Badboy Yang Menyebalkan

Badboy Yang Menyebalkan
121. Benda Kesayangan


Setelah tadi Arkan bicara dengan Kamila gadis itu sudah memaafkan Arkan. Dia percaya Arkan tidak mungkin mengkhianatinya.


Arkan belum tidur dia masih terjaga sedangkan Kamila kekasihnya itu sudah terlelap, bahkan sudah memasuki alam mimpi.


Arkan masih terus mengelus kepala Kamila, lengan Arkan masih setia menjadi bantal untuk Kamila. Arkan tersenyum melihat wajah teduh Kamila. Arkan merapikan posisi tidur Kamila agar kepalanya tidak sakit, terlihat ada lingkaran hitam di matanya mata Kamila juga membengkak sepertinya gadis itu seharian ini terus menangis.


Cup...


Perlahan, Arkan mencium puncak kepalanya Arkan mengusap dahi Kamila.


"Maaf Mil kalo hari ini gue biin lo nangis, tapi gue janji sama lo gak akan ada orang jahat yang bisa ganggu hubungan gue sama lo!" katanya sambil membelai rambut Kamila.


"Sayang ijin buka lemari yah!" ucap Arkan.


Arkan bangkit dari kasur dia membuka lemari Kamila mencari sesuatu namun tidak ada, membuka loker juga tidak ada, Arkan menghela nafasnya dia mencari pistol dan pisaunya.


"Di mana sih, Bunda sama Kamila itu pasti kerja sama!" Arkan yakin jika pistol dan pisau itu pasti disembunyikan oleh Marvin dan Alisha saat ia pingsan tempo hari. Kamila juga pasti ikut-ikutan.


Entah dimana Marvin dan Alisha menyembunyikan benda kesayangannya itu.


Arkan menutup lemari dan laci Kamila dia berjalan ke arah kasur di mana kekasihnya tengah terlelap.


Cup!


"Tidur yang nyenyak, Sayang!"


Arkan merapikan selimut Kamila dia memberi kecupan singkat di dahi gadis itu lalu Arkan keluar melalui pintu balkon menuju kamarnya.


Di kamar ia belum bisa langsung tidur. Arkan menyempatkan diri untuk chat dengan Darren.


Arkan: Udah ada bukti?


Tring...


Daren: Belum, gue minta bantuan temen gue yang ahlinya siapa tau dapet nanti gue kabarin.


Arkan tidak membalas lagi, ia merasa sangat emosi sekali. Siapa yang kira-kira sudah menebar fitnah murahan dan menjijikkan seperti ini.


Arkan meremas ponselnya, "Liat aja apa yang bakalan gue lakuin kalo sampe gue tau siapa orangnya!" kata Arkan bermonolog.


Karena malam sudah larut, Arkan pun memutuskan untuk pergi tidur. la harus memiliki tenaga supaya besok ia memiliki tenaga lebih.


***


Pagi harinya Arkan sudah siap dengan seragam sekolah dan jaket andalannya dia akan berangkat bersama Kamila.


Pada saat Arkan turun, dia bingung karena sepi sekali, "Kok lo yang siapin sarapannya?" tanya Arkan kepada Kamila.


"lyah, Ayah sama Bunda katanya urusan penting di kantor. Kean sama Sean baru aja berangkat, mereka makan roti sama minum susu doang!"


Arkan mengangguk-anggukan kepalanya mengerti dia menyeret kursi lalu duduk.


"Mau sarapan apa? Gue siapin," kata Kamila.


"Minum susu aja, Sayang!" Arkan meraih gelas berisi susu kemudian meneguknya sekaligus.


"Lo sarapan?" tanya Arkan.


Kamila menggelengkan kepalanya, "Enggak, mau minum susu aja, tapi gue bawa bekel nanti makan bareng aja!" katanya.


"Yaudah ayo berangkat!" ajak Arkan.


Mereka segera berangkat sekolah karena tidak mau kesiangan. Arkan mengantar Kamila sampai gerbang sekolah dan itu membuat Kamila bingung.


Kamila turun dari motor Arkan, " Kok sampe gerbang doang Ar? Gak masuk?" tanya Kamila.


"Enggak, gue baru inget ada yang ketinggalan, lo duluan aja. Gue mau balik bentar!" kata Arkan.


"Nanti Lo bolos. Gue ikut deh," kata Kamila. Tetapi, Arkan menggelengkan kepalanya perlahan.


