
PLAK!
Mendengar bantahan dari kamila Reynald pun langsung menampar pipi Kamila.
"Kamu ini sekarang kalo disuruh ngebantah terus, ya! Apa sih susahnya ngelakuin hal itu? Tinggal kamu masukin aja ke makanannya. Disuruh nikah nggak mau, disuruh ngeracunin kedua orang tuanya juga nggak mau. Terus mau kamu apa?!" teriak Renald dengan kesal.
Kamil memegang pipinya yang terasa perih, "Papah jahat, sekarang Papah kasar sama Mila. Apa bedanya Papah sama Tante Laras?"
"Papah nggak tahu kan kalo selama ini Tante Laras itu selalu nyiksa Mila? Kalo Papah gak percaya, Mila punya buktinya waktu itu Arkan ngerekanm semuanya! Dan sekarang Papah juga bikin Mila sakit! Papah keterlaluan Papah jahat!" seru Kamila kesal dengan air mata yang mulai
mengalir.
"Hahahah kamu pikir saya peduli?"
Reynald tertawa, ia menyeringai dengan sangat licik untuk pertama kalinya Kamila melihat seringai licik itu di wajah ayahnya.
"Apa kamnu pikir saya nggak tahu kalau Laras sering mnenyiksa kamu saat saya gak ada di rumah? Saya tahu! Satu-satunya hal yang membuat saya tidak membunuh kamu karena harta. Asal kamu tahu saja Kamila, saya menikahi Mamah kamu bukan
 karena cinta tetapi karena Mamah Kamu itu orang kaya dan saya ingin menguasai hartanya. Tapi, siapa yang menyangka jika ternyata kamu malah hadir di tengah tengah kami sehingga kakek kamu yang sok kaya itu mewariskan semua hartanya atas nama kamu. Itu sebabnya saya nggak
pernah bisa bunuh kamu. Saya sengaja bersandiwa. Saya sayang kamu supaya kamu percaya saya adalah ayah yang baik tapi yang saya inginkan hanya harta," kata Reynald panjang lebar.
Kamila membelakan matanya terkejut seperti di sambar pertir saat ia mendengar perkataan sang ayah hati Kamila terasa begitu sakit. la tidak menyangka bahwa perkataan itu keluar dari mulut orang yang sangat ia cintai. Cinta pertamanya ayahnya.
"Ja-jadi selama ini Papah gak pernah sayang sama Mila?"
"Kalau dibilang sayang... biasa aja tuh, kalau dibilang nggak juga dari kecil kamu saya yang urus jadi ya saya nggak tega untuk menyiksa kamu. Tapi bukan berarti saya harus melarang Laras untuk menyiksa kamu. Ya terserah dia mau menyiksa kamu
atau enggak yang penting enggakdi depan saya. Tapi saat ini saya hanya mau kamu melakukan apa yang saya suruh kamu meracuni keluarga Arkan atau kamu yang saya racuni sekalian!" Kata Reynald.
"Papah kenapa jahat! Mila udah gak punya siapa-siapa selain Papah! Tapi sekarang?"
"Saya tidak peduli Kamila!"
BRAKH!
Lelaki itu pun keluar dari kamar Kamila sambil membanting pintu kamar, meninggalkan Kamila yang menangis tersedu-sedu di atas ranjang.
Untuk pertama kalinya Kamila merasakan sakit hati yang teramat sangat. Ia merasa kecewa kepada sang ayah, selama ini ternyata dia sudah ditipu mentah-mentah dan ia percaya begitu saja, betapa bodohnya ia.
Perlahan Kamila turun dari ranjang dan melangkah ke meja belajar, kemudian meraih foto sang Ibu dan memeluknya dengan erat sambil duduk di lantai dan
menyandarkan kepalanya di tembok.
"Mah, apa Mamah denger tadi Papah bilang apa? Sekarang Mila sendiri, Mla gak punya siapa-siapa selain Arkan! Mila takut Arkan ninggalin Mila juga, Papah jahat Mah, Papah nyuruh Mila buat bunuh
keluarganya Arkan. Mila gak bisa kayak gini Mah! Kenapa sih Mamah gak ajak Mila pergi aja hiks." kata Kamila sambil menangis.
"Mila udah gak kuat Mah, Mila ikut Mamah aja yah!"
Saking pulasnya Kamila tertidur ia tidak mendengar jika Arkan masuk dari balkon. Pemuda itu mengerutkan dahi saat melihat Kamila tidak ada di kamarnya dan Arkan pun tertegun saat melihat Kamila sedang duduk di pojok kamar bersandar di tembok
sambil memeluk sebuah bingkai kecil.
Perlahan arkan menghampiri gadis cantik yang menjadi kekasihnya itu kemudian menggendongnya dan menaruhnya di atas ranjang perlahan-lahan.
Lalu ia pun mengunci pintu kamar kemudian duduk di samping Kamila. Arkan mengusap kepala Kamila dia mengusap air mata yang berada di pipi Kamila.
Kamila yang merasa ada seseorang mengusap kepalanya lantas membuka matanya. Dia melihat Arkan dia langsung memeluk Arkan erat.
Kamila menggeser tubuhnya dia menyuruh Arkan ikut naik ke kasur, Arkan menurut saja dia bersandar di kepala ranjang.
"Lo kenapa lagi Mil? Kenapa tidur dilantai? Berantem lagi?" tanya Arkan sambil merapikan rambut
Kamila, mata gadis itu terlihat membengkak dan itu membuat Arkan
mengusapnya pelan. Kamila menggelengkan kepalanya perlahan, kemudian ia menunjukkan foto sang ibu yang masih ia peluk dengan erat.
"Gue kangen Mamah, rasanya kangen banget. Kayaknya gue ketiduran di lantai!" kata Kamila. Dia memeluk Arkan dari samping.
Melihat Kamila yang tidak berani menatap matanya membuat Arkan sangat yakin jika Gadis itu sedang berdusta.
la pun memegang dagu Kamila sehingga Kamila menatap Arkan sedangkan Arkan menatap gadis itu dengan tajam.
"Lo jangan bohong sama gue Mil"
"Gue gak bohong Arkan!" kata Kamila.
"Lo pernah bohong sama gue terus lo tau kan gue kayak gimana? Sekarang gue tanya serius lo kenapa?"
Kamila memeluk Arkan berharap pemuda itu mau meluluh agar tidak bertanya. Tapi Arkan dengan kasar melepas pelukan Kamila.
"Kamila," panggil Arkan dengan nada perintahnya.
Kamila menatap Arkan dengan takut-takut air matanya kembali mengalir. Arkan tidak luluh sama sekali dia memegang dagu Kamila sedikit kencang.
"Jawab gue apa yang buat lo nangis sampe tidur di lantai?" tanva Arkan tajam.
"Gue kangen Mamah Ar, gue hiks.. Gue bener-bener pengen meluk Mamah sekarang!" Mendengar Kamila yang kembali menangis tatapan Arkan melemah dia membawa gadis itu ke dalam pelukannya.
Arkan sedikit meremas pundak Kamila membuat Kamila meringis pelan.
"Lo gak bisa bohong sama gue Kamila! Gak ada yang bisa nyakitin lo selama gue masih hidup! Kalo lo gak mau jujur biar gue yang cari tau sendiri! Siapa aja yang nyakitin lo
bakalan berhadapan sama gue!"