Badboy Yang Menyebalkan

Badboy Yang Menyebalkan
32. Mengobati Luka


Kamila masih berada di motor yang sama dengan Arkan. la masih memeluk pinggang Arkan dengan kencang.


Gadis itu masih merasa syok dengan apa yang baru saja menimpa nya. Sejak tadi Arkan pun hanya diam, tadi dia sempat mengucapkan maaf karena membuat Kamila takut, setelah itu Kamila tidak berani mengajak Arkan bicara.


Padahalbbiasanya pemuda itu selalu menggodanya jika berada di atas motor.


Tiba-tiba saja Arkan membelokkan motornya di sebuah toko sembako.


"Lo tunggu di sini sebentar," kata Arkan dengan singkat.


Kemudian, ia pun turun. Kamila melihat Arkan berbicara dengan pemilik toko. Keliatannya mereka sudah saling kenal, pemilik toko itu tersenyum ramah kepada Arkan.


"Ikutin motor saya ya, Pak," kata Arkan kepada pemilik toko itu.


"Beres Nak Arkan, anak buah saya langsung ikutin dari belakang," kata pemilik toko itu.


Kamila mengerutkan dahinya ia menatap Arkan penuh tanda tanya.


"Lo kenapa ngeliatin gue kayak gitu?" tanya Arkan.


Kamila menggelengkan kepalanya perlahan. la masih merasa takut jika mengingat bagaimana Arkan marah. Lelaki itu benar-benar seperti orang kesurupan.


Jujur, Kamila takut sekali. Arkan jika sedang marah memang seperti bukan Arkan dia seperti dikendalikan oleh orang


lain.


Arkan kembali mengemudikan motornya dengan Kamila yang terus diam di belakangnya. Kamila hanya berharap jika emosi Arkan sekarang sudah mereda.


Setelah beberapa saat Arkan memasuki sebuah tempat dengan plang yang bertuliskan 'panti asuhan pelita harapan.'


Kamila tentu saja bingung ia mengerutkan dahi kemudian memberanikan diri untuk bicara.


"Ar-Arkan," panggil Kamila sedikit gugup.


Arkan turun dari motor lalu melepas helmnya, begitu juga Kamila.


"Kenapa Mil?" tanya Arkan.


"Kita ngapain ke sini? Lo gak mau ninggalin gue di sini kan? Gue bukan yatim piatu loh," kata Kamila takut-takut.


Arkan melongo sebentar lalu tawa Arkan meledak seketika.


Pletak...


Arkan menyentil dahi Kamila gemas.


"Ngawur, masa iya gue mau ninggalin lo di sini, jadi buronan bokap lo nanti gue. Gue abis beli sembako tadi Bunda yang nyuruh ke sini, tuh anak buah pegawai tokonya


ngikutin gue ke sini buat bawa sembakonya," kata Arkan panjang lebar.


Kamila bernafas lega Arkan yang melihat itu tertawa saja.


"Kenapa lo ketawa?" tanya Kamila.


"Lo lucu, tadi di motor diem aja kenapa lo?" Arkan balik bertanya.


"Gak papa!" jawab Kamila.


dia tidak mungkin memperjelas jika dirinya takut pada Arkan apalagi tadi saat melihat Arkan seperti orang kesetanan, gengsi dong, tapi sekarang sepertinya emosi Arkan sudah membaik terlihat dari tingkahnya yang suka sekali memancing emosi Kamila.


"Lo kenapa mikirnya mau gue tinggalin di panti?" tanya Arkan.


"Ya kan lo mah suka ngadi-ngadi, siapa tau lo mau ninggalin gue di sini, jadi lo beliin gue sembako biar gue bisa makan di sini. Abis itu lo ninggalin gue gitu aja," kata Kamila.


"Idih lo mah udah gede gak pantes di sini, yang pantes di sini tuh anak-anak kecil yang gak punya orang tua, kalo lo mah masih ada bapak lo, masa iya gue tinggalin di sini. Mending lo di rumah gue aja jadi


mantunya Ayah Bunda," kata Arkan


sambil menaik turunkan alisnya.


"Males! Siapa juga yang mau kawin sama lo?" kata Kamila sinis.


