Badboy Yang Menyebalkan

Badboy Yang Menyebalkan
150. Pertengkaran


Disaat seperti ini Lily paham, hubungan jarak jauh itu tidak bisa mulus begitu saja ada beberapa hal yang harus di lewati. Lily hanya perlu memberi dukungan pada Kamila.


"Tapi gue takut Ly, hari ini Arkan belum ngabarin gue sama sekali!" lirih Kamila sambil menundukan kepalanya.


"Takut boleh kak, anitisipasi boleh tapi inget kita juga harus berpikir jernih gimana ke depannya apa konsekuensinya, plis deh kak ini bukan jaman dulu yang gak ada gadget, kalo Arkan gak bisa di hubungin lo kan bisa nanya sama temen-temennya!"


Kamila menghembuskan nafasnya lelah dia berusaha untuk tetap tenang, dia tidak boleh terbawa emosi.


"Gue coba Ly!"


Kamila kembali menyibukan dirinya, tanpa terasa waktu berlalu Kamila melihat jam pukul lima sore .Kamila bangkit dia bergegas untuk pulang, begitu juga yang lain.


TING! TING! TING!


Baru saja Kamila keluar dari kelas dia kembali mendapat sebuah notif pesan. Satu foto masuk ke pesan Kamila, itu Arkan dia tengah bermain dan tertawa.


Kamila melihat room chatnya dengan Arkan, tidak ada kabar apa pun dari pemuda itu. Arkan belum mengabarinya dan ternyata sekarang Arkan sedang bersama wanita lain. Kamila berusaha untuk tidak percaya tapi dia kembali mendapat kiriman foto Arkan dengan kegiatannya di sana.


Air mata Kamila sudah menggenang di pelupuk matanya siap untuk tumpah. Kamila menyekanya dia tidak mau menangis, dia percaya pada Arkan.


Kamila kembali berjalan menuju gerbang sekolah dia melihat ke kanan kiri tidak ada kendaraan sekolah sudah sepi.


Ting...


Satu pesan kembali masuk, Kamila membukanya.


'Gimana Kamila? Arkan lebih bahagia sama gue, jadi selamat menikmati kesendirian'


Kamila meremas ponselnya setelah membaca sederet kata itu, hatinya mencelos, sakit! Dia ingin menangis.


"Kamila, lo pulang sama siapa ini udah sore!" kata Dika dia menghentikan motornya.


"Gue sendiri!" kata Kamila.


"Ini udah sore ayo bareng!"


"LU JAUH-JAUH DEH DIKA GUA LAGI PUSING TAU NGGAK!" Seru Kamila dengan kesal kepada Dika.


Suara Kamila sangat kencang dia risih Dika terus mendekati Kamila. Tetapi rupanya pemuda itu memang pantang menyerah untuk mendekati Kamila. Bukannya marah dia malah terkekeh.


"Pms yah lo, lagian ini udah sore Kamila. Taksi udah jarang banget. Kalo lo naik bis nanti malah ada apa-apa di jalan. Udah mendingan gue yang nganterin pulang. Gue janji nggak akan bakalan ngelakuin hal yang aneh-aneh sama lo," kata Dika kepada Kamila.


Kamila menelan nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Apa yang dikatakan oleh Dika memang benar jam segini di dekat sekolah mereka sudah sangat jarang ada taksi. Begitupun bis yang menuju ke rumah Arkan.


Akhirnya setelah sedikit bertengkar Kamila pun menerima ajakan Dika untuk mengantarkannya pulang.


"Inget ya Ini bukan karena gue suka lo deketin. Gue mau lo anter pulang karena gue pengen cepet-cepet sampe di rumah gue pengen istirahat."


"Nah gitu dong, kalo kayak gini kan enak. Sebagai ketua OSIS gue nggak bisa juga lihat lo pulang sendirian apa lagi di jam segini yang ada nanti lo malah diculik sama orang.


Setelah pemaksaan Kamila pulang dengan Dika dan tanpa mereka sadari ada yang memotret keduanya.


Pada malamnya Arkan yang berada di Bali baru saja keluar dari kamar mandi dia terkejut karena mendapat kiriman foto Kamila bersama dengan Dika. Arkan pun langsung meremas ponselnya.


Arkan akan menghubungi Kamila Setelah makan malam. Dan di dering ketiga Kamila langsung mengangkat video call dari Arkan.


"Mil!" panggil Arkan gadis itu diam saja.


"Lo pulang sama Dika?" tanya Arkan masih dengan nada tenangnya.


"Lo ke mana seharian ini gak ngabarin gue?" Bukannya menjawab pertanyaan Arkan Kamila malah balik bertanya.


"Maaf Mil gue gak ngabarin lo tapi gue gak aneh-aneh kok di sini!" kata Arkan kepada Kamila.


