Badboy Yang Menyebalkan

Badboy Yang Menyebalkan
179. Kamila Melawan


Tok... Tok..


"Ini gue Kamila, gue masuk yah!"


Malam harinya Arkan sedang bermain ps di kamar Kean, tiba-tiba saja pintu terbuka di sana ada Kamila.


"Arkan!" panggil gadis itu.


"Kenapa Sayang?" tanya Arkan.


"Lo lagi sibuk gak? Ada yang mau gue omongin bentar!" kata Kamila.


Arkan mengerutkan dahinya, " Penting?" Kamila langsung menjawab dengan anggukan kepala.


"Di kamar gue aja yah!"


Arkan pun langsung meletakan stik PS-nya, lalu dia mengajak Kamila keluar dari kamar Kean menuju ke kamarnya. Mereka masuk ke dalam kamar Arkan, Kamila menutup pintu dan menguncinya takut ada yang lihat.


"Kenapa Sayang?" tanya Arkan lagi.


Kamila merogoh sakunya mengembalikan pisau kecil milik Arkan, dan meletakkannya di atas meja.


"Ini gue mau balikin pisonya, kan tadi gue udah make juga," kata Kamila.


Arkan tersenyum, "Ambil aja Sayang, gue masih punya satu lagi kok!"


Tetapi, Kamila malah menggelengkan kepalanya.


"Gue gakmau, itu piso kan punya lo," kata Kamila.


Arkan menerimanya lalu berkata, " Kenapa gak mau Yang? Padahal lo bisa belajar banyak, lagian udah gue bilang kalo mau bales orang jangan separo-separo!"


Kamila tetap menggelengkan kepalanya dia tidak mau.


"Enggak mau Ar! Nanti kalo gue butuh gue pasti bilang sama lo!" katanya.


Arkan tersenyum dengan smirknya dia menarik tangan Kamila dan memojokan Kamila ke tembok. Lalu menodongkan pisaunya kepada Kamila.


"Arkan! Ap-apa yang lo lakuin?" tanya Kanmila dengan suara yang bergetar.


"Lo itu cewek gue Kamila, gue gak suka kalo ada yang nyakitin cewe gue! Lo milik Arkan Kamila! Bales apa pun yang mereka lakuin sama lo!"


Arkan menyeringai melihat wajah ketakutan Kamila, kemudian Arkan menempelkan pisau ke pipi Kamila.


"Lo terlalu baik Kamila! Gue mau main-main sama lo, kayaknya seru kan kalo gue ngukir nama gue di pipi lo sampe berdarah?" tanya Arkan semakin menempelkan pisau ke pipi Kamila.


Kamila terkejut dengan apa yang Arkan katakan dia menggelengkan kepalanya, Kamila berusaha lepas dari Arkan tapi sulit.


"Arkan jangan, lo kenapa?" tanya Kamila takut.


Arkan menatap Kamila tajam dia sangat menyeramkan.


Nafas Kamila terasa sesak, aura Arkan sangat membuat Kamila ketakutan.


"Arkan jangan gue mohon, lo bilang lo sayang sama gue!" kata Kamila dengan wajah paniknya.


"Gue emang sayang sama lo Mil! Tapi piso ini bilang dia mau liat darah milik wanitanya Arkan... Leher cocok deh!"


"Akhh.. Enggak Arkan jangan! Gue mohon!" pinta Kamila memohon.


Dia memekik saat Arkan menempelkan


pisau di lehernya.


"Lo takut?" tanya Arkan sambil tertawa.


Kamila menatap Arkan dengan berkaca-kaca dia menganggukkan


kepalanya.


BRUKH..


Arkan menarik Kamila dia menjatuhkan Kamila ke atas kasur, Arkan naik ke atas Kamila lagi-lagi Arkan menempelkan pisaunya di leher Kamila.


"Gimana kalo begini?" tanya Arkan dia mengusap-usap leher Kamila, dan itu membuat Kamila menahan nafasnya.


"Arkan! Jangan! Gue takut!" lirih Kamila.


Sungguh saat ini Kamila sangat takut, Arkan benar-bener menyeramkan pantas saja musuhnya tidak ada yang berani berkutik karena Kamila saja merasakan jika oksigen diserap habis oleh Arkan.


Kamila menutup matanya, dia terus merapalkan doa semoga setan-setan dalam diri Arkan tidak akan menyakitinya.


Kamila membuka matanya, dia melihat mata Arkan yang sangat jernih, tatapan tajam Arkan membuat siapa saja bertekuk lutut.


