Badboy Yang Menyebalkan

Badboy Yang Menyebalkan
54. Wanita Ular


"Ya bagus dong Mil, kalo gak marah-marah lagi, kalo sampe dia masih nyakitin lo gue pastiin dia gak akan tenang!" kata Arkan penuh ancaman.


"Emang mau lo apain?" tanya Kamila.


"Kepo lo, gue langsung nikah aja sama lo. Lo bisa aman dari Nenek sihir itu kan," jawab Arkan.


"Ish, sekolah dulu yang bener. Sekolah aja masih sering bolos, kadang masih suka dimarahin Bunda gaya lo mau nikahin gue," kata Kamila.


Tawa Arkan meledak seketika.


" Ya terus gue kudu gimana? Cari jalan


aman aja lah udah dapet restu juga!" tutur Arkan ngeyel.


"Ngeyel banget kalo dikasih tau," protes Kamila.


"Ngeyel-ngeyel gini, lo juga cinta Kamila," kata Arkan.


"Ya ampun! Sehari aja lo gak usah narsis deh!"


"Gak bisa Mil, soalnya gue kan udah sempurna, paket lengkap. Ganteng, tajir, ngangenin! Beruntung deh," kata Arkan sambil tertawa.


"Iyain aja iyain!"


Kamila menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Arkan. Tapi yang dikatakan Arkan itu memang fakta.


Saat tiba di sekolah, keduanya pun tak luput dari ledekan teman-teman Arkan. Terutama Bastian yang memang isengnya luar biasa.


"Cie ... Bu bos dijemput Pak bos," saut Bastian.


"Arkan udah punya pawang," timpal Kean.


"Kiw kiw! Abang Arkan udah gak jadi aligator!" Sean juga ikut menggoda keduanya.


"Tobat, pawangnya galak!" celetuk Daren membuat semuanya tertawa.


Arkan melihat ke arah Kamila sambil terkekeh.


"Ke kelas duluan aja, gue masih mau ngobrol sama mereka," kata Arkan.


"Mau bolos yah?" tuduh Kamila.


"Enggak Mil, nanti masuk kelas."


"Awas aja kalo bohong gue sambit pake sapu!" ancam Kamila membuat Arkan bergidig ngeri.


"Sadis!"


***


"Mil. kita berangkat bareng, yuk."


Kamila mengerutkan dahinya. Tidak biasanya nenek sihir yang satu ini mengajaknya berangkat ke sekolah


bersama.


"Lah kenapa diem Mil, ini kan motor yang beliin bokap lo, sekarang kita bisa bareng kan. Lagian bonceng lo doang mah gue kuat kok," kata Livia dengan manis.


Kamila menghela napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Rasanya aneh sekali jika Livia bersikap baik dan manis kepadanya. la justru nmerasa jauh lebih aman jika Livia bersikap menyebalkan dan jahat kepadanya.


Tetapi, jika manis begini jujur saja Kamila merasa sangat curiga karena sebelumnya Livia mana pernah bersikap baik kepadanya.


"Gue naik bis aja, itung-itung olah raga ke terminal, gak jauh juga," kata Kamila.


"Atau Arkan juga jemput gue gak tau, dia kalo mau jemput suka tiba-tiba dateng!" kata Kamila.


Livia memegang tangan Kamila membuat gadis itu terkejut.


"Ayolah, Mil. Gue tau selama ini gue gak


pernah baik sama lo dan selalu jahat. Tapi, sumpah sekarang ini gue mau tebus semua kesalahan gue sama lo. Gue sadar kalo selama ini gue jahat banget sama lo dan gue mau berubah. Kita kan udah jadi sodara. Selama ini bokap lo baik banget sama gue."


"Apa hubungannya bokap gue yang baik sama lo yang jahat ke gue?" tanya Kamila.


"Yaa.. Ada lah kaitannya. Selama ini kan bokap lo baik banget sama gue, tapi gue sama nyokap selalu jahat sama lo dan gue nyesel. Maafin gue yah," kata Livia dangan mata sendu menatap Kamila.


Gadis itu merasa bingung apa yang harus dia lakukan sekarang. Rasanya tidak tega melihat Livia memohon seperti itu.


