
"Tapi gue takut lo malu, lo cakep, tajir masa cewe lo cacat. Sekarang gue banyak kurangnya Arkan!" kata Kamila lagi.
"Sayang!" Arkan menangkup wajah Kamila sambil mengusap pipi nya lembut.
"Semua orang punya kekurangan, lo punya kekurangan gue juga punya banyak kekurangan, kita sama-sama saling melengkapi buat nutupin kekurangan yang ada. Lagian gue yakin Mil lo bisa sembuh, lo punya gue yang kuat gendong lo ke mana aja lo mau! Manfaatin gue Mil! Gue sayang banget sama lo!"
Air mata Kamila mengalir pipinya, dia sangat terharu begitu cinta nya Arkan pada dirinya.
"Janga nangis!" Arkan mengusap air mata Kamila.
"Lo punya gue Mil! Jadiin gue sandaran lo, jadiin gue tempat lo bergantung! Manfaatin gue Mil, selagi itu lo gue gak masalah!" kata Arkan serius.
Kamila memeluk Arkan, sekarang Kamila harus lebih percaya pada Arkan. Arkan sudah menunjukan segala sisi yang dia miliki. Dia hanya mencintai Kamila. Arkan itu milik Kamila, tetap milik Kamila.
***
Malam hari, Lia sedang berjalan sendirian di taman hotel. Dia benar-benar takut bertemu dengan Arkan.
Bahkan, saat pertandingan pun Lia tidak berani melihat ke arah Arkan. Lia berjalan dengan tatapan kosong nya. Tanpa sadar, seseorang menutup kepala nya dengan tutup hoodienya. Dia tersenyum menyeringai saat melihat Lia mendekat.
Orang itu tersenyum dengan smirknya setelah berhasil meletakan sesuatu di dalam rerumputan. Orang itu langsung membalikan tubuh nya. Terlihat sangat misterius.
"Satu..."
"Dua.."
"Tig--"
"Aaargh! Awww! Sakit! Tolooong!"
Suara teriakan membuat senyum orang itu semakin lebar, belum sampai hitungan ke tiga teriakan yang sangat orang itu tunggu terdengar.
Lia terduduk di rerumputan dia terkejut saat melihat kakinya berdarah, ada pisau tajam tertancap di kakinya.
"Auwwww sakit!" Lia mencabut pisau yang tertancap di kakinya.
Lia terkejut saat melihat seseorang tengah berdiri di depannya. Sambil memunggunginya.
Gadis itu memicingkan mata ia berusaha untuk mengenali siapa orang yang sedang berdiri di hadapannya saat ini.
"Si-siapa kamu! Kamu kan yang bikin aku celaka?" tanya Lia sambil memegangi kakinya yang berdarah dan terasa sangat sakit.
Tiba-tiba saja orang itu membalikan tubuhnya dan membuka tutup kepalanya lalu ia menyeringai ke arah Lia.
"Hallo cewek cupu?!"
"Ar-Arkan!"
Lia terkejut saat melihat orang itu adalah Arkan, Lia langsung bangkit dia melangkah untuk pergi, dia takut pada Arkan.
"ARGH!!"
Tapi lagi-lagi teriakan Lia membuat Arkan semakin tersenyum lebar. Kaki Lia dua-duanya terkena pisau milik Arkan yang Arkan letakkan di rerumputan.
"Kamu gila Arkan!" kata Lia sambil melepas pisau lagi yang tertancap di kakinya.
Arkan mengambil pisaunya dia tertawa melihat Lia yang meringis kesakitan.
"Hahaha, mau ke mana? Gak semudah itu buat kabur dari gue sialan!"
Arkan melihat ada darah di pisaunya. Lia benar-benar takut, karena ternyata Arkan sangat kejam.
Arkan melihat ke arah Lia yang tengah meringis kesakitan, "Sakit ya? Tapi kayaknya itu gak sebanding sama rasa sakit yang cewe gue rasain!" kata Arkan.
Arkan berjongkok dia mencengkram rahang Lia kencang," Gara-gara lo dia harus duduk di kursi roda! Dia gak tau ternyata cewe yang di selametin itu iblis, iblis yang berusaha ngancurin hidupnya!"
