
Arkan pun kemudian duduk di samping Kamila.
"Arkan maaf!" kata Kamila langsung.
Arkan tersenyum dia mengacak rambut gadis itu.
"Bastian mana katanya nganter lo?" tanya Arkan.
"Dia di kantin katanya lumayan traktiran Daren, gue gak mau ikut!" jawab Kamila.
"Arkan gue minta maaf!" ucap Kamila lagi.
Arkan tersenyum dia menangkup wajah kekasihnya itu, "Gue yang harusnya minta maaf tadi pergi gitu aja, gue cemburu liat lo sama Dika. Nanti tuh osis songong kena tonjok repot!" kata Arkan kepada Kamila sambil terkekeh.
Kamila langsung menarik napas lega dia memegang tangan Arkan.
"Gue takut lo marah Ar, gue gak ada apa-apa sama dia, sumpah!" Kamila mengangkat dua jarinya.
Arkan hanya tersenyum manis sambil menepuk pipi Kamila dengan lembut, "Gue mana bisa marah sama calon istri!" godanya.
"Ish serius Arkan!" ujar Kamila sebal.
"Gue dua rius Kamila!" jawab Arkan sambil tertawa.
"Tau ah males deh." Kamila merajuk dia menjaga jarak dengan Arkan.
Arkan tersenyum dia memegang tangan Kamila, "Kira-kira hukuman apa yang cocok buat si cantik tukang ngambek yang abis deket-deket sama cowo lain ini, hm?" tanya Arkan sambil mengusap kepala Kamila.
"lh Arkan tadi kan udah bilang kalo gue gak ada apa-apa sama Dika!" kata Kamila.
"Semua perbuatan itu harus ada hukumannya Sayang, jadi mau dihukum pake apa?" tanya Arkan sambil mencolek dagu Kamila.
Kamila mengerucutkan bibirnya kesal dia membuat Arkan gemas setengah mati.
"Kayaknya gue udah nemu hukumannya deh Mil!" kata Arkan membuat Kamila menoleh.
"Apa?" tanya Kamila.
"Gue mau nyium lo sampe bengkak! Nanti malem gue ngungsi ke kamar lo!" bisik Arkan.
"Ih Arkan mesuuum!" seru Kamila.
Plak..
Bugh...
"Aduh Yang sakit kok di pukulin!" kata Arkan sambil berusaha menghindari amukan Kamila.
"Ya lagian mesum banget sih, lagi di sekolah tau!" ujar Kamila kesal.
"Haha bercanda Sayang! Ya ampun!" Arkan mengusap kepala Kamila dia membawa kepala gadis itu agar bersandar di pundaknya.
"Tapi tetep Mil nanti malem gue mau ngungsi!" bisik Arkan.
"Tapi Ar-"
"Sayang bawel deh, nanti gue cium di sini juga lo! Mau?" potong Arkan.
"Gue mutilasi kalo lo berani?!"
*******""
"Kak Mila, Arkan!"
Arkan dan Kamila baru saja selesai makan di kantin. Ketika seseorang memangil namanya.
Kamila dan Arkan pun menoleh serentak dan melihat Lily berjalan menghampiri mereka.
"Ada apa Li? Tumben manggil?" tanya Kamila kepada gadis tomboy itu.
"Itu... Arkan dipanggil ke ruang guru," jawab Lily.
Arkan langsung mencebik sebal kepada gadis bertubuh tinggi itu.
"Arkan... Arkan. Yang sopan sama kakak kelas. Panggil Abang kek, giliran sama Kamila manggilnya kakak," protes Arkan.
"Dih, ogah amat gue manggil lo Abang, udah sana buru ke ruang guru. Nanti ditanya dikira belum disampein!" kata Lily dengan judes.
"Dih selo napa, nih bocil gue plintir juga lo!" kata Arkan.
"Terima kasih Lily ... lya sama-sama. Bay!" jawab Lily tak peduli.
Mendengar ucapan Lily, Kamila hanya bisa menahan tawanya. Arkan dan Lily memang seperti anjing dan kucing selalu bertengkar.
Tetapi, Arkan tidak mau iseng kepada Lily karena tau Lily adalah pemegang sabuk hitam karate. Jadi. jika diajak bergulat kekuatan mereka pasti akan imbang. Dan Lily pun bukanlah gadis yang pecicilan.
"Makasih ya, Ly. Gue sama Arkan nanti ke ruang guru," kata Kamila.
Lily mengangguk, "Oke Kak, gue ke kelas dulu yah!" Setelah mendapat anggukan dari Kamila Lily kemudian beranjak pergi.
