
"Kamu apain Kamila?!" seru Alisha di telepon.
Alisha terkejut saat Arkan mengatakan ia dan Kamila berada di rumah sakit.
"Ceritanya panjang Bund, Bunda ke sini yah bawa baju ganti buat Kamila, bajunya Kamila basah kuyup Bund!" kata Arkan.
"Kamila lagi diperiksa juga sama Dokter!" lanjutnya.
"Yaudah kamu kirim nomor kamarnya Bunda siapain baju Kamila dulu terus langsung berangkat, Bunda juga sekalian bawa baju kamu!" jawab Alisha.
"Oke Bunda!"
Arkan membawa Kamila ke rumah sakit terdekat. Pemuda itu tampak sangat khawatir melihat kondisi Kamila. Saat Alisha sedang panik sambil membereskan pakaian Kamila dan Arkan, Marvin masuk ke dalam kamar. Dan ia mengerutkan dahinya.
"'Ada apa Bund? Kok kayaknya panik banget?" tanya Marvin yang berdiri di samping istrinya itu.
"Kamila masuk rumah sakit," jawab Alisha singkat.
"Apa?! Kok bisa?" tanya Marvin terkejut.
Alisha menggelengkan kepalanya, "Bunda gak tau Yah, Arkan belum cerita. Ini Bunda mau ke rumah sakit bawa baju ganti."
"Ayah ikut yah."
"lyah, ayo berangkat!" ajak Alisha.
"Kayla gimana Bund?" tanya Marvin lagi.
"Kay ada si Mbok. Biar si Mbok aja yang jagain Kayla. Kita gak lama kok," kata Alisha.
Marvin pun segera mengambil kunci mobilnya. Lalu membantu sang istri. Tak lama kemudian, mereka pun sudah berada di jalan menuju ke rumah sakit.
Diperjalanan Alisha nampak cemas dia sangat mengkhawatirkan keadaan gadis itu, Alisha berpikir kenapa nasib Kamila selalu seperti ini. Tidak bisa kah semuanya berjalan dengan lancar.
"Sebenernya ada apa sama Kamila sih Bund?" tanya Marvin.
Alisha menggelengkan kepalanya," Bunda juga gak tau tadi Arkan nelpon cuman bilang ada di rumah sakit aja."
"Tapi Arkan gak ngapa-ngapain kan, Arkan kalo kaitannya sama Kamila pasti bakalan ngelakuin hal gila!" seru Marvin.
"'Semoga semuanya baik-baik aja Yah! Bunda juga takut Arkan itu suka lepas kendali Bunda khawatir!"
Ketika Alisha dan Marvin sampai di rumah sakit, Kamila masih belum sadar.
"Kamila! Ini kenapa bisa begini sih? "Alisha melihat Kamila yang masih menutup matanya. Alisha khawatir sedangkan Arkan menatap Marvin dan sang Ayah yang di tatap Arkan begitu merasa heran.
"Ada apa?" tanya Marvin.
"Aku mau bicara sama Ayah sebentar yah Bund, Bunda di sini dulu sama temen-temen aku," kata Arkan kepada Alisha.
"Eh... Tapi kamu belum cerita sama Bunda ini Kamila kenapa," cegah Alisha saat Arkan hendak pergi.
"Biar Daren aja yang cerita Tante, Arkan mau bicara sama Om Marvin kan," saut Daren.
"Yaudah sana, Bunda nanya ke temen-teman kamu aja!"Alisha pun akhirnya mengiyakan sementara Arkan dan Marvin pun berjalan menjauhi mereka.
Marvin juga sebenarnya bingung kenapa putranya ini tiba-tiba serius dan ingin bicara dengannya.
"Ada apa Bang?" tanya Marvin saat sudah sampai di luar.
Arkan menghela nafasnya, "Dia kembali Ayah!"
Marvin mengerutkan dahinya," Siapa yang kembali? Kamu keliatan takut sama panik. Ini bukan kayak anak Ayah yang biasanya gak takut sama apa pun!"
Sebagai seorang ayah, Marvin tau jelas jika saat ini putranya tampak sangat panik dan juga cemas.
"Aku rasa masalah lama bakalan balik lagi Yah, aku takut Kamila makin menderita," ujar Arkan.
"Maksud kamu apa sih Bang? Ayah gak ngerti."
"Pak Danu dan keluarganya sudah kembali Ayah. Dan sekarang Kamila korbannya, Rena anaknya Pak Danu sekarang sekelas sama Kamila, aku tau dia pasti bakalan terus jadiin Kamila target selanjutnya karena dia tau Kamila pacar aku Ayah!"
Marvin benar-benar terkejut saat mendengarnya dia tidak menyangka lengan semua fakta ini.
"Itulah alesan aku minta nikah sama Kamila Ayah, karena dengan dia tau aku udah nikah sama Kamila dia gak akan berani macem-macem lagi," kata Arkan menjelaskan.