"Arkan! Gue mohon jangan sakitin gue!" pintanya lirih.


Arkan terkekeh dia meletakan pisaunya di atas nakas.


Cup...


Setelah itu Arkan mencium pipi Kamila gemas, "Takut hm?" tanyanya.


Kamila menganggukan kepalanya, dia takut, air matanya hendak mengalir tapi Arkan langsung menyekanya. Arkan tertawa kecil lihat kekasihnya itu sangat menggemaskan bukan. Dia sampai ingin menangis.


"Hey jangan nangis, tadi bercanda Sayang!" Arkan memeluk Kamila yang berada di bawahnya.


Kamila membalas pelukan Arkan dia berjanji tidak akan membuat Arkan marah, Arkan sangat menyeramkan.


"Lo harus janji kalau marah jangan nyeremin kayak gitu gue takut," kata Kamila dalam pelukan Arkan.


Arkan tersenyum dia mengusap kepala Kamila, "Semarah-marahnya gue sama lo, gue gak akan nyakitin lo, dulu waktu lo bohong itu gue marah banget, gue lebih milih diem! Gue gak tega nyakitin lo!"


Arkan melepas pelukannya dia menangkup wajah Kamila dan mengusap-usap pipinya.


"Lo harus kuat Kamila! Gak ada yang boleh nyakitin lo!" ujar Arkan.


Kamila menganggukan kepalanya," Gue sayang sama Lo, Arkan."


"Gue tau."


Arkan mendekatkan wajahnya ke wajah Kamila, Kamila melingkarkan tangannya ke leher Arkan.


Kamila menutup matanya saat merasakan bibir dingin Arkan menempel pada bibirnya.


Kamila menikmati setiap pangutan Arkan, pemuda itu selalu bisa memberi rasa nyaman. Kamila mengusap rahang tegasnya, Arkan itu tipe ideal menurut Kamila.


Arkan ikut memejamkan matanya saat Kamila mengusap rahangnya, sungguh sangat nikmat.


"Enghhh!" Arkan menggeram saat Kamila memainkan rambutnya di sela-sela pangutan mereka.


Arkan melepas pangutannya, dia tersenyum pada Kamila yang sedang terengah-engah mengatur nafasnya.


Arkan menduselkan kepalanya di ceruk leher Kamila.


"Ssshhh... Nghh.. Arkan jangan!" Arkan mengangkat kepalanya dia tersenyum senang saat melihat tanda merah di leher Kamila.


"Lo punya gue!" bisik Arkan sensual dengan suara seraknya.


"Mau melakukan itu sekarang?" tanya Kamila takut.


Arkan langsung menggelengkan kepalanya, "Laki-laki yang baik gak akan melakukan itu sebelum adanya ikatan pernikahan!"


Kamila sungguh kagum pada pemuda itu senakal apa pun Arkan dia selalu menjaga kehormatan Kamila.


"Tapi.. Lo tetep punya gue!"


Kamila tersenyum dan menganggukan kepalanya, "l am yours!"


***


Pagi harinya di sekolah Kamila terkejut karena baru saja datang dia dipanggil ke ruang kepala sekolah.


"Emang kenapa gue dipanggil sama kepala sekolah?" tanya Kamila kepada Lily.


Lily hanya menggelengkan kepala, " Gue nggak tahu, Kak. Gue tadi cuman diminta untuk panggil lo ke ruang kepala sekolah," jawabnya.


"Ya udah, Mil ... Kita ke ruang kepala sekolah aja sekarang," kata Arkan.


"Lo mau ikut?"


"Ya jelas gue ikut lah. Gue juga mau tau kenapa lo sampai dipanggil ke ruang kepala sekolah," jawab Arkan.


Ternyata saat mereka masuk ruang kepala sekolah sudah ada Salsa di sana.


"Nah ini dia Pak. Kamila itu suka bawa senjata tajam ke sekolah kemarin aja saya di todong pakai piso. Baju saya sampe sobek gara-gara piso punya dia," kata Salsa mengadu.


"Hah piso? Lo emang punya bukti kalo gue bawa piso ke sekolah?" tanya Kamila kepada Salsa dengan tenang.


"Ya buktinya baju gue kemarin sobek, nih bajunya yang kemarin lo sobekin pake piso itu."


"Dih, nuduh gue lo! Kalo baju sobek bisa aja kesangkut, kemaren lo nyiram gue terus gue bales, bisa aja kan lo dendam sama gue jadi lo fitnah gue begitu! Baju itu bisa aja lo sobek sendiri !" kata Kamila berlagak sedih.