
Kamila langsung menggelengkan kepalanya perlahan. "Nggak Bunda. Aku
cuman lagi kangen sama Arkan aja. Selama beberapa bulan terakhir ini kan aku nggak pernah pisah lama-lama sama dia. Jadi kayaknya ada yang kurang aja gitu."
Alisha hanya tertawa mendengar jawaban dari Kamila. Sesungguhnya ia pun merindukan putra sulungnya itu. Meskipun Arkan bandel ya nggak ketulungan tetapi Alisha sangat menyayangi dan bangga sekali kepada anak lelakinya itu. Rumah terasa sepi tanpa Arkan.
"Gimana kalau kita susul Arkan ke Bali? Kebetulan Kayla juga ada libur deh satu minggu. Tinggal tunggu jadwalnya Ayah aja nih. Kalo kamu mau Bunda bisa bilang sama Ayah biar kita bertiga nyusul Arkan ke Bali Nanti pulangnya sama-sama, gimana?" Kata Alisha memberi usul.
Mendengar hal itu kamila Tentu saja sangat senang la langsung melonjak gembira kemudian dengan mata berbinar-binar ia menatap Alisha.
"Bunda serius kan?" tanya Kamila dengan senang.
"lya jelas serius dong. Sekarang kamu mau atau enggak? Kalau mau nanti kita ke sana dan bikin kejutan buat Arkan jangan bilang kita mau ke sana."
"Mau Bunda, Mila mau!" jawab gadis itu dengan senang.
"Oke, nanti Bunda ijin dulu sama Ayah, biar Ayah nyesuain jadwalnya, sekarang sambil kamu ngelepas rindu kamu video call aja sama dia. Mungkin dia udah selesai pertandingannya," kata Alisha.
Kamila pun langsung menganggukkan kepalanya dan dengan cepat la pun melakukan panggilan video kepada Arkan.
"Halo Arkan!" ujar Kamila dengan senyum mengembang.
"Halo, ada apa Sayang hm?" tanya Arkan.
"Gak papa cuman kangen aja!" jawab Kamila dengan wajah memerah.
Senyum Arkan mengembang dia berjalan mendekati teman-temannya, " Maaf yah Yang tadi belum sempet ngabarin. Sekarang jam bebas abis pertandingan, karena jam bebas sampe jam delapan malam nanti. Gue sama anak-anak main ke pantai. Kita lagi di pantai sekarang," kata Arkan.
"Wah, asik banget kalian bisa main ke pantai. Kok gue jadi ngiri," kata Kamila sambil mengerucutkan bibirnya.
"Kok sedih sih cantik, nanti kita jalan-jalan ke pantai ke Bali kalau kita bulan madu ya!"
"Ih, pikirannya pengen nikah melulu. Emang kalau mau ke Bali mesti nungguin nikah terus bulan madu dulu gitu?" Kata Kamila.
Arkan hanya terkekeh geli," Harusnya gitu sih Yang kan mau buat baby!"
"Arkan ih mesum deh!" seru Kamila kesal.
Arkan tertawa kemudian la pun menunjukkan kamera ke arah teman-temannya.
"Oy nih bini gue mau liat lo pada!" seru Arkan.
Mereka semua lantas melihat ke ponsel Arkan.
"Hai Mil. Pantai sini, nyusul lah Mil kasian laki lo gak ada yang ngelonin, uring-uringan mulu!" Kata Bastian.
"Arkan mah lebay, orang ada kalian juga lagian sekamar kan masa iyah gak ada yang ngelonin!"jawab Kamila sambil tertawa.
"Si anjir, Kamila. Masa gue disuruh ngekepin si Arkan," kata Bastian lagi.
"Enak juga dipeluk lo Mil dari pada Bastian!" saut Arkan.
"Yeee gue juga ogah meluk-meluk lo, gue masih waras, masa batang sama batang!"
"Babi! Lo gak usah asal ngemeng sialan, jangan racunin otak bini gue!" kata Arkan kesal.
Kamila hanya tertawa geli. Arkan pun kemudian sedikit menjauh dari teman temannya.
Sementara teman-temannya yang lain kembali meneruskan permainan bola pantai mereka.
