
"Nggak apa-apa Pak sekali-kali, ayo Pak Anto itu ada sate lilitnya juga. Ayo anak-anak yang lain dimakan, kalian boleh pesan lagi kalau masih kurang. Kalian kan baru aja main dengan semangat pasti energinya abis!" kata Alisha.
"lya Tante, ini makanannya enaknsemua tapi sayang...."
Bastian sengaja menggantung ucapannya. Tetapi Kean yang sudah tahu dan mengenal Bastian langsung berteriak, "Sayang nggak ada nasi padang! Woy ini di Bali!"
Dan perkataan Kean pun membuat yang lain tertawa terbahak-bahak. Ada-ada saja kelakuan mereka itu.
"Nanti pulang ke Jakarta makan nasi padang yang kenyang, sekarang makan yang ada dulu!" kata Arkan.
"Ah nggak mau, beda rasanya. Kecuali kalau beli nasi padangnya lo traktir," jawab Bastian.
"Gue beliin sama rumah makannya sekalian biar lu kenyang!" Kekeh Arkan.
Mereka semua pun tertawa tidak terkecuali Pak Anto.
"Saya senang loh Pak ternyata mereka ini sangat kompak. Padahal mereka terkenal bandel di sekolah, tapi ternyata persahabatan mereka itu solid ya," kata Pak Anto kepada Marvin.
"'Sebenarnya anak-anak itu nggak ada yang bandel, Pak. Mereka cuman mau dimengerti sama kita yang dewasa. Itulah kenapa kita harus jadi sahabat untuk mereka supaya bisa mengerti apa yang menjadi keinginan mereka. Saya selama ini selalu membebaskan Arkan atau Kayla untuk berpendapat, jadi mereka merasa dihargai!" ucap Marvin panjang lebar.
"Betul sekali, Pak. Saya setuju dengan apa yang Anda katakan. Saya juga salut, Pak Marvin padahal sibuk. Tapi, demi anak mau meluangkan waktu untuk menyusul kemari dan menonton pertandingan serta memberikan semangat."
"Saya hanya berusaha untuk menjadi orang tua yang baik bagi anak saya, Pak. Jika bukan saya dannBundanya yang mendukung siapa lagi yang mendukung Arkan?" jawab Marvin.
"Terima kasih Pak Marvin," kata Pak Anto.
"Sama-sama, Pak."
***
Setelah selesai makan mereka pun kembali ke hotel karena besok mereka harus kembali ke Jakarta dengan penerbangan pagi.
Arkan tampak sedang berada di kamar Kamila untuk membantu Gadis itu membereskan pakaiannya bersama dengan Kayla.
"Kamu seneng nggak, Kay? Main ke Bali?" Tanya Arkan.
"Senang lah. Aku kan kemarin diajakin Bunda ke pantai terus beli banyak baju sama aksesoris yang lucu-lucu. Nanti aku bakalan liatin ke teman-teman sekolah aku kalau aku baru liburan," jawab Kayla.
Arkan hanya mengacak rambut adiknya itu. Terkadang ia dan Kayla bisa akur tetapi terkadang mereka juga bisa bertengkar seperti Tom dan Jerry.
"Besok kita pulang Yang. Kata Ayah lusa lo Udah periksa ke dokter. Kita semua berharap yang terbaik buat lo."
"Semoga kak Mila bisa cepat jalan lagi ya," kata Kayla.
Kamila memeluk Arkan dan Kayla bersamaan. Ya merasa sangat senang
sekali.
Kamila tadinya berpikir, jika ia sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi setelah kakek dan neneknya meninggal dunia.
Tetapi ternyata kasih sayang dari kedua orang tua Arkan membuatnya memiliki keluarga yang baru.
"Makasih yah, gue sayang lo Arkan!" kata Kamila.
"Kak Mil gak sayang Kay?" tanya Kayla.
"Sayang dong! Kak Mila Sayang Kay!" ujar Kamila sambil tertawa.
Kayla memeluk Kamila erat, "Yeay aku juga Sayang Abang sama Kaka Mila.
***
"Hah... akhirnya kita sampe juga di rumah. Bunda pegel juga nih di dalem pesawat dari tadi," kata Alisha sambil bersandar di sofa.
"lyah Bund, Kay juga cape banget, habis ini Kay mau tidur aja!" saut si kecil Kayla.
Semalam mereka tidur memang sedikit larut karena merayakan kemenangan Arkan dan teman-temannya. Dan pagi hari mereka Sudah harus ke bandara untuk terbang kembali ke Jakarta.
"Nanti siang nggak usah masak deh, Bund. Kita delivery order aja," kata Marvin.
"Ya udahlah, kita istirahat dulu sekarang.'
Melihat Kamila yang juga tampak lelah, Arkan langsung menggendong Kamila menuju kamarnya.
"Lo juga harus istirahat, besok kita ke rumah sakit."
Kamila tersenyum lalu menganggukan kepalanya.
"Biar nggak lama, lagipun emang kursi rodanya bisa naik tangga sendiri?" jawab Arkan.
