Badboy Yang Menyebalkan

Badboy Yang Menyebalkan
61. Teror Dari Arkan


"Nih, makan ikan. Kata Bunda lo suka ikan kan," kata Kamila dengan suara lembut.


Arkan menganggukan kepalanya.


"Makasih cantik!"


Bluush!


Wajah Livia langsung memerah karena menahan cemburu. Kamila yang melihat hal itu hanya tertawa kecil penuh kemenangan. Arkan mendekat ke arah Kamila.


"Pinter banget sih," bisik Arkan. Dan itu membuat Kamila mencubit kecil tangan Arkan.


Saat sedang makan dan berbincang tiba-tiba saja ponsel Reynald berbunyi. Dia mengangkat telponnya, dengan wajah terkejut Reynald bangkit dari kursinya.


Reynald tampak sangat panik.


"Kenapa Pah?" tanya Laras ikut terkejut.


"Gawat, sistem perusahaan dihack. Banyak data yang hilang dan kalo gak bisa balik kita bisa rugi tiga milyar. Papah harus ke kantor!"


"Arkan, Om pergi dulu!"


Tanpa menunggu jawaban, Reynald pun segera berlalu dari ruang makan. Arkan yang mendengar itu tersenyum puas dalam hatinya.


Ternyata, Daren berhasil membobol sistem IT di kantor Reynald. Sementara Laras panik dia ingat dengan kata-kata si peneror.


'Apa ini ulah peneror itu,' gumam Laras dalam hati.


Saat mereka semua panik Arkan mengirimi pesan kepada Laras.


Tring...


Unknown (See? Perusahaan Reynald bisa hancur di tangan gue) Arkan tidak mengetiknya dia menyalin teks yang sebelumnya dia buat lalu di kirim kepada Laras.


Membaca pesan itu wajah Laras tampak bertambah pucat. la merasa ketakutan. Bagaimana jika Reynald bangkrut? Sia-sialah ia selama ini menjadi istri dan berharap kekayaan Reynald.


Arkan benar-benar puas melihat wajah pucat pasi Laras, Arkan tidak pernah bermain-main dengan ancamannya.


Tok... Tok....


Tidak lama setelah kepergian Reynald suara pintu diketuk terdengar, asisten rumah tangga Kamila membukanya. Dan ia berjalan tergopoh-gopoh.


"Nyonya, maaf ini ada kiriman paket untuk Anda," kata asisten rumah tangga itu seraya memberikan paket itu.


Laras tersenyum senang dia memang baru saja membeli baju baru melalui sebuah situs online.


"Mamah beli baju baru lagi?" Tanya Livia.


"Iya dong, kan Mamah juga mau tampil modis," jawab Laras dengan sengaja memanasi Kamila.


Tetapi betapa mengejutkannya saat Laras membuka paket itu.


"AAAARGHH!" Teriak Laras dengan kencang sambil menjatuhkan kotak yang ada di tangannya.


Kamila dan Arkan mendekat ingin tahu apa isi kotak itu. Dan saat melihat isinya Kamila langsung menutup mulutnya tidak percaya.


"Arkan!"


Kamila memeluk lengan Arkan takut.


Di dalam kotak itu ada boneka barbie dengan berbagai sayatan dan ada darah berceceran.


Lagi-lagi Arkan tersenyum licik dia membuka ponselnya pelan agar tidak terlihat dia mengirimi Laras pesan.


Tring...


Laras terkejut saat ponselnya berbunyi, dengan tangan bergetar dia membuka pesannya.


Unknown (Kejutan yang menyenangkan bukan? Tutup mulut! Ini peringatan kalo berani lapor polisi dan berani menyakiti Kamila lagi, semua akan lebih dari ini! Tubuh lo bakalan bernasib sama kayak boneka itu)


Prang....


Laras menjatuhkan ponselnya. Dan itu membuat Kamila atau pun Arkan kaget.


"Ya ampun Tante, apa ini?!" Arkan berpura-pura terkejut, Arkan memeluk Kamila dari samping, gadis itu terlihat takut.


"S-saya gak tau!" ujar Laras bergetar gugup.


"Ini pasti kerjaan orang yang gak suka dengan keluarga kalian Tante. Apa Om atau Tante punya musuh?" tanya Arkan kepada Laras.


"S-saya"


"Nyokap gue bukan orang jahat," bantah Livia.


