
"Iyah gue gak akan deket-deket sama Rena, gue tau semua yang lo antisipasiin buat gue pasti itu udah lo pikirin sebelumnya!"
Kamila mengiyakan dia sangat "Sayang, hari ini pulang sama Sean yah," kata Arkan.
Siang ini Arkan pulang sekolah. Arkan tidak bisa mengantar Kamila, Arkan ada sparing basket dengan anak sekolah lain.
"ih mau ke mana?" tanya Kamila.
"Gue ada sparing, tadi pagi lupa!" jawab Arkan.
"Oh!" Kamila hanya berohria saja.
"Lo mau nonton atau pulang? Kalo mau pulang, biar Sean anterin lo dulu."
Tapi-"
"Gue di sini aja. Gue mau sama lo," potong Kamila.
"Tapi nanti lama gimana?" tanya Arkan.
"Ya ga apa-apa. Yang penting bisa sama lo," jawab Kamila dengan tegas.
Senyum Arkan terbit dengan sendirinya dia menangkup wajah Kamila gemas.
"Gak papa nih?" tanyanya.
"lyah Arkan, lagian gue bosen di rumah," jawabnya.
"lyah deh!" Arkan membiarkan Kamila tetap bersamanya.
Lagipula tidak ada salahnya jika Kamila tetap di sekolah. la juga jadi lebih bersemangat jika sang kekasih ada bersamanya.
"Yaudah gue ke lapangan dulu yah lo anteng di sini!" Arkan menganggukan Arkan berlari ke arah teman-temannya yang sudah berada di tengah lapangan.
"Ciee yang ditemenin bu bos kayaknya seneng banget," ledek Bastian kepada Arkan.
"Ya iyalah, dia kan jadi punya semangat baru kalo ada bu bos. Jaminan kemenangan," timpal Kean.
Arkan tertawa-tawa mendengar perkataan teman-temannya itu.
"Sa ae lo pada, dia ga mau balik. Ya udah biarin aja di sini. Sebenernya kasian, soalnya pasti lama. Padahal, kalo di rumah kan dia bisa istirahat aja sama Bunda," kata Arkan.
"Tanda kalo dia calon istri yang baik itu Bang," saut Sean.
"Anak kecil, nyaut aja," seru Daren membuat Sean mengembungkan pipinya.
Sementara itu, sepanjang pertandingan, Kamila tampak sangat bersemangat. Kamila menonton Arkan sambil sesekali mengambil foto Arkan dengan ponselnya. Arkan pun sering menatap ke arah gadis pujaannya lalu tersenyum sambil melambaikan tangan kepada Kamila setelahnya memberikan ciuman jarak jauh.
"Aduh pengen ke toilet lagi!" ujar Kamila.
Setelah cukup lama, tiba-tiba saja Kamila ingin buang air kecil. Kamila melihat kepada Arkan pemuda itu sibuk, Akhinya Kamila tidak mengatakan kepada Arkan, Arkan masih bermain, jadilah dia pergi begitu saja.
Pada saat itulah, Arkan melihat ke pinggir lapangan tidak ada Kamila. Arkan menelisik sekeliling.
"Kenapa, bro?" tanya Bastian menepuk bahu Arkan.
"Gue gak liat si Kamila. Padahal dari tadi tuh anak ada duduk di sana," kata Arkan.
"Ke toilet kali kebelet," sahut Daren.
Arkan tidak menjawab, tetapi dalam hati tiba-tiba saja ia merasa sangat cemas. Seperti sesuatu akan terjadi.
Sementara itu, Kamila berjalan ke arah kamar mandi. Karena sudah kebelet, ia pun bergegas masuk ke dalam.
BRAKH!
Namun, pada saat Kamila hendak keluar karena sudah selesai, tiba-tiba lampu kamar mandi mati dan pintu terkunci.
"Eh, kenapa ini pintunya! Tolooong! Tolong Arkan. Tolong!" teriak Kamila dengan panik.
Ceklek... Ceklekk...
Kamila berusaha membukanya pintu benar-benar terkunci, "Arkan! Ini gimana? Jangan bercanda deh!"
Tidak ada sautan, "ARKAN TOLONG GUE TAKUT DI SINI GELAP!"
"Arghhhhh Arkan! Tolong hiks takut?!"
