Badboy Yang Menyebalkan

Badboy Yang Menyebalkan
102. Larangan Arkan Untuk Kamila


Wanita cantik itu pun segera beranjak ke dapur dan kembali lagi dengan sekotak brownies kukus yang baru saja dibuat oleh si Mbok di dapur.


"ini bawain buat Tante kamu. Sampaikan juga salam dari Bunda," kata Alisha.


Arkan menganggukan kepalanya," lyah Bund, kalo gitu kita berangkat yah," pamit Arkan.


Alisha menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, "Hati-hati di jalan, jangan kebut-kebutan," kata Alisha.


Arkan dan Kamila kali ini menggunakan mobil, karena kalo membawa motor tidak cocok. Di dalam mobil seperti biasa Arkan akan selalu menggenggam tangan Kamila.


Setelah menempuh waktu beberapa menit mereka akhirnya sampai. Mereka berjalan beriringan. Hingga masuk ke dalam, tangan Kamila tidak Arkan lepas.


"Kamila!" Seseorang ada yang memanggil Kamila.


Kamila dan Arkan melihat siapa yang memanggilnya.


"Rena!"


"Hai Kamila kebetulan yah," ujar Rena sambil tersenyum. Rena juga tidak menyangka jika ia bisa bertemu dengan. Kamila di sini.


"Lo ngapain? Mau ketemu Dokter Adel?" tanya Rena.


Kamila menganggukkan kepalanya perlahan dengan ragu.


"Iyah, lo ke sini juga, konsul?" tanya Kamila yang tak kalah terkejut sejak awal bertemu dengan Rena.


Rena menggelengkan kepalanya," Enggak gue cuman abis daftar buat sepupu gue dia dateng telat!" Kamila mengangguk anggukan kepalanya.


Jujur saja, ia merasa kaget saat bertemu Rena, Kamila įuga sedikit takut. Selama ini orang banyak berpikir jika datang ke psikolog itu pasti gila. Padahal tidak seperti itu. Kamila takut Rena berpikir dia gila, Rena itu orang yang baru Kamila kenal.


Kamila merasa sedikit takut jika Rena nanti


malah akan menghinanya dan lebih parah lagi.


"Ayo ke dalem Mil!" kata Arkan. Melihat kehadiran Rena di sana membuat Arkan merasa sangat jengah. la berusaha menarik tangan Kamila menjauh.


"Sebentar Mil!"


Tetapi, Rena malah memegang tangan Kamila sehingga Arkan mendelik kesal ke arah gadis itu.


"Kita ngobrol dulu yu kalo lo belum. dipanggil," ajak Rena dengan ramah.


"Gu-"


"Gak bisa, Kamila sibuk!" potong Arkan.


"Gue kan ngajak Kamila, Kamila juga gak nol-"


"Dia terlalu baik, gue cowonya jadi dia ngikut gue. Ayo Mil!l" saut Arkan.


"Tapi Mil-"


"Nona Kamila, sudah ditunggu dokter Adelia. Silakan masuk," kata perawat itu sambil tersenyum.


Untung tak lama kemudian, nama Kamila dipanggil masuk oleh perawat. Arkan pun segera menarik tangan Kamila tanpa Kamila sempat pamit kepada Rena. Arkan tidak mau Kamila berlama-lama dengan wanita seperti Rena.


"Permisi Dokter Adel," sapa Kamila riang.


Kamila dan Arkan membuka pintu, terlihat Rara tersenyum kepada keduanya. Rara menyambut Kamila dengan gembira, karena bagi Rara, Kamila itu seperti adiknya sendiri.


Wanita cantik itu langsung memeluk Kamila dengan erat.


"Aduh anak gadis kesayangan Bunda Alisha udah dateng, adik aku satu ini kok makin cantik aja sih," kata Rara gemas.


"Tante bisa aja, Tante juga makin cantik," kata Kamila.


"Loh kok Tante, jangan ikutan Arkan dong," ucap Rara.


"Kan sekarang dokter Adel, Tante aku juga!" jawab Kamila membuat Rara tertawa.


"lyah deh, udah jadi calon mantu kan!"


Kamila terkekeh mendengar itu, begitu juga Rara dan Arkan.


"Oiya gimana Sayang, Kamila betah tinggal di rumah Bunda? Kalo gak betah gara-gara Arkan. Kamila pindah aja tinggal sama Tante dan Om," kata Rara


sambil mengerlingka matanya ke arah Arkan. Sementara Arkan langsung mengerucutkan bibirnya.


"Dih, amit-amit posesif amat. Kamu kok betah sama ponakan Tante yang nyebelin ini, Kamila," kata Rara.


la memang sengaja menggoda Arkan, "Tante jangan ngajarin Kamila buat ngegosip yah," protes Arkan.


