Badboy Yang Menyebalkan

Badboy Yang Menyebalkan
172. Hampir Celaka


Hari ini Arkan mengajak Kamila keluar agar tidak suntuk di rumah, mereka sengaja membolos sekolah dengan alibi ada acara, tapi anehnya Kean dan Sean malah masuk sekolah.


Sebelum mereka main, Arkan membawa Kamila ke dokter dia akan bertanya cara terampuh agar Kamila cepat bisa berjalan, Arkan tidak bisa terus-terusan melihat Kamila sedih.


"Saya sendiri tidak bisa memastikan kapan Kamila bisa berjalan kembali. Sebagai seorang Dokter Saya hanya bisa mengatakan jika Kamila bisa berjalan tetapi pastinya kapan saya tidak bisa memberitahu karena itu mutlak takdir dan kuasa Tuhan," kata dokter itu menjelaskan.


"Kan Mil, lo denger sendiri, lo masih bisa jalan. Tapi harus sabar," kata Arkan kepada Kamila.


Arkan menghela nafasnya terlihat bayangan sedih di dalam mata Kamila.


Arkan tau gadis itu pasti sangat ingin bisa berjalan.


Setelah puas berkonsultasi dengan dokter, Kamila dan Arkan pun segera berpamitan.


Arkan membawa Kamila keliling kota Jakarta dia membawa Kamila ke sebuah tempat, Kamila terkejut saat melihat pemandangan di depannya, ternyata danau yang dulu Kamila hendak bunuh diri sekarang sudah ramai ada banyak permainan.


"Mau bunuh diri lagi gak Mil?" tanya Arkan.


Plak.


"Lo pengen gue mati?" kata Kamila sebal dan memukul lengan Arkan.


Arkan terkekeh, "Enggak lah, kalo lo mau bunuh diri lagi gue bakalan jadi orang yang narik lo lagi buat gak jadi bunuh diri!"


Kamila tersenyum, dulu Kamila sempat berpikir untuk bunuh diri tapi setelah bertemu dengan Arkan dan keluarganya semuanya berubah, Kamila bisa merasakan apa itu cinta dan sayang yang sesungguhnya.


Kamila melihat ke sekeliling sekarang sudah ramai.


"Kenapa sekarang jadi rame banget kayak pasar malem? Banyak permainan juga lagi!" ujar Kamila kepada Arkan.


"Tempatnya strategis Mil, dulu kan masih belum banyak yang tau ada danau di tengah bukit gini!" jawab Arkan.


"Lo tau dari mana?" tanya Kamila.


"Dari anak-anak, mereka udah ke sini duluan, gue mau ngajak lo tapi kan lo sakit, lo mau main apa?" kata Arkan.


Kamila menelisik sekitar dia tersenyum lalu menunjuk salah satu permainan.


"Lo mau naik komedi putar" tanya Arkan.


Kamila menganggukkan kepalanya senang. Arkan pun langsung mengajak Kamila menaiki komedi putar, Arkan membantu Kamilan naik.


Tapi sebelum itu Arkan bicara dengan penjaga mainan itu, dia berkata Kamila tidak bisa berjalan jadi jangan terlalu kencang berputarnya.


Kamila sangat senang, Arkan memotret Kamila dengan ponselnya, Arkan dan Kamila foto bersama mereka sangat bahagia. Kamila dapat melupakan kesedihannya.


Kamila melihat fotonya bersama dengan Arkan.


"Gue mau makan permen kapas!" kata Kamila saat ia melihat penjual permen kapas yang berwarna pink dari atas komedi putar.


Mereka turun dari komedi putar itu, Arkan akan menuruti apa saja keinginan Kamila.


Arkan pun langsung membelikan permen kapas untuk Kamila, Tidak hanya permen kapas tapi juga Kamila meminta jajanan yang lain.


"Sayang itu banyak banget, yakin bakalan dihabisin?" tanya Arkan.


Kamila menganggukan kepalanya," Kalo gak abis kan ada lo yang ngabisin," jawab gadis itu.


Arkan hanya bisa menghela nafasnya ia pasti harus mengabiskan makanan Kamila.


"Gue heran lo makannya banyak tapi enggak gemuk-gemuk," kata Arkan.


Kamila pun langsung tertawa geli mendengar perkataan Arkan. Sejak dulu ya memang suka makan dan jajan, tetapi badannya tidak pernah gemuk.


"Bagus dong kalau gue banyak makan tapi nggak gemuk-gemuk. Daripada gue makan terus udah gitu jadi gemuk lo malah cari cewek lain lagi," kata kamila.


"Dih kalo ngemeng minta di cium, lo pikir gue cinta sama lo gara-gara liat body lo? Halu... Gue suka sama lo karena lo Kamila dan karena ini." kata Arkan sambil menunjuk ke dada Kamila.


