
Prok... Prok... Prok...
"Selamat datang Tuan Muda Arkan yang terhormat!" Ucap Revan bertepuk tangan sambil tertawa meledek Arkan.
"Lepasin tuh cewe! Urusan lo sama gue, dia gak ada kaitan nya?!" kata Arkan.
Revan tertawa, kemudian ia menghampiri Kamila lalu menyentuh dagu Kamila.
"Oh, jadi ini cewek lo? Cantik banget. Gimana kalau kita pesta aja? Sekarang lo nikmatin dia dulu, terus udah gitu kita gilir," kata Revan.
"Najis! Lo pikir gue cewek murahan? Gue nggak sudi!" teriak Kamila.
Plak....
Revan pun menampar wajah Kamila dengan kencang sehingga membuat sudut bibir Kamila berdarah.
"Berani lo teriak ke gue?!" ujar Revan dengan marah.
"Sialan lo! Berani nyakitin dia urusan lo sama gue?!"
BUGH.....
Melihat Kamila yang meringis sakit tentu saja membuat Arkan naik pitam, ia langsung memukul Revan dengan keras.
Terjadilah perkelahian antara anakanak Gravendal dan Sniper.
Arkan naik pitam. la membuat Revan babak belur karena sudah berani melukai Kamila.
"Mati lo hari ini di tangan gue!"
Bugh... Bugh... Bugh.
Arkan menindih tubuh Revan sambil terus memukuli nya membabi buta.
"Dia cewe gue, satu luka yang lo buat sama dia, seribu luka yang harus lo terima?!"
Bugh...
Revan memukul wajah Arkan membuat Arkan sedikit lunglai. Arkan langsung bangkit dia tidak akan menyerah begitu saja.
"Cuih... Sini lo?!"
Arkan meludah tatapan nya sangat menghunus kepada Revan bak pedang yang siap menebas kepala korban nya.
Bugh..
Pukulan Revan tepat mengenai pelipis Arkan membuat dahi Arkan sedikit lecet dan berdarah karena terkena kayu.
Arkan mundur sedikit dia menyeka darah yang ada pelipis nya dia tersenyum licik, setelah itu Arkan kembali maju ke depan dia menarik kerah baju Revan lalu mendorong nya hingga jatuh.
BRUKH...
Arkan memukuli Revan dengan membabi buta, Arkan seakan tidak sadar dengan apa yang dia lakukan.
Bugh... Bugh...
Kamila yang melihat Arkan seperti orang kesehatan pun panik. Sean pun membantu Daren dan membantu Kamila melepaskan
ikatan nya.
Setelah ikatan lepas, Kamila pun berlari. Ia hendak melerai perkelahian antara Arkan dan Revan. Tetapi, Kean langsung menarik
tangan Kamila sambil menggelengkan
kepalanya.
"Jangan gila Kamila! Arkan lagi kesetanan dia gak akan sadar nanti malah lo yang kena," kata Kean.
"Hahah KO kan lo, berani berani nya lo bawa bawa cewe gue ke masalah ini! Lo emang udah bosen hidup?!" ucap Arkan sambil mengusap darah di sudut bibir dan pelipis nya.
"Cewe lo murahan Arkan?!"
"Brengsek!"
Tiba-tiba saja, pemuda itu mengeluarkan pistol dari saku jaketnya dan mengarahkan nya kepada Revan yang sudah terjatuh di
tanah.
DOR!
PRANG!
Suara tembakan membuat semua terkejut. Arkan menembakkan pistol ke kaca membuat kaca itu pecah seketika.
Napas Arkan memburu, kemudian ia mengarahkan pistol itu ke dada Revan.
"Gimana kalo jantung lo bernasib sama kayak kaca itu?" kata Arkan.
Revan tertawa terbahak bahak, dengan sengaja ia memancing emosi Arkan.
"Setan?!"
Mendengar perkataan Revan yang seperti menantang nya emosi Arkan naik ke ubun-ubun.