Kamila dan Rara pun hanya tertawa terbahak-bahak.


"Ya udah, kita mulai sesi konsultasinya ya, Sayang," kata Rara.


"Aku keluar bentar deh, Tante. Pengen ngerokok bosen aku dengerin cewe-cewe cerita Tant. Oh iya, ini ada kue brownies dari Bunda," kata Arkan sambil meletakkan kue itu di atas meja.


"Yaudah sana keluar, kamu ganggu " ujar Rara membuat Kamila tertawa.


"Tante jahat deh!" Kemudian pemuda itu pun melangkah keluar tanpa menunggu jawaban dari Rara lagi.


"Arkan!"


Pada saat hendak melangkah menuju ke lobi, Rena yang melihat Arkan langsung menarik tangan pemuda itu.


Arkan menyentak tangannya saat melihat siapa yang memegang tangannya.


"Jangan pegang-pegang gue sialan, gue gak sudi!" jawab Arkan ketus.


Rena tertawa, "Lo sombong banget sekarang, Ah... Sebenernya lo emang. sombong dari dulu, dingin kayak kulkas! Apa kabar?" tanya Rena.


"Gue sibuk gak ada waktu!" kata Arkan dia hendak melangkah pergi.


"Kamila itu gila ya sampe harus ke psikolog segala?" tanya Rena lagi.


"Bukan urusan lo!"


"Ck... Ck.. Kasian yah Kamila, masih muda udah gangguan jiwa. Tapi gue lebih kasian sama lo sih punya pacar yang gak cantik-cantik amat tapi gila," ucap Rena sambil tertawa kecil.


"Jaga mulut lo yah sebelum gue robek mulut gak berguna itu," seru Arkan kesal.


Arkan mengepalkan tangannya kesal, seandainya saja ini bukan di klinik tempat Rara bekerja, sudah ia cabik-cabik perempuan nyinyir itu.


"Ups... Sorry! Gue kan cuman ngomong, lo merasa yah? Berarti bener dong kalo Kamila itu gila! Kasian yah," jawab Rena lagi.


"Itu bukan urusan lo Rena, jauhi Kamila! Dia gak cocok berteman sama iblis kayak lo! Perihal alesan dia kenapa harus ke psikolog itu lo gak usah kepo," kata Arkan.


"Lo pikir lo bukan iblis Arkan! Kamila gak tau lo Arkan, lo lebih sadis dari yang Kamila tau, lagian gue bingung kok orang tua lo setuju sih lo punya pacar yang sakit jiwa kayak Kamila. Jangan-jangan dia pake pelet yang kuat lagi," hina Rena lagi semakin membuat Arkan mengepalkan


tangannya.


"Lo!" tunjuk Arkan tepat di wajah Rena.


"Kalo lo gak tau apa-apa gak usah banyak bacot! Sekali lagi gue denger lo ngehina cewe gue abis lo hari ini juga!" kata Arkan dengan tegas.


Arkan berusaha untuk mengontrol emosinya agar tidak kelepasan di sana.


Arkan kembali membalikan tubuhnya dia akan kembali ke ruangan Rara saja. Tapi sebelum itu Arkan menghentikan langkahnya dia membalikan tubuhnya menatap Rena tajam.


"Kamila itu punya harga diri yang tinggi, gak akan sebanding sama lo atau sama keluarga lo!"


Arkan benar-benar pergi meninggalkan Rena dia menuju ke ruangan Rara. Arkan melihat Kamila sedang berpamitan pada Rara.


Setelah berpamitan pada Rara, Kamila dan Arkan kembali ke mobil.


"Arkan," panggil Kamila.


"lyah Sayang!"


"Lo kenapa diem aja? Ada masalah?" tanya Rara sambil menelisik wajah Arkan.


Kamila merasa bingung karena Arkan tidak banyak bicara dan tampak sedang memikirkan sesuatu.


Arkan tersenyum dia menggelengkan kepalanya, "Enggak ada, tapi boleh gak gue minta sesuatu sama lo Mil?" tanya Arkan.


"Boleh dong, masa gak boleh. Lo kan udah sering bantu gue, bilang aja lo mau minta apa?" tanya Kamila.


Arkan menghela nafasnya dia menggenggam tangan Kamila erat, "Gue


minta jangan terlalu deket sama Rena. Gak usah lo tanya kenapa. Yang jelas, gue punya alasan yang cukup kuat. Dia ga sebaik yang lo liat," kata Arkan dengan wajah seriusnya.


"Itu aja?" Arkan menganggukan kepalanya.