Badboy Yang Menyebalkan

Badboy Yang Menyebalkan
91. Kangen


"Arkan!"


Kamila berusaha menyapa Arkan ia tersenyum saat pemuda itu masuk dalam gerbang. Tetapi, Arkan bersikap seolah olah ia tidak melihat Kamila ia langsung berjalan masuk bersama Kean dan Sean.


Tetapi, Kean yang melihat hal itu langsung menghampiri Kamila lalu menepuk pundak Kanmila perlahan.


"Sabar, dia cuman lagi ngambek. Nanti juga kalau udah ilang marahnya dia bakal biasa lagi sama lo. Yang penting lo sekarang berusaha aja buat ambil hatinya lagi," kata Kean.


Kemudian la pun langsung melangkah pergi meninggalkan Kamila.


***


Saat jam istirahat tiba, Kamila bergegas ke kantin dan membelikan Arkan beberapa makanan kesukaannya Arkan itu hampir semua jajanan kantin suka.


Setelah selesai kemudian Kamila membawakannya ke kelas Arkan. Bastian dan Daren yang melihat itu langsung tertawa senang. Teman-temannya Arkan saling melihat satu sama lain.


"Wah ini makanan buat siapa? Kok banyak banget?" kata Bastian berusaha mencairkan suasana.


"Ya pastinya buat Pak Bos lah, masa Bu Bos beliin buat kita," kata Sean ikut menimpali.


"Ini buat semuanya, kok. Gue beliin buat kalian juga, nih. Itu ada siomay ada sosis barbeque ada ayam geprek kalian pilih aja mau makan yang mana." Lalu Kamila pun menoleh ke arah Arkan yang masih cuek dan tidak memperdulikan dirinya.


"Tadi pagi lo makan cuman sedikit, loh. Lo makan ya, mau gue suapin?" tanya Kamila berharap Arkan akan melihatnya.


Tetapi, Arkan tidak menjawab ia langsung bangkit berdiri kemudian menoleh pada teman-temannya. Kalian kalo mau makan, makan aja. Gue mau ke atas nyebat," kata Arkan.


Pemuda itu pun langsung meninggalkan kelas dan berjalan pergi. Kamila menghela nafas panjang dan mengembuskannya perlahan. Susah sekali ternyata membuat Arkan kembali ke sifat biasanya jika sudah


marah seperti ini.


"Sabar yah Mil, namanya juga orang lagi marah. Makanya lo juga sih, udah tau kalau dia tuh nggak bisa dibohongin, lo masih aja bohongin dia. Padahal lo tau kalo dia itu pasti bakalan tau sendiri apa yang lo sembunyiin," kata Darren.


"Ya gue kan nggak tahu kalau dia bakalan naro CCTV di kamar gue."


"Masalah CCTV itu emang ide gue sih sebenarnya. Karena kalo cuman katanya atau cuman saksi nggak ada bukti bokap lo juga nggak bisa bakalan dihukum. Kalo ada rekaman kan kita punya bukti konkrit buat laporin bokap lo yang mau ngeracunin keluarga Arkan," kata Daren.


"Padahal kalo menurut gue ya percuma sih bokap lo mau bunuh Om Marvin sama Tante Alisha, Arkan itu lebih licik dari orang tuanya," kata Bastian ikut menimpali.


"Waktu dia mau bunuh bokap lo gue ngerasa liat sisi iblisnya si Arkan, dia yang biasa jail ketavwa haha hihi tiba-tiba jadi sycopat ya keren anjir!" kata Kean sambil terkekeh.


"Keren mata lo keren gue takut, btw makasih yah kalian udah bantu gue peduli sama gue. Gue mau ke kelas nih kalian makan aja," ujar Kamila.


Gadis itu pun kembali ke kelasnya dan membiarkan teman-teman Arkan yang memakan makanan yang sudah ia beli untuk Arkan.


Saat pulang sekolah Arkan berjalan bersama teman-temannya. Di sana ada


Kamila gadis itu terlihat tidak semangat.


"Kamila?!" teriak Arkan.


Arkan terkejut karena ada bola mengarah kepada Kamila, Arkan berlari pada Kamila dia menangkap bolanya.


Dugh!


Kamila menutup matanya dia menabrak dada Arkan.


"Kalo jalan liat-liat Mil, kena bola benjol kepala lo, gue juga yang kena omel Bunda!" omel Arkan.


