
Siang itu sepulang sekolah, Arkan bergegas membawa Kamila ke tempat parkir. Mereka akan makan siang kemudian setelah itu ke tempat terapi.
"Hari ini mau makan siang apa Yang? Kita gak usah pulang dulu ke rumah. Langsung ke rumah sakit aja, kalo pulahng dulu bakalan muter lagi, jauh! Jadi kita makan siang di luar aja yah!" kata Arkan kepada Kamila.
"Siang ini panas banget, kayaknya enak deh makan soto ceker, kita beli itu aja yu. Dikasih jeruk nipis sama sambel jadi pedes asem seger gitu!" kata Kamila dengan riang.
Arkan tersenyum lalu mengganggukkan kepalanya kemudian la pun membawa Kamila ke sebuah restoran yang menyediakan aneka soto. Melihat soto yang sangat ia inginkan tersaji di hadapannya, Kamila tersenyum senang dan makan dengan lahap. Hal itu tentu saja membuat Arkan uga ikut tersenyum.
Arkan mengusap kepala Kamila," Pelan-pelan aja Sayang, gak akan ada yang minta kok. Kalo buru-buru nanti tenggorokannya sakit, jadi makan pelan-pelan sampe kenyang!"
Kamila tertawa kecil dia menganggukan kepalanya, "Sotonya enak banget, makasih yah lo selalu nurutin apa gue mau!" kata Kamila.
Arkan mengembangkan senyumnya, dia akan memberikan apa pun pada Kamila, dia segalanya untuk Arkan.
Dan Kamila juga baru menyadari sejak mereka pulang dari Bali, Arkan Sudah jarang berkumpul bersama teman temannya lagi di basecam Sehari-hari la hanya mengurusi Kamila. Arkan selalu ada untuk Kamila kapan pun dan di mana pun.
Setelah selesai makan, Arkan mengantar Kamila terapi, dia selalu setia berada di samping Kamila jika Kamila hampir jatuh maka Arkan akan menangkapnya.
Arkan tidak malu sedikit pun karena di mata Arkan, Kamila selalu sempurna.
Saat Kamila tengah belajar berjalan dengan tertatih tatih. Tiba ada segerombolan wanita dia melihat Arkan sambil menatap kagum karena ketampanan Arkan.
"Ih gila cakep banget ya, keren deh dia. Pasti anak orang tajir, tapi... Sayang deh cewenya cacat!" kata salah satu dari mereka sambil melirik Kamila.
"lya mendingan gue ke mana-mana. Palingan dia itu cuman kasihan aja sama ceweknya makanya mau bareng-bareng. Pasti dia juga ngerasa malu jalan sama cewek kayak gitu."
"Tapi bisa jadi itu adeknya, cowo jaman sekarang mana mau sama cewe cacat begitu!"
"Hahaha iyah!"
Kamila yang kebetulan mendengarkan gunjingan dari wanita-wanita itu menatap Arkan dengan tatapan yang sulit diartikan oleh pemuda itu.
Tetapi, Arkan sangat yakin jika saatini Kamila merasa sangat malu dan rasa percaya dirinya pun berkurang. Perlahan Arkan pun menggenggam tangan Kamila dengan erat.
"Gak usah di dengerin omongan mereka. Yang paling tau gimana gue itu lo, yakinin apa yang hati lo yakinin!"
Kamila menundukan kepalanya dia benar-benar sakit mendengar perkataan
wanita tadi.
"Mil, lo harus percaya kalo gue gak sepicik itu. Lo tau kan perjuangan gue buat selalu ngelindungin lo. Dan semua yang gue lakuin itu bukan karena gue kasian sama lo, gue sayang sama lo Mil. Lo berharga buat gue!" kata Arkan berusaha meyakinkan Kamila.
Kamila hanya menganggukkan kepalanya kemudian melanjutkan terapi mereka. Tapi Arkan sangat yakin jika Kamila masih memikirkan perkataan wanita-wanita tadi yang meremehkan dan menghinanya.
Hingga saat terapi sudah selesai Kamila pun hanya diam.
"Kenapa Sayang? Masih kepikiran omongan orang-orang tadi? Udah lah Mil gak usah di pikirin kan kita juga gak kenal sama mereka. Kita juga gak pernah nyusahin mereka atau minta uang sama mereka, jadi ngapain dengerin omongan mereka gak penting Sayang! Gue gak suka lo nantinya drop Cuman gara-gara omongan orang yang gak jelas, lo harus percaya sama gue! Gue sayang sama lo Mil!" kata Arkan panjang lebar.
"Gue nggak apa-apa kok, Gue cuman capek aja," jawab Kamila sambil tersenyum.
Arkan hanya menghela nafas panjang, meskipun Kamila mengatakan tidak apa-apa dan hanya merasa lelah tetapi akan sangat yakin jika Gadis itu masih merasakan sedih.
Arkan pun menghentikan mobilnya di taman dan itu membuat Kamila heran.
"Kita ngapain di sini?" tanya Kamila kebingungan.
