
PLAK! PLAK!
Prang!
Alisha menampar Arkan kencang membuat gelas yang ada di tangan Arkan jatuh dan pecah, "Bunda, kok aku ditampar? Salah aku apa?" tanya Arkan bingung.
"Kamu itu jadi anak makin lama makin susah diatur! Bunda udah gagal didiik kamu, Arkan! Selama ini Bunda gak pernah ngedidik kamu yang gak bener. Kenapa kamu sekarang jadi kayak gini?!" Kata Alisha geram dengan emosi tinggi.
Arkan mengerutkan dahinya, "Bund tenang dulu, aku gak tau salahku apa, aku gak ngerti Bunda. Bunda marah kenapa?" tanya Arkan bingung.
Plak!
Bugh!
Tetapi, Alisha seperti sedang kesurupan, ia malah memukuli Arkan dengan gemas. Arkan hanya menutupi wajah dengan kedua tangannya dan membiarkan Alisa memukul dengan membabi buta.
Dia tidak akan pernah melawan ibunya terserah saja.
"Kurang ajar kamu Arkan?! Kamu buat Bunda malu, kamu udah bikin harga diri Bunda hancur Arkan?!"
Plak!
"Bunda kecewa sama kamu Arkan?
"ANAK KURANG AJAR?! BUNDA SALAH APA SAMPE KAMU NGINJEK-NGINJEK HARGA DIRI BUNDA KAYAK GINI, ARKAN?!"
"Bunda ampun, Arkan gak tau salah Arkan di mana!" seru Arkan.
Marvin yang berada di ruang kerja terkejut mendengar teriakan istrinya dia berlari ke sana ternyata Alisha tengah memukuli putranya.
"Bund udah Bund, kasian Arkan!"
Marvin berusaha memisahkan Arkan dari amukan Alisha tapi sulit, Kean dan Sean serta Kamila yang mendengar keributan itu pun berlari keluar. la pun segera membantu Arkan yang terjatuh akibat tendangan dan
pukulan Alisha.
"Bunda, jangan gini Bund. Ini sebenarnya ada apa?" Tanya Marvin.
"Anak ini udah bikin malu! Bunda malu! Selama ini Bunda pikir dia cumasebatas itu aja. Tapi, yang dia lakuin hari ini bener bener bikin bunda kecewa!" seru Alisha.
Plak..
Alisha melempar sebuah amplop membuat isinya berhamburan dan itu adalah foto, Marvin mengambil salah satunya dia ikut terkejut melihat foto itu.
Foto Arkan dengan seorang wanita tanpa busana, Arkan juga tak kalah terkejut saat melihat foto itu.
"Ya ampun, Demi Allah itu bukan aku Bunda! Itu editan, aku gak pernah ngelakuin hal begitu. Kalo aku mau ngapain sama perempuan lain? Ada Kamila pacar aku sendiri tiap hari di rumah," kata Arkan.
"Tapi, ini nggak kayak editan Kamu pikir Ayah sama Bunda ini bodoh ?" kata Marvin.
Kamila bergetar saat melihatnya dia menatap Arkan hatinya sakit saat Marvin berkata itu bukan editan.
Rasanya ia tidak percaya jika Arkan akan mengkhianati dirinya.
PLAK!
Alisha kembali menampar Arkan, air mata Alisha sangat deras dia memeluk Marvin dengan sesenggukan.
"Ayah, Bunda gagal Ayah... Hiks.. Bunda gagal!"
Alisha memukili dada Marvin dengan air mata yang terus mengalir.
"Aku bukan lbu yang baik Vin, anakku aja sampe bisa berbuat begitu hiks... Hiks."
"Aku mending mati Vin daripada liat anak aku begini?!"
"Bund, jangan begitu Bunda kita gak tau itu beneran atau enggak nanti kita selidiki yah." Marvin berusaha menenangkan istrinya itu.
Arkan memeluk kaki ibunya dia terus bersumpah jika itu bukan dirinya.
"Bunda percaya sama Arkan. Itu bukan Arkan. Pasti ada orang yang sengaja bikin kayak gini biar kalian semua marah dan benci sama Arkan. Sumpah, Bunda Arkan gak pernah ngelakuin itu," kata Arkan.
Rasanya ia merasa sedih sekali karena melihat orang yang paling ia sayangi menangis dan membencinya.
"Bunda tolong percaya sama Arkan" kata Arkan sambil memohon dan terus memegangi kaki ibunya.
Alisha menatap Arkan tajam, "Bunda gak akan percaya sampe kamu bisa buktin kalo itu bohong! Tapi kalo sampe itu bener, Bunda gak mau anggep kamu anak bunda lagi!" Kata Alisha sambil beranjak pergi.
Arkan merasa sedih, ia pun bangkit berdiri dengan lemas. Lalu menatap ke arah Marvin.
"Ayah juga mau mukul aku? Nggak percaya juga kalo aku ga ngelakuin hal itu?" kata Arkan sambil menatap sang Ayah.
"Siapa pun yang liat foto itu pasti akan percaya itu kamu, Arkan. Tapi, kalo emang bukan kamu, buktiin ke Ayah sama Bunda!"