"Kalo gak bisa main gak usah main sialan, sampe kena cewe gue. Gue hajar lo semua abis-abisan!"


Arkan melempar bolanya menatap tajam orang yang bermain bola basket.


"Sorry Ar, kelewatan tadi, sorry Mil!"


Tatapan tajam Arkan membuat mereka


mengatakan maaf.


Arkan pergi begitu saja, teman-temannya menyusul Arkan, Daren menepuk bahu Kamila sambil tersenyum.


"Tuh. kan. Dia itu savang sama lo, emang anaknya lagi ngambek aja," kata Daren.


Kamila menganggukkan kepalanya, melihat Arkan menolongnya dari lemparan bola begitu saja ia memang merasa jika Arkan masih sayang kepadanya dan ia bertekad untuk membuat Arkan kembali tersenyum lagi seperti dulu.


Kamila melihat Arkan yang menjauh, gadis itu tersenyum saja, Arkan masih menganggap dia kekasihnya.


Setelah makan malam, Arkan terus berguling ke sana dan ke sini, dia tidak bisa tidur. Arkan bangkit dari kasur, dia membuka pintu balkon, waktu menunjukan pukul sebelas malam.


Semua orang rumah pasti sudah tidur. Arkan melihat ke balkon samping, kamarnya Kamila sudah mati lampunya itu berarti Kamila sudah tidur. Arkan melompat ke balkon kamar Kamila. Dia membuka pintunya dengan kunci cadangan yang tadi dia ambil setelah makan malam.


Senyum Arkan terbit dia berjalan ke pintu depan ternyata sudah di kunci, Arkan naik ke atas kasur, Arkan melepas guling yang berada dalam pelukan Kamila sekarang Arkan yang masuk ke dalam pelukannya menggantikan guling.


"Enghhhh!" Kamila melenguh lalu membuka matanya.


"Ar-."


"Sssttt gue ngantuk Mil gak bisa tidur!" kata Arkan memeluk Kamila.


"Bukannya lo lagi marah sama gue? Tadi aja di sekolah gue di cuekin terus, sekarang udah gak marah?" tanya Kamila.


"Marahnya dipending dulu, gue kangen!" Arkan semakin mengeratkan pelukannya, dia menelusupkan kepalanya ke ceruk leher Kamila.


Kamila terkekeh dia mengusap rambut Arkan dengan lembut, "Arkan gue minta maaf, gue gak niat bohongin lo. Gue cuman takut kehilangan lo. Gue lebih baik di siksa habis-habisan daripada harus kehilangan lo gara-gara gue ngeracunin keluarga lo!"


Arkan tidak tidur dia mendengarkan semua isi hati Kamila. Arkan melepas pelukannya dia mengusap air mata Kamila lalu menciumi wajah Kamila bertubi-tubi.


"I love you Kamila! Gak pernah ada sedikit pun di kepala gue mikir buat ninggalin lo!"


"Arkan, gue sayang sama lo!" Kamila memeluk Arkan dengan erat.


Keduanya tidur bersama sambil berpelukan biarlah jika Alisha tau paling nanti mereka di nikahkan dan itu membuat Arkan tertawa dalam hati.


Arkan nyaman berada dalam pelukan Kamila, Kamila itu rumahnya sejujurnya Arkan tidak bisa marah kepada Kamila, tapi Arkan harus memberi Kamila pelajaran karena gadis itu tidak pernah mau mendengarkannya.


Tidur Kamila terusik, dia kembali membuka matanya dia melihat jam dinding masih pukul tiga pagi. Kamila tersenyum karena Arkan masih tidur di sampingnya, Kamila melepaskan tangan Arkan yang berada di pinggangnya, tapi pemuda itu langsung memeluk Kamila lagi, Kamila berharap besok pagi Arkan tidak akan berubah lagi.


Pagi harinya, sebelum pergi sekolah, Kamila menyempatkan diri untuk menemui Arkan di kamarnya. Saat ia masuk pemuda itu sedang bermain PS.


"Arkan, gue ke sekolah yah tadi Bunda udah bilang lo hari ini gak masuk, lo harus konsul ke dokter kan biar keadaan lo makin baik, sekalian konsul ke Tante Rara juga katanya!"


Arkan hanya diam, ia seolah tidak melihat keberadaan Kamila.