Badboy Yang Menyebalkan

Badboy Yang Menyebalkan
66. Ulah Arkan


"Bunda tuh setiap kali keluar selalu ingat kamu. Jadi bunda punya stok baju-baju buat kamu di sini. Kata Arkan ibu tiri kamu tuh jahat banget. Bunda udah duga kalo suatu hari nanti kamu pasti bakalan datang ke sini dan nggak bawa apa-apa. Nggak


mungkin dong kamu nggak ganti baju, jadi bunda emang udah siapin baju-baju kamu di lemari Bunda. Supaya kalau ada kejadian kayak gini, kamu bisa ganti baju. Nah, sekarang kita makan malam dulu ya. Nanti


kamu bisa cerita sama Bunda sama Arkan apa yang udah terjadi. Kebetulan Ayahnya Arkan sebentar lagi juga pulang. Dia barusan telepon Bunda kalau sudah di jalan," kata Alisha.


Kemudian Alisha dan Kamila pun keluar dan menuju ke ruang makan. Alisa memang baru saja menyiapkan makan malam. Kayla yang melihat kedatangan Kamila langsung menjerit senang. la menghambur ke dalam pelukan Kamila dan mencium gadis itu.


"Kak Mila datang! Yeaaay, aku senang deh. Nah, gini dong sering main ke rumah. Kay jadi seneng ada temennya. Oya, Kak Mila mau nginep di sini kan?" tanya Kayla dengan manja.


"Maaf Sayang, malam ini Kak Mila nggak bisa nginep di sini. Tapi besok lusa mungkin Kak Mila mau nginep di sini," jawab Kamila.


"Ya kenapa nggak nginep aja?"


"Besok kan sekolah, kalau besok nggak sekolah Kakak bisa nginep sini. Tapi besok sekolah Kakak juga ada ulangan, buku-buku Kakak semuanya di rumah. Jadi, nggak mungkin kalau kakak nginep di sini. Sabar ya, Sayang," jawab Kamila merayu Kayla.


Kayla pun langsung mengganggukan kepalanya.


"Iya, tapi sekarang Kakak suapin Kayla makan boleh gak?" tanya Kayla dengan manja.


"Kayla, kak Mila-nya juga kan mau makan. Masa kamu minta disuapin?" tegur Alisha.


"Nggak apa-apa Bunda, kan suapin Kayla bisa sambil makan. Kayla bisa duduk di sebelah Mila," kata Kamila dengan lembut.


Alisha langsung tersenyum dia memang


sangat menyukai Kamila. Ternyata Marvin pulang terlambat sehingga Arkan pun


memutuskan untuk mengantarkan dulu Kamila pulang. Dan ketika mereka hendak pulang, Marvin datang.


"Ya, ayah ditungguin dari tadi, nih. Aku nganterin Kamila pulang dulu, ya. Nanti ada yang mau aku omongin," kata Arkan kepada Marvin.


Marvin hanya menganggukkan kepala, kemudian menepuk bahu Arkan dengan hangat.


"Kalian hati-hati di jalan, Ayah masuk dulu," kata Marvin.


Arkan pun segera mengantarkan Kamila dan setelabh melihat Kamila masuk ke dalam rumah, ia pun segera pulang.


Saat akan pulang ternyata Alisha dan Marvin sudah menunggunya di ruang keluarga.


"Tadi katanya ada yang mau kamu omongin sama ayah, ada apa?" tanya Marvin.


Arkan mengganggukan kepalanya, kemudian ia pun duduk di samping Marvin.


"Tadi, Kamila kabur dari rumah gara-gara ribut sama Papahnya. Dia bilang Papahnya minta Kamila sama aku nikah. Ya lucu aja sih, padahal kita udah mau investasi loh ke


perusahaan mereka. Tapi kenapa coba


Om Revnald malah minta Kamila nikah secepatnya sama aku?" kata Arkan kepada Marvin.


Marvin mengerutkan dahinya, ia tidak habis pikir dengan pemikiran Reynaldd yang sepicik itu.


"Iyah aneh deh, kita kan padahal udah mau berbuat baik sama mereka. Terus maksudnya mereka gak kepengen aset mereka jatuh ke tangan kita, begitu? Kan masih untung perusahaan juga masih atas nama mereka, kita cuman punya saham di


sana," kata Marvin.


