
"Ngapain marah?" tanya Kamila.
"Ya siapa tau aja."
Kamila menggelengkan kepalanya, "Enggak Arkan! Aneh deh ngapain gue nyalahin lo gara-gara kecelakaan ini."
"Gue gagal jagain lo Mil, mulai dari ibu tiri lo sampe sekarang, udah banyak ke gagalan yang gue lakuin. Gue gak berguna yah Mil!" kata Arkan.
Kamila menangkupkan tangannya di pipi Arkan, "Kenapa jadi gak percaya gini sih hm? Kesambet?"
"Gue cuman ngerasa lo kalo sama gue susah terus, gue selalu nyusahin lo Mil!"
"Enggak ah, justru gue yang sering nyusahin lo, gue sering kena masalah dan lo juga ikut ke seret. Udah deh jangan ngerasa gak enakan gini!" kata Kamila berusaha membuat Arkan tidak merasa bersalah.
Arkan merasa sangat terharu dengan perkataan Kamila. Gadis itu benar-benar memiliki hati yang bersih. Arkan jadi merasa tidak pantas bersanding dengan gadis baik seperti Kamila.
Rasanya Arkan begitu buruk selama ini. Beruntungnya Kamila begitu sabar menghadapi sifatnya.
Arkan sudah selesai menyisir rambut Kamila, Kamila membuka sebuah kotak ternyata isinya Asesoris.
"Pagi ini karena lo udah nyisirin gue, lo yang harus milihin jepit buat gue" kata Kamila.
"Boleh!" Senyum Arkan mengembang.
Arkan dengan senang hati memilih jepit steanlis berwarna silver bercorak daun untuk Kamila. Sangat cantik.
"Cantik banget!" gumam Arkan gemas.
"Terima kasih!"
Arkan menganggukan kepalanya, setelah selesai mereka pun langsung turun ke bawah untuk sarapan pagi bersama.
"Kamu bener mau sekolah, Sayang? Emang tangan kamu udah gak sakit? Jangan sampe kamu nggak bisa bel loh gara-gara tangan yang sakit," kata Alisha.
"Emang tangannya Kakak kenapa? Pasti abang nakalin Kak Mila ya," sahut kayla.
"Enak aja Abang yang disalahin. Bukan Abang kok yang bikin Kak Mila jatuh," kata Arkan.
"Kalo bukan Abang siapa lagi? Abang kan suka nakalin Kak Mila," kata Kayla lagi.
Arkan hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia benar-benar tidak bisa menebak perkataan Kayla.
Berdebat dengan gadis kecil itu sama saja berdebat dengan Alisha tidak akan pernah mau mengalah.
Pada akhirnya mereka pun sarapan sambil sesekali mengobrol dengan santai.
Arkan memutuskan untuk membawa mobil saja ke sekolah. Dia mau Kamila tetap aman dalam jangkauan matanya.
"Tumben biasanya Bunda harus teriak-teriak dulu biar lo mau bawa mobil ke sekolah. Tapi pagi ini kenapa lo bawa mobil?" tanya Kamila.
"Nggak tahu. Gue lagi pengen aja bawa mobil ke sekolah. Lagian kalo bawa mobil gue bisa sambil pegang tangan loh, ngeliat lo. Kalo pakai motor gue nggak bisa lihat lo," kata Arkan kepada Kamila.
Kamila hanya tertawa geli mendengar perkataan Arkan.
"Sa ae," ujar Kamila.
Mereka pun berangkat ke sekolah dengan gembira. Sementara Kean dan Sean masing-masing membawa motor mereka.
Saat di sekolah Arkan terus menggenggam tangan Kamila. Senyum Arkan selalu membuat Kamila ikut senang.
Brukh...
Saat Arkan sedang berjalan bersama Kamila dia tidak sengaja bertabrakan dengan orang.
"Erik!"
"Cih..." Erik berdecih dia melihat luka di tangan Kamila lalu pergi begitu saja.
"Kenapa tuh anak? Awas aja kalau dia cari gara-gara lagi!" kata Arkan.
"Lo jangan cepet percaya sama orang bisa gak sih Mil. Apalagi orang yang tadinya emang gak suka sama lo. Dia belum tentu berubah jadi orang baik!"
"lya gue ngerti Arkan," kata Kamila sambil tersenyum.
