Badboy Yang Menyebalkan

Badboy Yang Menyebalkan
55. Rencana Licik Livia


"Gak ada apa-apa, ini urusan cowo. Cewe gak boleh tau," jawab Arkan.


Entahlah ini Kamila yang terlalu polos atau gimana dia tidak sadar ada badai menunggu di depan sana.


Arkan dan Kamila berpisah di depan kelas karena kelas mereka berbeda. Saat pulang sekolah tiba, Arkan memutuskan untuk mengantar Kamila dulu. Namun, kali ini ada yang berbeda.


Arkan tidak banyak bicara seperti biasanya. Kamila juga bingung.


"Arkan, lo kenapa sih? Kok kayaknya lagi bete gitu?" tanya Kamila bingung.


Dia turun dari motor Arkan.


"Gak papa, gue cuman lagi mikir aja, kok bisa?"


"Soal Livia? Udah deh Arkan siapa tau dia emang mau berubah kan, orang mau berubah kok dicurigain. Gue seneng kok liat perubahannya, gue mau punya keluarga yang harmonis!"


"Tapi ini singkat banget Kamila, lo harusnya mikir gak mungkin orang bisa berubah secepat itu," kata Arkan.


"Lo kayanya gak bisa liat gue seneng deh."


"Bukan gitu Sayang, jangan salah paham dulu. Selama ini kan Livia emang gak pernah baik begini harusnya lo curiga! Gue sayang sama lo gue gak mau lo sampe kenapa-kenapa gara-gara lo percaya sama Livia! Gue kayak gini karena gue mau jagain lo," kata Arkan dengan tegas.


"Gue gak butuh dijagain sama lo!" ujar Kamila ketus.


"Mil, Livia itu gak akan pernah berubah! Ular punya seribu cara buat naklukin mangsanya!"


Kamila tak menjawab. la pun segera berlari masuk rumah saat mereka sampai. Arkan hanya bisa menghela napas panjang melihat sikap Kamila.


Kamila itu sangat keras kepala, Arkan bukannya tidak mau melihat Kamila akrab dengan saudaranya Tapi ini Livia wanita berbisa.


"Kebiasaan deh, perasaan terus yang dipake, heran sama cewe kenapa gak pake logika dulu baru perasaan," kata Arkan ikut kesal.


Dia pun memutuskan untuk berlalu dari


rumah Kamila. Tetapi, dalam hati ia bertekad jika sampai Kamila kenapa-kenapa dia tidak bisa menjamin bagaimana nasib Livia nanti.


Malamnya saat Kamila sedang belajar Livia mengetuk pintu.


"Kamila!" panggil Livia.


"Eh Liv, mau ke mana? Udah rapih aja," tanya Kamila saat melihat Livia sudah rapi dengan dressnya.


"Hmm... Mil, lo mau bantu gue gak? Gue mau ke pesta ulang tahun temen sekelas gue. Tapi, kata Papah gak boleh sendiri. Lo mau ga temenin gue?" kata Livia.


"Besok gue ada ulangan, ini lagi belajar. Lo gak bisa sendiri aja? Nanti gue yang bilang ke Papah deh," tawar Kamila kepada Livia.


"Udah Mila. Gue udah izin tapi, Papah gak kasih izin. Ayolah, sebentar aja kok. Lagian kan lo itu udah pinter banget. Gak belajar sehari kayaknya gak apa-apa. Gue yakin ulangan lo bakalan dapet bagus. Kalo gak nanti pas kita pulang kan belajarnya bisa


disambung," kata Livia mengiba.


Kamila hanya bisa menghela napas panjang. Tidak ada salahnya bukan pergi bersama dengan Livia.


"Iyah deh, bentar gue ganti baju dulu," jawab Kamila.


Livia tersenyum senang, ternyata semudah itu mengajak Kamila. Kamila memang gadis yang baik.


Tak lama kemudian, Kamila pun sudah siap. Mereka pun pergi dengan mobil Reynald. Namun, saat tiba di sebuah cafe Kamila mengerutkan dahinya.


"Ini cafe apa sih? Jauh banget deh tempatnya. Mana jalannya sepi lagi," kata Kamila.


"Ini emang masih baru cafenya, Mil. Jadi belum terlalu rame. Tapi, temen gue booking karena masih masa promo jadi harganya murah," jawab Livia.


Kamila hanya beroh ria saja, Livia tersenyum saat melihat cafe itu.


"Ayo masuk Mil, takut mulai duluan!"


Kamila menganggukan kepalanya.


