
Pada saat melewati halte bus, Marvin tampak memicingkan matanya.
"Arkan, itu bukannya cewe yang kemarin ada di kantor polisi, ya?" kata Marvin kepada Arkan.
Arkan langsung melihat keluar jendela, benar ternyata Kamila sedang berdiri sambl menunggu bis. Marvin pun menghentikan Mobilnya di depan Kamila.
"Eh, kok Ayah malah berhenti, mau ngapain?" kata Arkan.
"Mau ngajak calon mantu barengan pergi sekolah," jawab Marvin dengan asal.
Arkan hanya tertawa kecil.
"Ayah apa deh, aku gak suka sama dia aku
Cuman seneng aja bikin dia kesel,". kata Arkan.
"Iseng doang? Tapi dia kan yang kamu anterin pulang waktu kemarin hujan-hujanan?" kata Marvin.
Arkan hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Kemudian la pun membiarkan sang ayah untuk turun dan menghampiri Kamila.
"Kamu Kamila, kan ... yang kemarin di kantor polisi?" sapa Marvin.
Kamila terkejut melihat orang tua Arkan ada di halte bis itu. la langsung mengangguk dengan sopan sambil tersenyum ramah.
"Betul Om, saya Kamila. Saya kemarin yang ada di kantor polisi. Om Ayahnya Arkan, kan?"
"Iyah, kamu ngapain di sini?" kata Marvin.
"Nunggu bis, Om ...tapi dari tadi bisnya penuh terus," jawab Kamila.
"Ya udah, kalao gitu kamu bareng aja sama Om. Ada Arkan juga tuh, di dalem mobil," kata Marvin.
Kamila mengerutkan dahinya.
"Tumben Arkan diantar sama Om?" tanya Kamila heran.
"Motor disita sama Bundanya, jadi dia gak bisa bawa motor. Jadi, Om alih profesi jadi sopir taksi dadakan gara-gara nganterin dia
doang. Ayo, kamu masuk nanti malah
kesiangan loh."
Kamila menggelengkan kepalanya perlahan.
"Enggak usah, Om. Makasih, saya tunggu bis aja."
Arkan membuka kaca mobil.
"Lo mau sampe kapan mangkal disitu?
Sekolah Mil udah kelas tiga juga Nanti lo kesiangan terus nanti ada preman lo mau pagi-pagi digodain preman!" kata Arkan sambil tertawa dengan tawa yang membuat Kamila kesal.
Kamila langsung mendelik gusar kepada pemuda tengil itu. Mau marah, tapi ada ayahnya. Dia merasa tidak sopan jika harus membantah perkataan Arkan dengan kasar.
Meskipun dalam hati ia merasa kesaldengan kelakuan pemuda tengil itu, ia hanya bisa pasrah.
"Mana mungkin ada preman pagi-pagi," jawab Kamila.
"Dih sok tau lo, emang lo pikir preman adanya malem doang, Preman juga punya jam dinas, ada jam dinas pagi juga sama kayak orang kerja. Kalo bukan pagi kapan mereka nyari duit? Malem? Emangnya
mereka mau malakin nyamuk?" kata
Arkan usil.
Mendengar perkataan sang putra, Marvin hanya bisa menahan tawa.
"Emangnya orang kerja, ada jam dinas!" jawab Kamila sedikit kesal.
"Udah kita bareng aja yuk, Om gak masalah. Daripada kamu nunggu bis juga lama, nanti kesiangan," kata Marvin lagi.
Kamila melirik jam tangannya, benar jika ia masih ngotot untuk menunggu bis yang kosong, tentu saja dia tidak akan dapat. Bahkan mungkin resikonya dia akan
kesiangan dan malah akan dihukum.
"Ya sudah kalau gitu, maaf ya Om saya merepotkan," kata Kamila.
"Nah gitu dong, dari tadi kek jadi gak nungguin lama pake debat dulu, kan berangkat bareng camer Mil," kata Arkan mengedipkan sebelah matanya.
"Kamila satu kelas sama Arkan?" tanya Marvin saat mobil sudah kembali melaju di jalanan.
"Enggak Yah, dia kelas sebelah, gak papa gak sekelas yang penting sehati iyah kan Mil?" tanya Arkan sambil terkekeh.
Kamila langsung melotot tetapi ia tidak menjawab.
'sialan Arkan ngerjain gue,' kata Kamila dalam hati.
"Emangnya kalian pacaran?" tanya Marvin lagi.
"Enggak, Om ... kami gak pacaran" jawab Kamila dengan cepat dia takut Arkan akan menjawabnya lebih dulu.
Arkan tersenyum jahil kepada Kamila.
"Wah parah lo Mil, bohong nih Yah masa iyah kalo gak pacaran aku rela nganterin dia pulang sampe basah kuyup," kata Arkan iseng.
Marvin hanya tertawa dalam hati. la baru menyadari jika Arkan sama persis dengan dirinya ketika masih muda. Seperti itulah dia ketika menggoda Alisha dulu.
"Marah aja Mil gue tau kok lo kesel, gue terima segala cacian dan makian dari ayang bebeb!" ujar Arkan sambil tertawa puas karena sudah menjahili Kamila.
Kamila tersenyum paksa dia sudah ingin sekali memukul dan mencakar wajah Arkan.
'Arkan sialan' batin Kamila memberontak.
Sedangkan Marvin benar-benar menahan tawanya putranya itu sangat pintar menjahili orang.
Mereka sudah sampai di sekolah, Kamila menghembuskan nafasnya lega.
"Udah sampe nih!" ujar Marvin.
"Iyah Ayah, Arkan keluar yah!"
Arkan menyalami tangan Marvin.
"Terima kasih banyak Om bantuannya, maaf merepotkan," ujar Kamila dia juga menyalami tangan Marvin.
"Enggak kok," ujar Marvin.
Setelah itu keduanya turun dari mobil lalu berdiri di samping mobil.
"Ayah berangkat yah, baik-baik di sekolah," ujar Marvin pada Arkan membuat pemuda itu menganggukan kepalanya.
"Iyah Ayah!"
"Mari Kamila."
Gadis itu juga tersenyum kepada Marvin lalu menganggukan kepalanya.
"Mari Om!"
Marvin mulai menjauhi area sekolah Arkan sedangkan Arkan dan Kamila memperhatikan mobil Marvin yang menjauh.
Saat mobil Marvin sudah menjauh Arkan melihat ke arah Kamila lalu mengulurkan tangannya. Kamila melirik Arkan sinis.
"Ngapain lo?" tanya Kamila heran.
"Lo gak mau salim juga sama calon suami!"
Dugh...
Kamila yang sudah kelewat kesal langsung menendang dengkul Arkan membuat pemuda itu meringis.
"Makan tuh calon suami!" Kamila. melangkah meninggalkan Arkan di
depan gerbang.
Arkan mengusap-Usap dengkulnya.
"Untung bukan masa depan gue yang di hajar!"
"Kualat lo Mil sama calon suami," teriak Arkan.
"Ngomong noh sama batu!"