Badboy Yang Menyebalkan

Badboy Yang Menyebalkan
128. Gangguan Kejiwaan Risa


Arkan membuka matanya dia melihat ke ke sekelilingnya, dia berada di rumah sakit. Arkan melihat ke samping, senyum Arkan mengembang saat melihat siapa yang ada di sampingnya.


Kamila tidur di kursi dengan tangan yang menggenggam tangan Arkan. Arkan melepas genggaman tangan Kamila, gadis itu merasa terusik dia membuka matanya dia melihat Arkan sudah sadar.


"Arkan! Lo udah sadar, gue panggil dokter yah," kata Kamila.


Tetapi, Arkan menahan tangan Kamila lalu menggelengkan kepalanya.


"Jangan, Lo jangan ke mana-mana. Temenin gue aja di sini. Tega amat ninggalin gue sendiri," kata Arkan dengan suara yang masih lemah.


PLAK!


Tetapi, di luar dugaan. Tiba-tiba saja Kamila memukul tangan Arkan sekuat tenaga dengan wajah yang penuh kemarahan.


PLAK! PLAK!


"Aduh Mil sakit Mil, sadis lo, baru aja sadar udah di gebukin. Kdrt lo," ujar Arkan.


"Lo jahat! Tukang bohong! Nyebelin! Kurang ajar! Kadal buntung, buaya mangap, upil keong! Gue sebel, gue benci sama Lo! Lo udah janji ga bakalan Lepas kendali kayak waktu itu lagi! Tapi, Lo malah nembak orang lain pake pistol. Abis itu pake acara ketusuk segala! Emang keong kampung! Ini lebih parah dari yang lalu!" Maki Kamila kesal sambil menangis.


Mendengar sumpah serapah Kamila sebenarnya Arkan ingin tertawa, tapi ia merasa gemas melihat gadis itu menangis sambil marah-marah.


Pada akhirnya Arkan membawa Kamila dalam pelukannya dan berusaha menenangkan gadis itu.


"Untung piso itu gak kena jantung, kalo kena Lo bisa mati! Dan asal Lo tau aja, Lo itu udah gak sadar tiga hari tiga malem. Udah kayak acara dangdutan di hajatan sunat masal. Bikin gue khawatir, bikin bunda nangis. Ga punya perasaan. Dasar Kutu loncat!" maki Kamila lagi.


PLAK!


PLAK!


"Ya ampun Kamila, ampuni Abang Arkan Sayang, hehe! Gue gak ada niat bikin Lo takut atau nangis. Itu refleks aja, liat Lo celaka gue ga terima. Maafin gue ya, Mil," kata Arkan.


PLAK!


"Aduh! Kok malah digebuk lagi, sakit ini," keluh Arkan sambil meringis.


"Rasain, abis Lo rese!" seru Kamila.


"Rese juga Lo sayang, lo cinta mati," kata Arkan dengan penuh rasa percaya diri.


"ish, ngeselin."


Tiba-tiba saja, pintu kamar terbuka lebar menampilkan Alisha dan Marvin. Alisha tersenyum dia mendekati Arkan.


"Udah enakan? Maafin Bunda ya Bang. Bunda udah jahat banget sama kamu. Seharusnya, Bunda ga percaya sama tipuan murahan lewat foto-foto itu. Seharusnya bunda lebih percaya sama anak sendiri dibandingkan orang lain. Maafin bunda," kata Alisha sambil memeluk putra sulungnya itu.


"Aku ngerti kok, Bund. Siapa pun kalo lihat foto itu pasti bakal mikir kalo itu foto asli. Dan wajar kalo Bunda marah," jawab Arkan dengan tenang.


"Harusnya Bunda tau kalau Ayah dan Bunda gak akan salah mendidik kamu. Kalo mau, kamu boleh pukul Bunda. Bunda salah," kata Alisha lagi.


Arkan menggelengkan kepalanya perlahan lalu berkata, "Nggak mungkin aku mukul Bunda. Aku sayang sama Bunda," kata Arkan sambil memeluk Alisha dengan erat.


Setelah beberapa saat ia pun mengurai pelukan dan menatap sang ayah.


