Badboy Yang Menyebalkan

Badboy Yang Menyebalkan
185. Anak Angkat


"Bang, kamu dipanggil sama Ayah," kata Alisha.


Arkan yang baru saja pulang dari tongkrongan tiba-tiba dipanggil oleh Marvin. Arkan pun hanya menganggukkan kepala. la yakin ini ada hubungannya dengan kejadian tadi siang di sekolah


Alisha juga mengikuti putra sulungnya itu ke ruang kerja suaminya.


"Kamu dari mana Bang? Muka kamu bonyok gitu? Berantem?" tanya Marvin.


"Habis dari basecamp nongkrong ama anak-anak tadi cuman nganter Kamila pulang doang. Ada apa, Ayah?"


Marvin menarik napas panjang kemudian menatap putra sulung yaitu dengan tajam.


"Kamu bikin masalah apa di sekolah?kamu berantem kan?" tanya Marvin mengintrogasi putranya.


Arkan tidak menjawab dia hanya menundukan kepalanya.


"Angkat kepala kamu Arkan, kamu laki-laki! Jawab Ayah!" ujar Marvin tegas.


Arkan mengangkat kepalanya menatap Ayahnya, "Maaf Ayah, Bunda! Aku emang berantem!"


Alisha menghela nafasnya sangat sulit merubah kebiasaan putranya itu.


"Sudah Ayah duga, kamu bikin masalah lagi di sekolah? Tadi kepala sekolah telepon Ayah. Katanya besok Ayah sama Bunda dipanggil ke sekolah. Emang ada kejadian apa di sekolah? Kamu lagi Nggak bikin aneh-aneh kan apalagi sampe berantem begitu?" tanya Marvin kepada Arkan.


Kali ini gantian Arkan yang menarik nafas panjang kemudiannmenghembuskannya.


Pemuda itu pun duduk di atas kursi yang ada di ruangan kerja Marvin.


"Aku gak bikin masalah Ayah, mereka yang mancing emosi aku. Erik sama Agus jelek-jelekin Kamila aku denger waktu turun dari atas, katanya Kamila murahan cuman gara-gara dia tinggal sama kita mereka pikir aku sama Kamila melakukan hubungan terlarang! Aku marah Ayah! Aku berani bersumpah aku gak pernah nyentuh Kamila sedikit pun, aku bener-bener selalu jaga kehormatan Kamila!" kata Arkan kepada Marvin.


Marvin dan Alisha terkejut saat Arkan berkata seperti itu, terlebih Alisha moodnya jadi sangat tidak bagus.


"Mereka bilang gitu? Bunda jadi gemes kayaknya mereka yang sekolah cuman raganya aja, otak sama mulutnya engga!" sahut Alisha gemas.


"Bunda kesel apalagi aku yang denger langsung!" kata Arkan.


"Pengen Bunda cekokin mulutnya pake cabe sekilo!" kata Alisha benar-benar emosi.


"Kamu apain aja anaknya?" tanya Marvin.


"Aku hajar habis-habisan, cuman idungnya patah bibirnya sobek Ayah!"


Marvin sudah menduganya anaknya itu pasti akan membunuh keduanya jika di sekolah tidak ada Kamila.


"Oiya Ayah!"


"Ada apa lagi?" tanya Marvin.


"Aku ngancem sekolah mau nyabut semua saham dan dana dari sekolah, aku gak mau dua orang itu gak dapat pelajaran yang setimpal!" kata Arkan serius.


Alisha dan Marvin saling pandan Mereka sangat mengerti jika Arkan erasa kesal. Mereka yang mendengar cerita saja merasa gemas dan kesal kepada kedua teman siswa itu.


"Tapi saham di sana atas nama aku Ayah, jadi itu hak aku buat nyabut semuanya!" jawab Arkan.


"Sabar Arkan jangan gegabah, Ayah tau kamu emosi, besok kita bicarain sama kepala sekolah... Bunda jangan lupa bawa surat adopsi Kamila!" kata Marvin lagi.


Surat-surat Kamila, Kean dan Sean sudah selesai, Marvin sudah mengurusnya karena mereka tidak mau suatu hari nanti ada kendala tentang anak-anak angkatnya.