"Apa pun yang ada di dalam diri lo gue suka," kata Arkan.


Arkan hanya tertawa sambil mencium pipi Kamila dengan gemas.


***


Sampai malam datang keduanya belum pulang. Arkan membawa Kamila ke alun-alun. Kamila melihat lampu berwarna warni dan air mancur.


Arkan mengajak Kamila pergi membeli ini dan itu tentu saja dengan Kamila yang duduk di kursi roda, Arkan sedari tadi selalu menunjukan kemesaraannya pada Kamila.


Kamila sangat senang, Arkan selalu menerima dirinya apa adanya.


Setelah dri alun-alun, Arkan melihat jam di tangannya dia melihat sudah pukul sebelas malam.


"'Sayang, dulu kan pernah makan tengah malem, makan pecel lele. Sekarang ke sana yu makan di sana lagi!" ajak Arkan kepada Kamila.


"Ceritanya nostalgia nih?" tanya Kamila.


Arkan tersenyum lalu menganggukan kepalanya, "Gue bakalan ngulang semua kenangan indah yang gue buat sama lo! Lo inget kan gue ngajak lo makan tengah malem lewat balkon?"


Kamila tertawa geli, tentu saja dia ingat. Waktu itu, Arkan menyelinap masuk ke dalam kamarnya kemudian mengajaknya kabur dengan menuruni tali.


Mereka membeli pecel lele yang tempatnya kebetulan tidak jauh dari tempat mereka sekarang ini.


"Gue juga gak mau ngelupain semua kenangan itu Arkan, ayo sekarang ulang lagi tapi gak lewat balkon, sebagai gantinya lo harus nyuapin gue kayak waktu itu!" pinta Kamila manja.


"Siap Ibu Negara, jangankan minta disuapin lo minta gue cium sekarang juga langsung gue lakuin Mil!" kata Arkan sambil terkekeh.


Arkan pun segera membawa Kamila ke tempat pecel lele langganan mereka. Mereka tidak hanya membeli pecel lele. Tapi ada tambahan ayam goreng ati ampela tak lupa tahu tempe dan lalapan.


Arkan menyuapi Kamila, Arkan tanpa jji makan dari bekas mulut Kamila, Arkan bahkan sudah merasakan rasanya bibir Kamila dan itu membuat Arkan biasa saja.


Mereka makan dengan bahagia, setelah selesai makan Arkan meminta agar Kamila menunggunya di tempat pecel lele saja.


"Sayang tunggu di sini sebentar yah mau ngambil mobil, jangan ke mana-mana!" kata Arkan yang diangguki oleh Kamila.


Arkan akan mengambil mobil kebetulan Arkan parkir sedikit jauh, karena pecel lele itu lumayan ramai. Saat Kamila menunggu Arkan, ada seseorang wanita paruh baya yang mendekati Kamila, "Kamu beruntung


sekali, Nak. Pacar kamu keliatan sayang. banget sama kamu. Dari tatapannya terlihat dia sangat mencintai kamu."


Kamila tersenyum, "lyah Bu, saya sangat bersyukur dia sangat mencintai saya, bahkan disaat saya tidak bisa berjalan dia terua berada di samping saya!"


Tiba-tiba saja, Kamila melihat Arkan hendak menyebrang dia melihat ada truk mengarah ke arkan tetapi, Arkan tengah mengangkat telpon.


"ARKAAAAN! AWAS! ARKAAAAN!" teriak Kamila.


Banyak yang berteriak agar Arkan mundur tapi Arkan tidak mendengarnya.


"ARKAN ADA MOBIL?!"


Kamila terus bersusah payah untuk memanggil Arkan tapi pemuda itu tidak


mendengarnya. Kamila berusaha bangun dari kursi rodanya berulang kali dia merasakan kakinya linu.


"Come on Kamila demi Arkan! Lo gak boleh biarin Arkan kenapa-kenapa!" Entah keajaiban dari mana Kamila dapat berlari dia menarik Arkan.


"AWAAAAAS!" pekik Kamila.


PRAK....


Ponsel Arkan jatuh terlindas mobil itu. Arkan terkejut saat melihat ponselnya hancur berkeping-keping terlindas truk.


"Arkan! Lo baik-baik aja kan? Ada yang luka? Gue panik!" tanya Kamila panik dia memutar-mutar tubuh Arkan seakan mencari luka.


Saking paniknya Kamila, dia sama sekali tidak sadar kalau saat ini dia sudah bisa berdiri sendiri.


Arkan malah terdiam dia syok Kamila bisa berjalan. Dia diam saja saat Kamila terus mencari luka ditubuhnya.