
Salsa pergi setelah melihat kemarahan Kamila. Dia tidak mau mengambil resiko dengan menantang Kamila. Kamila terkekeh dia sangat senang sekali.
"Dih kabur, gue kan cuman main-main aja!" Kamila kembali mencuci tangannya di wastafel.
Kamila melihat dirinya di cermin, " Arkan emang paling the best, jadi makin sayang!" kata Kamila sambil tersenyum
menggemaskan.
"Gue juga sayang sama lo Mil!" Arkan tertawa kecil melihat perubahan wajah Kamila dia tadi sangat menakutkan sekarang jadi gadis yang menggemaskan lagi.
Awalnya Arkan menyusul Kamila karena takut terjadi sesuatu, tapi siapa sangka Arkan malah melihat pemandangan yang sudah lama dia ingin lihat.
Arkan meninggalkan Kamila dia tersenyum singkat, ini perubahan yang sangat menakjubkan.
Gadisnya itu membuat Arkan semakin jatuh cinta, sungguh menggemaskan.
Sedari tadi senyum Arkan tidak pernah hilang mengingat kejadian Kamila yang seperti psychopath.
"Kenapa lo senyum-senyum sendiri?" tanya Daren saat Arkan duduk di kursinya.
"Tadi gue ngeliat pemandangan yang bagus banget. Gue rasa lo juga bakalan kaget kalau lihat kejadian tadi," jawab Arkan.
"Apaan?" tanya Daren.
"Tadi Kamila lagi main-main sama piso gue di toilet, and yaaa korbannya adalah Salsa, baju dia sobek! Sumpah cewe gue keren banget!"
Mendengar hal itu Daren langsung membelakan matanya. la tidak menyangka jika Kamila bisa bersikap seperti itu.
"Lo serius?" tanya Daren lagi.
"Serius," jawab Arkan.
"Kayaknya lo udah bawa pengaruh buruk buat si Kamila," kata Daren.
"Bapak lo pengaruh buruk! Malah bagus, gue suka liat Kamila yang begitu'
Arkan menyeringai, "Kayaknya gue harus ngajarin yang lebih dari ini ke Kamila!"
Daren hanya bisa menggaruk kepalanya sambil menghela nafas panjang, "Lo berdua sama gilanya!" ujar Daren.
Saat pulang sekolah pun, pegangan Arkan pada Kamila seolah tidak ingin lepas. Hal itu tentu membuat teman-teman Arkan usil kepada mereka.
"Gandeng terus! Dunia milik berdua yang lain ngontrak," kata Bastian.
"Salah kalimat woy, harusnya sekolah milik berdua yang lain numpang!" kata Kean.
"'Sirik aja lo! Makanya punya cewek" kata Arkan.
"Ya gue deketin si Naya kagak dapet-dapet," kata Bastian.
"Kurang usaha sih lo. Coba kalau misalkan usaha lo lebih gencar pasti dapat kok," kata Daren.
"Eh ini gimana ceritanya, tadi kan mau gangguin si Arkan lah kenapa gue jadi dibully?" Protes Bastian.
"Lo emang cocok buat di buly!" saut Naya.
"Jahat lo Nay!" Sontak saja semuanya tertawa.
Pemuda itu merasa kesal karena tadinya lya yang hendak menggoda Arkan dan Kamila. Tetapi, malah terbalik la yang digoda oleh teman-temannya.
Kamila terkekeh, mereka kalo sudah ribut pasti akan sangat ramai.
"Udahlah, gue pulang aja," kata Bastian ngambek.
"Ngambekan lo kayak perawan," seru Kean.
"Lagian lo semua demen banget godain si bastian, kasian!" ujar Naya.
"Cieee mulai dibelain!" seru Arkan.
"Gue nggak nyangka ternyata lo ada hati juga sama si Bastian yah?" Tanya Sean kepada Naya yang langsung tertunduk malu dengan kedua pipi yang memerah.
"Makasih ya, ayank Beb," kata Bastian sambil berusaha merangkul Naya.
"Apaan sih lo!" sungut Naya, tapi Bastian tetap tidak mau lepas.
Tetapi, tiba-tiba saja Kean berdiri di tengah-tengah Naya dan Bastian lalu berkata, "Main peluk-peluk bukan muhrim!"
