
'Untuk menangis butuh tenaga, gumam Kamila dalam hati. Setelah mengantarkan Kamila pulang, Arkan segera ke toko yang
menjual CCTV. la memilih CCTV yang
berukuran kecil sehingga nantinya bisa ia selipkan di kamar Kamila. la harus tau apa yang terjadi dengan Kamila.
Setelah membeli CCTV, Arkan pun segera pulang. Wajahnya yang kusut tentu saja membuat Alisa bertanya- tanya.
"Itu muka kenapa ditekuk kayak dompet tanggung bulan? Uang bulanan kamu abis?" tanya Alisha.
"Enggak, Bund. Uang aku masih banyak, ih masa cowok seganteng aku gak punya duit, malu dong," kata Arkan.
Plak!
Alisa gemas memukul lengan Arkan, "Ini anak kenapa percaya diri banget," kata Alisha.
"Bunda ini KDRT terus sama anaknya. Aku dipukulin terus," protes Arkan.
"Makanya kalo ditanya orang tua yang bener!"
Pemuda itu pun memeluk sang Bunda dari samping kemudian mencium pipinya. Alisha tersenyum dia mengusap kepala putranya yang ada di pundaknya.
"Kenapa sih anak Bunda ini? Lagi ada masalah apa?" tanya Alisha.
"Bunda ini soal Kamila."
Mendengar nama Kamila, wajah Alisha langsung berubah. la pun mendengarkan cerita anaknya dengan serius.
"Jadi, kamu udah beli CCTV-nya?" tanya Alisha.
Arkan menganggukkan kepalanya perlahan.
"Iya, Bunda. Ini udah aku beli. Aku sengaja beli yang kecil biar Kamila ga sadar kalo aku pasang CCTV."
"Trus caranya pasang gimana?" Tanya Alisha.
Arkan hanya menyeringai,"Bunda percayain aja sama aku."
"Jagain Kamila yah Arkan Bunda khawatir sama dia, dia harus nanggung beban sendirian di usia mudanya!"
**
"Kamu kenapa Sayang?" tanya seorang pria kepada sang istri.
"Mas, udah pulang! Maaf aku tadi ngelamun!" Wanita itu menyalami tangan suaminya.
"Tumben banget Bunda Adel ini ngelamun, ada masalah kerjaan?" tanya Sang suami Saat ini Adelia tengah duduk di sofa dia menghela nafasnya.
"Tadi ada pasien dia masih SMA Mas, dia hebat banget disiksa keluarganya tapi dia masih bisa tahan buat gak nyakitin dirinya sendiri!"
Adelia menceritakan detailnya kepada sang suami, pria itu juga ikut prihatin mendengarnya.
"Aku udah kasih nomor aku kalo dia mau cerita, aku kasian deh Mas. Aku pengen ketemu dia lagi, aku harap dia baik-baik aja!" katanya.
Pria itu mengusap kepala istrinya dengan lembut, "Kita bantu doa yah semoga dia baik-baik aja. Nanti kalo mau ketemu dia Mas ikut yah!"
Adelia menganggukan kepalanya,"Dia cantik banget Mas, aku pertama kali liat dia langsung suka gitu!"
"Namanya siapa?" tanya Sang suami.
"Kamila! Namanya Kamila!"
...****************...
Pagi itu Arkan sudah bangun pagi-pagi sekali tanpa dibangunkan oleh Alisha.
"Ada angin apa nih pagi-pagi udah bangun?" Komentar Alisha yang sedang
membuat roti bakar.
Sean dan Kean yang sedang membantu Alisha hanya tertawa kecil melihat Arkan yang mengerucutkan bibirnya. Sahabat mereka ini hanya di luar saja garang seperti singa lapar. Tapi, jika berhadapan dengan Alisha dan Kamila maka dia akan berubah seperti anak kucing.
"Gayamu, Bang. Palingan mau jemput mantu kesayangan Bunda."
"Ish, Bunda ini. Masa sih cuma Kamila doang misi aku?" kata Arkan sambil mencomot sepotong buah apel.
Kayla yang melihat kelakuan abangnya itu hanya mencibir.
"Abang ini kalo makan duduk dong" Kata Kayla.
"Bawel," jawab Arkan.
"Bundaaaa! Abang bilang Kay bawel," adu Kayla.
