Badboy Yang Menyebalkan

Badboy Yang Menyebalkan
88. Membabi Buta


Suasana malam itu menjadi begitu menegangkan. Kamila menangis histeris dalam pelukan Rara. Sementara Alisha dan Marvin untuk beberapa saat hanya bisa berdiri termangu.


Sampai Bastian menyadarkan semuanya.


"Tante Om ayo susul Arkan secepatnya, Daren udah berangkat duluan?! Arkan bisa aja bunuh Ayahnya Kamila!" kata Bastian.


Marvin menganggukan kepalanya, " Kita ke rumah Kamila, Bunda ikut sama Ayah. Suruh bibi jagain Kayla. Bang Regan sama Rara juga ikut," kata Marvin.


Semua orang sibuk, Kean dan Sean tanpa menunggu lama langsung meluncur dengan motor mereka begitu pula dengan Bastian. Sementara Alisha dan Marvin menyusul dari belakang dengan menggunakan mobil.


"Anak itu udah gila, kelakuannya gak jauh beda sama kamu, Mas," kata Alisha.


"Ayah gak tau Bund, Ayah gak pernah ngajarin dia buat keras kepala begitu, gak ada yang tau juga si Arkan kalo udah ngamuk kayak banteng," saut Marvin.


Terlihat Alisha memijit pelipisnya putranya itu benar-benar seperti orang kesetanan.


"Ini semua salah Mila, Bunda, maafin Mila," kata Kamila di sela isak tangisnya.


Alisha melihat ke arah Kamila, " Udah Mila, kamu harus tenang. Kita semua nggak ada yang nyalahin kamu. Bunda sama Ayah juga kaget liat Arkan bisa bersikap begitu. Ini pertama kalinya Arkan bersikap kayak gitu," kata Alisha.


"Kalo aku liat emosi Arkan emang gak stabil, Sha. Kita harus bisa meredam emosinya. Tenang aja, aku punya cara. Yang penting sekarang kita nyusul dia


dulu," kata Rara.


"Aku serahin ke kamu Ra, aku gak ngerti yang beginian!" Rara menganggukan kepalanya.


Alisha menatap Marvin, "Cepet dong bawa mobilnya Yah. Nanti keburuanaknya bunuh orang gimana?" katanya.


"Ya ini kan mobil, Bunda. Ga bisa nyelip kayak motor, itu kan temen-temennya udah pada nyusulin juga," kata Marvin.


Sementara itu Arkan yang masih dikuasai emosi mengemudikan motornya secepat kilat. Dia sudah tidak memikirkan keselamatannya, yang ada dalam pikirannya saat ini adalah pergi dan memberi Reynald pelajaran yang berharga. la tidak bisa membiarkan siapa pun berusaha menyakiti Kamila terlebih lagi keluarganya.


Arkan menghentikan motornya tepat di rumah Kamila. Arkan membuka gerbangnya dia lalu mengetuk pintu rumah Kamila.


Livia yang kebetulan sedang berada di ruang keluarga bergegas membuka pintu.


Saat pintu terbuka, gadis itu tampak sangat syok karena Arkan langsung menerobos masuk dan mendorong tubuhnya ke samping.


"Reynald! Keluar Lo bajingan! Reynald!" Sudah tidak ada sopan santun lagi antara Arkan dan Reynald kali ini.


"Heh, lo yang sopan di rumah orang. Dia itu bokap gue, bisa kali panggil yang sopan," protes Livia.


Arkan berbalik kemudian menatap mata Livia dengan tajam.


"Ga usah ikut campur, gue gak ada urusan sama lo *****!" bentak Arkan.


Livia langsung memundurkanblangkahnya saat Arkan membentaknya. Sementara Reynald yang mendengar ribut-ribut langsung turun dari lantai atas.


"Arkan? Kamila mana? Ada apa ini?" tanya Reynald sambil tersenyum.


BUGH!


"GAK USAH SOK BAIK LO ANJIN* LO ITU BUKAN MANUSIA!"


Arkan tanpa aba-aba langsung meninju wajah Reynald.


"Mana ada Ayah ngejerumusin anaknya buat jadi penjahat! Jangan lo pikir gue gak tau kalo lo yang maksa Kamila buat ngeracunin keluarga gue! Manusia gak punya otak, dasar binatang! Licik?!"


Buuukh! Bukh!


Arkan kembali meninju Reynald habis habisan. Tidak ada ampun lagi untuk dirinya.