"Lo bilang sama gue lo bakalan selalu ngabarin gue, baru juga beberapa hari di sana lo lupa sama gue!" kata Kamila.


"Gue gak lupa sama lo Mil, tadi emang sibuk. Tapi kan ini sekarang gua telpon sama lo!" jawab Arkan.


"Lo bohong Arkan!" seru Kamila sedikit kencang.


Arkan mengerutkan dahinya bingung, "Bohong gimana sih Mil, gue udah jujur sama lo!"


"Lo bohong! Lo gak sibuk, lo ke pantai sama cewe kan, gua tau Arkan!" kata Kamila suaranya mulai bergetar.


"Cewe? Lo kata siapa Kamila, gue gak pernah sama cewe lain di sini!"


Kamila mulai terisak, "Lo bohong Arkan, lo bohong!"


"Bilang sama gue Kamila siapa yang ngomong hal aneh-aneh sama lo!" jawab Arkan, nada bicaranya sudah mulai berubah.


"Gak penting gue tau dari mana! Lo emang sama cewe lain Arkan!"


Arkan menggelengkan kepalanya," Enggak Sayang, enggak!"


Kamila menutup wajahnya air matanya mulai sedikit mengalir.


"LO JAHAT ARKAN!" teriak Kamila membuat Arkan terkejut.


"Mil! Suara lo?!" tekan Arkan.


Wajah Arkan langsung menjadi datar dia menatap Kamila dingin.


"Lo jahat Arkan gue di sini berusaha buat jauhin cowo dan selalu jaga diri buat lo tapi lo di sana, kenapa Arkan? Gue kurang apa?"


Arkan berdecih, "Cih! Jaga diri apa Kamila! Maksud lo pulang sama Dika itu jaga diri heh? Lo boncengan sama Dika itu namanya lo jauhin cowo? Gue bukan gak tau Kamila! Kenapa lo pulang sama Dika?! Uang yang di kasih sama Ayah sama Bunda kurang sampe lo harus sama si brengsek itu! Lo butuh uang berapa gue transfer sekarang!"


Kamila terkejut mendengar nada bicara Arkan yang sangat kasar.


"Dia cuman nganterin gue pulang! Bunda tau gue cuman dianterin aja, lagian gue sama dia gak ngapa-ngapain, tadi ada tugas osis gue pulang sore, Ayah gak bisa jemput! Dan lo tau sendiri di sekolah kalo udah sore gak ada taksi, gue takut ke halte sore-sore gitu!"


"Hahah lawak lo siapa yang tau kalo di jalan lo sama dia gak ngapa-ngapain! Lo takut ke halte sendirian? Lo gak inget dulu sebelum tinggal sama gue lo selalu pulang naik apa? Lo maghrib ke halte aja berani!


Lagi pun ada banyak cara buat gak pulang sama si brengsek itu! Lo bisa bareng sama temen-temen lo! Lily misalnya, tapi apa? Lo lebih milih Dika kan? Itu yang namanya lo jauhin cowo?!"


"Kok jadi lo yang sewot sama gue! Lo ngomong gitu karena lo di sana sama cewe lain Arkan lo lupa sama gue?!" Air mata Kamila meleleh di pipinya.


Arkan sungguh tidak tega melihat Kamila seperti itu dia ingin pulang ke Jakarta dan menyelesaikan semuanya dengan Kamila.


"Jangan nangis Kamila, lo tau kan Mil di sini gue bukan liburan, gue tanding! Lo kenal sama temen-temen gue juga, kenapa lo gak percaya lo tanya sama mereka, gue gak pernah punya niat buat selingkuh atau apa pun itu!" kata Arkan.


"Bohong! Ada yang ngirim foto ke gue, kalo lo lagi sama cewe, lo jahat Arkan sampe kapan lo mau bohong sama gue!"


Arkan terus menggelengkan kepalanya, "Gue gak bohong Kamila! Bilang sama gue siapa yang bilang begitu sama lo biar gue bikin sengsara hidupnya!"


"Gue sadar Arkan lo tertekan pacaran sama gue, gue sebatang kara nyusahin. Gue cuman benalu di hidup lo! Kalo lo emang udah gak suka sama gue kita selesain baik-baik lo gak harus main di belakang gue, kalo lo mau put-"


"CUKUP KAMILA?! BERANI LO LANJUTIN KATA-KATA ITU GUE JAMIN ORANG YANG NGADU DOMBA KITA CUMAN TINGGAL NAMA!" bentak Arkan membuat Kamila terkejut.


"Gue gak suka lo bilang begitu Kamila. berani lo bilang putus sama gue, berani lo bilang begitu, gue pastiin bukan cuman hidup satu orang yang ancur! Gue bisa ngancurin hidup siapa aja sesuka hati gue! Satu lagi gak pernah ada cewe lain di hati gue selain Bunda, Lo sama Kayla," ujar Arkan penuh penekanan dan perintah.