"Sekarang apa aja yang udah dia lakuin ke Kamila?" tanya Marvin.
"Udah gak waras! Ayah pikir mereka udah pergi dan gak akan kembali tapi ternyata Ayah salah! Ayah gak mau Kamila sampai kenapa-kenapa!" kata Marvin.
"Rena itu licik Yah, aku tau gimana liciknya dia ngajak Kamila temenan, kemarin waktu aku nganter Kamila ke klinik Tante Rara di sana ada dia juga."
Marvin terkejut, dia tidak menyangka jika keluarga mantan koleganya itu masih berusaha hadir di hidup putranya.
Pak Danu adalah salah seorang kolega Marvin. Dulu, Arkan masih duduk di bangku kelas 3 SMP. Dan lucunya, Pak Danu mengusulkan untuk menjodohkan anak anak mereka karena Rena sangat menyukai Arkan. Dan lagi menurut Pak Danu agar hubungan kerja sama kedua perusahaan itu menjadi erat.
Tapi, Marvin dengan tegas menolak karena dia tidak mau anaknya terkekang dan berpengaruh pada bisnis yang terpaksa.
Menurut Marvin bisnis tidak bisa dicampur adukkan dengan urUsan pribadi apa lagi sampai perjodohan anak-anak mereka.
Arkan sendiri juga waktu itu merasa terganggu karena Rena yang begitu mengejar cintanya. Bahkan Rena dulu sempat meneror beberapa gadis yang menyukai Arkan padahal jelas-jelas Arkan tidak pernah menerima cinta gadis mana pun.
Arkan bercerita kepada Bundanya tentu saja menolak perjodohan yang ditawarkan oleh Pak Danu.
Ketika usulnya ditolak mentah-nmentah, Rena sempat depresi dan keluarga pak Danu pun pindah ke luar negeri untuk mengobati Rena.
"Mereka pasti bakalan nekat, Ayah bener bener gak habis pikir ini sudah hampir tiga tahun berlalu kenapa mereka hadir lagi!" kata Marvin.
"Aku yakin ini baru awal Ayah. Ayah inget kan dulu sama temen aku yang namanya Kiki cuman gara-gara aku nolong dia. Eh dia malah di celakain sama Rena sampai tangannya patah, tapi Pak Danu malah ngebela Rena."
Marvin menghembuskan nafasnya kasar, "Ayah akan pikirkan jalan keluarnya. Sementara ini kamu dan temen-teman kamu jaga Kamila," kata Marvin.
"ARKAN?!"
Pada saat Arkan dan Marvin tengah berbicara serius, samar samar mereka
mendengar Kamila berteriak memanggil Arkan.
Marvin dan Arkan pun segera berlari menuju ke ruang rawat Kamila.
"Cepet masuk, Kamila histeris cari kamu," kata Alisha.
Arkan langsung masuk ke dalam dan dia memeluk Kamila untuk menenangkan gadis itu.
"Ssttt... Kamila, jangan nangis ini gue Arkan!" kata Arkan sambil memeluk tubuh Kamla yang bergetar.
"Arkan di mana, gue takut hiks..." lirih Kamila.
"St.. Mila sayang. Ini gue," kata Arkan lagi.
Kamila mendongakan kepalanya menatap Arkan. Setelah itu dia langsung memeluk Arkan lagi.
"Gue takut, jangan tinggalin gue,' kata Kamila.
"Gue gak akan ninggalin lo Kamila, tenang aja!" jawab Arkan dia mengusap-usap kepala Kamila.
"Tad-tadi gelap Arkan ada darah!" ujar Kamila sambil terbata-bata.
"Sstt udah Sayang jangan di inget-inget!" kata Arkan.
"Tapi takut!" ujar Kamila masih dengan tangisnya.
"Gak ada yang perlu ditakutin selama gue masih hidup Mil!"
"Kamu yakin mau masuk sekolah hari ini? Engga di rumah aja dulu?" tanya Alisha kepada Kamila.
"Yakin Bunda, hari ini ada ulangan dan Mila gak mau ketinggalan pelajaran" kata Kamila.
"Kamu belum pulih Sayang!"
"Aku baik-baik aja Bunda, ada Arkan sama yang lainnya juga kan, Bunda gak usah khawatir!" Kamil memeluk Alisha untuk merayu wanita itu.
Alisha menghela nafasnya dia menatap ke arah Arkan, Kean dan Sean.
"Bunda titip Kamila yah, jagain Kamila ke mana pun. Pokoknya Bunda gak mau kejadian kayak kemarin keulang lagi, Bunda khawatir!" kata Alisha dengan tegas.
"lya Bunda,"
"lyah Tante. " jawab ketiga pemuda itu kompak.
"Awas aja kalo pulang lecet kayak kemarin, Bunda jewer kalian satu persatu," kata Alisha.