
"J-jangan Pak Marvin. Saya mohon, saya akan menindak semua siswa yang berani menghina atau berbicara hal yang jelek tentang putra dan putri Anda. Mengenai Agus dan Erik mereka sudah mendapatkan skorsing. Saya pribadi akan meminta mereka dan kedua orang tua mereka untuk datang langsung ke rumah bapak dan ibu menyampaikan permintaan maaf," kata kepala sekolah.
Marvin dan Alisha sama kesalnya dengan kejadian ini.
"Ayah, aku gak papa kok semua baik-baik aja, aku udah maafin mereka!" kata Kamila berusaha menenangkan Arkan.
Marvin terlihat menghela nafasnya, "Baik kalau begitu, Saya mau kedua anak itu meminta maaf di depan kami kepada Kamila. Setelah itu saya mau mereka dan kedua orang tua mereka datang ke rumah saya untuk meminta maaf kembali. Kalau perlu saya ingin ada surat pernyataan supaya mereka tidak akan menghina Kamila lagi. Jika ada satu saja anak yang menghina Kamila lagi maka saya tidak akan segan-segan membawanya ke jalur
hukum," kata Marvin.
Kepala sekolah mengangguk karena aset sekolah tidak jadi ditarik.
"Pak Yusuf saya minta tolong panggilkan Agus dan Erik!" kata Pak kepala sekolah.
Pak Yusuf memanggil Erik dan Agus yang memang hari itu datang ke sekolah bersama kedua orang tua mereka.
***
"Mil gue minta maaf gue gak tau kalo lo emang di adopsi sama keluarganya Arkan!"
Kedua pemuda itu pun langsung menghampiri Kamila dan meminta maaf.
"Makanya kalo gak tau kenyataannya gak usah bacot, kesel banget gue!" seru Arkan.
"'Arkan... Gak papa kok gue udah maafin kalian berdua!" kata Kamila Arkan yang emosi ingin sekali merobek mulut keduanya, jika bukan karena Kamila Arkan akan membuatbkedua orang itu babak belur.
"Jangan sampai kejadian ini terulang lagi. Saya tidak terima Jika putri saya dihina oleh teman-temannya," kata Alisha kepada kepala sekolah.
Setelah semuanya selesai Alisha dan Marvin keluar dari ruangan kepala sekolah, Kamila dan Arkan akan kembali ke kelas tapi sebelum itu mereka berdua mengantar Marvin dan Alisha ke parkiran.
"Bunda pulang yah!" Alisha memeluk Kamila dengan erat seakan mengatakan jika Kamila itu juga putrinya.
"Kalian baik-baik di sekolah, kalau ada apa-apa laporin sama Bunda. Dan kamu Bang jangan main hakim sendiri. Ingat kalau ada apa-apa jangan selalu pakai kekerasan. Nanti kamu bisa dituntut karena tindak penganiayaan," kata Alisha mengingatkan Arkan.
Pemuda itu hanya menganggukkan kepalanya. Setelah Alisha dan Marvin pulang, Kamila langsung memperingati Arkan agar jangan balas dendam.
"Tuh dengerin kata Bunda jangan pake kekerasan. Pokoknya gue bakalan ngambek tujuh hari tujuh malem kalo
misalnya lo bales dendam sama Agus sama Erik," kata Kamila.
Kamila pergi begitu saja sedangkan Arkan terkekeh saja.
"Anceman lo kali ini gak akan berlaku buat gue Kamila!"
Arkan melihat ke arah Erik dan Agus yang tengah berpamitan dengan kedua orang tuanya.
Arkan menyugar rambutnya ke belakang lalu menyeringai, seringaian yang terlihat penuh akan dendam.
"Kayaknya gue emang ditugasin buat turun tangan langsung!"
...****************...
Sret...
Suara teriakan menggema di seluruh ruangan, seringaian seseorang membuat suasana menjadi semakin tegang.
"Psyhcopath lo!" teriak si korban.
Sret...
Lagi-lagi pisau menggores pipi si korban.
"Diem! Mulut lo terlalu berisik!"
Orang itu langsung terdiam, dia Agus dan Erik sedari tadi mereka tengah berhadapan dengan sisi gelap Arkan.
"Kalo gue beneran ngerobek mulut kalian itu lebih baik!" kata Arkan.
