
"'Aduh udah deh, Bang. Kamila itu kan baru sembuh, apa salahnya bawa mobil? Lagian sama aja kan bawa motor atau mobil juga kamu sampe di sekolah. Kenapa sih mesti ngotot bawa motor segala?" Omel Alisha pagi itu.
Wanita itu merasa sangat kesal karena Arkan ngotot ingin ke sekolah dengan menggunakan motornya. Sementara ia masih merasa khawatir dengan kondisi Kamila yang baru saja
sehat.
"Aku jamin nggak akan bakalan kenapa kenapa. Lagian nggak ngebut kok, Bunda. Aku janji bakalan hati-hati," kata Arkan.
"Pokoknya Bunda bilang enggak ya enggak. Bandel banget sih dikasih tahu," kata Alisha.
"Aku janji deh kalau Bunda ijinin aku bawa si ucup, Aku bakal ngelakuin apa aja yang Bunda suruh," kata Arkan.
"Yakin ngelakuin apa aja?" Tanya Alisha sambil memicingkan matanya.
"Yakin. Pokoknya Bunda boleh pegang omonganku deh. Kalo hari ini aku diizinin bawa motor aku bakalan ngelakuin apa aja yang Bunda suruh besok-besok."
Alisha langsung menyeringai, dia sudah tahu apa yang akan ia minta kepada putranya besok.
Tidak masalah, untuk kali ini dia mengalah dan membiarkan Arkan membawa motor kesayangannya untuk pergi ke sekolah. Tapi jika sampai ada apa-apa tentu saja Arkan yang kena semburan api panas.
Kamila dan Arkan pun berangkat bersama, Kamila turun dari motor Arkan dia merapikan rambutnya di spion Arkan.
Mereka ke kelas bersama, Kean dan Sean sepertinya masih di rumah mereka berdua tadi kesiangan.
Arkan berjalan beriringan dengan Kamila tanpa ada kontak fisik.
"Gih sana masuk, kalo ada apa-apa langsung bilang ke gue, jam istirahat juga jangan ke mana-mana tunggu gue," kata Arkan.
"lyah Arkan!" katanya.
Arkan mengantar Kamila ke kelas setelah itu Arkan masuk ke dalam kelasnya juga. Dia menelungkupkan kepalanya, di atas meja dan tidur. Seperti itulah Arkan, dia tidak peduli dan selalu melakukan apa yang hatinya mau.
Kamila yang baru saja dapat info untuk menjalankan tugas osis lantas melewati kelas Arkan dia ada tugas osis, Kamila menggelengkan kepalanya saat melihat Arkan tidur di kelas.
Saat Kamila tengah berjalan menuju ruang osis dia dihadang oleh Salsa dan antek-anteknya.
"Heh mau ke mana lo?" tanya Salsa.
"Minggir!" Seru Kamila dengan Suara tegas.
"Kalo gue nggak mau gimana?"
"Kalau nggak mau ya gue tabrak. Lagian ngapain sih lo ngalangin jalan? Lo pikir ini jalan nenek moyang lo?" kata Kamila.
"Eh, lo pake ilmu pelet apa sampai si Arkan nempel terus kayak perangko sama Lo?"
"Gue nggak pernah pake pelet gue pakenya cinta. Makanya dia nggak pernah lepas dari gue. Emangnya kenapa, masalah buat lo?"
"Masalah! Gue juga suka sama Arkan. Kalo gue gak bisa sama Arkan lo juga gak bisa! Lagian lo jadi cewek murahan banget sih belum nikah tapi udah satu rumah. Jangan-jangan lo udah pernah gituan lagi sama si Arkan," kata Salsa julid.
"Biasanya orang yang ngomongin kejelekan orang dia lagi ngomongin dirinya sendiri. Lo sering tidur ya sama cowok lo? Kalau gue sama Arkan sih, lo bisa tanya sama bokap nyokapnya kita pernah ngapain aja. Lagian ya, gue tinggal di rumah Arkan bukan gue yang mau. Orang tuanya Arkan yang nyuruh
gue tinggal di sana. Kalo lo ngerasa keberatan sana datengin orang tuanys Arkan terus ngomong deh sama mereka.
Lo berani?"
"Sialan Lo! Lo pikir gue cewek apaan?" sungut Salsa.
"Ya mana Gue tau lo cewek apaan. Yang tau lo model cewek apaan kan diri lo sendiri. Dan gue nggak peduli Lo model cewek apaan asal lo nggak ganggu gue, paham?!"
