
"Awas kalo lo sampe ngadu yang macem macem sama bokap nya Kamila, abis lo!" ancam Bastian kepada Livia yang berdiri ketakutan.
Arkan menatap Livia tak kalah tajam membuat gadis itu semakin gemetar.
"Kean, lo bawa si ucup. Gue bawa Kamila pake taksi. Ni anak udah gak sadar," kata Arkan.
"Bawa balik?"
"Ke rumah gue," kata Arkan.
Tanpa menunggu lama, Arkan langsung menggendong Kamila dan membawanya pulang ke rumah dengan mengunakan taksi. Sementara Kean membawa motornya pulang.
Di dalamn taksi Arkan bersandar di kursi penumpang, Arkan melihat wajah tenang Kamila.
"Udah gue bilang Mil, Livia itu gak akan tulus, lo gak mau nurut sama gue!"
Melihat Arkan yang pulang sambil menggendong Kamila, Alisha dan Marvin pun tentu kebingungan.
"Ya ampun, ini Kamila kenapa bisa gini? Kamu apain dia, Arkaaan!" seru Alisha.
"Gak aku apa-apain Bund, aku ke kamar tamu dulu nanti baru aku ceritain ke Bunda," kata Arkan.
Arkan membawa Kamila ke kamar tamu, dia membaringkan Kamila di kamar tamu. Arkan menatap Kamila sinis.
Tak..
Arkan menyentil kening Kamila pelan melampiaskan kekesalannya.
" Keras kepala!"
Arkan kembali ke ruang keluarga di sana sudah ada teman-temannya. Arkan menceritakan apa yang sudah terjadi kepada Kamila. Alisha dan Marvin tak kalah terkejut saat mendengarnya.
"Ayah gak habis pikir sama saudara tirinya, Pak Reynald bisa kecolongan gitu."
Alisha juga membenarkan perkataan suaminya.
"Ayah bisa gak telpon Om Reynald bilang Kamila nginep di sini tapi jangan bilang Kamila mabuk nanti dia bisa kena marah apalagi Livia itu pinter bolak balikin keadaan !" kata Arkan.
"Iyah, Ayah telpon yah. Biar Ayahnya juga gak khawatir anaknya ada di sini."
Marvin pun segera menghubungi Reynald.
"Halo, Pak Marvin. Ada apa ini malam-malam?" sapa Reynald saat telepon tersambung.
"Ga ada apa-apa Pak. Jadi, tadi Arkan ketemu anak-anak di cafe. Karena tau ada Kamila, Bundanya suruh Kamila ke sini. Eh, Kayla anak saya yang bungsu ngambek maunya Kamila nginep. Kata Kamila, Anda
tidak pernah mengizinkan Kamila menginap. Jadi, saya yang menelepon
langsung untuk meminta izin Kamila," kata Marvin.
Wajah Reynald langsung berseri-seri. Mengingat hubungan bisnis mereka tentu saja Reynald mengizinkan.
"Aduh, gak masalah, Pak. Saya izinkan kalau Kamila menginap di sana. Terima kasih sudah memberi kabar, maaf jika merepotkan," kata Reynald dengan senyum bahagia.
Tepat pada saat Reynald mematikan telepon, Livia pulang. Sebenarnya ia bingung akan memberi alasan apa jika Kamila tidak pulang.
"Malam, Pah. Maaf kemalaman. Oya, Kamila-"
"Iya, Papah sudah tahu. Tadi Papahnya Arkan telepon. Katanya Bunda sama adiknya Arkan mau Kamila nginep di sana. Ya udah kamu masuk aja. Pesta ulang tahun teman kamu udah selesai?"
"Eh. Belum Pah. Tapi Kamila kan pulang sama Arkan jadi ya aku ikut pulang juga Pah," jawab Livia.
Reynald hanya mengangguk sementara Livia langsung menuju ke kamarnya dengan perasaan kesal. Laras mengikuti Livia ke kamar, ia penasaran ingin tahu cerita yang sebenarnya.
"Sial! Anak itu emang kayak punya ibu peri. Tadi tuh hampir berhasil, Mah. Dia tadi udah mabuk dan aku udah nyuruh orang buat bawa dia ke hotel terus nidurin dia.
