Badboy Yang Menyebalkan

Badboy Yang Menyebalkan
137. Seperti Kepiting Rebus


Arkan tersenyum dia berusaha menyembunyikan keresahannya dari Kamila dia mengambil tasnya lalu mengacak rambut gadis itu.


"Aduh calon istri yang pengertian, makasih yah cantik," kata Arkan kepada Kamila.


Dengan wajah yang memerah Kamila hanya menganggukan kepalanya lalu tersenyum kemudian la pun langsung menggandeng tangan Arkan dengan erat.


"Pulang kan?" tanyanya.


Arkan pun menganggukan kepalanya.


"Woy gue balik duluan yah, bini gue udah nunggu sampe lumutan."


"Aman bos!" saut mereka.


Arkan berpamitan dengan teman-temannya yang lain dan segera mengajak Kamila untuk pulang.


"Tadi ada apaan sih kok sampai banyakan yang dipanggil? Gue pikir cuman lo doang yang dipanggil. Emang ada masalah ya?" tanya Kamila kepada Arkan.


Arkan menggelengkan kepalanya kemudian berkata, "Nanti aja deh gue cerita di rumah sekarang gue capek banget. Kita pulang aja dulu. Nanti ngobrolnya di rumah."


Kamila mengerutkan dahinya mendengar jawaban Arkan. Biasanya pemuda itu akan langsung bercerita jika ada sesuatu.


Tetapi entah kenapa kali ini Arkan memilih untuk diam dan tidak banyak bercerita.


Saat sampai di rumah Arkan menghadap Kamila dia tersenyum lalu mengusap pipi gadis itu.


"Gue ke kamar duluan ya, cape banget mau mandi terus istirahat," kata Arkan.


"Eh lo gak makan siang dulu?" tanya Kamila bingung.


"Gue belum laper Lo makan aja duluan sama Kayla sama Bunda."


Tanpa banyak berkata-kata lagi Arkan pun langsung meninggalkan. Alisha yang melihat hal itu tentu saja langsung bertanya kepada Kamila.


"Dia kesambet apaan, Mil? Kalian nggak lagi berantem kan?" tanya Alisha kepada Kamila.


Kamila menggelengkan kepalanya, "Kita nggak lagi berantem kok Bunda. Nggak tahu kenapa tadi habis dipanggil dari ruang guru dia diem aja, kayak ada sesuatu yang terjadi. Nanti coba Mila tanyain!" jawab Kamila.


"Oh ya, udah deh kita makan aja dulu, Nanti kalo dia laper juga turun sendiri."


Alisha pun langsung mengajak Kamila untuk makan siang bersama. Tapi sebelum itu Kamila berganti baju dulu.


Sementara itu, saat sampai di kamar Arkan langsung merebahkan tubuhnya. Dia terus meyakinkan dirinya, satu minggu itu sebentar tidak akan terjadi apa-apa pada Kamila. Pikiran Arkan terus dipenuhi dengan Kamila.


Apa dia harus membawa Kamila juga tapi nanti pasti Kamila dan dirinya akan diejek oleh anggota lain. Arkan mengacak rambutnya frustasi.


"Kamila! Lo bisa bikin gue gila!" geram Arkan, dia benar-benar bingung harus apa.


Hingga malam tiba ternyata Arkan ketiduran dia masih mengenakan seragam sekolahnya dia bangun dan berjalan ke kamar mandi.


Arkan mandi untuk menyegarkan pikirannya, pikiran Arkan saat ini sangat kusut.


Setelah mandi Arkan keluar darikamar mandi hanya mengenakan handuk sepinggang dia membuka lemari untuk mencari baju.


Ceklek...


"Arkan dipanggil Bunda!" Pintu terbuka menampilkan seorang gadis cantik, siapa lagi kalo bukan Kamila.


Kamila terkejut dia membalikan tubuhnya. Arkan terkekeh.


"Ada apa Sayang?" tanya Arkan.


"Kok gak pake baju sih?" kata Kamila, wajahnya sudah memerah.


"Abis mandi cinta, ada apa?" tanya Arkan lagi.


"Lo dipanggil Bunda. Dari tadi siang Lo belum makan. Ayo turun makan dulu, yang lain udah nungguin lo," kata Kamila kepada Arkan.


Senyum jahil muncul di wajah Arkan, Kamila tidak sadar jika Arkan berjalan mendekati ke arahnya.


Kamila terkejut saat ada tangan melingkar di pinggangnya, Arkan memeluk Kamila dari belakang.


"Sayang!" panggil Arkan.


Dapat Kamila rasakan deru nafas Arkan di


telinganya. Kamila menutup matanya saat Arkan menciumi telinganya.