Kean dan Sean baru datang mereka terkejut melihat Kamila bertengkar. Mereka berdua langsung menghampiri Kamila.
"Eh ada apaan nih? Beraninya keroyokan!" Seru Kean.
Sean hendak angkat bicara tapi Kamila menariknya lalu menggelengkan kepalanya kepada Sean.
"Kalian berdua nggak usah ikut-ikutan, biar gue yang ngadepin cewek ini. Gue nggak takut kok kalo dia keroyokan. Dengan cara begini orang bakalan tau kalo dia itu cuman kucing! Gue gak bisa diem aja udah cukup selama ini gue diem!" kata Kamila.
"Loh gak salah nih? Kan lo yang mulai duluan kenapa lo juga yang sewot. Lo pikir gue bakalan diem aja hah? Lawak lo!" jawab Kamila.
"Bang! Bang! Cewe lo lagi ribut di koridor!" panggil adik kelasnya.
"Serius lo?" tanyanya.
"Serius Bang!"
Arkan yang berada di kelas terkejut kala ada yang memanggilnya berkata Kamila sedang bertengkar.
Arkan bangkit, benar saja ada kerumunan dia membelah kerumunan, Kamila tengah menatap Salsa sinis.
"Dasar cewe murahan, kalo lo gak murahan lo gak bakalan mau tinggal sama cowo yang bukan suami lo!"
"Dasra jala-"
PLAK!
Kamila menampar Salsa kencang membuat gadis itu memegangi pipinya.
"Berani lo nampar gue?" pekik Salsa.
Kamila mencibir kemudian ia menatap tajam ke arah Salsa. Dengan kuat ia mendorng tubuh gadis itu hingga Salsa terhuyung ke belakang.
"Gue? Takut? Sama lo? Arkan gak pernah ngajarin gue buat takut sama orang kayak lo, lo bukan orang penting dalam hidup gue! Lo iri sama gue karena dikelilingi orang-orang baik gak kayak dayang-dayang lo ini, lo gak punya duit pasti mereka pergi! Miris!" jawab Kamila sakrastik.
"Maksud lo apa?" saut Desi salah satu teman Salsa.
"Gue gak ngomong sama lo, sekarang minggir, gue mau lewat!"
Tanpa menunggu jawaban Salsa lagi, Kamila kembali menyenggol bahu Salsa sehingga ia pun bisa leluasa berjalan meninggalkan gadis menyebalkan itu.
"Cewe gue tuh!" kata Arkan kepada semuanya.
Arkan tersenyum Kamilanya sudah tidak mau ditindas. Pemuda itu pun segera menyusul langkah Kamila.
"Sstt stt cewe!"
Kamila melihat siapa yang berada di sampingnya, ternyata Arkan dia bersidekap dada.
"Cantiknya Arkan sekarang udah berani yah!" kata Arkan sambil menyamai langkah kaki Kamila.
Kamila menghentikan langkahnya, "Lo bukannya tadi tidur di kelas? Terus ngapain ngikutin gue?" tanya Kamila heran.
Arkan terkekeh dia mengusap kepala Kamila, "Tadi anak-anak bilang lo lagi berantem, tadinya gue mau bantuin cewe gue, tapi... Setelah apa yang gue liat lo jadi bisa bela diri sendiri Senyum Kamila mengembang, Gue gak mau jadi Kamila yang lemah lagi Arkan?!"
"Harus Mil! Kalo lo gak bisa bela diri lo sendiri biar gue aja yang bales perlakuan mereka!" jawab Arkan.
Kamila menggelengkan kepalanya, "Gak usah, biar gue belajar dari lo Arkan!"
Arkan melihat ke sekeliling, sepi! Arkan merogoh saku jaketnya.
"Ambil! Siapa tau lo butuh!" kata Arkan, dia memberikan pisau yang biasa dia bawa.
Kamila menatap Arkan pemuda itu tersenyum dengan smirknya, "Kalo mau bales orang jangan setengah-setengah!
Nanggung!"
Kamila mengambilnya lalu memasukan ke sakunya, Arkan tersenyum dia lalu menepuk kepala Kamila pelan.
"Gue ke kelas dulu yah, sampe ketemu di jam istirahat!"
Arkan pergi meninggalkan Kamila yang masih terdiam, Kamila memegang kepalanya sambil tersenyum.