Badboy Yang Menyebalkan

Badboy Yang Menyebalkan
120. Fitnah Keji


Mereka bubar, Bastian bersama Daren sementara Kean, Sean bersama dengan Arkan.


Pada saat mereka sampai di rumah, Alisha kebetulan belum tidur. Tetapi, saat melihat Arkan, wanita cantik itu membuang muka dan bergegas masuk ke dalam kamarnya. la masih merasa sangat kesal kepada Arkan.


Biasanya wanita itu akan bertanya mereka sudah makan atau belum, tapi kali ini tidak ada sapaan apa pun.


Melihat kemarahan di wajah Alisha, Arkan merasa sangat sedih. la belum pernah melihat sang bunda seperti ini sebelumnya.


Tetapi, ia tidak bisa berbuat apa-apa selain bersabar. Karena bagaimana pun ini semua adalah salah paham. Entah siapa yang berusaha untuk menjebak dan membuat fitnah kotor seperti ini.


Arkan menghela nafasnya dia naik ke lantai atas, ada Kamila tengah berjalan menuju kamarnya, waktu sudah jam sepuluh malam ini waktunya Kamila tidur.


Kamila masuk ke kamar tanpa menyapa Arkan, Arkan ikut masuk ke dalam kamar Kamila. Gadis itu tidak menolak, gadis itu masih terus mendiaminya.


Arkan mengunci pintu kamar Kamila lalu mendekati gadis itu yang sedang merapikan selimut.


Arkan memegang bahu Kamila, "Mil, gue mohon jangan ikut-ikutan Bunda diemin gue, sumpah demi apa pun gue gak pernah ngelakuin hal begitu, mungkin dalam pikiran lo sama sebagian orang itu bukan editan! Tapi demi apa pun gue gak pernah ngelakuin hal menijijikan kayak gitu Mil!" kata Arkan berusaha untuk meyakinkan


kekasihnya itu.


Tetapi Kamila hanya diam namun Isak tangisnya terdengar begitu memilukan di telinga Arkan.


Arkan benar-benar merasa bersalah karena sudah membiarkan dua wanita kesayangan nya merasa sedih dan kecewa.


Tapi saat ini ia benar-benar tidak tahu siapa orang yang sudah melakukan fitnah kejii seperti ini dan Arkan sendiri juga tidak pernah merasa melakukan hal yang aneh-aneh dengan siapapun. la memang keras kepala, ia memang nakal, suka kekerasan, tawuran, tetapi untuk hal **** bebas dia tidak pernah melakukannya.


Walau bagaimanapun juga Arkan tetap menjunjung tinggi norma dan adat ketimuran. Kalaupun ia sering mengucapkan kata-kata yang usil bukan


berarti ia akan melakukannya.


Bahkan berpacaran saja dia baru dengan Kamila. Itupun mereka tidak pernah melakukan hal yang aneh-aneh. Padahal, kalau mau Arkan dan Kamila sering tidur satu ranjang tetapi Arkan masih waras untuk tidak menyentuh Kamila.


Arkan memeluk Kamila dari belakang dia melingkarkan tangannya di perut gadis itu dan meletakan dagunya di pundak Kamila.


"Mil percaya sama gue, gue gak pernah kayak gitu, kalo gue mau begitu kenapa harus sama cewe lain. Gue punya lo mending sama lo biar di nikahin!"


Masih tidak ada jawaban Kamila masih bungkam tidak ada niat menjawab.


"Sayang!" lirih Arkan semakin menelusupkan kepalanya ke leher Kamila.


"Kalo lo gak percaya sama gue, gue harus ke mana Mil! Bunda nmarah sama gue, gue gak mau lo marah juga!" kata Arkan.


Kamila tidak menjawab apa pun dia masih membelakangi Arkan. Jika mengikuti emosi Kamila tidak mau mempercayai Arkan lagi.


Tetapi hati kecilnya memang mengatakan jika Arkan tidak bersalah. Namun, bukti yang saat ini ada di depan matanya membuat Kamila ragu dan kecewa.


Merasa tidak mendapat jawaban dari Kamila Arkan pun membalikan tubuh Kamila sehingga mereka saling berhadapan.


"Mil!" panggil Arkan.


Arkan menaikan dagu Kamila, terlihat wajah gadis itu penuh dengan air mata.


"Lo jahat Arkan... Hiks."


Arkan tidak tega melihat Kamila yang menangis akibat dirinya. Arkan memeluk Kamila erat.


"Maaf Mil, tapi sumpah itu bukan gue!" kata Arkan.


PLAK!PLAK!


Kamila menampar wajah Arkan dengan kencang.


"Iyah Mil pukul aja gue, tampar gue! Gue gak masalah yang penting lo enggak diemin gue Mil!l" kata Arkan.


Bugh... Bugh..


Kamila memukuli dada Arkan, "Gue kesel sama lo tapi gue juga sayang! Arkan lo gak begitu kan?"


Arkan menggelengkan kepalanya kuat-kuat.


"Enggak Mil, enggak! Demi Tuhan gue gak serendah itu!" kata Arkan.


