
Naya menganggukan kepalanya, kemudian ia menyesap jusnya yang ada di sebelah kanan lalu menjentikkan jarinya.
"Sebagai anak baru lo tepat banget. Si Arkan itu kan anak motor. Nah dia itu paling nakal di sekolah ini tapi termasuk jajaran cowok keren sih. Dia itu bucin parah, bucin akut sama si Kamila. Percaya nggak sih lo, dia pernah nggebukin orang gara-gara tuh orang nyenggol si Kamila. Jadi kalo misalkan Lo mau punya cowok, deketin deh circlenya si Arkan. Anak-anaknya keren-keren terus udah gitu juga soal muka nggak malu-maluin. Ya mereka ganteng-ganteng dan gue yakin sebelas dua belas sama si Arkan sifatnya," kata Naya.
Rena tertawa kecil, "Haha ya masa gue nikung temen gue sendiri, Arkan kan punya Kamila!" jawab Rena.
"Ya enggaksi Arkan juga, dia mah hak mutlak milik Kamila," ujar Naya.
"Haha enggak deh, mereka keliatan nakal nakal!" katanya.
"lyah nakal suka tawuran. Tapi kalo hartanya gak abis sampe tujuh turunan gue juga mau Ren!" Naya tertawa begitu juga Rena.
"Eh tapi yah Ren si Arkan itu anak orang kaya, hartanya beuh pokoknya gak akan abis deh sampe sepuluh turunan, bokapnya kaya banget!"
"Wah beruntung dong lo Mila dapetin Arkan, anak orang tajir ganteng lagi terus bucin banget sama lo," kata Rena.
Kamila tersenyum,"Iyah gue juga bersyukur Arkan emang sesayang itu sama gue," katanya.
"lh lo nggak tau aja kalau mereka tinggal serumah," timpal Naya.
"What? Kalian tinggal serumah? Ah yang bener!" seru Rena terkejut.
"Orang tuanya Kamila udah nggak ada, nenek kakeknya Kamila udah nitipin si Kamila ama bokap nyokapnya Arkan. Dan, bokap nyokapnya Arkan ini sayang banget sama calon mantu. Jadinya diajak tinggal bareng deh. Orang tuanya Arkan itu jadi walinya Kamila. Sekolah juga udah tahu kalau misalkan Kamila jadi kayak anak adopsi gitu sama orang tuanya si Arkan," kata Naya menjelaskan.
mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. Setelah mereka selesai makan, Rena langsung mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan selembar uang kemudian langsung membayar semua makanan yang mereka makan.
"Eh, kok lo yang bayar sih kita kan mau bayar sendiri," kata Naya bingung.
"Nggak apa-apa, kali ini gue yang traktir kalian. Hitung-hitung perkenalan dan sebagai tanda terima kasih karena kalian mau temenan sama gue," kata Rena.
"Terima kasih ya," jawab Naya dan Kamila bersamaan.
Saat pulang sekolah seperti biasa Kamila pun akan pulang bersamaan dengan Arkan. Ya tentu saja karena mereka pun juga satu rumah.
Sampai di rumah tampak Alisha dan Kayla menyambut mereka dengan gembira. Kayla langsung mengekori. Kamila gadis kecil itu memang sangat dekat dengan Kamila.
Kayla seperti memiliki teman bermain yang baru setiap hari dia selalu mengikuti ke mana pun Kamila telah pergi.
"Kita makan siang dulu sama-sama. Bunda udah masak, udah gitu kalian istirahat deh," kata Alisha.
"Terima kasih Bunda!" kata Kamila. Semenjak Kamila tinggal bersama mereka Alisha memang sangat rajin memasak.
Bahkan ia selalu memasak makanan yang enak. Arkan tentu saja senang karena biasanya dia harus request dulu minta dimasakan oleh bundanya. Sementara semenjak ada Kamila Alisha menjadi rajin turun ke dapur.
Setelah selesai makan Arkan pun masuk ke kamarnya sementara Kamila mengerjakan dulu sebagian peer-nya. Baru setelah itu Kamila menghampiri Arkan di kamarnya.
"'Ar gue masuk yah!" kata Kamila.
Arkan menoleh ke arah pintu, " Masuk Yang, tugasnya udah?" tanya Arkan.
Kamila menganggukkan kepalanya, "Udah, gue udah ngerjain tugas. Lo main PS melulu nggak ngerjain tugas? Nggak belajar?" tanya Kamila.
Dia bersandar di pundak Arkan. Arkan dengan senang hati merangkul Kamila dia menciumi puncak kepala Kamila.
"Gue nggak usah belajar juga udah pinter," jawab Arkan ngeyel.
"Kebiasaan deh jawabannya, oiya lo tadi liat kan Rena anak baru di kelas gue, menurut lo gimana? Tadi dia sempet traktir makan juga sih, keliatannya kalo menurut gue dia baik deh," kata Kamila.
Arkan menghela nafas, kemudian menghembuskannya perlahan, lalu mengusap kepala Kamila sekilas dia meletakan stik ps nya.
