Badboy Yang Menyebalkan

Badboy Yang Menyebalkan
192. Celaka


"Lo kalo ngomong gak usah ngaco deh Mil, lo gak salah emang bokap lo aja yang gila harta!" kata Naya.


Kamila terdiam mendengar perkataan Naya. Tetapi entah mengapa ia juga akhir-akhir ini merasa jika Arkan itu sudah banyak berkorban dalam hidupnya sehingga kadang membuat Kamila merasa malu karena kebaikan Arkan dan keluarganya.


"Gue cuman nggak enak sama orang tua Arkan mereka tuh baik banget sama gue."


"Orang tua Arkan itu baik sama semua orang. Buktinya Kean sama Sean diadopsi juga kan sama orang tuanya Arkan? Jadi lo nggak perlu ngerasa nggak enak atau ngerasa kayak gimana-gimana, Mil. Masalah Arkan ada yang mau bikin dia celaka Lo cukup percaya aja sama dia. Temen-temennya juga nggak bakalan tinggal diem Kalo ngeliat Arkan mau disakitin sama orang"


Kamila pada akhirnya menganggukkan kepalanya. la mencoba untuk tenang dan percaya kepada Arkan seperti perkataan Naya.


"Gue kayaknya emang harus lebih percaya aja sama Arkan!"


***


Satu minggu berlalu sejak Kamila berkata dia khawatir pada Arkan tapi hingga saat ini Arkan baik-baik saja.


Kamila merasa sedikit tenang apalagi Naya juga sudah memberi nasehat kepadanya.


"Mil, lo lagi ngapain?" tanya Arkan kepada Kamila.


Mereka baru saja selesai makan malam, karena memang banyak tugas Kamila langsung masuk ke dalam kamarnya dan menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya. Sementara Kean dan Sean sudah pamit sejak tadi menuju ke basecamp.


Dua minggu lagi ujian akhir, jadi Kean dan Sean memutuskan untuk ke basecamp sebelum mereka benar-benar di rumah dan fokus belajar. Apa lagi ini malam minggu.


"Gue banyak tugas Arkan. Hari Senin harus dikumpulin semuanya kalo enggak nanti nilai-nilai gue kurang," jawab Kamila tanpa memalingkan wajah dari tugas yang sedang ia kerjakan.


Arkan menarik nafas panjang, sejak dulu Kamila memang sangat rajin jika sudah belajar dan mengerjakan tugas.


"Gue boleh gak Mil mau keluar malem ini kan lo juga lagi nugas?" tanya Arkan pelan.


Mendengar pertanyaan Arkan Kamila langsung menoleh dan menatap kekasihnya itu.


"Emang mau ke mana?"


"Gue cunman mau ke basecamp. Jadi Daren sama Bastian rencananya mau ngadain barbeque. Anak-anak Udah patungan dari minggu lalu buat beli bahan-bahannya."


Arkan membuka ponselnya kemudian memperlihatkan chat antara dirinya dan Daren.


Daren mengirimkan foto Jika ia sudah berada di basecamp dan siap-siap dengan peralatan barbeque dan yang lainnya.


"Jadi ceritanya kalian mau barbeque-an malam ini?"


"lya Daren udah beli daging, ayam sama sosis. Kita gak macem-macem kok. Bener-bener cuman makan-makan. Kan lo tau sendiri kalo 2 minggu lagi kita ujian akhir jadi harus bener-bener fokus belajar."


Kamila tampak menimbang-nimbang. Sebenarnya ia merasa cemas jika harus membiarkan Arkan pergi ke basecamp. Mengapa firasatnya sangat tidak enak malam ini.


Tetapi melihat foto-foto yang dikirimkan oleh Darren dan Bastian, Kamila yakin jika Arkan tidak akan melakukan hal yang aneh.


"Lo mau ikut aja?" tanya Arkan.


Kamila melihat ke arah bukunya tugasnya masih sangat menumpuk.


"Gue banyak tugas gimana yah?" kata Kamila.


"Yaudah kerjain aja dulu nanti gue bawain deh kalo lo mau!" kata Arkan sambil mengusap kepala Kamila.


"Yaudah, lo janji yah jangan aneh-aneh nanti di sana harus video call. Pokoknya gak boleh balapan yah, perasaan gue gak tenang! Kalo lo gak usah pergi aja gimana?"


Arkan langsung menjawil pipi Kamila dengan gemas.


"Lo kepikiran orang yang mau celakain gue itu?"


Kamila menganggukan kepalanya, Jujur aja gue masih belum tenang.


"Masalahnya lo itu kan orangnya emosian terus gak bisa kontrol kalo lagi marah. Gue cuman takut orang manfaatin hal itu buat bikin lo celaka," kata Kamila.


"Enggak akan. Lo tenang aja, di basecamp kan ada anak-anak. Nggak mungkin lah mereka biarin gue celaka, lagian kan gak enak juga Yang masa gue batalin terus rencananya," kata Arkan.