Setelah Lily pergi atensi Kamila berpindah pada Arkan.
"Lo bikin masalah apalagi Arkan?" tanya Kamila.
Arkan langsung menggelengkan kepalanya kuat-kuat, "Enggak Sayang, gue gak bikin masalah apa-apa, gue sekarang jarang bikin gara-gara kecuali kalo istirahat gue ngerokok di rooftop udah itu aja!"
Kamila menghela nafasnya, "Ya udah biar gak penasaran kita ke sana aja dulu, gue juga kepo," kata Kamila.
Arkan pun menganggukkan kepalanya dan segera melangkah bersama Kamila menuju ke ruang guru. Saat sampai di sana Arkan terkejut semua teman-temannya berada di sana.
"Nah, itu Arkan. Ayo sini, Arkan ... Semuanya masuk!" kata pak Anto guru olahraga mereka.
Arkan melihat kepada Kamila," Sebentar yah Yang! Lo ke kelas aja takut lama," kata Arkan yang diangguki oleh Kamila
Arkan pun segera masuk ke dalam ruangan sementara Kamila kembali ke kelasnya.
"Ada apa Pak?" tanya Arkan.
"Jadi begini, sekolah kita akan berpartisipasi dalam turnamen basket di luar kota lebih tepatnya di Bali untuk satu minggu ke depan. Karena Arkan dan teman-temannya adalah anggota tim basket yang cukup handal. Maka sekolah mempercayakan turnamen ini kepada Arkan yang lainnya. Tentu saja jika kalian berminat dan mau mewakili sekolah kita," kata Pak Anto.
Wajah Daren dan Bastian langsung bersinar-sinar. Mereka memang paling semangat jika ada turnamen basket. Arkan sendiri Memang paling menyukai olahraga ini.
Arkan berpikir pasti kedua orang tuanya pun akan merasa sangat bangga jika ia dan teman-temannya bisa memenangkan turnamen basket ini dan mewakili sekolah mereka.
"Bagaimana apakah kalian semua siap? Akomodasi dan transportasi tentu akan ditanggung oleh pihak sekolah. Kalian juga akan didampingi oleh saya."
"Termasuk ditanggung uang jajan nggak Pak?" Tanya Bastian iseng.
Pak Anto tertawa kecil mendengar candaan Bastian.
"Saya jajanin kalau kalian menang. Masing masing bakso satu mangkok cukuplah ya?" jawab Pak Anto.
"Wah kalau Bastian mah nggak cukup satu mangkok Pak kalau perlu sama mamang sekaligus gerobaknya dia baru puas," celetuk Kean yang langsung memancing tawa semua yang ada di ruangan itu.
"Kalau saya sih, siap. Anggota yang lain gimana?" kata Daren.
Yang lain langsung mengiyakan, semuanya siap untuk berangkat mewakili sekolah mereka.
Tetapi, Arkan belum menjawab, satu minggu harus jauh dari Kamila apalagi sekarang Dika sedang gencar mendekati kekasihnya itu, semua teman Arkan juga tergabung dalam tim basket termasuk Sean yang notabanenya adik kelas Arkan.
"Kalo Kamila dideketin Dika gimana, tuh osis songong gak ada kapoknya!" kata Arkan dalam hati.
'Tapi nanti yang jagain Kamila siapa' batin Arkan berkecamuk.
Arkan masih diam saja sibuk dengan pikirannya, hingga Kean menepuk bahunya.
"Lo gimana Ar kok diem? Ketua tim kan Lo. Jadi, gimana?" Tanya Kean.
"Undangan turnamen ini hanya diadakan setiap dua tahun sekali. Dua tahun yang lalu sekolah kita kalah dan tahun ini saya berharap sekolah kita bisa memenangkan turnamen ini," kata Pak Anto.
Arkan menghela napas panjang, lalu berpikir jika dia tidak boleh egois. Ada banyak temannya yang ingin berlomba juga.
Arkan tidak boleh mementingkan kepentingannya sendiri. Akhirnya Arkan juga setuju, mereka akan berangkat ke Bali dua hari lagi.
"Kalau teman-teman yang lain sudah setuju. Saya juga setuju Pak," jawab Arkan yang disambut riuh oleh anggota yang lain.
Tidak terasa mereka semua berada di ruang guru cukup lama sekarang sudah jam pulang.
Arkan keluar dari ruang guru ternyata sudah ada Kamila yang menunggu di dekat tembok dengan membawa tas Arkan.