Badboy Yang Menyebalkan

Badboy Yang Menyebalkan
42. Bertemu Ayahnya Kamila


"Yah kalah terus, gue gak bisa Arkan!" kata Kamila kesal.


"Yaudah kalo gak bisa jangan dipaksa!" kata Arkan sambil tertawa.


Arkan tidak bermain karena Kamila tidak mengijinkan, dia tau Arkan pasti akan lebih unggul.


"Kesel deh," ujarnya.


"Gue yang main yah?" tanya Arkan.


"Gak! Lo mah curang!" jawab Kamila sambil mengerucutkan bibirnya kesal.


Arkan menarik tangan Kamila lalu mencubit pipinya gemas sekali.


"Lo gemesin banget sih!" kata Arkan mencubit pipi Kamila.


"Kesel Arkan masa gak menang-menang!" ujar Kamila.


Arkan tertawa.


"Udah ih, ayo jajan. Mau jajan apa?" tanya Arkan.


"Ada permen kapas, mau yah?" pinta Kamila manja.


"Iyah ayo."


Kamila senang dia menarik tangan Arkan ke tempat penjual permen kapas. Kamila merasa sangat senang sekali. Untuk pertama kalinya ia dan Arkan tampak sangat akur. Mereka makan cemilan, bermain dan tanpa sadar keduanya sudah bergandengan tangan.


Kamila juga sesekali menyuapi permen kapas untuk Arkan. Arkan bisa membuat dunia Kamila teralihkan yang tadinya gadis


itu sendirian sekarang dia merasa memiliki teman.


"Mau beli buat di rumah yah!" kata Kamila.


"Udah malem Mil mau tidur nanti sakit gigi gimana?" tanya Arkan.


"Gue makan besok aja kok, nanti abis ini mau tidur sikat gigi," jawab Kamila.


"Boleh yah!" Kamila menunjukan pupy eyesnya.


Arkan menghela nafas nya.


"Iyah deh, janji nanti sikat gigi sebelum


tidur?"


"Janji!" kata Kamila.


Kamila senang sekali malam ini, Setelah puas dari pasar malam, Arkan kembali ke bengkel mengambil motornya.


Tepat saat ia dan Kamila sampai, ternyata motor Arkan sudah selesai. Arkan pun segera mengantarkan Kamila pulang karena sudah jam 9 malam. Arkan tidak mau Kamila sampai kena marah.


Ternyata, Reynald sedang menunggu kedatangan Kamila di teras. Arkan dengan gentle nya langsung turun dan membawa Kamila masuk.


"Malam, Om. Maaf kalau kemalaman. Tadi, saya ajak Kamila ke pasar malam," kata Arkan dengan sopan.


"Oh, iya nggak masalah, yang penting anak saya pulang tidak kekurangan apa pun," jawab Reynald.


"Saya Arkan, Om," kata Arkan sambil mengulurkan tangan nya.


Reynald pun menyambut uluran tangan Arkan dengan hangat.


"Mau mampir dulu, Nak Arkan?" tanya Reynald.


"Terima kasih, Om. Nanti kapan-kapan saya mampir, saya pamit pulang dulu, nanti Bunda saya khawatir," kata Arkan berpamitan.


"Gue balik yah Mil!"


Kamila menganggukan kepala nya.


"Hati-hati yah, makasih!" Ucap Kamila.


Arkan pergi dari rumah Kamila.


Setelah Akan pulang Reynald langsung mencolek pipi sang anak menggoda.


"Ciee anak Papah udah punya pacar, kok Papah gak tau?" goda Reynald.


"Ish Papa, enggak kok. Dia temen, bukan pacar," bantah Kamila.


Tetapi, melihat pipi sang anak yang memerah karena malu Reynald menyadari jika putrinya itu memang tengah jatuh cinta.


"Pacar juga gak apa-apa, Mil. Arkan ganteng, kok. Kelihatan nya dia anak baik, sopan pula," kata Reynald lagi.


"Ih, Papah apa sih.. udah ah, Mila mau ke kamar," kata Kamila malu.


Gadis itu pun langsung berlari ke kamar nya diiringi tawa Reynald. Namun, saat Kamila hendak ke kamarnya ia berpapasan dengan Livia yang dengan sengaja menabrak bahu nya hingga permen kapas yang ia pegang terjatuh.