"Tolooong! Jangan sakitin Mila lagi, Arkaaaaaan! Gue ga mau mati!" teriak
Kamila.
Gadis itu mulai dilanda ketakutan dan Kamila yang memang masih memiliki trauma mulai menjerit dan menangis keras.
Brakh... Brakh... Brakh..
Bayangan-bayangan penyiksaan yang ia alami kembali terbayang dan ia makin panik.
"Arkaaan! Arkaaan! Arkaan, gue takut, tolong gue!" jerit Kamila.
Gadis itu meraung-raung karena panik dan ketakutan.
"ARGHHHH!" teriak Kamila kencang.
Tiba-tiba saja ada yang melemparkan sapu tangan yang penuh dengan darah dari lubang pintu.
"Da-darah! Arkan gue takut. akhhhhhh!" Kamila bergetar hebat, traumanya kembali menguasai dirinya.
Melihat hal itu Kamila berteriak histeris. la bertambah panik. Kamila memeluk lututnya berharap Arkan akan datang menyelamatkannya.
"Arkan tolong Mila takut Arkan!" lirih Kamila.
"Jangan siksa Mila lagi!"
"Mila mau ikut Mamah aja!" kata Kamila sesenggukan.
"Arkan tolong!"
Sementara itu, pertandingan sudah selesai sampai saat ini Arkan belum melihat Kamila kembali. Pemuda itu pun tidak peduli lagi dengan hal yang lain. la segera berlari mencari Kamila.
"Kamila?!" teriak Arkan.
Kamila mencari ke sekeliling sekolah tidak ada.
"KAMILA! LO DI MANA?" teriak Arkan lagi.
"Hiks.. Hiks.. Takut!"
"Kamila!"
Arkan mendengar suara tangis dari toilet. la pun segera berlari ke toilet dan mencoba membuka pintunya. Tetapi pintu itu terkunci.
"Mil! Sayang! Lo di dalem, ini gue Arkan! Jawab Mila jangan buat gue khawatir!" teriak Arkan panik.
Tetapi tetap tidak ada jawaban. Hanya saja, ia mendengar ada yang menangis dari dalam sana. Hati kecilnya mengatakan jika di dalam sana adalah Kamila.
BRAKH!
Dengan sekuat tenaga ia berusaha mendorong pintu. Tetapi, tidak juga berhasil.
"Ketemu Ar?" tanya Daren.
"Di dalem kayaknya, dobrak aja ayo!" kata Arkan.
Arkan dan teman-temannya mendobrak pintu bersamaan.
Brakh!
Brakh!
Betapa terkejutnya Arkan saat melihat Kamila sudah basah kuyup.
"KAMILA! SAYANG!" Arkan langsung memeluk Kamila.
"Arkan jangan tinggalin Mila lagi, Mila takut gelap! Nanti Mila bisa ikut Mamah," lirih Kamila.
"Enggak Sayang enggak! Maaf!" Arkan menciumi pucuk kepala Kamila khawatir.
"Darah!"
Arkan melihat ada sapu tangan berlumuran darah dengan sebuah tangkai bunga mawar yang sudah layu. Arkan meremas mawar itu hingga hancur.
"Anjin* ini udah di luar batas!" geram Arkan.
Atensi Arkan berpindah pada Kamila lagi, "Mil lo gak papa kan?" tanya Arkan.
Tetapi sekarang Kamila tidak menjawab, tatapan matanya kosong dan ia masih mengeluarkan air matanya tanpa suara.
"Gue bawa mobil, ni kuncinya. Lo bawa Kamila ke rumah sakit, cepetan. Biar motor lo gue yang bawa," kata Daren.
Arkan langsung menggendong Kamila dia membawa Kamila. la benar-benar merasa sangat hawatir.
Namun saat ia menggendong Kamila di koridor, mata elang Arkan menangkap siluet orang dari ujung koridor samping dia sedang bersembunyi, Arkan tersenyum miring.
Dia akan mengurusnya nanti dia sudah tau itu siapa. Saat ini yang paling penting adalah membawa Kamila terlebih dahulu.
Urusan lain bisa menyusul belakangan.
"Ayo mulai permainannya kalo itu yang lo mau! Lo salah main-main sama gue *****! Lo harus ngerasain apa yang cewe gue rasain!"