
"Jangan diambil hati, Mila. Lo jangan tersinggung, Arkan abis berantem sama bokapnya. Jadi, emosinya lagi naik dia gak mau buat bikin lo sakit hati. Biar kita aja yang bikin dia tenang dulu, ya," kata Kean.
Kamila terkejut mendengar Arkan bertengkar dengan Marvin, gadis itu lalu menganggukkan kepalanya.
Gadis itu sudah tau, Arkan jika sedang marah memang sangat mengerikan sehingga Kamila juga takut. Apalagi tatapan Arkan yang sangat tajam, terlihat seperti pedang yang bisa memenggal leher orang saat menatapnya sekali saja. Jadi Kamila memutuskan untuk tidak
mengganggunya dulu.
Kean dan Sean menyusul Arkan ke kelas, tetapi dia hanya meletakan tasnya lalu keluar lagi. Daren yang melihat itu merasa bingung ada apa dengan Arkan.
"Eh, kenapa tu si Arkan? PMS? Lo kan tinggal sama dia," kata Bastian bingung.
"Ribut sama bokapnya gara-gara data itu, Arkan emosi gara-gara Om Marvin gak mau ngerestuin Arkan sama Kamila!"
Kean menceritakan semuanya kepada Daren dan Bastian. Mendengar hal itu, Daren bangkit dia menyusul Arkan.
"Gue susulin anaknya!" ujar Daren.
Dia tau Arkan pasti ke rooftop. Daren membuka pintu rooftop dan menghampiri sahabat baiknya itu.
"Ngapain lo ke sini?" tanya Arkan sinis.
"Gue tau Lo ga baik- baik aja. Kean udah cerita sama gue tadi."
Arkan menghela napas panjang dan mengembuskannya perlahan.
"Gue udah setengah jalan, masa harus berhenti," kata Arkan.
"Lo bisa pake cara lain Ar. Gue bisa kok balikin data itu lagi. Dengan cara kayak gini aja si Laras itu kan udah syok banget. Nanti kalo dia jahatin Kamila lagi baru deh lo
bertindak," kata Daren.
Arkan tidak menjawab, Daren yang tau betul sifat sahabatnya itu akhirnya menepuk bahu Arkan.
"Ar jangan gegabah, lo harus inget ini semua demi Kamila!" kara Daren.
"Gue gak mau balikin datanya, biarin aja mereka bangkrut!"
Daren menghela nafasnya Arkan itu sangat susah untuk mengubah keputusannya.
"Lo pikirin aja lagi. Nanti kasi tau gue keputusan Lo," kata Daren.
"Gue mau sendiri dulu, lo bisa keluar?" ujar Arkan penuh penekanan.
"Oke, lo hati-hati. Jangan nekat berbuat sesuatu waktu marah, jangan ambil keputusan yang bakalan buat lo nyesel," kata Daren.
Daren pun segera melangkah untuk turun dan meninggalkan Arkan sendiri. Tetapi, saat ia hendak turun, Kamila dan Bastian naik.
Gadis itu memang mencari Arkan dan ketika tau Arkan ada di rooftop, Bastian yang ingin tau keadaan Arkan ikut ke sana.
"Kamila," kata Daren.
"Arkan ada?" tanya Kamila.
"Ada, Arkan lagi naik emosinya. Gue saranin sih biarin aja dulu. Tapi, kalo lo emang mau ngomong ya sana. Inget pelan-pelan aja," kata Daren kepada Kamila.
Daren pun mengajak Bastian untuk pergi membiarkan Arkan dan Kamila bicara berdua saja. Dia sangat yakin jika Arkan tidak akan berbuat kasar kepada Kamila. Ia tau jika sahabatnya itu sangat mencintai
Kamila.
Ceklek..
"Udah gue bilang gue lagi mau sendiri!"
kata Arkan ketus saat mendengar suara pintu dibuka.
"Arkan," panggil Kamila.
"Mil."
Arkan melihat Kamila mendekati Arkan sambil tersenyum.
"Sini!"
Arkan menepuk sebelahnya agar Kamila ikut duduk di sampingnya.
"Kok ke sini? Udah mau bell," ujar Arkan.
"Lo kenapa?" tanya Kamila kepada Arkan.
Arkan menghela nafasnya.
"Gue gak apa-apa. Biasalah anak sama
Bapak kalo berantem itu wajar, gue cuman kesel aja sama Ayah," kata Arkan.