"Tapi Lo pasti nanti bolos," kata Kamila.


"Enggak Sayang. Kalo gue bolos Lo bisa marahin gue. Mau Lo pukul juga gue ikhlas," kata Arkan.


"Beneran?"


"Iya, Cantikkk," kata Arkan gemas sambil mengacak rambut Kamila.


"Hati-hati yah!"


Arkan menganggukan kepalanya," Siap Ibu Negara!"


Setelah melewati perdebatan, akhirnya Kamila pun mengalah dan ia pun masuk ke dalam kelasnya.


Setelah melihat Kamila masuk ke dalam kelas, Arkan pun langsung berputar balik ke rumahnya.


Tujuan Arkan saat ini adalah rumahnya, Arkan memarkirkan motornya lalu kembali masuk ke dalam, suasana rumah sepi karena semua sedang pergi.


Arkan berjalan menuju kamar Alisha dan Marvin dia membuka lemari dan laci-laci mencari pisau dan pistol miliknya yang disembunyikan oleh Marvin.


"'Aarghhh ke mana sih Ayah sama Bunda nyimpennya, gak tau apa ya itu gue butuhin banget!"


Arkan tidak menemukannya, Arkan keluar dari kamar orang tuanya dia berjalan ke arah ruang kerja ayahnya, tapi sebelum itu Arkan mematikan cctv ruangan Ayahnya.


Arkan mencari ke semua lemari, Arkan melihat ada brankas di dalam lemari, Arkan mengambil brankasnya, Arkan berusaha membuka brankas itu dia melihat ada paswordnya Arkan menekan ulang tahun Alisha dan benar saja brankas itu terbuka dan membuat Arkan terkekeh geli.


"Ayah Bucin, ngeledek gue bucin. Ayah lebih bucin, tempat penting gini bisa-bisanya pasword ulang tahun Bunda!" kata Arkan bermonolog.


Arkan tersenyum penuh kemenangan saat melihat apa yang ada di dalam brankas itu, dia mengambil pisau dan pistol kesayangannya.


Bukannya Arkan tidak bisa membeli lagi, tapi dua benda itu sudah ada pada Arkan sejak Arkan SMP. Tetapi, benar-benar Arkan gunakan saat hendak masuk SMA.


Setelah mendaptakan apa yang dia mau Arkan berjalan ke arah komputer Ayahnya. Dia mencolokan flashdisk dan menyalin semua data perusahaan.


Setelah selesai Arkan menghapus semua jejaknya agar Marvin tidak tau jika Arkan menyelinap masuk ke dalam ruangannya.


"Maaf Ayah, Arkan terpaksa ini semua demi Bunda percaya kalo aku Arkan anak Bunda Alisha gak pernah ngelakuin hal rendahan sampe ngecewain Bunda!"


Setelah semua selesai, Arkan pun bergegas pergi kembali ke sekolah. la tidak mau membuat Kamila cemas.


Arkan membawa dua benda kesayangannya, dia mengendarai motornya dengan kecepatan penuh. dia sudah berjanji pada Kamila untuk kembali ke sekolah.


Karena gerbang sudah ditutup, maka seperti biasa, Arkan berusaha diam-diam naik ke atas tembok sekolah. Tetapi apesnya dibawah ada osis yang sedang berjaga.


"Anjin* Lily ngapain lo?!" ujar Arkan terkejut saat hendak melompat.


"Menurut lo! Turun lo gila manjat-manjat pager?!" ketus Lily.


Kebetulan Lili adalah adik kelas Arkan tetapi meski anak perempuan dia itu tomboy dan juga jago karate.


Arkan melompat dari tembok itu dia memasang wajah tanpa dosanya.


"Udah hobi telat, bandel! Suka manjat tembok gue bilangin guru mampus lo!" seru Lily.


"Dih bocil, sopan kek cil sama Kakak kelas, udah lah awas gue mau ke kelas. Ngadu ke guru gue kerjain lo," ancam Arkan.


"Mata lo ke kelas, ke lapangan! Semua yang telat ada di sana!"


"Ga mau, Lo anak kecil kudu hormat sama Kakak kelas," kata Arkan ngotot.


Lili yang memang galak tanpa tanggung menendang kaki Arkan. Untung saja pemuda itu sempat menghindar.


"Dih mainnya tendangan, gue piting pala lo, keseleo!" jawab Arkan dengan wajah tengilnya.


"Jangan macem-nmacem Lo sama gue, gini-gini gue juara karate," ancam Lili.