Brakh!


Arkan menutup pintu menggunakan kakinya.


"Kok ditutup sih!" seru Kamila.


Arkan membalikan tubuh Kamila dan memojokannya ke pintu.


"Sayang kok tutup mata sih!" ujar Arkan.


Wajah Kamila semakin memerah saat melihat perut Arkan.


Brukh!


Arkan menarik pinggang Kamila untuk semakin menempel padanya, tangan Kamila berada di dada Arkan.


"Arkan!" gumam Kamila sambil memalingkan wajahnya.


"Kenapa malu-malu gitu, hm? Gue terlalu ganteng buat di liatin yah? Sampe merah gitu pipinya!" ujar Arkan menggoda Kamila.


Wajah Kamila semakin memerah dia malu berada di posisi yang sangat intim dengan Arkan.


"Arkan lepas, ayo ke bawah Bunda sama Ayah udah nunggu!" kata Kamila.


"Enggak mau! Lo makin cantik waktu blushing gini!" kata Arkan.


Cup...


Arkan mencium pipi Kamila dengan gemas.


Cup...


Arkan terus menciumi pipi Kamila, Arkan terkekeh Kamila benar-benar blushing.


"Arkan, tapi Bunda ud-udah nungguin!" ujar Kamila terbata-bata merasakan geli saat Arkan mengendusi lehernya.


"Gue gak mau makan, mau makan lo aja deh!" kata Arkan sambil terus mengendus aroma tubuh Kamila di lehernya.


Kamila mendorong dada Arkan, "Ih dasar mesum. Udah buruan pake baju, udah ditunggu Ayah sama Bunda di bawah buat makan malem. Lo kan dari tadi siang belum makan nanti malah sakit," kata Kamila.


"Pakein Yang!" kata Arkan jail.


"'Arkan!" Kamila gemas sekali dengan pemuda yang satu ini.


"Aduh Yang sakit, jangan dicubit gitu!" Kamila mencubit pinggang Arkan membuat pemuda itu mengaduh kesakitan.


"Lagian! Udah sana ganti baju!"


"Jangan dicubit dong cantik, nanti kalo nih anduk melorot, alat tempur gue keliatan, kan bahaya kalo udah keluar dari sarang!" kata Arkan dengan wajah tanpa dosanya.


"Arkan!" ujar Kamila kesal, bukannya takut Arkan malah semakin gemas dengan gadis itu.


"Haha, iyah Sayang iya!" ucap Arkan sambil tertawa.


Setelah puas menggoda Kamila, Arkan melepas lilitan tangannya dari pinggang Kamila.


"Gue ganti baju dulu, lo turun duluan atau lo mau bantuin gue ganti baj-"


"Enggak!" tolak Kamila cepat dan itu membuat Arkan tertawa.


"lit's okey, kiss me please!" pinta Arkan.


"Mwah.."


Gadis itu mencium pipi Arkan singkat...


"Engghhh.. Mmphhh Arkan!"


Arkan dengan cepat menyambar bibir gadis itu dan semakin memojokannya ke pintu, Arkan memangut bibir Kamila, tidak menuntut tapi terasa sensual.


Arkan melepas pangutannya dia tersenyum.


Cup...


Arkan mengecup singkat bibir Kamila lalu mengusapnya pelan menggunakan ibu jarinya.


"Manis Yang!" kata Arkan sambil terkekeh.


Wajah Kamila benar-benar sudah seperti kepiting rebus. Arkan menangkup wajah Kamila, " Udah sana ke bawah duluan dari tadi gak selesai-selesai kalo lo masih di sini!"


"Ya lagian di kekepin mulu gue, dari tadi bilang sana-sana gak dilepas-lepas!"


Arkan tertawa geli mendengar omelan Kamila, "Haha iyah Sayang, abis gemes banget!" kata Arkan.


"Sebentar yah ganti baju dulu!" katanya, Kamila menganggukan kepalanya.


Cup....


Kamila mencium pipi Arkan singkat membuat Arkan terkejut dan terdiam. Kamila tertawa lalu keluar dari kamar Arkan dia takut Arkan akan semakin menggodanya.


Saat di luar kamar Kamila tersenyum dia memegangi bibirnya yang tadi dipangut oleh Arkan.


Arkan terkekeh saja saat Kamila keluar dari kamarnya, Arkan kembali menuju lemarinya, setelah bersiap dan memakai baju Arkan turun ke bawah untuk makan malam.


Wajah Kamila kembali memerah saat melihat Arkan mendekat kepadanya, sedangkan Arkan mengedipkan sebelah matanya semakin menggoda Kamila.