"Arkan sakit!" lirih Lia karena Arkan mencengkramnya sangat kuat.
Plak....
Arkan menampar Lia yang meringis kesakitan, "Harusnya malem itu lo yang ketabrak bukan cewe gue! Kalo lo nunggu balesan dari dia sampe kapan pun dia gak akan ngelakuinnya, jadi sekarang biar gue aja yang bales rasa sakitnya!" kata Arkan dengan tatapan tajam.
"Aku gak tau kalo malem itu Kamila mau nyelametin aku. Aku gak salah! Dia yang salah kenapa sok jadi pahlawan!" teriak Lia berusaha membela diri.
Arkan semakin mencengkram pipi Lia dengan keras sehingga Gadis itu mengaduh kesakitan.
"ARGH!"
"Gak salah lo bilang? Kalo aja lo gak berusaha buat misahin gue dari Kamila, ini gak akan terjadi, kalo lo gak neror Kamila dia gak mungkin buru-buru nyusulin gue ke sini! Ini semua belum seberapa dari pembalasan gue!" kata Arkan.
"Jadi sekarang mau kamu apa? Kamu mau bunuh aku?"
"Mati itu terlalu gampang buat lo. Gue pengen nyiksa lo dulu sebelum lo mati, biar lo tau gimana rasa nya deket sama cowo kayak gue! Itu kan yang lo mau, lo mau deket sama gue!" jawab Arkan sakrastik.
"Ak-aku minta maaf Arkan, aku gak tau kalo semua nya jadi begini!"
"Arghhhh. Arkan sakit..hiks.!" Lia memekik saat Arkan menarik rambut nya kencang.
"Minta maaf sama Kamila bukan sama gue! Gue mau lo sujud di depan Kamila!" ujar Arkan dengan tegas.
"Ka-kamu gila Arkan!"
"Baru tau? Dari awal gue yakin temen-temen gue udah ngasih tau lo buat jangan main-main sama gue! Tapi? Lo dengan santai nya mau deket sama gue kan?!" Arkan tertawa menyeramkan.
"Gue gak sebaik yang lo liat *****!"
"ARGHHH SAKIT ARKAN!" teriakan Lia semakin membuat jiwa psycopat Arkan terasa bergejolak.
Beruntung nya malam itu suasana tempat Arkan dan Lia terlihat sepi. Dan lagi sekarang sudah cukup malam.
"Minta maaf dan sujud di depan Kamila?!"
"SAKITTT ARKAN !"
Setelah puas menyiksa Lia, Arkan menyeringai dia meninggalkan gadis itu
sendiri.
Arkan kembali ke hotel dia ingin menemui Kamila. Dengan senyum mengembang
Arkan berjalan menuju kamar Kamila.
Arkan berhenti di depan pintu kamar Kamila, Arkan menyembunyikan
Ceklek...
"Mil!" panggil Arkan.
Terlihat seorang gadis yang berada di atas kasur menoleh.
"Arkan!"
Arkan masuk ke dalam dia mendekati Kamila.
"Lo abis dari mana? Kok gue telepon nggak diangkat?" tanya Kamila kepada Arkan.
Arkan memang memiliki kunci kamar Kamila sehingga ia bisa masuk ke dalam kamar Kamila kapan pun.
"Enggak ke mana-mana tadi keluar bentar kok!" kata Arkan dia duduk di pinggir ranjang Kamila.
"Dari tadi Mbak Kamila nanyain Mas Arkan terus!" kata seseorang yang sedari tadi berdiri di depan sana.
"Oh iyah, kangen yah!" goda Arkan sambil mencolek dagu Kamila.
"Apa sih enggak yah. Bibi kenapa bilang ke Arkan sih dia itu narsis terus kerjaan nya!" kata Kamila.
Untuk membantu Kamila, Marvin dan Alisha membayar jasa seorang perawat yang tidur di kamar Kamila.
Mereka benar-benar mengkhawatirkan kondisi Kamila.
"Haha, cie kangen!" ujar Arkan.
Terlihat wanita paruh baya itu tersenyum, "Mas, Mbak kalo gitu Bibi keluar yah takut Mas Arkan mau ngobrol sama Mbak Kamila!"
"Iyah Bi gak papa tinggal aja!" jawab Arkan.