
Kean tersenyum bagaimana Kamila tidak jatuh cinta pada keluarganya Arkan, mereka sebaik ini bahkan mereka mau menampung Kean dan Sean juga yang jelas-jelas tidak ada hubungan darah.
"Sekarang kalian istirahat yah, lanjut aja makannya dulu terus istirahat, jangan bergadang! Ingat pesan Tante, Kean sama Sean gak boleh sedih terus!"
"'Semangat untuk pertandingan besok kita semua nunggu piala dari kalian!"
Panggilan terputus Kean dan Sean menoleh kepada Arkan yang tengah memakan ayam.
Brukh...
"Makasih banyak Bang Arkan!"
Sean memeluk Arkan erat, Arkan terkejut dia mengerjap-ngerjapkan matanya dengan tulang ayam di mulutnya.
"Anjir geli Samsul! Apaan dah peluk-peluk, gue masih normal!" seru Arkan berusaha melepas Kean dari tubuhnya.
"Gue juga normal Bang, tapi gue mau bilang makasih banyak, lo udah banyak bantu gue sama Abang gue, keluarga lo baik banget!"
Arkan terus menggeliat, "lyah lepas dulu, gila lo gue geli!"
Sean menggelengkan kepalanya, Daren Bastian dan Kean tertawa melihat wajah tertekan Arkan.
"Makasih yah Bang!"
"lyah Sean iyah, lepas! Gue mau dipeluk Kamila aja, dipeluk lo gue merinding!"
Sean terkekeh dia mengusap air matanya yang mengalir, Sean itu sebenarnya cengeng karena dia yang paling muda di antara mereka semua.
"Gila gue merinding! Dipeluk Kamila nyaman, di peluk sama lo horor!"
***
Keesokan harinya pertandingan lagi, Arkan menepuk bahu Kean dan Sean.
"Aman Kean, Sean?" tanya Arkan.
"Aman Bang!"
"Aman Ar!"
Arkan menganggukan kepalanya," Harus semangat jangan letoy!"
Dia memberikan semangat kepada keduanya. Arkan tau mereka sangat sedih, Arkan juga paham. Meskipun Arkan berasal dari keluarga yang sangat harmonis tetapi ia tahu jika kehilangan orang tua itu sangat tidak enak.
Apalagi la juga melihat dalam diri Kamila, saat kekasihnya itu kehilangan orang tua yang ia cintai. Kamila merasa sangat terpukul jadi dia paham dengan posisi Kean.
Arkan yakin saat ini Kean dan Sean juga merasakan hal yang sama. Mereka masih memiliki orang tua yang lengkap, keduanya masih hidup.
Tetapi mereka tidak mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya itu.
"Inget harus semangat, lo punya gue, Bastian, Daren, lo juga punya Bunda sama Ayah gue. Jangan lupa Kamila, kita bakal selalu ada buat lo, kalo lo gak bisa bahagiain Nyokap bokap lo seenggaknya bahagiain Ayah sama Bunda gue!" kata Arkan kepada Sean dan Kean.
"Ini kita beneran dianggep anak sama Tante Alisha Om Marvin?" tanya Kean kepada Arkan.
Arkan memutar bola matanya malas, "Eh Panjul, kalo kalian gak dianggep anak gak mungkin kalian boleh tinggal di rumah gue. Udah nggak usah banyak cingcong, sekarang kalian berdua sarapan dulu ... makan yang banyak, tuh minum susu dulu. Abis ini kita tempur buat piala, biar pulang ke Jakarta gak malu-maluin!"
Kean dan Sean pun tertawa mereka mengikuti perkataan Arkan. Mereka mulai memakan sarapan paginya dan bertekad untuk memenangkan pertandingan hari ini.
Untung saja Kean dan Sean benar-benar menepati janji mereka.
Mereka bertanding seperti tanpa beban. Bahkan mereka bisa menciptakan poin. Melihat hal itu Arkan merasa sangat bangga kepada dua sahabatnya itu.
Ternyata di tengah masalah yang sedang mendera, mereka masih bisa bersikap profesional. Mereka bisa bertanding dengan sangat baik dan melupakan sejenak masalah yang sedang menghimpit.
Mereka bertos ria, Arkan dan teman-temannya itu sangat solid.
