
Kamila terkejut saat Arkan melakukan itu tapi dia senang Arkan sudah bangun dari koma.
"Dia udah sekarat Mil!"
Kamila menganggukan kepalanya dia tidak peduli dengan Erik.
"Lo pasti denger gue kan? Tadi gue sempet liat tangan Lo gerak tapi mata Lo masih merem. Lo baik-baik aja, kan?"
Arkan tersenyum sambil mengelus rambut Kamila dengan lembut.
"Gue denger semuanya, maaf udah buat lo sedih. Gue janji gak akan begini lagi!" jawab Arkan.
"Jangan bohong gue takut lo pergi dari hidup gue Arkan!" kata Kamila dengan khawatir.
"Gue janji!"
Atensi Arkan berpindah pada Kean, "Kean bawa si cecunguk itu ke rumah sakit, kalo dia selamat penjarain aja. Kalo mati buang aja, gue lebih seneng dia mati!"
Plak..
"Jangan begitu!" kata Kamila.
Arkan terkekeh dia memeluk Kamila lagi.
"Lain kali, jangan pernah pergi sendiri lagi, kalo ada apa-apa gimana?" Kata Arkan.
"Maafin gue, gue cuman mau bales rasa sakit lo Arkan!" kata Kamila.
"lya, tapi-"
"ARKAAAAN!"
"Arkan!" seru Alisha panik.
Kamila tersentak kaget karena tiba-tiba saja Arkan jatuh pingsan di kursi rodanya. Kamila panik dia mengguncang tubuh Arkan.
"Arkan! Ayah, ini Arkan kenapa?!" Kata Kamila dengan panik.
Marvin langsung memeriksa kondisi Arkan dan lelaki itu pun menghela napas panjang.
"Dia nggak apa-apa. Kita kembali ke rumah sakit sekarang," kata Marvin.
Kamila pun segera melangkah dengan cepat bersama Marvin yang menggendong Arkan, dan juga Daren yang sambil mendorong kursi roda. Mereka kembali ke rumah sakit karena khawatir terjadi sesuatu yang serius dengan Arkan.
Saat Arkan kembali ke rumah sakit dia langsung diperiksa oleh dokter.
"Bagaimana anak saya, Dok?" tanya Marvin.
"Tidak usah khawatir. Hal seperti ini wajar bagi pasien yang baru saja siuman dari koma. Arkan Ini kan baru bangun jadi seharusnya memang tidak boleh langsung pergi dari rumah sakit karena kondisinya belum pulih sepenuhnya. Mungkin dia terlalu lelah sehingga dia jatuh. Arkan hanya perlu waktu istirahat untuk memulihkan kondisinya," kata dokter.
Semua yang berada di situ pun merasa lega ternyata Arkan baik-baik saja.
"Mila, kamu pulang dulu yah, kamu mandi sama ganti baju, ada banyak darah di baju kamu. Nanti kalo udah bersih ke sini lagi aja, sekarang biar Daren Kean Sean Bastian sama Ayah yang di sini!" kata Marvin.
Kamila mengganggukan kepalanya dengan patuh. Gadis itu pun segera mencium punggung tangan Marvin lalu segera berlalu dari rumah sakit dan kembali ke rumah untuk mengganti pakaiannya dan mandi.
Setelah mandi Kamila tidak membuang waktu dia pun segera kembali ke rumah sakit.
"Gue mau di samping Arkan waktu dia bangun!"
***
Keesokan harinya, Arkan bangun. Dan dia merasakan kakinya sangat sakit.
"Aduh, kaki gue kenapa ini Mila? Sakit banget!" keluh Arkan.
Kamila terkejut melihat Arkan meringis kesakitan.
"Sebentar gue panggil dokter dulu!"
Gadis itu pun segera memanggil dokter untuk memeriksa kaki Arkan.
"Bagaimana, Dokter? Kenapa dengan kaki Arkan?" tanya Kamila panik.
"Kaki Arkan Ternyata ada yang patah dan sedikit retak. Ini harus di gips ya."
"Saya nggak mau dokter!" seru Arkan.
"Kalau nggak di gips mau gimana sembuhnya? Harus mau supaya kamu bisa cepat sembuh memangnya mau berdiam di kursi roda terus-menerus?" kata Dokter.
Kamila pun langsung menoleh kepada Arkan dan memelototi pemuda itu.
"Kalo lo gak mau gue gak mau nemenin lo di sini. Gue mau pulang aja ke Jogja," ancam Kamila.
"Eh kok malah ngancem ke Jogja sih. Ya udah ya udah, nggak papa, Dok. Saya mau digips," kata Arkan pasrah.
Dokter mulai memasang gips di kaki Arkan, berharap kakinya akan cepat pulih.
Setelah di pasang gips Arkan terus saja merengut dan itu membuat Kamila gemas.
