"Lo wangi!" katanya.
Kamila terkekeh dia tadi hanya bercanda menyuruh Arkan menjauh, sekarang gadis itu malah mengusap rambut Arkan yang basah karena keringat.
Sambil menunggu kue matang, Arkan duduk di depan Kamila dengan Kamila.
Ting...
Suara oven membuat Arkan bangkit dia membukanya lalu melihat ke dalam. Dia membelakan matanya.
"Mil!" kata Arkan sambil membalikan tubuhnya menunjukan kue itu.
Gosong! Arkan tidak pernah membuat kue sebelumnya suhu oven yang iya pasang terlalu panas sehingga dalam waktu 15 menit kue yang ia panggang pun menjadi gosong.
Kamila dan asisten rumah tangga di rumah itu menahan tawa melihat kue yang diangkat oleh Arkan menjadi kehitaman dan gosong,
"Tuh kan, gue bilang juga apa. Gue kan ga bisa bikin kue, gosong kan? Kalo udah gini gimana bisa jadi bolu gulung? Yang ada ini mah jadi bolu gosong." keluh Arkan sedih.
Pemuda itu merasa sedikit kecewa karena ia gagal membuat kue yang enak untuk kekasihnya.
Melihat kekecewaan Arkan Kamila hanya bisa tersenyum, amarahnya hilang seketika. la pun menghampiri Arkan mengusap lengannya kemudian di memotong kue yang gosong.
"Paiiit , padahal bikinnya pake cinta ya?" kata Kamila sambil tertawa.
Arkan hanya cengengesan mendengar perkataan Kamila.
"Maaf ya jadi makan kue gosong. Padahal semua kata-kata lo kan udah gue ikutin," kata Arkan sedih dia menundukan kepaanya.
Lucu sekali melihat wajah Arkan yang sangat imut apalagi pemuda itu menggunakan apron berwarna pink.
"Semua bahannya udah bener, cara bikinnya juga udah. Tapi suhu ovennya itu terlalu panas. Harusnya 150 aja udah cukup."
Arkan menaikan kepalanya, "Tadi lo nggak kasih tau gue," protes Arkan.
"Kan judulnya gue lagi kesel sama lo, masa gua kasih tau juga," kata Kamila.