
"Om juga berharap begitu hanya kepada Ayah kamu saja saat ini, Om menggantungkan harapan. Tim IT memang sudah berusaha tetapi entah mengapa data itu bisa hilang begitu saja. Om rasa ada orang yang iri dengan perusahaan Om sehingga hendak nenjatuhkan kami," kata Reynald dengan sedih.
"Om yang sabar yah, nanti saya coba ngomong sama Ayah," kata Arkan.
"Terima kasih yah Arkan!"
"Sama-sama Om, kalo begitu saya pamit dulu yah sama Kamila," ujar Arkan.
Renald mengangguk dan melepas kepergian Arkan dan Kamila dengan perasaan yang tidak menentu.
"Bagaimana Pah? Apa sudah bilang pada Arkan untuk mengatakan kepada ayahnya soal suntikan dana?" tanya Laras kepada Reynald.
"Sudah, tadi Papah sudah mengatakan hal itu kepada Arkan. Semoga saja dia bisa merayu Ayahnya Supaya mau menyuntikan dana ke perusahaan kita," jawab Reynald.
***
Di sekolah hari ini kelas Arkan jadwal olahraga. Arkan dan kawan-kawannya berada dilapangan dengan Daren dan yang lainnya.
"Gimana rencana lo berhasil nggak?" tanya Daren kepada Arkan saat mereka sedang duduk di pinggir lapangan.
Arkan menganggukkan kepalanya.
"Berhasil lah, tadi pagi Om Reynald minta gue buat bilang sama Ayah tentang suntik Dana!"
Kean menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ngeri gila dendamnya orang berduit!"
"Gue kalo jadi si Laras udah ketar-ketir pas tau lawannya Arkan!" saut Bastian.
Arkan tertawa saja.
"Terus rencana lo selanjutnya apa?" tanya
Daren.
"Liat aja nanti, gue gak mau buru-buru. Ada satu hal yang harus gue cari tau!" jawab Arkan.
"Apa?"
"Gue gak bisa bilang, gue belum punya cukup bukti, tapi yang pasti ini semua demi Kamila, kalo gak karena cewe gue, ya males!" kata Arkan lagi.
Pada malam harinya Reynald terkejut saat melihat Arkan.
"Ayah minta Om dan keluarga untuk datang ke rumah. Kebetulan Bunda masak agak banyak hari ini dan katanya mau menjamu Om juga keluarga," kata Arkan kepada Reynald.
"Kok mendadak sekali? Jika kami tahu dari siang, kan bisa persiapan dulu," kata Reynald.
Arkan tertawa kecil.
"Ah, acaranya juga dadakan Om jadi gak
sempet untuk untuk bilang sama Om dan Tante. Saya juga lupa untuk menelpon Kamila tadi. Jadi Ayah sama Bunda nyuruh saya buat langsung datang kemari jemput
kalian semua," kata Arkan lagi.
"Wah bagus dong, kalo begitu Om dan Tante siap-siap dulu ya. Ini Livia sama Kamila ikut juga?" tanya Reynald.
"Bunda sama Ayah bilang Om sekeluarga, artinya semuanya termasuk Tante Laras, Livia sama Kamila, Apalagi Kamila katanya harus datang Bunda kangen, padahal baru
beberapa hari yang lalu Kamila ke rumah," jawab Arkan sambil tertawa.
"Ya ampun Bunda kamu Sesayang itu pada Kamila!" Arkan tersenyum pada Kamila
yang berdiri di dekat sofa.
"Iyah Om, Bunda lebih sayang Kamila daripada saya," jawab Arkan membuat Reynald tertawa.
Harapan baru timbul di hati Reynald. Hubungan Kamila sangat baik dengan keluarga Arkan. Dia juga merasa jika pertemuan ini ada hubungannya dengan
permohonannya untuk meminta suntikan dana dari Marvin.
tidak mau menyuntikkan dana, maka
habislah perusahaan papa dan kita akan bangkrut serta jatuh miskin. Karena jika perusahaan bangkrut maka secara otomatis usaha apa yang lain juga akan ikut bangkrut," kata Reynald kepada Laras.
Wanita itu hanya mengganggukan kepala. Saat ini ia tidak memiliki pilihan lain selain menuruti perkataan suaminya dan lagi ia juga tidak mau hidup miskin .
