Badboy Yang Menyebalkan

Badboy Yang Menyebalkan
84. Amarah Reynald


Reynald berusaha memberi negosiasi agar Marvin memberi mereka waktu, sedangkan Arkan yang berada di sana hanya santai memperhatikan keributan yang terjadi.


"Saya jadi curiga jika ini adalah akal-akalan Anda saja. Bisa jadi Anda sendiri yang menghilangkan data sehingga bisa meraup keuntungan," kata Marvin kepada Reynald.


"Demi Tuhan, Pak. Saya sendiri tidak tahu apa yang sudah terjadi. Data saya kebobolan, Pak."


Terlihat Arkan bersidekap dada dengan wajah datarnya tidak akan ada senyum lagi saat bertemu dengan Reynald. Hanya tinggal menunggu kehancurannya saja.


"Seharusnya, jika Anda sudah pernah kebobolan seperti ini, Anda menyewa tim IT yang handal supaya bisa memperbaharui sistem keamanan. Masa hal seperti ini saja harus diajari?" kata Marvin kesal.


"Sa-saya .."


"Saya memberikan investasi lebih dari yang Anda minta Pak Reynald. Untuk membayar IT paling hanya seratus juta saja. Itu pun bayaran termahal. Jika tidak mau semahal itu, banyak IT yang pintar mau dibayar dua


puluh juta saja per bulan. Anda ini tidak bisa diandalkan sekali," kata Marvin dengan emosi yang meledak-ledak.


Reynald hanya diam, ia memang sama sekali tidak berpikir ke sana. la pikir hanya sekali itu saja datanya hilang.


"Saya tidak mau tau Pak Reynald, semua kerugian akan ditanggung oleh perusahaan Anda, saya meminta ganti rugi jika sampai data itu hilang... Ayo Arkan!" Marvin mengajak Arkan keluar dari ruangan meeting itu.


Setelah keluar dari kantor Reynald, Arkan kembali ke kantornya kebetulan sudah jam makan siang. Arkan hendak pamit akan makan di luar, tapi tiba-tiba saja Alisha menelpon.


***


"Halo Bundaku Sayang," sapa Marvin.


"Kamu di mana?' tanya Alisha.


"Masih di kantor ayah, Bund."


"Bunda boleh minta tolong?"


"lya boleh dong Bundaku sayang," kata Arkan dengan manis.


"Manis banget titisannya Marvin, Bunda minta tolong kamu ambilin berkas punya Bunda, ada di kantor Tante Rara. Kamu ke sana, ya. Bunda udah telepon Tante Rara kok. Filenya udah disiapin. Kamu tinggal ambil aja."


"Oke siap."


Arkan menuruti permintaan Alisha, ia mengemudikan mobil Marvin menuju tempat kerja Rara. Karena sedang jam


makan siang, Arkan pun segera mengetuk pintu ruangan Rara.


Dan ternyata saat ia masuk ada Regan di sana. Mereka rupanya sedang makan siang berdua.


"Duuh ini pasangan bucin, makan siang aja berduaan gini. Kayak pengantin baru terus," goda Arkan.


"Eh, ada ponakan Tante. Tante kirain siapa tadi. Kamu mau ambil titipan Bunda kamu, ya?" kata Rara sambil tersenyum lalu meletakan ponselnya.


"lyah Tante... Duh ini Tante senyum-senyum aja liat hp kayak abis menang lotre, ada apa nih? Menang togel yah Tant?" tanya Arkan jahil.


Rara dan Regan tertawa. Arkan memang terkadang sering asal saja kalo bicara.


"Ngaco kamu! Itu Tante kamu seneng soalnya tadi adik angkatnya baru aja dari sini, nih liat makanannya dari dia tadi," saut Regan.


"Dia cantik loh, kamu harus ketemu sama Adik angkat Tante siapa tau kalian jodoh kan," goda Rara kepada Arkan.


Arkan tertawa kecil mendengar perkataan Rara. Tidak semudah itu, Esmeralda ... hati Arkan sudah milik Kamila.


"Aku udah punya pacar, Tante. Udah aku bawa ke rumah juga. Ayah sama Bunda udah setuju dan tau kok. Anaknya juga cantik dan baik," kata Arkan.


"Loh kok Tante gak tau sih?" kata Rara sedikit kesal.


"Tante sama Om waktu itu ke US kan jadi gak sempet ngenalin!"