"Sayang. Don't judge a book by its cover, gak semua orang yang lo temuin itu baik, bahkan bokap lo yang bertahun-tahun ngurusin lo aja bisa sejahat itu kan?"
Kamila menganggukan kepalanya," Jadi menurut lo Rena jahat?"
"Tapi tadi dia bilang lama gak ketemu emang kalian kenal?" tanya Kamila.
Arkan terkekeh dia menjawil hidung Kamila.
"Dia dulu pernah sekolah di bumi asih gue dulu pernah ribut sama anak sekolah sana," ujar Arkan.
"Tapi katanya dia dari Us!"
"Iyah kali gue cuman pernah ketemu di bumi asih," jawab Arkan.
Kamila menganggukan kepalanya mengerti, Kamila memeluk Arkan dari samping menyembunyikan wajahnya di leher Arkan.
Arkan tersenyum dia mengusap kepala Kamila lembut.
"Ar jangan tinggalin gue yah, gue gak punya siapa-siapa lagi selain lo, lo itu tempat gue pulang. Kalo lo pergi juga nanti gue pulang ke mana?"
Arkan mengusap kepala kekasihnya itu, "Sayang, buang jauh-jauh pikirannya, gak akan ada yang bisa gantiin lo di hati gue!"
"Janji gue juga masih berlaku Mil! Ada yang nyakitin lo, urusannya bakalan gue perpanjang."
Malamnya itu tidak seperti biasa Arkan mendatangi ruang kerja Marvin. la sengaja ingin bicara dengan sang Ayah. Marvin yang sedang mengerjakan berkas-berkas laporan mengangkat wajahnya lalu menatap sang putra.
"Tumben Bang, ke ruang kerja Ayah. Ada apa? Pasti lagi ada maunya," kata Marvin.
Arkan menghela nafas panjang kemudian mengempaskan tubuhnya di sofa.
"Ayah suka sudzon aja. Aku cuman mau ngobrol aja sama Ayah," kata Arkan.
Marvin tertawa kecil, "Kamu itu anak Ayah, Ayah udah hapal banget gimana sikap sama sifat kamu kalo lagi ada maunya, kamu mungkin emang bisa bohong sama Bunda tapi enggak sama Ayah, kamu gak akan bisa bohong sama Ayah. Sekarang bilang ada apa?" tanya Marvin.
Arkan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Hehe Ayah emang terbaik, emang ada yang mau aku omongin sama Ayah!" kata Arkan.
"Bilang aja Abang mau apa?"
Arkan menggaruk tengkuknya bingung, "Umm... Yah! Boleh gak sih kalo aku sama Kamila nikah secepatnya?" tanya Arkan sedikit ragu.
Marvin langsung menghentikan gerakan tangannya yang sedang memegang pena. Kemudian ia bersedekap dan menata putra
sulungnya itu dengan tatapan yang tajam.
"Loh kok tiba-tiba, kamu sama Kamila gakngelakuin hal yang aneh-aneh kan? Kalian gak pernah begitu kan? Atau jangan-jangan Kamila hamil?" cecar Marvin beruntutan membuat Arkan terkejut.
Arkan langsung menggelengkan kepalanya dengan keras.
"Ayah gitu deh nuduh aku, aku mana pernah kayak gitu, senakal apa pun aku. Aku gak akan ngerusak anak orang Yah, jangankan begituan sama Kamila aku nyium bibir dia aja gak pernah, kalo pipi okelah tapi kalo buat bibir enggak, apalagi sampe begituan," bantah Arkan.
Terlihat Marvin menghembuskan nafasnya lega.
"Terus, kalo misalkan nggak pernah begituan ngapain kamu minta nikah
cepet-cepet? Kamu itu masih sekolah, ujian akhir masih beberapa bulan lagi. Lulus aja belum, duit aja masih minta sama Ayah, sok-sokan mau nikah," omel Marvin.
"Gak gitu Ayah, sekarang aku udah serumah sama Kamila, aku mau jagain. Kamila lebih lagi. Perasaanku akhir-akhir ini tentang Kamila selalu jelek Yah, aku gak mau pisah dari Kamila," kata Arkan mengemukakan Marvin tertawa kecil mendengar perkataan anaknya itu.
"Bang, yang namanya sebuah pernikahan itu gak semudah yang kamu bayangkan, enggak sesederhana itu. Sebenernya bukan masalah berpisah atau enggak. Orang yang udah nikah aja bisa cerai kok," jawab Marvin bijak dia tidak mau anaknya gegabah mengambil keputusan.
"Tapi seenggaknya kalo udah ada ikatan sakral kita gak bisa pisah seenaknya Yah," jawab Arkan.
"Kata siapa Abang, udah nikah itu bisa cerai kalo sama-sama gak dewasa, orang yang udah menikah itu cobaannya lebih banyak. Kalo misalnya kamu mau nikah gara-gara kamu takut pisah sama Kamila itu bukan alasan utama, kamu itu masih suka labil Bang belum bisa ngontrol emosi kamu. Bisa sakit jantung Kamila ngadepin kamu tiap hari!" kata Marvin dengan tegas.