"Jajan, di sini ada banyak yang jual makanan. Ada es cream, martabak, bakso ada telor gulung juga. Kita jajan aja dulu abis itu baru pulang, lo pasti capek buat ngilangin capeknya lo mau ngemil kan?" kata Arkan dengan sangat antusias.
"Kata siapa Gue laper? Kita pulang aja yuk?" kata Kamila dia melihat keluar mobil ada banyak orang dia tidak mau membuat Arkan malu dengan membawa gadis cacat seperti dia.
Tetapi, Arkan tidak menjawab dia keluar dari mobil lalu membuka pintu samping lalu menggendong Kamila keluar dari mobil.
"Pak, satu porsi yah telor gulungnya!" kata Arkan.
"'Siap Mas ditunggu yah!"
Kamila melingkarkan tangannya ke leher Arkan. Arkan melihat Kamila di tersenyum.
"Pak istri saya cantik kan?" tanya Arkan membuat Kamila terkejut.
"Cantik Mas, Mbaknya mukanya gak ngebosenin. Pengantin baru yah?" tanya Si Bapak penjual.
"lyah Pak, masih anget-angetnya nih, manja kan minta digendong!" kata Arkan membuat Kamila semakin malu.
"Arkan!" desis Kamila pelan.
"Iyah Sayang!"
Lagi-lagi wajah Kamila semakin memerah akibat ulah Arkan. Setelah membeli telor gulung Arkab juga membeli makanan lain di setiap penjual Arkan selalu bertanya apakah istrinya cantik dan itu berhasil membuat Kamila malu dan senang secara
bersamaan.
Entah apa yang ada dipikiran Arkan dia bertanya seperti itu. Hal itu tentu saja membuat Kamila merasa Arkan sangat mencintainya dia juga tersanjung. Dan itu juga membuat orang-orang yang melihat merasa sangat iri dengan hubungan mereka.
Wanita mana yang tidak akan meleleh jika diperlakukan begitu manis. Apalagi laki-lakinya modelan Arkan.
"Lo ini bikin gue malu aja," kata Kamila kepada Arkan dia menyembunyikan wajahnya di dada Arkan.
Arkan terkekeh dia tau Kamila pasti sangat malu, "Kenapa harus malu Sayang? Tadi gak denger kata para penjual, kalo lo itu cantik jadi gak boleh insecure! Denger yah Yang, mau lo kayak gimana juga gue tetep sayang sama lo. Jangan pernah ngerasa rendah diri gara-gara kekurangan lo!" kata Arkan.
Kamila hanya diam, Arkan selalu bisa membaca pikirannya. Entah bagaimana dirinya tanpa Arkan. Arkan seperti malaikat pelindung untuk Kamila.
"Makasih ya," kata Kamila.
"Makasih buat apa?" Tanya Arkan.
"Makasih, karena lo selalu ada buat gue. Makasih karena lo selalu belain gue dan nggak pernah malu punya pacar kayak gue yang banyak kekurangannya."
"Tau nggak sih, Mil... kalau di dunia ini nggak ada manusia yang sempurna. Semua manusia itu punya kekurangan masing-masing. Dan juga punya kelebihan. Kelebihan gue buat nutupin kekurangan lo, dan kelebihan lo buatnutupin kekurangan gue. Gue bukan manusia yang sempurna, gue juga punya banyak kekurangan. Contohnya gue gampang kesel, gampang emosi nggak jelas. Sementara lo sabar dan
baik banget. Jadi kita ini saling melengkapi. Gua minta mulai sekarang lo jangan pernah dengerin apa kata orang. Kalo ada yang ngehina lo lawan, jangan diem aja. Lo itu terlalu baik jadi orang. Berusahalah untuk berbuat baik tapi gak ngerugiin diri lo sendiri," kata Arkan sambil menatap mata Kamila dalam.
Kamila mengganggukan kepalanya kemudian memeluk Arkan.
"Gue ngerti, maafin gue ya kalo gue terlalu baperan."
"Gue ngerti kok, tapi gue salut sama lo. Lo itu cewek paling kuat yang pernah gue temuin. Lo bisa bertahan dari segala masalah yang hadir dalam hidup lo. Nggak semua cewek bisa kayak lo, gue bangga karena si cantik ini calon istrinya Arkan," kata Arkan.
Kamila pun tersenyum, "Gue bisa kuat karena ada lo di deket gue. Karena ada temen-temen lo yang ngedukung gue. Kalo gue sendirian mungkin gue udah lama bunuh diri."
"Lo nggak pernah sendirian, Mil. Ada gue sama anak-anak yang lain. Ada Ayah, Bunda sama Kayla. Dan kita semua sayang sama lo," jawab Arkan.
"Gue juga sayang banget sama kalian semua."
"Kalo gitu jangan sedih lagi, ya," kata Arkan.
Kamila pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum manis. Arkan tersenyum juga dia mengusap kepala kekasihnya, "Nah kalo senyum gini kan cantik!"
"Mwahhh!"
"Punya Arkan!"