" tapi kami tetep harus liat, dia cantik loh belum liat masa langsung bilang gakmau, sini kamu liat dulu," kata Rara memaksa.


Arkan hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. la tahu sekali jika om dan tantenya ini kadang suka memaksa.


Tapi, rasanya tidak masalah hanya melihat foto saja. Toh jika ia merasa tidak cocok, ia


Rara menunjukan foto selfinya bersama dengan gadis itu kepada Arkan. Arkan yang awalnya tidak tertarik langsung membelakan matanya, dia terkejut saat melihat foto gadis yang diperlihatkan oleh Rara.


"Kamila!"


Rara dan Regan pun langsung mengerutkan dahi mereka.


"Loh kamu kenal?" tanya Rara ikut terkejut.


"Dia pacar aku Tante, Tante kenal Kamila di mana?" tanya Arkan lagi.


"Ya ampun! Jadi Papahnya Kamila mau ngeracunin keluarga kamu? Kenapa dunia ini sempit banget!" ujar Rara yang masih terkejut.


"Loh Tante tau Papahnya Kamila?" Rara menganggukan kepalanya.


"Kamila itu tadinya pasien Tante, dia pertama kali ke sini masih pake seragam pagi-pagi!"


Rara lalu mulai menceritakan semuanya kepada Arkan. Arkan merasa sangat kesal sekali, Kamilanya itu memang harus dihukum.


Bagaimana bisa dia selalu berbohong kepada Arkan tapi dia malah bercerita kepada orang lain? Walaupun notabenenya Tantenya Arkan sendiri, tetapi bagi Arkan itu sama saja menginjak harga diri Arkan.


"Kamila!" geram Arkan.


"Om Tante nanti malem bisa gak ke rumah, ada yang mau Arkan omongin?" tanya Arkan.


"Kamu mau ngapain Ar?" tanya Rara.


"Tante sama Om dateng yah, nanti kalo udah di rumah aku kasih tau, sekarang Arkan pulang dulu, mau nganterin berkas ke Bunda kasian Bunda nunggu!" Arkan mengambil perkas yang ada di meja Rara.


"Kamu jangan marah sama Kamila Arkan, dia gak cerita ke kamu karena dia takut kamu ninggalin dia, posisi dia sekarang serba salah!"


"Dia salah Tante, aku gak akan ninggalin dia, harusnya dia sadar itu!"


"Tante mohon Arkan jangan marah sama Kamila jangan sakitin Kamila dia udah cukup menderita!" pinta Rara.


Regan hanya diam saja karena dia tidak mengerti inti permasalahannya.


"Arkan dengerin Tante Kamila punya alasan kenapa dia gakmau dengerin kamu! Jangan sakitin Kamila!"


Arkan menghela nafasnya, "Aku gak nyakitin Kamila, tapi dia yang nyakitin aku?!" Arkan pergi begitu saja keluar dari ruangan Rara dengan emosi yang memuncak.


"Lo keterlaluan Kamila, lo emang harus dihukum!"


***


Reynald merasa sangat frustasi dengan kondisi perusahaannya saat ini. la merasa sangat tertekan sekali. Saat ini satu satunya cara adalah menghabisi Marvin. Dia harus bisa membuat Kamila menikah dengan Arkan bagaimanapun caranya.


Reynald tidak peduli sekalipun harus melakukan cara-cara yang licik demi membuat Kamila menikahi Arkan. Merasa pusing berada di kantor, Reynald pun pulang lebih awal.


"Mas, tumben sudah pulang?" tanya Laras.


"Ke mana anak sialan itu?" tanya Reynald alih-alih menjawab pertanyaan Laras.


"Tadi ada di atas. Anak itu mana mau keluar kamar kalo udah pulang. Kerjanya ya begitu, pacaran trus kalo di rumah diem di kamar," jawab Laras.


"Anak itu harus aku kasih pelajaran" kata Reynald.


Laras hanya tersenyum melihat Reynald yang marah-marah kepada Kamila.


BRAKH!


Reynald membanting pintu dia mengacak buku yang ada di meja belajar Kamila.


Prang...


Suasana rumah menegang, Reynald mengacak barang-barang yang ada di kamar Kamila. Kamila yang berada di kamar bingung.


"Ini ada apa, Pah?" tanya Kamila sedikit takut.