Eh, taunya ada si Arkan di sana."
Laras hanya bisa mendelik kesal.
"Gagal terus rencana kita. Harus gimana ya biar anak itu celaka," kata Laras.
Dia tidak bisa bermain fisik dengan Kamila karena dia juga takut dengan ancaman Arkan.
"Ya udahlah, sekarang kamu tidur deh. Nanti kita pikirin lagi caranya gimana," kata Laras.
Sementara itu, di rumah Arkan. Pemuda itu merasa sangat kesal saat menatap Kamila yang sedang tidur. la ingin sekali memarahi gadis polos itu, tetapi rasanya kasihan.
"Lo tuh lebih ngeselin dari gue Kamila, bandel!" kata Arkan sambil membelai lembut rambut Kamila.
"Heh, ngapain kamu? Sana keluar! Awas ya ketauan tidur di sini, Bunda cincang kamu," kata Alisha saat melihat Arkan ada di kamar tempat Kamila tidur.
"Kamila kan pacar aku Bund masa gak boleh sih," kata Arkan.
"Bunda buang nanti kamu ke pinggir jalan, baru pacar gak usah aneh-aneh!" jawab Alisha sambil berkacak pinggang.
"Udah sana tidur, ngapain malem-malem ada di kamar anak gadis!" usir Alisha kepada Arkan. Dia tidak mau sampai ada setan yang menggoda putranya agar berbuat lebih.
"Iya, Bunda. Aku cuman mau ngucapin selamat malam," jawab Arkan.
Pemuda itu pun segera keluar karena sang bunda sudah memelototinya dengan kejam.
"Anaknya padahal aku tapi Kamila yang di Sayang, Bunda gak adil!" kata Arkan.
"Bunda potong uang jajan kamu yah," ancam Alisha.
"Kebiasaan deh Bunda!"
***
Paginya Kamila merasa sangat pusing. Dia memegang kepalanya yang terasa sakit. Gadis itu berusaha mengingat-ingat apa yang sudah. terjadi semalam. Perlahan, ia bersandar di kepala ranjang. Kepalnya terasa sakit.
Tok... Tok...
Tiba-tiba saja pintu kamar terbuka lalu Arkan muncul dengan membawa segelas susu dan nasi goreng dengan sosis di atasnya.
"Udah enakan?" tanya Arkan.
"Masih pusing, Gue di mana?"
"Di rumah gue, jangan lupa diminum dulu susunya terus dimakan nasinya, disuruh Bunda," jawab Arkan datar dan dingin.
Pemuda itu pun langsung berbalik tanpa mendengar jawaban Kamila, tetapi saat ia hendak melangkah pergi, Kamila menarik
"Arkan ... lo marah?" tanyanya.
Arkan tidak menjawab, ia menepiskan tangan Kamila dan meneruskan langkahnya.
"Arkan maaf!" kata Kamila membuat Arkan menghentikan langkahnya.
"Gue minta maaf, gue tau gue salah gue bohong sama lo. Maafin gue" lanjutnya.
Perlahan ia membalikkan tubuhnya dan menatap Kamila dengan tajam. Kamila melihat Arkan yang menatapnya tajam menjadi takut.
"Udah gue bilang kan! Livia itu gak tulus tapi lo gak percaya sama gue," ujar Arkan dengan ketus.
Kamila menundukan kepalanya.
"Gue gak tau Arkan!"
"Lo sadar gak sih Mil, lo itu terlalu baik! Kebaikan lo itu dimanfaatin sama Livia, semalem lo hampir aja di lecehin sama orang! Lo gak tau kan kalo Livia kasih lo minuman beralkohol!"
Kamila menggelengkan kepalanya.
"Semalem dia bilang mau ke ulang tahun temennya dia ngajak gue biar dapet izin dari Papah! Dia juga bilang itu bukan alkohol. Dan rasanya manis, kata orang kalo minuman beralkohol itu pait," jawab
Kamila.
Arkan mengembuskan napas dengan kasar.
"Enggak semua minuman beralkohol itu pait, Kamila!"
"Gue gak tau! Gue pikir dia ngajak gue ke cafe, taunya malah ke Club!"