Namun, betapa terkejutnya ia ketika mendengar suara musik yang memekakkan telinga saat mereka masuk.


"Gila. berisik banget. Ini suara musiknya kenceng banget," kata Kamila.


"Ya namanya juga cafe Mil," jawab Livia.


Kamila melihat ke sekeliling ada banyak lampu kelap-kelip terlihat redup, Kamila juga melihat ada banyak orang berjoget bersama pria dan itu membuat Kamila bergidig ngeri.


Dalam pikiran Kamila ini tidak terlihat seperti cafe tapi seperti club malam.


Kamila pun duduk di kursi sofa dekat dengan bartender.


membawa dua gelas minuman dan memberikan salah satu kepada Kamila.


"Apa ini? Gue gak minum nanti mabuk," kata Kamila dia sudah yakin jika ini adalah club malam, Kamila belum pernah ke tempat seperti ini jadi dia tidak tau.


"Ini cuma mojito strawberry, kok. Gak bikin mabuk, enak kok," ujar Livia sambil menyesap minumannya sendiri.


Karena merasa haus dan melihat Livia minum, maka Kamila yang tadinya ragu ikut menyesap minumannya. Ternyata memang rasanya enak.


"Tuh, enak kan?" kata Livia.


Kamila hanya mengangguk saja. Kamila menikmati minumannya, dia suka dengan rasanya.


"Ar! Ar! Itu bukannya si Kamila yah? Ngapain tuh anak di sini?"


Pada saat itulah seorang pemuda tanpa sengaja melihat Kamila. Dan pemuda itu adalah Bastian. Kebetulan ia, Arkan dan beberapa anak Gravendal memang sedang berada di sana.


Bastian pun langsung menepuk bahu Arkan saat melihat Kamila. Arkan yang mendengar ada Kamila tentu saja terkejut. la tahu jika Kamila adalah anak baik-baik, tidak mungkin dia datang ke tempat seperti


ini.


Terlihat Kamila memegangi kepalanya, Arkan mengerutkan dahinya di tangan Kamila ada segelas minuman.


Arkan pun langsung mengambil ponselnya dan menelepon Kamila. la melihat jilka Kamila mengangkat ponselnya.


"Lo di mana?" tanya Arkan.


"Hm.. Itu gue lagi di rumah, belajar! Besok ada ulangan," jawab Kamila berdusta.


Gadis itu tidak mau jika Arkan merasa khawatir dan berpikiran macam-macam lagi. Arkan menatap Kamila dari jauh


dengan wajah datarnya, Kamila sudah


sempoyongan dia bersandar di sofa.


Arkan membuang rokoknya, lalu Arkan langsung mematikan panggilannya saat melihat dua orang pemuda mendekati Kamila dan berusaha menggoda gadis itu.


Emosi Arkan memuncak saat melihat pria itu hampir mencium Kamila dia mendekati Kamila.


BUGH!


Tanpa pikir panjang, Arkan pun langsung memukul dua pria yang menggoda Kamila.


"Jauh-jauh dari cewek gue! Brengsek!" maki Arkan kesal.


"Tapi kita duluan yang sama dia!" kata salah satu pria itu.


"Dia cewe gue!" ujar Arkan penuh amarah.


Dua pria itu pun segera menjauh tak ingin mencari masalah. Sementara Kamila semakin tampak sempoyongan. Arkan mengambil gelas Kamila dia meminumnya sedikit.


PRANG...


"Sialan!"


Arkan membanting gelasnya, minuman yang diberikan oleh Livia bukan mojito strawberry biasa. Tetapi mengandung kadar alkohol. Kamila yang tidak terbiasa


tentu saja langsung mabuk.


"Siapa yang bawa lo ke sini Kamila?" tanya Arkan.


"Arkan! Gue mau pulang, kepala gue pusing banget," kata Kamila lirih.


"Lo sama siapa?!" tanya Arkan.


Nada bicara Arkan sudah geram dengan Kamila. Belum sempat Kamila menjawab


Livia tiba-tiba saja muncul. Melihat Livia di sana Arkan menatapnya sinis.


"Lo kan yang ngajak cewe gue ke tempat begini! Gila lo!"


Tangan Arkan sudah naik ke atas dia hampir saja kelepasan memukul gadis itu.


"ARGHH, sialan lo! Lo pasti sengaja kan jebak Kamila buat dateng ke club! Emang licik banget lo jadi manusia!" seru Arkan.


"Udah, Ar. Kita bawa dulu Kamila, soal cewek ular ini kita pikirin nanti," kata Daren.