Kamila akhirnya menganggukkan kepalanya dia juga merasa tidak enak pada teman-temannya Arkan.


"Ya udah hati-hati, ya. Inget jangan lupa telepon," kata Kamila.


"Siap Sayang!"


Setelah mendapatkan izin dari Kamila Arkan pun segera menuju ke basecamp. Sampai di sana ia disambut oleh Daren dan Bastian.


Sementara anak-anak yang lain sedang menyiapkan bahan-bahan untuk mereka pesta barbeque.


"Kirain lo nggak jadi dateng gara-gara nggak dikasih izin sama nyonya," goda Bastian.


"Sialan Lo!"


Arkan terkekeh, "Tadi juga dia minta gue buat gak dateng, tapi ya akhirnya ngijinin juga!"


"Ya udahlah kita mulai deh dari tadi anak-anak udah nungguin lo pada laper tuh!" seru Daren.


Mereka pun langsung berpesta sambil mengelilingi alat pemanggang. Kean dan Bastian bertugas untuk memanggang daging. Mereka bahkan sudah menyiapkan meja panjang untuk duduk dan makan bersama.


Tetapi tiba-tiba saja saat mereka baru mulai makan mereka melihat ada segerombolan orang datang.


"WOY ARKAN!"


Arkan langsung mengangkat wajahnya dan menatap Erik yang datang bersama beberapa orang temannya.


Arkan menaikan sebelah alisnya," Ngapain lo? Ini bukan tempat lo!" seru Arkan.


"Gue mau nantang lo balap, jangan cuma jago berantenm doang! Gue mau mastiin aja kalau lo itu Bukan pecundang yang cuman berlindung dibalik ketek cewek lo. Gue mau nantangin lo balapan!" kata Erik.


Semua teman-temannya Erik tertawa meledek.


"Enggak usah dengerin cucunguk ini, Ar. Suruh aja dia pergi, nggak usah balapan," kata Daren.


"Ah, ternyata lu cemen! Kenapa lu nggak berani balapan sama gue? Lo sama temen-temen lo ini kan sebenarnya pengecut semua. Kalian itu cuman anak-anak orang kaya yang suka pamer di sekolah. Lo merasa punya saham di sekolah jadi lo bisa menindas anak-anak yang lain seolah lo rajanya!" Kata Erik lagi.


Mendengar hal itu tentu saja akan terpancing emosinya.


"Anjing! Oke kalau gitu, ayo sekarang kita balapan! Kalo gue menang berenti gangguin orang disekitar gue," Seru Arkan penuh emosi.


"Gak usah Ar ngapain lo ladenin?" Kata Bastian berusaha untuk melarang.


Tetapi, Arkan memang keras kepala dan


tidak bisa dialihkan lagi.


"Bang jangan Bang!" cegah Sean.


"Ar jangan kepancing lah!" kata Kean ikut menimpali.


Seakan lupa dengan pesan Kamila Arkan sudah memakai helmnya. Melihat hal itu Daren pun merasa khawatir dan langsung menelpon Kamila.


"Mil... Cowo lo! Dia balapan sama Erik, emosinya kepancing, dia gak bisa ditahan kita semua khawatir!"


Kamila membeku dia terdiam sejenak.


"Ada apa Mil?" tanya Naya yang berada di kamarnya. Kebetulan tadi saat Arkan pergi Kamila menelpon Naya agar datang.


"Anter gue sekarang ke base camp!" Pinta Kamila.


"Lo tahan dulu Arkan sampe gue datang, ya," pinta Kamila kepada Daren.


"Cepet Mil, Bastian Kean sama Sean lagi ngulur waktunya!"


Naya dan Kamila segera berlalu dia benar-benar khawatir.


"Nay cepet Nay!" ujar Kamila dengan khawatir.


"Macet Mil, malem minggu! Lo tenang!"


"Gue gak bisa tenang!" jawab Kamila panik.


Setelah beberapa menit akhirnya keduanya sampai. Kamila langsung turun dari mobil dan berlari.


"Kean mana Arkan?"


Kean menggelengkan kepalanya, Kamila menutup mulutnya. Dia terlambat, saat Kamila datang Arkan sudah melaju kencang di jalanan.


"Ya Tuhan bantu Arkan, aku gak mau Arkan kenapa-kenapa!" Kamila terus menggumamkan doa-doa agar Arkan baik-baik saja.


Putaran pertama Arkan tampak masih baik-baik saja hati Kamila benar-benar cemas.


"Arkan," lirih Kamila melihat Arkan yang terus melaju kencang.


Mata Kamila melebar saat melihat sebuah truk besar melintas di depan Arkan.


"ARKAN AWAS?!" teriak Kamila.


BRAKH!


"ARKAAAAN!"