
Saat jam istirahat Kamila melihat ke sekeliling di mana Arkan, tadi pemuda itu mengirimi nya pesan agar ke kantin.
Kamila tersenyum saat melihat Arkan dia mendekati kekasih nya itu. Kamila menutup mata Arkan, Arkan menyunggingkan senyum nya dari wangi nya saja Arkan sudah tau dia siapa.
"Salsa yah!"
Kamila langsung mengerucutkan bibir nya kesal, "Apa sih!" serunya langsung melepas tangan nya di mata Arkan.
"Hahah bercanda Sayang, masa iyah gak bisa ngenalin wangi nya calon istri!" kata Arkan.
Kamila duduk di depan Arkan dia hanya mencebikan bibir nya kesal.
"Gue udah pesen makan, nih makan!"
Senyum Kamila mengembang, "Makasih Arkan!" katanya.
Byur...
Baru saja hendak menyentuh makanan nya, tangannya tiba-tiba basah, Kamila melihat siapa yang menyiram tangan nya.
"Upss... Sorry, gue gak sengaja abisnya tangan lo ngapain ditaro di pinggir meja!" Ternyata Salsa yang menyiram tangan Kamila.
Kamila bangkit dari duduk nya dia menatap Salsa nyalang. Dia mengambil gelas yang ada di tangan Salsa.
Byur...
Kamila menyiram wajah Salsa dengan minuman yang ada di tangan Salsa, "Aduh maaf, gue gak sengaja soalnya tanggung kalo cuman tumpah separo!"
Arkan menahan tawanya, dia berusaha tetap tenang menonton drama kekasih nya itu.
"Lo-"
"Kenapa Sal? Kurang yah? Muka lo kurang air tuh bedak lo luntur gue bersihin yah!" potong Kamila.
Byur....
Sekarang Kamila kembali menyiram wajah Salsa dengan jus jeruk yang ada di meja, itu minuman yang dibeli oleh Arkan.
Salsa mencekal tangan Kamila, " Kamila! Bisa-bisanya lo-"
"Apa?" tanya Arkan dia berdiri lalu menyentak tangan Salsa yang memegang tangan Kamila.
"Pergi lo! Gak mau pergi, urusan lo sama Kamila bakalan pindah ke gue!" kata Arkan dengan dingin.
Mau tidak mau gadis itu pergi meninggalkan Kamila.
"Lo gak papa?" tanya Arkan sambil melihat tangan Kamila.
Kamila tersenyum lalu menggelengkan kepala nya, "Gak papa, kenapa lo suruh pergi sih tuh mak lampir!" Kata Kamila.
Arkan terkekeh, "Sepet mata gue Mil, mending mandangin lo aja!"
"Padahal mukanya belum gue guyur pake kuah bakso lo!" kata Kamila lagi membuat Arkan terkejut, tapi setelah nya dia malah tertawa.
"Sadis amat sih Sayang!" jawab Arkan gemas sambil mengusap kepala Kamila.
Kamila terkekeh dia memegang tangan Arkan yang ada di kepala nya.
"Tapi gue gak sesadis lo Arkan!"
...****************...
Setelah perdebatan tadi di kantin sekarang Kamila berada di toilet dia hendak cuci tangan karena lengket dan kotor.
"Sinting emang, belum juga kenyang makan! Untung gue yang bales coba kalo si Arkan, bisa mati konyol!" gerutu Kamila.
Kamila mencuci tangan nya, saat dia sedang mencuci tangannya dia melihat Salsa keluar dari toilet sepertinya dia habis membersihkan bajunya yang tadi Kamila siram es jeruk.
"AKHHH!" Kamila memekik sangat kencang.
Awalnya Kamila santai saja hingga dia terkejut saat Salsa menarik
"Gila lo!" Kamila tidak mau kalah dia mencekal tangan Salsa dia mencengkram pipinya hingga Salsa meringis kesakitan.
"Gue dari tadi diem aja yah Sal tapi lo bener-bener mancing emosi gue!" kata Kamila sakras.
BRUKH!
Kamila memojokan Salsa ke tembok, Kamila semakin mencengkram pipi Salsa, "Gue gak minta pendapat lo buat sekolah di sini!" sungut Kamila.