"Yah, nggak ada polisi? Aku bakalan ditangkap ya? Maafin aku ya. Aku emosi


dan-"


Marvin menjewer telinga Arkan gemas Arkan hingga pemuda yang masih berbaring itu mengaduh kesakitan.


"Aduh Ayah aduh! Ini anaknya baru sadar. Tadi dipukul Kamila sekarang dijewer Ayah. Apes bener dah aku ini. Udahlah masukin aja aku ke perut Bunda lagi," kata Arkan sambil mengerucutkan bibirnya kesal.


"Ya kamu lagian nakal banget! Trus kok bisa tau password brangkas punya Ayah?" Tanya Marvin.


Arkan menyeringai, "Makanya, Ayah itu jangan bucin banget. Ketauan kali kalo passwordnya itu ulang tahun Bunda,"


"Heh, itu lagi ngomongin diri sendiri juga kali ya? Kayak sendirinya gak bucin aja sama Kamila. Udah deh, Kamila tinggal di rumah Nenek sama Kakek kamu aja. Apa kamu mau?"


"Eeeeh, Ayah jangan kebangetan dong. Ini cape loh dapetinnya. Enak aja kalo ngomong," protes Arkan kesal.


Alisa dan Kamila hanya bisa saling pandang melihat pertengkaran dua lelaki berbeda generasi itu.


TOK! TOK! TOK!


Pintu kamar Arkan mendadak diketuk dan dari balik pintu muncullah Pandawa Lima yang terdiri dari Daren, Bastian, Kean, Sean dan Heri.


Heri langsung mendekati Arkan dan tersenyum.


"Gimana Ar, udah baikan?" tanya Heri kepada Arkan.


"Her, Lo kok di sini?" Tanya Arkan.


Heri tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.


"Gue ga akan lama. Besok, gue mau nyusul Papah sama Rena ke US. Ini flashdisk isinya data perusahaan yang udah dimanipulasi sama nyokap gue. Dan Papah udah ngembaliin dana yang Mama gelapkan dari perusahaan Om Marvin. Gue minta maaf atas segala kelakuan Mamah yang kelewatan. Mama udah diperiksa juga, dan secara medis Mamah...".


Heri tidak langsung melanjutkan ucapannya, ia menghirup oksigen sebanyak-banyaknya supaya ia dapat


kembali bicara.


"Mamah marah-marah di rumah sakit. Dan, hasil pemeriksaan nunjukin kalo jiwa Mamah terganggu. Jadi Mamah butuh dokter jiwa. Selama ini, Mamah emang selalu terobsesi sama sesuatu yang bikin Papah juga kadang kewalahan. Papah nyerahin semua ke pengacara keluarga. Dan kami akan keluar negeri. Jujur kami malu dengan apa yang sudah terjadi. Terutama sama keluarga Lo. Om Marvin, Tante Alisha, saya meminta maaf atas nama keluarga saya," kata Heri.


Marvin tersenyum kemudian menepuk pundak penmuda itu dengan hangat.


"Terima kasih sudah membantu, Nak Heri. Om sebenarnya tidak pernah punya masalah dengan Papah kamu. Bahkan terakhir kali kami masih memiliki kontrak bisnis juga dan semua berjalan dengan baik, sampai akhirnya papa kamu menawarkan perjodohan itu " kata Marvin.


Heri menganggukkan kepalanya lalu berkata, "lya, Om. Semua ini berawal dari adik saya dan didukung oleh Mamah saya. Papa tadinya ingin meminta maaf langsung tapi, beliau sudah terlalu malu untuk bertemu Om dan Tante "


"Sampaikan kepada Papah kamu, Om sudah memaafkan semuanya. Semoga kalian sekeluarga bisa tenang memulai hidup baru di luar negeri, ya," kata Marvin.


"lya, Om. Sekali lagi saya atas nama keluarga meminta maaf yang sebesar-besarnya."


"Kalo begitu saya pamit dulu yah!"


"Arkan cepet sembuh, gue balik ke Indo lo harus udah married!" ujar Heri yang di jawab kekehan oleh Arkan.


"Lo balik Indo gue udah unboxing!"


PLAK!


"Sakit Yang!" keluh Arkan.


"Bodo amat?!"