Saat sedang asik bermain Kean tidak sengaja melempar bola ke arah laki-laki paruh baya. Bola itu mengenai kaki laki-laki paruh baya itu. Kean pun segera berlari menuju ke arah lelaki itu.
"Aduh Maaf om saya nggak sengaja, Loh ... Papah?"
"Papah?!"
"Mil gue matiin dulu yah bentar!" kata Arkan dia mematikan panggilannya dengan Kamila.
Dia kembali memperhatikan Kean dan Sean yang tengah berhadapan dengan laki-laki paruh baya yang sangat Arkan kenal.
"Kamu.."
"Pah!" gumam Sean.
Setelah Kean memanggil kata Papah, seorang wanita dengan bayi dalam gendongannya datang dan mendekati mereka.
"Mas ada apa?" tanya wanita itu sambil memandang Kean dan Sean.
"Kalian kalau main bola hati-hati dong? Kamu nggak apa-apa, Mas?" Kata wanita itu kepada laki-laki paruh baya itu.
"Kamu... Kalian kenapa di sini?" Katanya lelaki itu kepada Sean dan Kean.
Melihat sang suami sepertinya mengenal baik dua pemuda di hadapannya wanita itu pun tentu bertanya-tanya.
"Mas kenal mereka berdua? Mereka ini siapa sayang?"
"Hah? Eng-enggak kok ... Mas gak kenal. Mereka cuman Anak nakal yang main bola sembarangan."
Setelah itu laki-laki paruh baya dan wanita serta bayi dalam gendongannya pergi begitu saja.
Kean dan Sean terkejut syok terlebih lagi Kean di langsung mengepalkan tangannya menahan emosi.
Tring....
Satu pesan masuk di ponsel Kean dia membukanya setelah membaca pesan itu Kean meremas ponselnya.
"Bajingan, brengsek!"
Kean berlari pergi meninggalkan teman-temannya.
"Kean!" teriak semua temannya bersamaan.
Sean yang kebingungan melihat sang kakak pergi begitu saja langsung berlari hendak menyusul Kean. Tetapi Daren dan Bastian segera menarikntangan pemuda itu.
"Biarin Sean, Abang lo perlu waktu sendiri, gue tau lo syok juga. Kean butuh waktu buat berpikir, sekarang kita pulang dulu aja, nanti kalo Kean belum balik kita susul!" kata Arkan kepada Sean.
Arkan langsung merangkul Sean, dengan menggunakan taksi mereka pun kembali ke hotel.
Tiba di hotel Arkan langsung memesan makanan untuk mereka semua supaya diantarkan ke kamar mereka.
Sementara Sean tidak banyak bicara la hanya diam dan menundukkan kepala.
Darren sangat mengerti melihat kondisi pemuda itu. Sean memang yang paling muda di antara mereka semua. Dan Daren yakin jika saat ini Sean pasti sedang terpukul apalagi melihat Kean yang tadi meninggalkannya sendiri dengan kondisi yang penuh amarah.
"Sean, makan dulu aja. Kalo gak mandi dulu, sekarang istirahat sambil nunggu Abang lo balik, Kean gak akan ngelakuin hal gila lo percaya sama gue!" kata Daren berusaha memberi pengertian pada Sean.
"Tadi itu Papah gue. Terus kenapa tiba-tiba ada di Bali? Perempuan tadi yang gendong bayi siapa? Perasaan gue kok nggak enak ya?" kata Sean lirih.
"Nanti kita cari tau sekarang tunggu Abang lo balik, lo makan dulu!" kata Arkan.
Sean menganggukan kepalanya dia perlu mandi untuk menenangkan pikirannya.
Mereka pun akhirnya bergantian untuk mandi lalu makan makanan yang sudah dipesan oleh Arkan sebelumnya dalam diam.
Menjelang magrib Kean baru datang. la mengetuk pintu kamar dan saat Arkan membukanya wajah Kean tampak sangat berantakan.
"Balik juga lo, dari mana?" tanya Arkan.
Kean menghela nafasnya dia masuk ke dalam lalu duduk di sofa, terlihat sekali wajah lelah Kean.