Badboy Yang Menyebalkan

Badboy Yang Menyebalkan
164. Pindah Kelas


"Jangan bohong sama gue Kamila. Udah tahu kan sifat gue gimana? Dan gue paling gak suka kalau dibohongin. Jadi mendingan lo cerita sekarang sama gue kenapa, sebelum gue cari tau sendiri yang konsekuensinya lebih dari yang lo pikirin," kata Arkan dengan wajah datarnya.


Kamila menelan salivanya susah payah, kemudian ia menatap Arkan dengan mata yang sayu dan berkaca-kaca lalu menarik Arkan, dia memeluk Arkan.


"Arkan hiks..."


Arkan yang mendapat serangan dadakan terkejut tapi dia sebisa mungkin menahan


Kamila agar tidak jatuh.


"Kok nangis, kenapa Sayang?" tanya Arkan.


"Gue gak mau sekolah, gue takut, gue gak percaya diri. Gue takut kalo nanti yang lain liat gue aneh nanti gue jadi bahan ledekan mereka!" kata Kamila masih sambil menangis.


Arkan mengusap punggung Kamila menenangkan, "Sssttt jangan nangis Sayang!"


"Gu-gue takut Arkan!" kata Kamila sedih.


Arkan melepas pelukannya, dia mengusap air mata di pipi Kamila.


"Sayang, jangan mikirin yang aneh-aneh deh, kondisi lo ini kan bukan karena lumpuh bawaan. Tapi karena lo udah berjasa bantu orang, kalo bukan karena lo si cupu itu udah mati. Itu semua pahala buat lo, jadi jangan mikir yang aneh-aneh!"


"Tapi tetep aja Arkan, gue malu sama takut!" adu Kamila dengan sesenggukan.


Arkan tersenyum dia mengusap pipi Kamila dengan ibu jarinya.


"Kalo sampe ada yang berani ledekin lo di harus berhadapan sama gue dulu!" kata Arkan.


"Tapi kan-"


"Udah Sayang nggak ada kata tapi. Ada gue, Daren, Bastian, Kean dan Sean yang jagain lo. Pokoknya lo jangan khawatir," potong Arkan.


Kamila hanya bisa pasrah dengan perkataan Arkan, akhirnya keduanya turun ke bawah untuk sarapan.


Setelah selesai sarapan, mereka pun berangkat ke sekolah. Hari ini, Arkan membawa mobil miliknya karena kondisi Kamila tidak memungkinkan untuk naik motor.


Kean dan Sean pun ikut di dalam mobil Arkan. Pada saat mereka turun, Arkan mendorong kursi roda Kamila, dan semuanya melihat Kamila aneh.


Bisik-bisik pun mulai terdengar di telinga. Ada yang mengatakan jika Kamila kecelakaan, ada juga yang mengatakan jika Kamila sedang kena karma.


Entah apa maksudnya terkena karma. Yang jelas bisik-bisik itu sangat tidak enak terdengardi telinga padahal jelas-jelas mereka tau Kamila itu sangat baik.


"Rasain deh tuh si Kamila! Karma kan!" Kamila menundukan kepalanya saat mendengar itu.


Kean yang mendengar itu langsung menghentikan langkahnya kemudian ia


kembalikan tubuhnya.


BRUKH..


Kean menendang tempat sampah membuat isinya berserakan.


"Bangsat, diem lo semua! Kalo sekali lagi gue denger lo semua jelekin Kamila. Gue patahin leher lo satu-satu! Gak berguna! Bubar lo semua, gosip mulu idup lo!"


Semuanya pun langsung terdiam dan beberapa anak yang tadinya menggosipkan Kamila langsung bubar jalan karena mereka takut kepada Kean.


Sementara Arkan hanya tersenyum, sudah pasti temannya akan membela Kamila.


Arkan menundukan kepalanya, " Liat kan Sayang, mereka pasti lebih belain lo! Gak usah khawatir!" bisik Arkan.


Kamila memegang tangan Arkan sambil tersenyum.


"Makasih yah!" kata Kamila.


"'Sama Kean dong Sayang, kan tadi dia yang belain lo!" jawab Arkan.


"Kean makasih yah!" seru Kamila.


Kean menoleh kepada Kamila, " Santai Mil, tuh tawon-tawon beracun emang pantes digituin!"


"Ya ampun Kamila lo kenapa? Pulang liburan kok lo malah kayak gini? Lo kecelakaan?" Tanya Naya.