Arkan hampir saja menarik pelatuk pistol nya. Tetapi Kamila berlari secepat nya lalu menubruk tubuh Arkan dan memeluk nya.
"Jangan!" kata Kamila.
Dia memeluk Arkan erat. Teman teman
Arkan terkejut saat Kamila nekat mendekati Arkan.
"Kamila! Lepas! Gue mau bunuh setan ini Mil, dia gak pantes hidup?!" kata Arkan berusaha melepas pelukan Kamila.
Kamila menggelengkan kepala nya kuat kuat dia semakin mempererat pelukan nya.
"Enggak?! Gue gak akan biarin lo jadi pembunuh, lo gak pantes ngotorin tangan lo cuman buat manusia gak punya otak kayak dia!" ujar Kamila khawatir.
"Tapi dia udah nyakitin lo Kamila?!" kata Arkan dengan sangat tegas.
"Gue gak papa Arkan, gue baik baik aja! Udah ayo pergi?!" ajak Kamila menarik tangan Arkan.
"Lo gak papa gimana, ini luka Kamila?! Lo buta?" bentak Arkan yang emosi nya masih belum stabil.
Kamila terkejut mendengar itu tapi dia semakin memeluk Arkan dia menempellkan kepala nya di dada Arkan, tangan nya memegang tangan Arkan yang sedang memegang sebuah pistol.
Kamila melepas senjata itu dari tangan Arkan lalu memasukan nya ke dalam jaket Arkan.
"Arkan gue gak papa ini luka kecil nanti diobatin, sekarang kita pergi yah. Lo juga udah luka tuh kalo gak diobatin nanti infeksi. Gue laper Arkan gue cape, yu kita pulang!" rayu Kamila.
Namun tiba tiba saja Arkan melepaskan pelukan Kamila dia melihat luka di sudut bibir Kamila, tangan nya terulur untuk mengusap darah di sana.
"Sshh...." ringis Kamila.
"Sakit yah," lirih Arkan sambil mengusap darah yang mengalir.
Kamila menganggukan kepala nya setelah itu Arkan meninggalkan Kamila yang tengah menatap nya dalam.
"Arkan enggak!" Kamila menghadang Arkan yang hendak ke arah Revan.
"Minggir Kamila?!" Arkan menggser tubuh Kamila dengan pelan berbanding terbalik dengan nada Arkan menatap Revan yang
sudah terkapar tidak berdaya.
"Lo?!"
Bugh..
Arkan memukul wajah Revan sekali lagi.
"Itu pukulan terkhir buat hari ini, sekali lagi lo berani nyakitin cewe gue, abis lo di tangan gue?!"
Arkan membalikan tubuh nya lalu menarik Kamila keluar dari sana yang ikuti oleh anak-anak Gravendal.
"Arkan," panggil Kamila.
"Kenapa?" tanya Arkan.
"Luka lo?"
Arkan menghela nafas nya dia menghentikan langkah nya saat sampai di motor nya, dia melepas jaket nya lalu memaikan nya kepada Kamila.
Dia mengambil pistol nya yang berada di saku jaket nya lalu di masukan ke dalam saku celana sekolah nya.
"Naik!" kata Arkan dingin.
Kamila menatap ke arah Daren, Daren menganggukan kepala nya. Kamila naik ke atas motor Arkan, dia menarik pistol yang ada di saku celana Arkan lalu memasukan ke dalam saku jaket nya.
"Mil!"
"Gue yang pegang," ujar Kamila.
Arkan menyalakan motor nya lalu
pergi dari sana. Kamila memeluk Arkan dia
berharap emosi Arkan sudah mulai mereda, teman teman Arkan juga berharap begitu.
"Udah yah marah marah nya," ujar Kamila pelan.
"Gue takut!" lanjut nya.
Arkan menghela nafasnya dia mengusap tangan Kamila yang berada di pinggang nya.
"Maaf!"