Tetapi, Kamila tidak ambil pusing, ia pun mengambil permen kapas itu dan langsung masuk ke kamar nya.


Dia hendak mengirim pesan supaya Arkan memberinya kabar jika sudah sampai rumah. Tapi, berkali-kali Kamila menghapusnya. Ia merasa malu dan takut jika Arkan akan meledeknya.


Pluk..


Namun, sialnya ponsel Kamila jatuh ke kasur, pesan itu terkirim dan Arkan pun langsung membacanya. Kamila langsung menggigit bibirnya, dan tiba-tiba ponselnya


berbunyi.


Arkan menelponnya.


"Heh, baru aja ketemu tadi loudah kangen sama gue?" kata Arkan saat Kamila mengangkat teleponnya.


"Eh, kepedean banget sih lo. Gue gak sengaja ke kirim itu," kata Kamila.


"Halah, emang lo kangen sama gue, kan?" kata Arkan.


"Gak, udah matiin gue mau tidur," kata Kamila.


Terdengar tawa Arkan dari sebrang.


"Jangan lupa mimpiin gue . muaaah."


"Najis!"


***


Siang itu, Kamila berjalan bersama Dika. Dika adalah ketua osis di sekolah mereka. Sebagai anggota OSIS Kamila menjadi seksi acara kali ini, Kamila berjalan sambil mencatat apa yang dikatakan oleh Dika.


Sekolah mereka akan mengadakan pertandingan basket jadilah anggota osis akan sibuk dengan kegiatannya. Saat mereka melewati lapangan basket tanpa sengaja Kamila melihat Arkan sedang berada di sana. Dan secara kebetulan, pemuda tengil itu melihat Kamila.


Arkan pun langsung mengedipkan sebelah matanyabmembuat Kamila membelakan mata kesal.


"Lo pacaran sama Arkan?" tanya Dika penasaran.


"Hah? Gue sama Arkan? Enggak, gue gak pacaran sama dia!" jawab Kamila salah tingkah.


"Masa sih? Gue liat-liat lo kayaknya deket banget sama Arkan, terus tad-"


"Kita jadi ukur lapangan basketnya?" kata Kamila memotong ucapan Dika.


Kamila tidak mau membuat wajahnya memerah saat ini. Dika langsung menganggukan kepalanya, dan ia memberikan meteran kepada Kamila. Kamila masuk ke dalam lapangan basket


sambil mencatat ukuran yang sudah Dika katakan.


Anak-anak yang sedang bermain basket terpaksa berhenti karena lapangan sedang diukur. Arkan dan teman-temannya


duduk di pinggir lapangan sambil memperhatikan Kamila dan Dika yang sedang bekerja.


"Gila itu si Dika sama Kamila, lagi panas-panas gini ukur lapangan beneran," kata Kean.


"Wooy, Dika! Kalian ngapain sih, pake ukur-ukur lapangan segala?" tanya Bastian.


Dika pun langsung menghampiri Arkan dan teman-temannya.


"Besok bakal ada lomba, jadi lo semua pada latihan deh biar bisa menang," kata Dika.


"Weeh, lo ga liat ni kita udah keringetan dari tadi?" jawab Kean.


Tiba-tiba saja Livia datang menghampiri Arkan, Daren yang melihat itu lantas memajukan sebelah kakinya membuat Livia tersandung.


"Auww.. " kata Livia.


"Lo gimana sih? Kalo jalan masa ada kaki segini gedenya gak keliatan!" Sungut Daren.


"Ya lo ngapain juga maju-majuin kaki!" sungut Livia.


"Buta lo? Ada kaki gak keliatan?" Kean dan anak-anak yang lain hanya menahan tawa mereka.


"Arkan buat lo!"


Livia memberikan sebotol air kepada Arkan. Arkan mnenoel tangan Kamila dia


melihat kepada Arkan dan menaikan


sebelah alisnya seakan bertanya


kenapa.


Arkan mengambil air yang ada di tangan Kamila, hanya tersisa setengah botol itu milik Kamila. Arkan meneguknya dan itu


membuat Kamila terkejut.


"Itu bekas gue!" Arkan tersenyum saja dia melihat ke arah Livia.


"Gue udah minum, lo kasih sama yang lain aja!"


Hal itu tentu membuat anak-anak Gravendal mengulum senyum.