"Lo tau dari mana? Yang tau dia jahat atau enggak itu diri Tante sendiri. Coba inget-inget Tante pernah nyakitin siapa?" kata Arkan.


Laras tak menjawab, ia memeluk Livia. Tampak jelas bahwa wanita itu sedang syok luar biasa.


"Ngeri yah Tante, takut malah nyakitin diri Tante, ini terornya udah parah loh Tant!" kata Arkan lagi.


"Nanti bisa-bisa nyawa Tante taruhannya!"


"Enggak?!" seru Laras sedikit membentak Arkan.


"Saya kan cuman ngasih saran Tante, kalo Kamila mah bisa saya nikahin saya ajak tinggal di rumah saya. Kalo Tante? Livia? Om Reynald? Nanti kayak di berita itu pembunuhan satu keluarga!"


Plak...


Kamila memukul lengan Kamila pelan.


"Hust jangan begitu Arkan, pamali!"


"Lah gue kan ngasih info berita itu Mil," jawab Arkan.


Laras terlihat syok, sedangkan Arkan sudah tertawa puas sekali hatinya.


***


"Mil, udah sore gue pulang dulu yah!" pamit Arkan.


"Tante hati-hati orang rumah juga hati-hati, kalo ada apa-apa panggil polisi lah masa panggil saya. Saya mah khusus selalu ada buat Kamila!" ujar Arkan sedikit tengil.


"Ish... Udah ayo pulang!" seru Kamila dan Arkan pun melangkah menuju ke luar karena Arkan hendak pulang.


"Ar kok lo tadi bilang gitu, masa iyah Tante Laras juga jahat sama orang lain?" tanya Kamila.


Arkan mengusap kepala Kamila lalu menyelipkan anak rambutnya ke telinga Kamila.


"Feeling aja sih Yang, dia aja bisa jahat sama lo apalagi sama orang lain. Kalo orang jahat ya jahat aja Mil mau sama siapa pun," kata Arkan.


Kamila mengangguk- anggukkan kepalanya membenarkan kata-kata Arkan.


"Terus gue gimana?" tanya Kamila.


"Aduh Cantik gak usah khawatir, pacar lo ini selalu siap siaga mau lo nelpon gue jam satu malem juga gue mah dateng!"


Kamila terkekeh, Arkan itu ada saja kelakuannya.


"Tapi gue takut Ar," ujar Kamila mengerucutkan bibirnya.


Arkan yang gemas mencubit pipi Kamila.


"Ututu gemes amat sih, lo tenang aja Mil. Kalo ada apa-apa hubungin gue!"


"Beneran?" tanya Kamila.


"Iyah Sayang," jawab Arkan.


'Lo aman Mil, itu buat Laras bukan buat lo, yakali gue neror orang yang gue sayang'


***


Sudah dua hari ini Reynald merasa sangat pusing. Orang IT yang ia bayar belum bisa mengembalikan data perusahaan yang hilang sehingga hal itu membuat Renald sangat pusing.


Pagi itu, ketika Reynald melihat Arkan menjemput Kamila la pun segera memanggil kekasih putrinya itu.


"Arkan, kalian belum terlambat kan? Om mau bicara sebentar boleh?" tanya Reynald.


Arkan menoleh, ia yakin sekali Jlka apa yang akan dibicarakan Renald ini ada hubungannya dengan data perusahaan yang hilang.


"Boleh, Om mau bicara apa?" Tanya Arkan.


"Dua hari yang lalu, kamu tahu kan. Jika data perusahaan Om tiba-tiba saja hilang. Jika data itu hilang maka perusahaan Om akan mengalami kerugian sekitar kurang


lebih tiga miliar dan itu cukup besar bagi Om. Apa kamu bisa ngomong sama Ayah kamu supaya perusahaan Ayah kamu mau memberikan suntikan dana untuk perusahaan Om?" tanya Reynald kepada Arkan.


Dalam hati Arkan tertawa, segala sesuatunya berjalan sesuai dengan. rencana. Ini semua memang adalah rencana Arkan supaya Reynald tergantung pada perusahaan milik sang ayah dan hal ini akan memudahkan Arkan untuk menekan Laras pada akhirnya nanti.


"Baik Om, saya akan mengatakan kepada Ayah supaya nanti mengatur jadwal untuk bertemu dengan Om dan membicarakan masalah ini. Saya rasa Ayah mau kok mau nyuntikkan dana untuk perusahaan Om, lagi pula kita kan sudah dekat," kata Arkan


sambil tersenyum penuh arti.