"Kawin atau nikah Mil? Kawin dulu gitu maksud lo? Ayo! Gak papa gue gak akan nolak kok nanti abis itu gue minta nikah sama Ayah Bunda, gimana?"


Kamila memukul lengan Arkan.


"Sialan! Otak lo kotor banget! Rese!" kata Kamila sambil mengerucutkan bibirnya.


"Rese juga lo demen kan? Jangan lupa Mil gue yang nyelametin lo. Kalo gak ada gue, gue gak tau tadi gimana nasib lo sama si Revan jadi lo harus makasih sama gue! Gak susah kok Mil, caranya lo nikah sama gue gimana? Ya minimal kalo belum siap nikah,


kawin dulu juga gak papa Mil. Yu kawin yu," kata Arkan.


"Ihhhh rese!"


"Sakit Kamila?!" Kamila tadi mencubit Arkan dengan gemas.


"Abisnya lo ngeselin!"


Tiba-tiba saja suara motor mendekat menghentikan perdebatan keduanya. Terlihat Bastian, Daren, Kean dan Sean turun dari motor begitu juga anak buah pemilik toko sembako.


Teman-teman Arkan tanpa disuruh langsung membantu untuk menurunkan barang-barang dan memasukkannya ke dalam panti.


Ibu panti asuhan pun senang menyambut kedatangan mereka ia memeluk Bastian dan Darren dengan hangat begitu juga kepada Kean dan Sean.


"Aduh, anak-anak Ibu udah lama nggak ke sini. Loh ini Daren kenapa mukanya? Kalian pasti habis berantem, ya?" kata ibu panti.


"Biasa Bu, anak cowok kalau nggak berantem nggak keren dong," kata Daren.


"Kok ya piye toh ... jangan kayak gitu ah. Nggak baik berantem. Eh, ini Arkan sama siapa? Kok ibu baru lihat, pacarnya Arkan ya?" tanya ibu panti.


Kamila langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Bukan, Bu ... saya bukan pacarnya kok saya cuman temen," kata Kamila.


"Pacar Bu, dia mah gengsi aja!" saut Arkan, sedangkan Kamila sudah menahan kesal kepada Arkan.


"Aduh cantik sekali pacarnya Arkan, namanya siapa Sayang?" tanya ibu panti dengan ramah.


"Kamila Bu, tapi saya bukan pacarnya Arkan!"


"Aduh si Neng mah suka gitu malu-malu, Arkan pinter cari pacar yah!" Kamila melihat ke arah Arkan dengan tatapan permusuhan.


sedangkan Arkan hanya tertawa meledek kepada Kamila. Melihat wajah pemuda pemuda itu memar, wanita setengah baya itu kemudian masuk ke dalam panti. Lalu


keluar dengan kotak P3K dan memberikannya kepada Kamila.


"Neng geulis ini obatnya takut mau pada ngobatin lukanya!" kata Ibu Panti.


"Terima kasih Bu!" jawab Kamila sambil tersenyum.


"Ayo sini!"


Kamila menarik tangan Arkan dan nembawanya duduk di kursi dekat mainan anak anak.


"Diem lo di sini!" kata Kamila.


"Banyak gerak gue mutilasi lo!" ancam Kamila.


Kemudian Kamila pun langsung mengobati luka Arkan. la merasa sangat bersalah karena Arkan harus babak belur gara gara dirinya.


"Cie ... lo ngobatin luka gue, pasti karena lo ngerasa bersalah kan bikin gue kayak gini?" kata Arkan.


"Anggep aja ini ucapan terima kasih karena lo udah nyelamatin gue,'' kata Kamila.


"Ah bilang aja lo cinta Mil. Kayak gitu aja Lo pakai sembunyi-sembunyi. Udah jawab aja, lo cinta kan sama gue?" kata Arkan dengan percaya dirinya.


"Gue kagak suka ama lo. Siapa juga yang mau jadi pacar berandalan kayak lo," jawab Kamila.


"Kamila," panggil Arkan.


"Kenapa?" tanya Kamila masih serius mengobati luka di dahi Arkan.


"Gue gak mau ngajak lo pacaran tapi nanti lo nikahnya sama gue yah!"