"Enggak sih!" kata Kamila sambil tertawa kecil, Arkan mengacak rambut Kamila gemas.
Alisha hanya tersenyum mendengar percakapan kedua anaknya itu kemudian ia pun mengikuti dari belakang.
Alisha juga masuk ke dalam kamar Kamila dia mau membantu Kamila mengganti baju.
"Kok Bunda ikutan masuk ke kamar Kamila?" tanya Arkan.
Alisha langsung memicingkan mata sambil melotot ke arah putra sulungnya.
"Bunda mau bantuin Kamila ganti baju. Emangnya kamu yang mau gantiin dia baju? Ish, enak aja," semprot Alisa.
"Loh, ya emang enak, Bun. Aku rela kok kalo disuruh gantiin baju Kamila, lumayan rejeki nomplok!" jawab Arkan ngeyel.
"Auwww!"
Alisha pun spontan mencubit pinggang Arkan hingga pemuda itu mengaduh kesakitan.
"Ih, Bunda mah main fisik."
"Abis kamu berisik, Bang. Udah sana keluar Kamila mau ganti baju. Jangan ngintip ya! Kalo ngintip matanya bintitan biarin!" perintah Alisha.
Arkan tertawa, dia mendudukan Kamila di pinggir kasur.
"Gue keluar dulu, nanti abis makan malem gue ngungsi pengen peluk. Kangen!" bisik Arkan di telinga Kamila.
Mendengar hal itu pipi Kamila pun langsung bersemu merah. Tentu saja hal itu tidak lepas dari penglihatan Alisha.
"Heh kamu bisik-bisik apa?" tanya Alisha penasaran.
"Bunda kepo," jawab Arkan sambil berlalu keluar membuat Alisha geleng-geleng kepala.
Siang itu mereka semua terlambat makan siang karena memang setelah pulang dari bandara mereka langsung tertidur.
Karena memang tidak sempat memasak, Alisa memesan makanan dari luar.
Setelah selesai makan siang mereka pun kembali beristirahat. Sementara Marvin kembali ke kantor karena harus menyelesaikan beberapa urusan pekerjaan. Mau bagaimana pun Marvin seorang pemimpin perusahaan dia harus profesional.
***
Tak terasa malam berlalu, semuanya sekarang sedang berkumpul di meja makan.
"Kean, Sean! Kalian tinggal di sini aja yah, Tante gak masalah kok. Biar rumah juga rame!" kata Alisha.
"Kita takut ngerepotin Tante sama Om!" jawab Kean.
"Kalian gak ngerepotin, justru dengan adanya kalian Om dan Tante merasa terbantu, kan seru kalo rumah rame," saut Marvin.
"Maaf yah Om Tante, kalo kita ngerepotin, kita udah gak tau mau ke mana lagi, kita punya orang tua tapi gak ada yang peduli!" kata Sean, terlihat ada nada sedih dalam kalimatnya.
"Jangan sungkan, sekarang kita keluarga!" saut Arkan ikut menimpali.
Kean dan Sean sangat bahagia karena ada yang mau menampung mereka, keluarga nya Arkan sangat baik.
"Kamila juga, kalo ada apa-apa kamu kasih tahu Bunda ya. Misalny mau ke mana kasih tahu bunda atau si mbok. Atau kalo Bunda gak denger dan ada Arkan suruh dia bantu kamu."
"lyah Bunda!" jawab Kamila.
"'Apa nggak lebih baik kamila tidur di kamar bawah aja? Kasihan kan kalau dia harus turun naik tangga kalo kondisinya kayak gini," kata Marvin kepada Alisha.
"Mila mau di kamar bawah?"
Kamila menggelengkan kepalanya, "Enggak Bunda, Mila mau di atas aja kamarnya sampingan sama Arkan. Kalo ada apa-apa kan Arkan bisa bantu Mila," katanya.
"Kalau masalah naik turun kan ada Arkan, Kean atau Sean, Bunda juga yakin Arkan pasti selalu siaga. Bunda cuman takut Kamila perlu sesuatu terus nggak kedengeran. Kalo dia di kamar atas kan Bunda bisa tahu kalau dia butuh apa-apa," jawab Alisha.
"Nanti kalo Mila butuh sesuatu, Mila telpon Arkan atau Bunda!" katanya.
"lya Mila, Bunda nggak mau bayar perawat karena Bunda pengen bunda sendiri yang merawat kamu. Sampai hari ini Bunda masih ngerasa bersalah karena kecelakaan itu," kata Alisha.
"Kan udah Mila bilang, Bund. Nggak ada yang salah dalam kecelakaan ini. Mila juga reflek karena cewek itu hampir ketabrak. Yang Mila pikirin waktu itu Cuman nolong orang.
"Kamu tuh terlalu baik, Mila. Mulai sekarang boleh nolong orang tapi pikirin juga diri kamu sendiri. Kalo kira-kira kamu nolong jadinya malah kamu yang celaka ya jangan. Bunda sayang sama kamu," kata Alisha sambil memeluk Kamila.