"Udah sih Ar, Dokter bilang kaki lo itu bakalan sembuh dalam waktu 2 sampai 3 bulan ke depan. Makanya jangan bandel, masih untung itu si Ucup nggak dijual sama Bunda," kata Kamila.
Kamila menganggukkan kepalanya perlahan lalu berkata, "Si Ucup udah dibawa ke bengkel dibenerin sama Ayah.
Sekarang dia udah terparkir dengan manis di rumah. Tapi kuncinya disita sama Bunda. Jadi...lo jangan harap bisa pake motor itu dalam jangka waktu dekat," kata Kamila.
Arkan hanya bisa mendesah. Dia tahu Bundanya pasti sangat marah karena dia sudah bandel dan ikut balapan liar lagi.
***
Beberapa hari kemudian, Arkan sudah boleh pulang di rumah Kamila selalu di samping Arkan.
Arkan juga mengerjakan ujian susulan di rumah dibantu oleh Kamila. Arkan duduk di kursi roda didepannya ada meja Arkan sedang ujian susulan, Arkan sedikit kesal karena kakinya susah digerakan.
"Ish rese banget sih! Mau gerak aja susah?!" gerutu Arkan.
Kamila yang melihat kondisi Arkan hanya bisa menggelengkan kepalanya. Rupanya saat ini kesabarannya memang benar-benar diuji.
"Kenapa? Biar gue bantu kalau lo mau sesuatu," kata Kamila.
"Gue cuman haus pengen minum," jawab Arkan.
"Ya udah lo tunggu di situ sebentar biar gue ambilin air minum ya."
Kamila pun segera beranjak dan mengambil gelas berisi air minum yang dingin untuk Arkan. Dia tahu kalau Arkan sangat menyukai minuman yang dingin.
"Nih minum abis itu kerjain soal lagi!" kata Kamila sambil menyerahkan gelasnya.
Prang...
Tetapi karena kurang hati-hati Arkan malah menumpahkan gelasnya sehingga pecah di lantai.
"Ya ampun!"
Kamila pun dengan cepat membereskan pacahan kaca di lantai.
"Auw... Ssshhh!"
Tetapi, sayang gadis itu kurang berhati-hati sehingga tangannya tertusuk pecahan kaca. Melihat Kamila yang terluka, Arkan
semakin merasa bersalah.
"Mil sorry, gue gak sengaja! Gue minta maaf!"
Kamila tersenyum lalu menggelengkan kepalanya, "Gue yang gak hati-hati. Gak papa kok!
Bugh... Bugh...
"Sial! Gara-gara kaki gue begini gue jadi nyusahin lo Mil! Gue benci keadaan gue yang lemah begini!" maki Arkan sambil memukuli kakinya.
Melihat itu Kamila segera menahan tangan Arkan kemudian menggelengkan kepalanya lalu berkata, "Jangan dipukul gitu Arkan, udah tau lagi sakit. Nanti makin sakit Ar!'
"Gue kesel kayak gini terus."
Kamila mengusap pundak Arkan, " Cuman 2 sampe 3 bulan kok. Abis ini lo bisa terapi terus bisa jalan lagi kayak dulu, gue janji bakalan selalu ada di samping lo?!"
"Maafin gue, Mil." Arkan memegang tangan Kamila.
"Abis udah stok maaf gue kalo lo minta maaf tiap hari. Udah nggak usah dipikirin yang penting sekarang lo kerjain dulu deh ujian susulan lo itu. Emangnya lo gak mau lulus? Terus Lo fokus sama kesehatan lo biar bisa terapi," ujar Kamila dengan penuh
kelembutan.
Arkan pun membawa Kamila ke dalam pelukannya. Dia merasa sangat beruntung memiliki Kamila dalam hidupnya.
Kamila bukan saja cantik tetapi begitu sabar menghadapi sikap Arkan yang terkadang memang sering menyebalkan.
"Gue minta, jangan pernah tinggalin gue ya. Tolong lo harus selalu sabar ngadepin gue yang keras kepala ini Mil!" pinta Arkan memohon.
Cup...
Kamila tersenyum manis kemudian mencium pipi Arkan.
"Gak usah lo minta juga gue bakalan selalu ada di samping lo Arkan, lo hidup gue!"
Kamila menangkup pipi Arkan," Gue tau lo emang nyebelin, lo rese. Tapi anehnya gue sayang sama lo. Mau lo kayak gimana pun gue tetep sayang sama lo karena lo Arkan-nya Kamila!"
Arkan tersenyum dia ikut menangkup wajah Kamila, "Janji? Gak akan pernah pergi?"
Kamila menganggukan kepalanya," Gue gak akan pernah pergi dari sisi lo Arkan!"
Cup...
Arkan mencium dahi Kamila lama dia memeluk kekasihnya itu.
"Terima kasih Kamila!"
"Terima kasih kembali Arkan!"
......THE END.......
...Terimakasih banyak untuk seluruh pembaca yang sudah mengikuti Novel ini dari episode awal dan hingga akhir episode....