"Apa sih susahnya mengabulkan permintaan mereka? Bunda juga setuju sih sebenernya kalau misalkan Arkan mau nikah muda, apa lagi calon mantunya Kamila. Lagipula Kamila itu anaknya baik dan dia juga sopan. Bunda suka sama dia," kata Alisha.


"Ini bukan masalah nikah muda atau enggak, Bund. Tapi kalo aku nikah gara-gara ini, Om Reynald sama aja dengan jual Kamila sama kita. Arkan nggak mau nikah yang seperti itu. Nantinya mereka akan menekan supaya Kamila juga


menekan kita untuk mengabulkan apa


yang diminta oleh Reynald. Kalau kayak gini caranya, itu namanya licik Bund," kata Arkan.


Marvin menganggukkan kepalanya. Kata-kata Arkan membuat Marvin berpikir.


"Iya, Ayah setuju sama perkataan Arkan. Ini sih caranya udah nggak bener, tadinya Ayah pikir memang untuk menyuntikkan dana ke perusahaan itu. Lagipula kenapa sih kalau Arkan yang bakal mengendalikan perusahaan itu? Kan mereka yang tetap menjalankan.


Hanya mereka harus lapor aja sama


perusahaan kita karena kita adalah pemilik saham terbesar. Sebenernya nggak ada ruginya juga sih buat mereka. Tapi, kalau kayak gini caranya Ayah jadinya mikir dua kali untuk ngasih investasi dana kepada


Arkan mengangguk setuju.


"Kalo memang perusahaan itu harus


bangkrut, biarin aja bangkrut sekalian


gulung tiker. Tapi, aku gak mau kalo


sampai Kamila yang dikorbanin."


***


"Arkan bisa ke ruangan Ayah sebentar?"


"Ada apa Yah?" tanya Arkan.


"Ada yang mau Ayah bicarakan dengan kamu," kata Marvin.


"Oh oke!"


Marvin berjalan lebih dulu meninggalkan Arkan. Pagi itu Marvin memanggil Arkan ke ruangannya. Arkan yang baru saja selesai sarapan langsung menuju ruangan Sang Ayah. Arkan membuka pintu ruang


kerja Marvin.


"Duduk, ada yang mau Ayah tanyain ke kamu," kata Marvin saat melihat putranya masuk.


"Kenapa, Yah?" tanya Arkan.


Pemuda itu duduk di kursi yang ada di sana.


"Ayah curiga, data-data perusahaan Reynald itu akibat ulah kamu, apa benar?"


Arkan terkejut saat Ayahnya bertanya seperti itu.


"Avah tau kalo kamu itu pintar, tapi sebenarnya apa niat kamu dibalik ini semua?"


Arkan menghela nafasnya dia tau dia tidak bisa terus berbohong pada Ayahnya, Arkan menganggukan kepalanya.


"Iyah Ayah ini semua ulah aku, aku mau perusahaan itu jatuh ke tangan aku!" jawab Arkan dengan berani.


Marvin terkejut mendengar penuturan sang anak.


"Apa yang kamu lakukan Arkan itu udah nekat!"


"Perusahaan itu milik ibunya Kamila yang sudah tiada, walau bagaimana juga perusahaan itu harus kembali kepada Kamila bukan Laras atau pun Reynald!" jawab Arkan.


"Arkan tapi yang kamu lakukan itu salah, kamu terlalu gegabah. Semua ada resiko dan konsekuensinya!"


"Aku gak peduli Ayah!"


Marvin kembali dibuat terkejut dengan


jawaban Arkan, dia tidak habis pikir bagaimana bisa putranya senekat itu.


"Arkan jangan ambil keputusan sendiri, kamu gak tau konsekuensi apa yang nantinya terjadi, jadi sebisa mungkin kita harus meminimalisir konsekuensinya," kata Marvin berusaha bicara tenang dengan


putranya.


"Enggak Ayah, konsekuensinya aku udah tau. Laras dan Livia itu jahat Ayah dia pernah bayar preman buat lecehin Kamila dan membunuhnya, jika perusahaan itu


tetap di tangan Reynald Kamila akan


terus di siksa Ayah nya, aku curiga kalo


Om Reynald itu juga jahat," kata Arkan berusaha menjelaskan.


"Arkan gak boleh menuduh tanpa bukti, sudah sejauh mana kamu melakukan ini?" tanya Marvin.