"Gila Arkan lo gila?!" teriak Erik.
"Lo-"
"Ssstttt gue belum puas sialan!" kata Arkan gemas.
Srek...
Srekk..
Lagi-lagi senyum Arkan mengembang saat dia berhasil melukai pipi dua pemuda itu.
"Ok selesai, itu pembalasan dari gue sialan!" kata Arkan geram.
"Berani kalian macem-macem sama Kamila gue pastiin hidup kalian gak akan tenang!"
Kamila sedari tadi terus mengekori Arkan pergi, Arkan terkekeh saja dia tau kenapa Kamila terus mengikutinya Kamila takut jika Arkan akan melakukan hal yang tidak-tidak pada Erik atau pun Agus, sungguh Kamila sangat tidak mau Arkan menjadi seorang pendendam.
Tapi pada kenyataannya Arkan sudah melukai dua orang itu dengan tangannya sendiri, Arkan tidak takut jika Erik atau Agus akan balas dendam biar saja ini menjadi urusan Arkan dan kedua orang itu.
"Lo kenapa sih Mil dari tadi mondar-mandir gitu gue udah kek punya buntut aja lo ikutin terus!" kata Arkan geli.
Kamila menggruk kepalanya yang tidak gatal, "Gak papa gue kan pengen deket sama lo emang gak boleh?" kata Kamila dengan manja.
Sedari tadi Kamila terus saja mengikutinya, Bahkan sejak di sekolah tadi Kamila benar-benar menjadi ekor.
Arkan ke toilet pun dia setia menunggu di depan pintu. Bahkan ketika di kantin sekolah Kamila tidak pernah melepaskan pegangan tangannya dari Arkan.
Arkan tahu jika Kamila takut Arkan akan membalas perbuatan Erik dan Agus. Kamila sudah cukup mengenal bagaimana Arkan jika sudah emosi.
Lia yang wanita saja dengan tega Arkan lukai apalagi kepada mereka yang laki-laki. Arkan tentu tidak akan sungkan untuk membalas perbuatan Erik dan Agus kepada Kamila.
Tetapi Kamila tidak mau Arkan berbuat seperti itu. Erik dan Agus sudah cukup diberi hukuman skorsing dari sekolah. Mereka tentu tidak akan berani lagi macam-macam kepada Kamila.
***
"Malem ini lo mau ke mana? Ini kan malem minggu?" tanya Kamila.
"Kenapa? Lo mau ikut?" Bukannya menjawab pertanyaan Kamila Arkan malah balik bertanya.
"ikut lah, emangnya lo mau ke mana?" tanya Kamila lagi.
"Mau ke base camp Mil tadi ada janji sama anak-anak sebelum ujian kita mau kumpul aja dulu!"
"Cuma kumpul-kumpul? Yakin?" Arkan tersenyum,
"Ya ampun Sayang, masa gak percaya sih? Gue gak bohong kalo cuman mau kumpul sama anak-anak."
"Bohong! Terakhir lo ke base camp malah tawuran!" bantah Kamila.
Arkan tertawa mendengar omelan Kamila. Arkan tau jika Kamila saat ini sangat mengkhawatirkannya.
"Ya udah lo ikut aja biar percaya. Kean sama Sean udah berangkat duluan tadi. Nih, lihat sendiri pesan dari Bastian, dia sama Daren udah nyampe di basecamp tinggal gue doang. Kalau lo mau ikut... Ayo, tapi pake jaket ya. Ntar masuk angin, eh gue lagi yang diomelin sama Bunda," kata Arkan.
"Gue pinjam jaket lu aja, gue males ambil jaket di kamar."
Arkan kembali tertawa ia yakin jika itu hanya alasan Kamila saja. Mila Pasti takut mengambil jaket dari kamarnya karena ia tidak mau ditinggal oleh Arkan.
Pada akhirnya Kamila pun membuka lemari Arkan dia memakai jaket milik Arkan dan Mereka pun pamit kepada Alisha dan Marvin untuk pergi ke basecamp.
"Awas ya Bang jangan macem-macem! Inget ujian kelulusan sebentar lagi!" Kata Alisha.
"Siap Bunda. Kan sama Kamila mana bisa macem-macem sih," jawab Arkan.
Mereka pun segera berangkat ke basecamp. Dan ketika mereka sampai di
sana sudah penuh serta ramai.