***
"Gue mau ke pantai yah, biarin gue sendiri dulu. Lo semua duluan aja ke hotel!" kata Kean kepada teman-temannya.
"Inget Kean jangan ngelakuin hal bodoh yang nantinya bisa ngerugiin diri lo sendiri!" Kean mengiyakan ucapan Arkan.
Tiba-tiba, Kean menyipitkan matanya saat melihat seseorang. Itu Lia!
"Lo tuh cupu gak usah banyak tingkah deh!"
Sayup-sayup Kean mendengar ujaran kebencian dari gadis-gadis dengan seragam panitia.
"Dasat upik abu kegatelan!" Kean membelakan matanya saat melihat Lia di dorong oleh gadis yang terlihat sangat cantik.
Mereka pergi menyisakan Lia yang tersungkur ke tanah dengan kaca mata. yang lepas, Kean bangkit lalu mendekatinya.
Lia terkejut saat ada yang mengulurkan tangannya, "Lo gak papa?" tanya Kean.
"Eh.. Ak-aku gak papa!" Lia memegang tangan Kean dan berdiri.
"Tadi lo kenapa?" tanya Kean lagi.
"Oh itu udah biasa kok. Oiya kamu bukannya temennya Arkan yah? Sean kan?"
"Gue Kean. Sean itu adek gue."
"Aduh maaf, muka kalian mirip!" Kean terkekeh.
"Santai!"
Lia celangak celinguk seperti mencari sesuatu, "Kamu sendiri? Arkan mana? Eh maksud aku yang lainnya mana?" tanya Lia.
"Yang lain udah balik ke hotel Gue cuman lagi pengen sendiri aja." Lia beroh ria.
Kean duduk kembali, Lia mengikuti Kean. Mereka akhirnya duduk bersama di tepi pantai.
Terdengar helaan nafas dari Kean, Lia melihat Kean.
"Kamu keliatan lagi banyak masalah, mau cerita?" tanya Lia kepada Kean.
Tapi pemuda itu menggelengkan kepalanya perlahan.
"Enggak! Biasa aja!"
Lia mengangguk-anggukan kepalanya mengerti.
"Kean!" panggil Lia.
"Apa?"
Lia meremas tangannya gugup," Mmmm... Emang Arkan udah punya pacar yah?" tanya Lia membuat Kean menoleh.
Pemuda itu menganggukan kepalanya, "Iyah, namanya Kamila! Arkan bucin banget sama dia, kalo kata gue dia bukan bucin lagi tapi udah tahap cinta mati!" jawabnya sambil tertawa.
"Dia cantik?" tanya Lia.
"Cantik, dia juga baik! Eh... Kenapa nih tumben nanyain tentang Arkan lo suka sama dia?" kata Kean mulai curiga.
"Eh.. Enggak kok aku cuman mau tau aja, Arkan keliatan keren waktu main basket pasti dia udah punya pacar jadi penasaran aja!"
Kean menganggukan kepalanya paham, "Cewenya Arkan itu namanya Kamila, dia itu kayak Ibu peri kalo menurut gue, hatinya baik banget dia gak pernah dendam, lain sama Arkan!"
"Lain gimana?" tanya Lia semakin penasaran.
"Ya lain aja, Kamila itu putih Arkan hitam gitulah gambarannya!" jawab Kean lagi.
Kean menarik nafasnya lalu menghembuskannya perlahan, "Tapi sayangnya nasib di sama kayak gue dia sebatang kara begitu juga gue, kita punya orang tua tapi mereka gak nganggep kita ada jadilah gue, Sean sama Kamila tinggal di rumah Arkan!"
"Hubungan Kamila sama Arkan awalnya udah direstuin sama orang tuanya Kamila ternyata mereka jahat bokapnya Kamila dipenjara dia yang bunuh nyokapnya Kamila, Kakek Neneknya Kamila juga baru meninggal! Kamila mentalnya lagi gak baik tapi untungnya ada Arkan sama keluarganya, mereka baik banget!"
Lia terdiam dia sekarang tau tentang Kamila, Kamila itu hanya gadis sebatang kara yang numpang di rumah Arkan. Liat tertawa meremehkan dalam hatinya.
"Terus tadi kamu bilang kamu sama Kamila itu sama, itu sama gimana?" tanya Lia bertanya tentang Kean.