Dulu sebelum menikah dengan Reynald Laras dan Livia hidup kekurangan. Laras bercerai dengan suami pertamanya karena sang suami sering melakukan KDRT dan tidak pernah memberikan nafkah yang baik
kepada Livia dan Laras.
Itulah sebabnya mengapa Laras ingin sekali menguasai harta milik Renald dan menyingkirkan Kamila. Semua itu semata-mata supaya hidup mereka tidak kekurangan lagi. Dan kali ini ia tidak mungkin membiarkan Reynald bangkrut.
Jika Reynald sampai bangkrut, bagaimana
dengan nasibnya dan Livia? Ia tidak mau lagi hidup miskin.
Satu jam kemudian keluarga Reynald tiba di rumah Arkan. Kamila naik motor bersama Arkan. Livia sangat terkejut saat keluar dari mobil dia melihat rumah Arkan
yang begitu besar dan mewah. la menelan ludah susah payah.
'Anjir si Arkan tajir melintir, seharusnya gue yang jadi ceweknya bukan babu itu. Emang hoki si Kamila. Tapi jangan seneng dulu gue bisa aja rebut Arkan dari si kampungan itu' batin Livia.
"Eh, anak Bunda udah dateng!" Alisha langsung memeluk Kamila dan itu membuat Livia kesal karena Alisha
menganggap Kamila anaknya.
"Apa kabar Bunda?" tanya Kamila sambil membalas pelukan Alisha.
"Baik Sayang, Bunda kangen deh! Yu sekarang langsung masuk aja!"bArkan tersenyum melihat interaksi ibunya dengan Kamila.
"Oiya ini pasti Livia sama Mamahnya Kamila ya?" kata Alisha mencoba bersikap ramah kepada Laras dan Livia, meskipun dalam hati ia sebenarnya merasa tidak suka dengan kedua wanita itu. Tetapi
bukankah mereka sudah berjanji untuk berpura-pura tidak tahu permasalahan yang menimpa Kamila.
"Iyah Tante saya Livia!" Livia menyalami tangan Alisha.
Laras juga cipika cipiki dengan Alisha, mereka semua masuk ke dalam. Saat Arkan hendak masuk Alisha menariknya.
"Ada apa Bund?" tanya Arkan.
"Cantikan Kamila, Kamila juga baik. Sodaranya muka-muka mak lampir," bisik Alisha.
Arkan tertawa.
"Iya jelas dong Bund, pilihan Arkan gak pernah salah, aku kalo sama Livia juga gak mau!" ujarnya.
"Udah sama Kamila aja, Bunda restuin!"
Suasana makan malam pun berjalan dengan hangat hanya Livia saja yang merasa cemburu karena ia melihat bagaimana Alisa memperlakukan Kamila dengan baik bahkan Kamila pun dekat dengan Kayla adiknya Arkan.
"Jadi, Arkan sudah mengatakan tentang kesusahan perusahaan yang saat ini anda alami dan saya memutuskan untuk memberikan bantuan kepada perusahaan Anda. Tetapi, saat ini juga saya sedang
mengajari Arkan untuk kelak bisa
mengendalikan perusahaan. Dalam hal ini saya ingin Arkan juga belajar. Jadi jika saya memberikan dana kepada perusahaan anda artinya saya memiliki saham di perusahaan anda. Dan saham saya adalah saham yang terbesar bukan?" kata Marvin kepada Reynald.
Renald mengganggukan kepalanya.
"Betul, jika anda memberikan bantuan kepada perusahaan saya senilai yang saya
minta, maka anda adalah pemilik saham yang terbesar di perusahaan saya," kata Reynald.
"Kalau begitu. Jika saya memiliki saham yang terbesar maka saya mau Arkan yang mengendalikan perusahaan anda. Jadi di sini jika ada apa-apa maka anda dan staff Anda harus melaporkan semuanya kepada Arkan sebagai wakil saya di perusahaan, bagaimana?" Kata Marvin memberikan penawaran.
Reynald tampak berpikir sejenak, tetapi ia dengan cepat langsung menganggukkan kepalanya.
"lya, saya setuju. Tidak masalah jika Arkan yang mewakili anda untuk mengendalikan perusahaan. Yang paling penting perusahaan saya tidak bangkrut dan bisa tetap berjalan karena ada nasib orang banyak di sana," kata Reynald.
Dan dalam hati Arkan pun bersorak gembira rencananya sukses luar biasa.