"Yaudah deh ayo berangkat bareng," kata Kamila akhirnya.


tersenyum senang.


"Duh, seneng deh Papah liat anak-anak gadis Papah ini akur. Semoga selamanya kalian begini, ya," kata Reynald.


"Ah, biasanya mereka akur kok, Mas. Sesekali berantem itu wajar namanya sodara," timpal Laras dengan nmanis.


Livia dan Kamila pun hanya tersenyum dan segera berpamitan kepada kedua orang tuanya itu.


Di perjalanan pun mereka banyak berbicara seperti saudara pada umumnya, Kamila merasa Livia memang benar-benar berubah.


Saat sampai di sekolah, Arkan dan teman-temannya yang masih nongkrong di tempat parkir tentu terkejut. Tidak biasanya Kamila datang bersama dengan Livia. Terlebih Arkan dia langsung turun dari motornya.


"Wah apa tuh gak biasanya si Kamila sama Livia," ujar Sean.


"Kayaknya emang ada yang gak beres nih," kata Arkan sambil terus memperhatikan gerak-gerik Livia kepada Kamila.


"Lo harus jagain Kamila lebih ketat lagi Ar, si Livia itu tipe cewe licik.Baik pasti ada mau nya doang, atau dia emang lagi ngerencanain sesuatu!" saut Kean kepada Arkan.


"Setuju sih gue juga mikirnya gitu," timpal Daren.


Mereka semua melihat ke arah Kamila membuat Kamila menaikan sebelah alisnya.


"Bener Ar, lo juga kayaknya harus bilang ke Kamila jangan percaya sama uler modelan Livia!"


Arkan mengangguk setuju dengan perkataan Bastian.


"Bentar ya gue ke Kamila dulu!"


Arkan pun mendekati Kamila untuk menanyakan apa yang terjadi. Senyum Kamila mengembang saat Arkan mendekatinya.


"Pagi Arkan!" sapa Kamila dengan riang.


"Tumben berangkat bareng sama Livia, di suruh Papah?" tanya Arkan.


"Ih sapaannya gak di jawab deh!" ujar Kamila merajuk kesal.


Arkan menghela nafasnya.


"Pagi juga Sayang, sekarang jawab kalian


berangkat bareng di suruh Papah?" Kamila menggelengkan kepalanya perlahan.


"Enggak, gue juga awalnya bingung. Di rumah waktu gue siap-siap dia ke kamar ngajak berangkat bareng. Katanya dia minta maaf kalo jahat, tobat kali yah. Gue


mana tega liat mukanya melas banget


jadi gue iyain aja deh," jawab Kamila


panjang lebar.


Arkan menghela napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Kamila ini memang sangat baik hati.


"Mil!" Arkan menangkup wajah Kamila.


"Gak semua yang mohon-mohon sama lo itu orang baik, apalagi modelan Livia. Lo harus hati-hati, serigala akan tetap jadi serigala dia gak akan pernah berubah jadi kelinci. Kalo tiba-tiba serigala itu deketin


kelinci. Ya kemungkinannya cuman satu, dia mau makan kelinci itu," katanya.


"Lo pikir gue kelinci?"


"Iyah, selama ini lo kayak kelinci. Imut, polos, mereka semua serigala Kamila. Jangan cepet percaya sama orang, gue bilang gini karena gue sayang sama lo, lo terlalu polos buat berteman sama serigala-serigala itu," jawab Arkan.


Sekalipun Daren tidak memperingatkannya, Arkan sangat yakin jika memang Livia berniat tidak baik kepada mereka.


Kamila terdiam dia seperti sedang memikirkan ucapan Arkan. Arkan mengacak rambut Kamila.


"Udah jangan dilamunin, ayo ke kelas keburu bell bunyi," ajak Arkan.


Arkan pun mengajak Kamila ke kelas. Ketika mereka melewati kelas Livia, Kamila tersenyum kepada Livia. Tapi pada saat Kean dan yang lainnya melewati mereka Livia malah tersenyum licik.


Kean yang melihat hal itu tentu langsung bersikap waspada. Kean menepuk bahu Arkan.


"Gue udah liat," kata Arkan.


Mendengar perkataan Arkan Kamila mengerutkan dahinya.


"Ada apa sih?" tanyanya.