Meskipun sudah besar, tetapi karena mereka dirawat oleh Marvin dan Alisha jadi mereka sudah menganggap Marvin dan Alisha juga Ayah dan ibunya. Lagipun untuk Kamila, sebelum meninggal kakek dan neneknya sempat meninggalkan wasiat.


Marvin dan Alisha pun sudah mengadopsi Kamila secara resmi menurut hukum negara. Sehingga status Kamila memang adalah anak angkat Marvin dan Alisha.


***


Pagi harinya benar saja Kamila dan Arkan membawa mobil ke sekolah diikuti oleh mobil Alisha dan Marvin.


Mereka berempat langsung berjalan menuju ruang kepala sekolah sementara Kean dan Sean masuk ke kelas mereka masing-masing.


"Pagi Pak Marvin, Bu Alisha!" Pak kepala sekolah menyalami tangan keduanya.


"Silahkan duduk Pak Bu!" Mereka duduk bersamaan begitu juga Kamila serta Arkan,


"Maaf kalau saya mengundang bapak dan ibu untuk datang ke sekolah hari ini. Mungkin Arkan sudah menjelaskan apa yang terjadi kemarin. Saya selaku kepala sekolah dan juga guru-guru di sekolah ini meminta maaf atas kejadian yang tidak menyenangkan kemarin. Maklumlah mungkin siswa-siswi di sini ada yang iri kepada Kamila jadi menyebarkan rumor yang tidak-tidak. Apa lagi hampir semua


orang tahu jika Arkan dan Kamila itu adalah pasangan kekasih. Mungkin karena mereka tinggal satu atap sehingga membuat rumor yang tidak-tidak di luar sana," kata kepala


sekolah menjelaskan.


"Saya tidak percaya jika sekolah bisa membiarkan kasus seperti ini mungkin apa yang dikatakan oleh Arkan itu benat setelah anak-anak saya lulus semua saham dan dana akan saya tarik kembali!"


Pak kepala sekolah terkejut mendengarnya, "Pak Marvin saya mohon jangan ambil keputusan saat marah, saya tau Bapak emosi saat mengetahui berita ini!"


Marvin menatap kepala sekolah dengan tajam, "Saya memiliki surat adopsi yang sah atas Kamila. Semenjak ayahnya Kamila dipenjara, kakek dan nenek Kamila menyerahkan hak asuh Kamila kepada kami karena mereka ada di Jogja. Dan ketika kakek dan nenek Kamila meninggal mereka meninggalkan surat pernyataan jika memang Kamila akan dirawat oleh kami berdua sebagai anak. Kami memiliki


surat-surat yang sah secara negara, oleh sebab itu tidak ada yang melarang jika


Kamila tinggal di rumah kami. Bukan hanya Kamila yang tinggal di rumah kami, tapi Sean dan Kean juga berada di rumah kami. Mereka semua itu anak-anak Saya dan istri saya. Saudaranya Arkan," kata Marvin dengan tegas.


"Kami minta maaf Pak. Tidak semua anak tahu kondisi dan status Kamila yang sebenarnya. Mereka tahunya Arkan dan Kamila memiliki hubungan dan tinggal satu rumah."


"Memangnya saya harus memberi pengumuman jika Kamila ini anak adopsi saya? Terlepas dari Kamila dan Arkan memiliki hubungan Kamila itu tetap putri saya," kata Alisha tak kalah tegas.


"Kami tidak terima putri kami dihina, apalagi sampai dibilang wanita murahan," kata Marvin.


Wajah kepala sekolah sudah pucat. Lelaki berkepala botak itu mengetuk-ngetukkan jarinya ke atas meja.


Saat ini ia tidak berkutik sama sekali karena memang Marvin dan Alisha memiliki surat-surat yang sah. Juga selama ini tidak pernah ada kejadian.yang membuat malu sekolah.


Arkan dan Kamila selalu menunjukkan sikap yang baik di sekolah.


"Saya benar-benar akan mencabut semua saham saya di sekolah ini jika ada yang berbuat seenaknya pada anak-anak saya lagi," kata Marvin.