"Anak kurang ajar, kamu pikir saya orang gila. Saya gak pernah nyuruh Kamila melakukan itu. Asal kamu tau, Kamila itu sakit jiwa kayak ibunya. Itu kenapa Laras sering memukulnya. Karena dia sering kumat," bantah Reynald membela diri.


BUGH!


"BERANI LO NGEHINA KAMILA?!"


Arkan meninju wajah Reynald lagi.


"Anak sialan!"


Kali ini Reynald yang meninju wajah Arkan. Arkan mengusap sudut bibirnya yang darahan.


"Kamu bodoh mau bersanding dengan Kamila, dia itu gila!" bentak Reynald dengan wajah yang sudah membiru.


"Lo yang gila tua bangka sialan! Udah ketauan salah masih aja ngeles! Lo pikir gue gak punya buktinya?!"


BRUKH!


Arkan menendang Reynald, dia berjalan mendekat ke arah Reynald lalu menarik kerah bajunya.


"Anak brengsek gak tau etika. Jangan harap saya akan memberikan restu untuk kalian berdua!" teriak Reynald.


"Gue gak butuh restu dari Lo, Reynald Anjing dan, Kamila juga gak butuh restu dari Ayah model binatang kayak Lo!"


Tepat saat Arkan hendak memukul Reynald lagi, Daren, Bastian, Kean dan Sean sampai. Mereka spontan menarik tangan Arkan.


Tetapi, karena hal itu Reynald mendapat kesempatan untuk memukul Arkan.


Bugh! Bugh! Bugh!


"STOP CUKUP?!"


Alisha yang tiba di rumah itu tentu berteriak hiseteris saat melihat anaknya dihajar oleh Reynald.


"Shiitttt." Arkan dengan kemampuannya bergulat dengan mudah membalikkan keadaan kali ini Arkn seperti orang kesetanan memukuli Reynald.


Bugh!


"Anjin*"


Bugh!


"Sialan?!"


Bugh!


"Manusia model binatang?!"


"Arkaaan, stop! Jangan bunuh dia!" teriak Kamila.


Meski Reynald sangat jahat, tetapi Kamila tidak mau Arkan menjadi pembunuh. Arkan menatap Kamila sinis lalu melihat kepada Reynald. Arkan menyeringai saat melihat Reynald yang sudah terkapar lemas. Arkan mengeluarkan pisau dan pistolnya.


"Pisau ini bisa buat lo minta ampun sama gue!"


Srett..


"ARKAN?!" teriak Kamila.


Arkan menyayat lengan Reynald sambil tersenyum licik saat melihat darah yang mengalir di sana dia sudah seperti psycopath.


Arkan bangkit dari lantai," Sekarang lo tinggal pilih mau ketemu ibunya Kamila pake jalur apa? Gue bisa kasih lo Vip ke nereka dulu, sekarang di tangan gue ada pistol sama pisau. Lo mau yang mana?" kata Arkan dengan tatapan tajam.


Livia dan Laras yang ketakutan langsung mendekati Reynald. Mereka memeluk Reynald dan menatap Arkan sambil menangis.


"Tolong jangan bunuh suami saya. Saya gak mau anak saya jadi yatim. Saya ga mau jadi janda. Kami janji gak akan bersikap jahat lagi," kata Laras.


Tapi Arkan malah menyeringai, " Ckcck ... keluarga yang sangat romantis. Tapi sayangnya, kalian lupa siapa yang berhak atas semua aset dan rumah ini!Kamila segalanya buat gue tapi kalian dengan mudahnya menyiksa dia?! Selama ini yang meneror kelurga kalian itu gue, dan lo Laras luka di pipi lo itu hasil karya gue?!" kata Arkan.


Alisha dan Marvin terkejut mendengar pengakuan Arkan, sedangkan teman-teman Arkan sangat kagum dan kaget ini pertama kalinya mereka melihat Arkan semarah ini.


Arkan seperti bukan Arkan. Hanya Daren yang tampak tidak terlalu kaget, karena ia tau semua yang Arkan lakukan. Dia juga yang membantubArkan mengirimkan kotak berisi teror tempo hari.


"Hahaha, sekarang kalo kamu emang punya nyali bunuh saya sekarang! Saya gak takut mati, nanti keluarga kamu yang sedih karena anaknya masuk masuk penjara dan jadi pembunuh!" Kata Reynald sambil


menyeringai.


"Gue gak pernah takut buat bunuh lo brengsek, gimana kalo pake dua-duanya aja?" tawar Arkan dengan smirknya.