Alisha langsung melotot kepada anak sulungnya itu dengan kesal.
"lyah Bund iyah Abang salah, maafkan hamba tuan puteri," ujar Arkan kepada Kayla.
Setelah itu Arkan pun langsung diam. Mana berani ia melawan kepada Alisha.
Setelah selesai sarapan, Arkan, Sean dan Kean pun segera pamit. Tetapi, di persimpangan lampu merah, Arkan memutarkan motornya ke arah lain.
Sean dan Kean yang sudah tahu rencana Arkan hanya bisa menggelengkan kepala mereka.
"Itu beneran si Arkan?" tanya Kean pada Sean.
"Dia gak pernah bohong, biarin aja lah yang penting gak kelewat batas," jawab Sean.
Tujuan Arkan saat ini yang tak lain dan tak bukan adalah rumah Kamila. Arkan berencana memasang cctv saat Kamila berada di sekolah. Dia bolos tanpa sepengetahuan Kamila kecuali anak-anak Gravendal tentu saja. Mereka tahu jika Arkan hendak memasang CCTV.
Tentu saja ia dibantu oleh Daren. Saat Arkan sampai di warung dekat rumah Kamila, Daren sudah menunggu di sana.
"Gimana lo udah pantau gerak gerik di rumah target?" Tanya Arkan.
"Barusan gue liat bokap nyokap si Kamila pergi. Kamila udah dari tadi ke sekolah. Si Livia juga udah perg," kata Daren.
Mereka pun langsung menuju ke rumah Kamila. Lalu melangkah ke halaman samping, Untung saja balkon kamar Kamila itu menghadap ke samping sehingga Arkan dan Daren tidak terlalu khawatir jika dilihat oleh tetangga.
Dengan kunci yang ia bawa, Arkan dengan mudah membuka pintu kamar Kamila. la dan Daren pun segera masuk.
"Lo beli CCTV-nya yang bisa rekam suara juga kan?" tanya Daren.
"Ya iyalah, kalo enggak percuma aja."
"Kunci dulu deh pintu kamarnya Nanti tiba-tiba ada orang masuk," kata Daren.
Setelah mengunci pintu, Daren dan Arkan pun segera bekerja. Mereka memasang 5 CCTV sekaligus. CCTV yang dibeli Arkan keluaran terbaru dengan ukuran yang sangat kecil sehingga bisa ditempelkan di tempat tersembunyi. Tidak masalah jika harus mengeluarkan uang jajannya.
Setelah semua selesai, Daren mengaturnya supaya terhubung langsung ke ponsel milik Arkan.
"Lo coba liat dulu. Ini gue udah set ke email Lo. Jadi, Lo bisa cek dari hp sama laptop juga," kata Daren.
"Oke. Di sini udah jelas banget gambarnya. Liat aja sampe gue tau siapa yang nyakitin Kamila, gue bakalan buat perhitungan kalo perlu gue bunuh orang itu hari ini juga," kata Arkan dengan menggebu-gebu.
Daren menggeleng-gelengkan kepalanya, "Gak takut dipenjara lo?"
"Lo tau gue. kan?"
"Saran sih yah Ar, kalo lo bunuh mereka lo gak akan bisa bales dendam, bales dendam yang paling enak itu bikin musuh lo sengsara dan mati pelan-pelan, kalo dibunuh langsung mah keenakan!" kata Daren.
Arkan menyeringai, "Bener juga, gue kayaknya emang harus buat perhitungan dulu sama orang itu."
Arkan merebahkan tubuhnya di kasur Kamila, wangi Kamila itu benar-benar sangat candu untuk Arkan, saat Arkan tengah menelisik seluruh kamar Kamila, tiba-tiba ia melihat sebuah kantong kresek berwarna hitam di atas meja belajar gadis itu.
Arkan bangkit dari kasur dia berjalan ke arah meja belajar Kanmila. Arkan membukanya dia melihat ada serbuk berwarna putih ada beberapa bungkus. Arkan mengambil 2 jenis bubuk itu dengan warna yang berbeda.
"Apaan tuh?" tanya Daren kepo.
"Gak tau, Ini bukan obat terlarang kan?" tanya Arkan kepada Daren.
Pemuda itu pun menggelengkan kepalanya.