Arkan mengantar Kamila ke kelas, setelah memastikan gadisnya baik-baik saja dia kembali ke kelasnya.
Saat istirahat tiba, Arkan berkumpul di rooftop. Seperti biasa, Arkan bersama dengan Daren dan Bastian juga Kean dan Sean.
"Ada yang udah dapet bukti siapa yang nyakitin Kamila?"
"Anak-anak masih nyelidikin sih. Emangnya lo punya perkembangan baru?" tanya Daren.
Arkan menatap Daren sekilas, "Gue tadi gak sengaja tabrakan sama Erik dia kayak biasa aja pas liat lukanya Kamila, gue bisa liat kalo dia senyum mencurigakan!" kata Arkan.
"Tenang Ar, gue bakal nyoba nyelidikin si Erik juga deh sekalian sama si Agus. Lagian tuh dua orang kan bikin masalah sama lo sama Kamila, gue yakin lo udah ngebales mereka mungkin mereka masih gak terima kalo lo begitu!" saut Bastian.
"Tenang Bang, kita semua gak bakalan diem aja liat Kamila begitu, sekarang kita sodara Bang jadi tenang aja!" kata Sean sambil menepuk bahu Arkan.
Arkan menghela nafasnya dia bersandar di tembok, "Gue jadi mikir kalo Kamila itu dewi penyelamat. Dia tameng gue, orang-orang tau Kamila itu kelemahan gue. Mereka yang jahat manfaatin Kamila buat nyakitin gue!"
"Lo bucin sih jadi cowok!" timpal Daren.
"Sialan Lo. Nanti suatu hari lo bakalan lebih bucin dari gue kalo punya cewek," bantah Arkan.
"Kagak! Gue nggak mau mempersulit hidup dengan kebucinan," kata Daren.
"Laga lo! Entar lo bakalan kena karma, ada cewek yang benar-benar suka sama lo dan lo suka. Gue kutuk Lu lebih bucin dari gue," kata Arkan kepada Daren sambil terkekeh.
Kamila baru saja keluar dari toilet dia berjalan menuju kelasnya, saat tiba di dekat kelas kosong dia seperti mendengar seseorang tengah berbicara. Sepertinya orang itu tengah bicara lewat ponsel.
"Arkan, namanya Arkan!"
Mendengar nama Arkan disebut, " Arkan!" gumam Kamila.
"Pokoknya gue mau Arkan celaka gimana pun caranya. Nanti Lo harus bikin dia celaka jangan sampe gagal! Udah dulu gue mau ke kelas!"
"Ada yang mau buat Arkan celaka!" kata Kamila terkejut.
Prak...
Kamila menutup mulutnya dia hendak berlari tapi tidak sengaja menginjak sebua botol.
"Siapa itu!" kata orang tersebut.
Kamila langsung bersembunyi bersembunyi di belakang tangga, Kamila membelakkan matanya saat melihat siapa yang keluar dari dalam kelas.
"Erik!" Kamila menutup mulutnya agar keterkejutannya tidak menimbulkan suara.
"'Siapa pun lo, lo gak akan pernah selamat kalo berani denger apa yang gue bicarain!"
Erik akhirnya mekangkah pergi. Setelah Erik pergi Kamila bisa bernafas lega.
"Gue harus jagain Arkan dia nggak boleh ke mana-mana apalagi sampe kenapa-kenapa," gumam Kamila.
Kamila akan melindungi Arkan, nanti Malam Arkan tidak boleh ke mana-mana. Dia harus bisa menjaga pemuda itu dengan caranya.
Saat pulang sekolah Kamila juga lebih banyak diam hal itu tentu saja membuat Arkan heran.
"Kenapa Mil? Ada masalah? Lo lagi gak sakit gigi kan?" tanya Arkan.
"Lo bete sama gue?" tanya Arkan lagi.
Mila mengerutkan dahinya kemudian menggelengkan kepala dengan cepat.
"Enggak, lagian ngapain sih gue bete sama lo. Gue cuman lagi bingung nanti malem gue mau buat kue apa yah. Gue lagi cape belajar! Lo nanti malem ada acara gak?"
Arkan mengerutkan dahinya. Sebenarnya dia memang mempunyai janji dengan anak-anak di basecamp nanti malam.