"Mau peluk?" tawar Kamila.
Arkan langsung memeluk Kamila erat, Kamila mengelus punggung Arkan perlahan.
"Ar, ribut sama orang tua itu wajar. Tapi kita juga gak boleh terus-terusan begini!"
Senyum kamila mengembang.
"Iyah gue tau, saat sesuatu yang kita mau belum tersampaikan rasanya pasti gak enak banget. Tapi kan lo harus inget, gak semua yang lo mau itu harus selalu lo dapetin!" jawab Kamila.
Kamila melepas pelukannya.
"Sabar, mungkin Om Marvin lagi emosi aja, ngalah dulu kan gak masalah. Ngalah bukan berarti kalah Arkan!"
Kamila mengelus kepala Arkan berusaha agar Arkan bisa sedikit tenang. Arkan hanya menghela napas panjang.
'Seandainya aja Lo tau masalahnya apa, masih bisa bila sabar?' Arkan menggumam dalam hati.
"Udah sarapan?" tanya Kamila.
"Udah, lo ngapain ke sini?" tanya Arkan.
Kamila bersandar di kursi dia juga menghela nafasnya.
"Gue mau sama lo," jawab Kamila.
Arkan terkekeh dia juga ikut bersandar, tangannya terulur untuk memegang tangan Kamila, rasanya nyaman sekali. Arkan tidak akan pernah rela jika mereka harus
berpisah. Mau bagaimana pun caranya, Kamila harus tetap menjadi kekasihnya itu mutlak keputusan Arkan.
Kamila merasakan tangan Arkan berkeringat dia melihat Arkan sedang
memejamkan matanya, Kamila yakin Arkan tengah berusaha menahan segala emosinya.
"Udah yu emosinya, emosi gak akan nyelesain masalah. Gue gak akan tanya apa masalah lo sama Om Marvin, tapi yang harus lo tau gak ada orang tua yang mau anaknya kenapa-kenapa!"
Arkan tidak menjawab dia meremas tangan Kamila berusaha agar tenang. Kamila memainkan rambut Arkan sambil tersenyum, Arkan itu jika sedang emosi memang jarang bicara.
"Sayang," panggil Arkan.
"Hm..."
"Gak papa!"
Arakan memeluk Kamila, gadis itu terkekeh dia ikut membalas pelukan Arkan berusaha
menyalurkan ketenangan. Kamila terus mengusap punggung Arkan, pemuda itu
memejamkan matanya, dia menikmati segala sentuhan yang diberikan oleh Kamila.
Arkan meletakan kepalanya di pundak Kamila, Arkan benar-benar takut
kehilangan Kamila.
Bell berbunyi Kamila melepas pelukannya dia menangkup wajah Arkan.
"Gantengnya Mila, sekarang udah bell. Ayo masuk kelas."
Arkan menggelengkan kepalanya sambil
tersenyum.
"Enggak, lo duluan aja Mil gue masih mau di sini," jawab Arkan sambil mengusap kepala Kamila.
"Tapi lo-"
"Lo tenang aja. Dah, sana ke kelas. Mau ngapain di sini?"
"Gue mau Lo ke kelas juga," kata Kamila.
"Gue lagi butuh sendiri dulu, Mil"
"Jadi, gue harus apa?" tanya Kamila.
"Gak harus apa-apa Sayang, udah sana ke kelas kan udah bell, gue baik-baik aja. Nanti kalo gue udah tenang gue balik ke kelas. Di sini tempat paling enak buat mikir Mil!"
"Kan udah bell, masa mau bolos sih?" tanya Kamila.
"Sayang, sekarang pilih deh mending di sini atau di basecamp?" tanya Arkan sambil memegang pipi Kamila.
"Gak dua-duanya!" jawab Kamila.
Arkan tertawa kecil dia benar-benar gemas dengan Kamila.
"Masa begitu."
"Iyah lah, lo jangan gini terus gue sedih dicuekin, liat lo marah gue juga takut," kata Kamila.
"Uluh ... Uluh ada yang sedih gara-gara gak gue kasih ucapan selamat pagi trus gue cuekin?" kata Arkan.
"Emang enak dicuekin? Awas aja nanti gue bales," kata Kamila.
Arkan hanya tertawa terbahak-bahak.
"Emang bisa?" tanya Arkan.