Marvin menepuk bahu putranya itu, "Ayah percaya sama kamu, cari buktinya! Ayah mau susul Bunda dulu!"
*****
"Bund, udahlah jangan kayak gitu. Percaya sama anak sendiri Bund. Gak mungkin Arkan berbuat aneh-aneh. Bisa jadi dia dijebak. Kita kan bisa bicarabbaik-baik dulu," kata Marvin berusaha menenangkan sang istri.
"Bela aja terus anak kamu! itu makanya dia ngebangkang terus. Gak jelas kerjaannya, malu Bunda sama Kamila. Anak itu pasti syok liat foto-foto tadi," kata Alisha dengan kesal.
Marvin terdiam, kalau menghadapi perempuan sedang marah begini memang susah. la bingung harus bagaimana menghadapi Alisha.
"Bunda gak tau lagi harus gimana sama anak kamu itu! Urus dia sendiri!" kata Alisha.
Marvin hanya bisa menghela napas panjang. Perlahan ia memeluk Alisha dan membiarkan istrinya itu menangis dalam pelukannya.
Entah siapa yang mengirimkan foto itu Marvin yakin saat ini putranya itu sedang mencari bukti, Marvin juga yakin setelah ini Arkan tidak akan tinggal diam.
Marvin ingat saat Arkan hendak nekat membunuh ayahnya Kamila, itu sangat menakutkan, dan sekarang Marvin yakin Arkan akan benar-benar membawa dan menyered jasad seseorang ke hadapan ibunya.
Sementara itu Arkan dan teman-temannya berkumpul di base camp. Mereka membawa foto-foto tadi untuk menyelesaikan masalah ini.
"Ini gue liat kayak bukan editan Ar, dia rapih banget buatnya, kalo pun mau bayar orang gue yakin pasti bayarannya mahal, gue gak nemu celah kalo ini editan, pantes Tante Alisha ngamuk," kata Daren sambil melihat foto itu.
"Tapi lo gak pernah kan tidur sama cewe?" tanya Daren.
"Pernah!" jawab Arkan jujur.
"Tolol lo kebangetan Ar!" umpat Daren penuh emosi.
"Sama Kamila, gue sering tidur sekasur sama Kamila tapi gue gak pernah nyentuh dia, gak ada cewe lain selain Kamila yang tidur sama gue, kalo malem gue suka diem-diem ke kamarnya!"
Pletak!
Daren melempar pulpen tepat mengenai kepala Arkan. Membuat pemuda itu mendelik ke arah Daren.
"Apa mau sewot lo?!"
"Ya enggak!" jawab Arkan.
"Gila yah lo Ar, hampir aja gue emosi kalo sampe beneran lo tidur sama cewe lain gue sered ke kandang macan punya bokap gue biar lo mati sekalian, hidup Kamila udah begitu, lo mau ngekhianatin dia. Gue nikahin juga tuh si Kamila gue kekepin di rumah, kebetulan gue sendiri di rumah. Nyokap bokap pasti setuju!"
"Mau ke neraka pake jalur apa?" tawar Arkan membuat Daren terkekeh.
"Tapi serius Ar nih foto kaga ada celahnya gue sampe bingung!"
Arkan memperhatikan foto itu sangat menjijikan sekali, Arkan tidak pernah melakukan itu.
"Lo kan orang IT, masa ga tau?" saut Kean.
"Kalo yang begini kudu sama pakar telematika, gue emang orang IT tapi beda keahlian," kata Daren.
"Terus gimana dong Bang?" tanya Sean.
"Tenang dulu, kalo kita ga tenang ga bakalan beres ini masalah," jawab Daren.
Daren memang manusia berkepala dingin. la tidak pernah terburu-buru dalam menyelesaikan suatu masalah.
Arkan melihat amplop itu tidak ada jejak. Begitu juga Daren.
"Ini kayaknya dikirim pake pos, coba aja lo ke kantor pos minta rekaman cctv. Liat di tanggal pengiriman pasti ada," kata Daren
mengusulkan.
"Nah, ini bisa juga. Dicoba aja, Ar. Namanya juga usaha, kan?" kata Bastian ikut menimpali.
Arkan pun akhirnya menganggukkan kepala dan mengikuti perkataan Daren.
Arkan dan yang lainnya ke kantor pos, mereka memeriksa cctv dengan berbekal amplop pengiriman. Dan ternyata melalui cctv mereka bisa tau jika amplop itu dikirim oleh seorang wanita yang berusia kira-kira 35 tahun yang sama sekali tidak mereka kenali.
"Buntu dah! Siapa sih perempuan itu? Emang Lo pernah pacaran sama Tante tante?" kata Kean.
"Ngawur! Mana ada gue sama Tante-tante, gue selama ini sama lo pada, senakal nakalnya gue. Gue gak pernah main cewe sama obat-obatan!" jawab Arkan.
"Ya udahlah, mending sekarang kita pulang aja dulu. Foto-foto ini biar gue yang bawa, gue liat lagi," kata Daren.
"Gue minta tolong yah Ren, gue gak mau hubungan gue sama Bunda atau Kamila berantakan!"
"Aman Ar, lo balik aja dulu udah malem juga nanti Bunda lo makin ngamuk lagi!" ujar Daren.