"Lo jahat Arkan gue gak suka lo begini hiks... Hati gue sakit Arkan waktu liat foto itu!" lirih Kamila pilu.


"Jangan di inget Mil, itu bukan gue! Daren lagi bantu cari bukti kalo itu editan!" ucap Arkan sambil mengusap kepala Kamila.


Kamila memeluk Arkan dia percaya jika Arkan tidak akan melakukan itu kepadanya.


Kamila memeluk Arkan semakin erat dia masih terisak dalan pelukan pemuda itu dan membuat baju Arkan basah. Arkan melepas jaketnya dia melemparnya ke sofa Kamila.


Arkan tersenyum dia menangkup wajah Kamila yang banjir air mata.


"Udah malem, tidur! Besok harus sekolah kan!" Kamila menggelengkan kepalanya dia tidak mau melepas pelukannya.


"Gue sedih Arkan!"


Arkan terkekeh dia memeluk Kamila erat, dia meletakan dagunya di atas kepala Kamila.


"Ini ujian buat kita Mil, lo harus percaya sama gue, kalo gue gak pernah ngelakuin hal rendahan itu!" ujar Arkan.


"Gue selalu percaya sama lo Arkan, selalu!" ujarnya.


"Tidur yah, mata lo udah bengkak tuh nanti ketauan Bunda gue kena omel lagi buat lo nangis!" ucap Arkan sambil mengusap air mata Kamila.


Kamila menganggukan kepalanya," Tapi peluk! Gue gak rela lo dipeluk cewe lain walaupun itu editan!"


Arkan tertawa kecil dia membawa Kamila ke kasur. Kamila membaringkan tubuhnya dia menggeser tubuhnya agar Arkan tidur di sampingnya.


Arkan ikut naik ke atas kasur di bersandar di kepala ranjang dengan Kamila yang menjadikan lengan Arkan sebagai bantal.


"Arkan," panggil Kamila.


"Kenapa Sayang, hm?" tanyanya.


"Lo gak selingkuh kan?"


Arkan mengusap kepala Kamila, "Gak ada di dalam kamus hidup gue ada niat buat selingkuh, gue mau kayak Ayah yang setia sama Bunda!"


"Lagipun apa untungnya selingkuh Kesenangan sesaat? Gue udah dapet cewe yang sempurna, kalo pun dia punya kekurangan gue harus jadi pelengkapnya bukan malah cari penggantinya!"


Kamila tersenyum dia menyembunyikan wajahnya di dada Arkan.


"Arkan," panggil Kamila lagi.


"Ada apa Sayang, dari tadi manggil-manggil terus, kenapa cih?" tanya Arkan sambil mencubit pipi Kamila gemas.


"Mau minta tolong ambilin tisu di dalem loker, ingus gue meler nih!" Sontak saja Arkan tertawa, Kamila sungguh nmenggemaskan.


Tangan Arkan terulur untuk membuka loker dia mengambil dua lembar tisu di sana.


"Sini, tuh idung lo udah kayak badut nangis aja!" kata Arkan.


Srottt....


"Hahahaha!" Arkan dan Kamila tertawa bersamaan saat Kamila mengeluarkan hingusnya.


Arkan menempelkan tisu ke hidung Kamila, tanpa rasa jji dia membersihkan hingus Kamila.


Kamila kembali memeluk Arkan, sangat nyaman berada dalam pelukan dan satu selimut dengan orang yang kita sayang.


"Mil, lo tau gak Bunda sama Ayah nyimpen piso sama pistol gue di mana?" Tubuh Kamila menegang saat Arkan bertanya tentang senjata api dan senjata tajam miliknya itu.


"Mau buat apa? Lo gak mau bunuh orang kan?"


Arkan terkekeh dia mengacak rambut Kamila, "Ngaco! Gue butuh Mil buat jaga diri, gue biasanya bawa dua itu kemana pun!"


Kamila menganggukan kepalanya mengerti, satu fakta mengejutkan yang Kamila ketahui saat awal pacaran dengan Arkan yaitu, Arkan sering membawa senjata tajam di sakunya, Arkan yang terlihat sangat humoris ternyata memiliki sisi yang sangat menakutkan bahkan Daren saja yang terkenal dingin akan kalah dengan emosinya Arkan.


"Gue gak tau, Bunda gak pernah cerita!" Arkan juga ikut menganggukan kepalanya dia terus memeluk Kamila sambil membelai rambut gadis itu.


"Arkan, kalo nanti lo tau siapa yang nyebarin itu lo mau apa?"


Arkan tertegun saat mendengar pertanyaan Kamila. Arkan paham Kamila pasti takut dirinya akan lepas kendali seperti pada saat menghajar Reynald.


Arkan tersenyum dia mencubit pelan pipi Kamila, "Semua bakalan baik-baik aja, udah gih tidur udah malem!"


"Tapi Arkan-"


Arkan meletkan jari telunjuknya di depan bibir Kamila.


"Sstt.. Tidur Sayang, udah malem! Sini peluk! Tutup matanya, terus tanem di hati lo kalo gue bukan manusia pemaaf berhati putih! Jadi gue gak jawab pun lo tau apa yang bakalan gue lakuin!"