"Buta lo? Lo gak liat tuh si Arkan dia malah lebih parah!" ujar Bastian.
Tawa mereka semua pun meledak seketika. Mereka bertambah heboh saat
Naya mau dibonceng oleh Bastian dan mereka meninggalkan sekolah terlebih
dahulu.
"Kayaknya bentar lagi ada yang jadian," kata Sean.
"lya tinggal lo bertiga yang masih jomblo kagak laku-laku," kata Arkan.
"Bacot! Balik kanan bubar jalan!" ujar Kean.
Mereka pun akhirnya bubar jalan. Arkan tertawa saja, Kean dan Sean pulang lebih dahulu karena mereka mengantuk.
Daren yang arahnya berbeda juga langsung pulang. Sementara Arkan pulang dengan Kamila.
"Cantiknya Arkan sekarang udah berani, gue suka liat lo yang begitu Mil!" Arkan mengusap tangan Kamila yang berada di perutnya.
"Kok lo tau tadi gue berantem sama Salsa?" tanya Kamila heran.
Arkan terkekeh, "Gue takut lo kenapa-kenapa di toilet pasti ada Salsa,
tapi ternyata gue ngeliat pemandangan yang indah!"
Plak..
Kamila terkekeh dia memukul pundak Arkan, "Tadi kelepasan Arkan, kayaknya setan yang ada di diri lo pindah ke gue!"
"Gue tau!" Arkan tertawa dia mengusap kepala Kamila yang berada di pundaknya dengan lembut.
"Kenapa tadi gak lo gores aja sih tuh muka kuenya gue gregetan banget pengen ngeliat darahnya!" ujar Arkan.
"Muka kue?" tanya Kamila heran.
"lyah Sayang, muka kue! Lo gak liat dimukanya ada banyak warna, mana tebel banget lagi tuh bedak, jangan lupa mulutnya merah banget kayak abis di sengat tawon!"
Sontak saja tawa Kamila pecah dia merasa lucu sekali mendengar perkataan Arkan.
"Jadi beneran lo tadi ngikutin gue ke toilet?" tanya Kamila memastikan.
"Iyah Sayang, kalo tadi gue gak ngikutin lo gue bakalan ngelewatin adegan yang sangat menyenangkan. Muka si tuh cabe pucet banget, gue ikut puas liatnya!" kata Arkan senang.
Kamila semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang Arkan, "Gue tadi keterlaluan gak yah? Baru kali ini gue bersikap begitu Arkan!" kata Kamila.
"Enggak Sayang, orang kayak si Salsa emang pantes digituin lo jangan mau ditindas, lo butuh bantuan gue buat nyelesain semuanya?" kata Arkan.
Kamila langsung menggelengkan kepalanya, "Enggak! Kalo urusannya udah sama lo itu udah lain lagi!"
Arkan terkekeh dia tau Kamila itu sangat sulit untuk menyakiti orang lain, tapi Arkan akan terus membantu Kamila.
"Arkan!" panggil Kamila.
"Kenapa Sayang?" tanya Arkan.
Kamila menggelengkan kepalanya dia mendusel-duselkan wajahnya ke leher Arkan.
Arkan tertawa lagi, "Jangan di leher Sayang, nanti ada yang bangun berabe!"
Kamila bukan tidak paham dia sangat paham.
Cup..
Kamila mencium pipi Arkan dari samping, dan itu membuat Arkan tersenyum.
"Bahagia banget kayaknya? Kenapa Yang?" tanya Arkan.
"Gak papa! Makasih yah Arkan!" ujar Kamila memeluk Arkan erat.
"Sama-sama Sayang! Kalo ada sesuatu yang butuh bantuan gue, bilang aja. Gue selalu ada buat lo!"
Kamila menganggukan kepalanya, " I love you!"
Arkan tersenyum, "Tadi bilang apa Sayang? Gak kedengeran!"
"Gak tau ah!" kata Kamila dia memeluk Arkan erat dia menempelkan wajahnya di punggung Arkan.
Arkan terkekeh dia mengusap tangan Kamila, "Gue juga cinta sama lo Kamila! Tetap jadi gadis penurut Sayangnya Arkan!"