"Gue harus buat Arkan jauhin lo! Gue benci lo Kamila!" sentak Salsa.
"Oh ya? Coba aja!" Kamila menyeringai.
Mata Kamila menggelap dia menodongkan pisau yang tadi Arkan berikan.
"Berani lo ngelakuin sesuatu yang bikin hubungan gue hancur, gue pastin lo gak akan pernah hidup tenang!" kata Kamila.
"Gue gak peduli, gue mau lo hancur Kamila!"
"Diem *****!" Kamila semakin menodongkan pisaunya.
Kamila menempelkan pisaunya di pipi Salsa, gadis itu tampak gemetar.
"Apa yang lo lakuin Kamila!"
"Sstttt lo terlalu berisik Salsa, gimana rasanya kalo piso ini gue pake buat ngukir di pipi lo yang mulus inu, sayang Salsa kalo cuman dianggurin!" ucap Kamila.
"Ssshhh, jangan gila Kamila lo gak bakalan berani ngelakuin itu sama gue," kata Salsa gugup dia meringis karena Kamila menempelkan ujung pisaunya ke pipi Salsa.
"Kata siapa gue gak berani? Lo mau coba? Piso ini tajem loh, tapi kalo buat ngukir muka lo kayaknya gak sakit tapi bakalan ninggalin bekas cantik di pipi lo"
Tanpa Kamila sadar, sedari tadi Arkan tengah melihat apa yang Kamila lakukan, senyumnya sangat lebar. Gadisnya terlihat sangat menyeramkan dan gemas secara bersamaan.
"Gila lo Kamila! Gue pikir lo cewe baik-baik, gue yakin Arkan pasti benci sama lo kalo tau perilaku lo yang kayak gini!" kata Salsa.
"Haha, oiya?" Kamila kembali mencengkram pipi Salsa.
Terasa sangat perih, bahkan rasanya kuku Kamila akan menembus kulit Salsa.
"Gue gak pernah bilang kalo gue sebaik itu Salsa, gue bukan malaikat seperti yang orang lain liat! Dan untuk Arkan mmm..."
"Dia bahkan bisa lebih sadis dari ini !" bisik Kamila membuat bulu kuduk Salsa meremang, sungguh ini seperti bukan Kamila.
Arkan yang melihat itu hanya tersenyum menunggu apa yang akan dilakukan oleh kekasihnya.
"Gue yakin Arkan pasti bakalan benci sama lo!" seru Salsa dengan kencang.
"Ssttt... Lo berisik Salsa, sebelum lo buat Arkan benci sama gue, gue bakalan lebih dulu buat Arkan cinta mati sama gue!"jawab Kamila enteng.
Salsa gemetar saat Kamila kembalo menodongkan pisau tepat di depan matanya sudah cukup dia mengancam Kamila terus menerus.
Arkan terkekeh, "Gue udah cinta mati sama lo, Kamila!" katanya.
"Lo jahat Kamila!" pekik Salsa.
"GUE GAK PERNAH BILANG DIRI GUE BAIK *****!" Arkan terkejut saat mendengar bentakan Kamila.
Perlahan Kamila menempelkan pisaunya ke pinggang Salsa, kemudian
...
Breeet!
Dengan menggunakan pisau itu Kamila merobek baju Salsa bagian bawahnya sehingga kemeja Salsa pun sobek.
"Tutup mulut lo, lo berisik! Bersyukur hari ini cuman baju lo yang sobek gara-gara piso ini. Awas aja kalo besok atau lusa dan seterusnya lo cari gara-gara lagi sama gue. Gue pastiin piso ini bukan cuman ngerobek seragam lo tapi bisa ngerobek mulut lo juga!" ancaman Kamila membuat Saksa diam.
Salsa tidak menjawab, la masih shock karena tidak menyangka jika Kamila bisa seberani itu.
Biasanya Gadis itu tidak pernah melawan dan bahkan selalu dibela oleh teman-temannya.
Tapi kali ini Salsa seperti melihat sosok lain dalam diri Kamila dan ia cukup terkejut melihat perubahan itu.
Melihat Salsa tidak berkutik Kamila pun kemudian memasukkan pisau ke dalam saku roknya.
"Terus ngapain Lo masih di sini? Sana keluar!" Perintah Kamila tegas.