
Hari ini babak terakhir, Kamila masih setia menemani Arkan dia menonton di pinggir lapangan.
"Pokoknya lo harus semangat, gue yakin lo pasti menang. Tujuan lo ke sini buat banggain gue sama Ayah dan Bunda. Lo harus menang! Oke!" kata Kamila kepada Arkan. Dia merapikan rambut kekasihnya itu.
"lyah Sayang, banyakin berdoa yah"
Arkan berdiri di samping Kamila dia menggenggam tangan Kamila dia berharap akan mendapatkan pialanya. Supaya ia bisa membuktikan kepada orang tuanya jika ia juga bisa berprestasi.
"'Semangat Arkan! Harus menang!" seru Kamila.
"Gue janji. Gue sama anak-anak pasti akan berusaha sebisa mungkin biar kita semua menang!"
"Harus dong jangan berantem doang digedein. Kalian juga harus bisa buktiin sama orang-orang kalau kalian itu bisa menang."
Arkan menganggukkan kepalanya kemudian tersenyum lalu membelai rambut Kamila dengan lembut.
Sementara teman-teman Arkan yang lain tampak sangat tegang, mereka semua juga menginginkan untuk jadi pemenang. Mereka semua bertekad untuk bermain dengan sungguh-sungguh.
"Pengumuman untuk semua peserta diharpkan berkumpul di lapangan, tim 1 dan Tim 5 akan bermain untuk memperebutkan posisi juara ke 1 dan 2!" Suara pengumuman menggema dengan sempurna.
Seseorang menepuk bahu Arkan,'' Ayo Ar, pertandingan udah mau mulai," kata Bastian dengan penuh semangat.
Arkan menganggukan kepalanya dia menoleh kepada ibu dan Ayahnya.
"Ayah, Bunda! Arkan main yah, doain lancar!"
Alisha menganggukan kepalanya begitu juga Marvin.
"Anak Bunda harus menang!" kata Alisha.
Arkan menoleh ke arah Kamila, " Gue main yah, doain menang Mil!" kata Arkan.
"Pasti, semangat Arkan!"
Cup...
Arkan mengecup kening Kamila membuat Kamila terkejut, kemudian Arkan pun berlari ke lapangan menyusul teman-temannya yang lain yang sudah berada di sana.
Permainan dimulai, Arkan dan Daren bermain dengan penuh semangat begitu juga dengan Bastian dan yang lain. Kean dan Sean pun tidak kalah bersemangat.
Meski mereka berdua juga sedang dilanda masalah. Tetapi keduanya begitu bersemangat untuk menang.
"Kalo bola lagi lengah ambil, masukin ring, inget kata gue semalem waktu breefing, gak ada yang keluar jalur!" kata Arkan dengan tegas.
"Kita harus buktiin kalo kita pasti menang dan bawa piala untuk sekolah!" kata Arkan lagi kepada teman-temannya.
"Siaaap!"jawab mereka semuanya.
Arkan berharap strateginya tidak meleset karena Arkan sudah melihat letak kesalahan musuhnya.
BRUGH...
Disaat tengah asik bermain, seseorang menyenggol Arkan membuat pemuda itu terjatuh.
"Woy santai dong!" kata Sean berusaha membela Arkan.
Kamila terkejut melihat Arkan jatuh, dia menatap kesal kepada lawan dari kekasihnya itu.
"Arkaaan ayo bangun!" teriak Kamila berusaha membuat Arkan bangkit.
Mendengar suara teriakan Kamila Arkan langsung bangkit berdiri. Suara kamila seperti doping untuk Arkan, penyemangat yang membuatnya memiliki kekuatan yang baru.
Arkan pun langsung berlari menyongsong bola dan dia pun mencetak poin dengan mudah.
"Huuuuu yeayyy!" seru pendukung Arkan.
Kamila yang melihat hal itu langsung ikut bersorak gembira.
"Hore Abang hebat ya Kak!" seru Kayla tak mau kalah.
"Abang kamu kan emang hebat. Ayo kasih semangat Abang Kay," kata Alisa.
Kayla pun langsung bersorak gembira kemudian meneriakkan nama Arkan.
"Semangat Arkan!" saut Kamila.