"lya Kamila kemaren kecelakaan di Bali, tapi sekarang dia lagi terapi kok Buat sementara waktu gue bakalan di kelas ini," kata Arkan.


"Mana bisa lo pindah kelas ngaco aja sih," kata Naya.


"Dih masalah buat lo? Bodo amat lah yang penting gua bisa jagain Kamila ,"jawab Arkan.


Naya hanya bisa menggelengkan kepalanya. Arkan memang keras kepala tidak bisa dibelokkan sama sekali. Dan


apa yang dikatakan oleh Naya terbukti.


Pak Yusuf masuk ke kelas dan ia pun langsung mengerutkan dahi saat melihat ada Arkan di kelas itu.


"Loh Arkan, Kamu ngapain ada di kelas ini? Kamu kan harusnya ada di kelas sebelah? Ngapain Di sini?" tanya Pak Yusuf.


"Saya mau pindah kelas aja, Pak. Pacar saya di kelas ini lagian saya gak mau jauh dari pacar saya, saya nggak mungkin pindah ke kelas sebelah."


Pak Yusuf mengerutkan dahi kemudian ia menatap Kamila heran.


"Kamila Kenapa kamu duduk di kursi roda?" tanyanya.


"Itu makanya saya bilang Kamila gak bisa jauh dari saya dia lagi butuh bantuan Saya. Saya nggak mungkin biarin dia di kelas ini sendiri. Saya harus jagain dia. Jadi saya mau pindah ke kelas ini meskipun sementara. Toh sama aja kan Pak pelajarannya, di kelas ini atau kelas sebelah gurunya sama juga," jawab Arkan.


"Ya tapi nggak bisa seenaknya gitu Arkan Kalian kan sudah mau ujian akhir."


"Ya justru karena mau ujian, Pak... jadinya nggak masalah. Pokoknya saya nggak mau pindah ke sebelah, saya mau di sini daripada nanti pacar saya kenapa-kenapa," kata Arkan lagi.


Pak Yusuf tidak bisa berkata-kata lagi. lya sudah maklum jika Arkan itu memang sangat keras kepala. Daripada berdebat dengan Arkan Pak Yusuf merasa lebih baik ia segera memulai pelajaran.


Dan setelah pelajaran Pak Yusuf selesai guru yang lain pun mengatakan hal yang sama kepada Arkan. Mereka menyuruh Arkan untuk kembali ke kelasnya tetapi Arkan menolak.


Hingga pada akhirnya para guru itu menyerah dan membiarkan Arkan tetap di kelas itu yang penting pemuda itu bisa mengikuti pelajaran dengan baik.


Arkan sama sekali tidak malu mengakui Kamila sebagai kekasihnya di depan siapa pun.


Hingga pada saat jam istirahat Kean, Bastian, dan Daren masuk ke kelas Kamila.


"Lo beneran pindah kelas?" tanya Daren kepada Arkan.


Pemuda itu nyengir tanpa dosa," lyahlah, bini gue sakit begini! Kalo ada gue aman, tuh mulut kaga ada yang nyinyir!" jawab Arkan.


Teman-teman Arkan tertawa saja mendengar jawaban Arkan.


"Kalian laper nggak sih?" tanya Arkan.


"Kalau gue sih laper Ar. Emang Lo nanya kayak gitu lo mau traktir kita semua?" kata Naya.


Arkan hanya tersenyum kemudian ia mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan 2 lembar uang berwarna


merah kemudian memberikannya kepada Bastian.


"Bas, lo sama Naya bisa beliin makanan kan ke kantin buat kita semua? Kita makan sama-sama di kelas aja. Kalau Bastian sendiri kan pasti repot. Jadi mendingan sama Naya," kata Arkan.


Kean dan Daren yang tahu jika Arkan memang hendak mendekatkan dan Naya hanya tertawa kecil.


"Lah kenapa gue sama Naya yang disuruh? Kan bisa sama Kean juga atau enggak gue sama Sean aja deh," kata Bastian.


"Udah lo aja, gue sama Darren ada perlu sama Kean, Sean sama Kamila. Yang penting kan judulnya lo ditraktir, jadi sana lo sama Naya," kata Arkan sambil menahan tawa.


Pada akhirnya Bastian dan Naya pun beranjak ke kantin. Setelah keduanya bangkit dan pergi, mereka semua bertos ria, begitu juga Kamila.


"Jail banget sih!" kata Kamila.


"Haha gak papa Sayang, biar gak ngenes si Bastian cintanya bertepuk sebelah tangan!"