Mendengar suara teriakan Kayla dan Kamila Arkan pun semakin bersemangat lagi.
Arkan bermain dengan hati gembira karena keluarganya ada di sana semua termasuk juga Kamila.
Semangat Arkan menular kepada Daren Bastian dan yang lain. Sehingga mereka pun bermain dengan sangat bagus.
Waktu sudah berlalu begitu cepat, melihat di detik terakhir poin tim Arkan lebih unggul.
"Tiga dua satu.... Tetttt... Waktu habis!" Semuanya berhenti bermain.
"Dari hasil keseluruhan poin dapat di pastikan pemenang turnamen kali ini adalah Tim lima dengan ketua Tim Arkan, asal dari Jakarta! Selamat kepada pemenang!"
"YEAYYYYY Abang menang!" seru Kayla gembira begitu juga kedua orang tuanya.
Semua selesai pengumuman sudah keluar dan tim Arkan menang. Arkan berpelukan dengan semua rekan timnya.
Salah satu juri memberikan pialanya dia menerima pialanya.
"Selamat Arkan, strategi kalian sangat bagus!" kata salah satu juri.
Arkan menjabat tangan juri itu, " Terima kasih Pak, startegi tidak akan berjalan kalau rekan tim gak kompak. Saya bersyukur tim saya bisa kompak!"
"Kamu memang hebat Arkan! Sekali lagi selamat!" katanya.
"Terima kasih Pak!"
Setelah juri itu pergi Arkan membalikan tubuhnya ke arah teman-temannya.
"Guys, ini punya kita!" teriak Arkan.
"Horeee!"
Wajah pemuda itu tampak sangat sumringah. la bahagia sekali karena sudah memenangkan pertandingan itu. Sedari tadi Lia juga memperhatikan wajah Arkan, siapa sangka dibalik riang dan ramahnya Arkan terdapat sikap seorang psycopath yang siap membunuh mangsanya kapan saja.
Arkan mendekati teman-temannya. Setelah itu Arkan memberikan pialanya pada Bastian, "Pegang Bas!"
Pemuda itu berlari menghampiri Marvin dan Alisha kemudian memeluk kedua orang tuanya itu dengan bahagia.
"Ayah Bunda aku menang!" kata Arkan memeluk mereka.
"Ini baru anak ayah! Kamu hebat, Bang!" Kata Marvin menepuk pundak Arkan.
"Bunda bangga sekali sama kamu. Gini dong berprestasi, jangan cuman berantem terus. Kalo kayak gini Bunda kan nggak akan bakalan sayang ngasih kamu uang jajan banyak-banyak."
Arkan terkekeh dia memeluk kedua orang tuanya erat. Setelah itu dia melepasnya lalu melihat ke arah Kamila.
Kamila tengah tersenyum kepadanya, "Selamat Arkannya Mila!"
Arkan memeluk Kamila erat dia menciumi puncak kepala Kamila.
"Gue bahagia banget di saat kemenangan lo hadir di sini!" kata Arkan.
"Abang hebat, Kay mau peluk juga!" seru Kayla.
Arkan melepas pelukannya dia tersenyum pada adiknya. Dia memeluk Kayla.
"Abang sama Ayah itu idola Kay, Kay seneng punya Abang yang hebat!" kata Kayla.
"Gak ribut sama Abang lagi hm?" tanya Arkan kepada bocah itu.
"Abang bikin kesel Kay terus sih!" seru anak itu.
Sontak semuanya tertawa, Marvin tersenyum melihat kedekatan dua anak kandungnya itu.
"Gimana kalo sekarang buat ngerayaim kemenangan sekolah. Kita makan di restoran, Om yang traktir, kalian mau makan apa aja. Termasuk Pak Anto juga!" kata Marvin yang disambut dengan gembira oleh semuanya.
Mereka semua memilih sebuah restoran yang ada di dekat pantai. Bastian dan Daren tentu saja sangat senang karena mereka bisa makan makanan yang mereka sukai. Begitu juga dengan Kean dan Sean, anak itu kan hobinya makan.
"Duh kalau setiap hari saya makan enak begini bisa-bisa berat badan saya naik terus Pak," kata Pak Anto sambil menikmati ayam Taliwang dan plecing kangkung.